Senin, 29 Juni 2015

Biography of M Nurul Ikhsan Saleh

M Nurul Ikhsan Saleh
My name is M Nurul Ikhsan Saleh and my friends are often called me, Nurul. I was born in Sumenep, East Java, Indonesia, on July, 27, 1988, the third of four siblings. My father Moh Shaleh was a hard working merchant, while my mother Madun was a hard working farmer. Immediately after graduating from Primary School SDN Moncek Tengah II, Lenteng, Sumenep, I studied at Islamic Boarding School, PPA Annuqayah Lubang Selatan to complete my studies at Junior High School MTs II Annuqayah and Senior High School SMA I Annuqayah in Guluk-Guluk, Sumenep. In Yogyakarta, I completed my undergraduate degree in April 2012, majoring in Islamic Education at Islamic State University of Sunan Kalijaga Yogyakarta. 

I was an activist in some organizations such as Person in Charge (PIC) of Peace Generation Organization, Yogyakarta (2011-2012), Volunteer for Hoshizora Foundation, Yogyakarta, (February 2015), Participant at Leadership Development Program held by Mountain and Jungle Explorer Association (WANADRI), Indonesia (December 2013), Participant at Leadership Development Program held by The Special Forces Command (KOPASSUS), Indonesia (October 2012), Member of Indonesia Youth Forum (FIM), Jakarta (2012), Program Coordinator of Student Executive Board Association in Education (FBEMP), Yogyakarta (2011-2012) and editor of Paradigma Press, Islamic State University of Sunan Kalijaga Yogyakarta (2008-2010).

In addition, I has published more than twenty articles or book reviews  and some books; (2012). Peace Education: Historical Studies, Concepts, and Its Relevance To Islamic Education. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. (2012) “Improving A Higher Education Cooperation between Indonesia and Morocco” in Supardiyanto and Muhammad Subhan, (ed.), Indonesia-Maroko; More Than Just A Friendship. Jakarta: Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), p. 36-38. (2011). “Toward Best Quality of Education” in Kementerian Pendidikan BEM KM IBP, The Educational Reality in This Era.  Bogor: IPB Press, p. 71-77. (2010). “Islam and Ecological Crisis; The Effort To Develop Islamic Education Based on Environment” in Sabaruddin and Masroer, (ed.), Islam; National Character Building and Political Ethics. Yogyakarta: Islamic State University of Sunan Kalijaga Press, p. 103-120. (2010). “Indonesia As A Maritim Country; In The Threat of Ecological Crisis of Ocean” in Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika, The Hope Is Still Exist. Jakarta: ANBTI Press, p. 7-12.  (2007-2010). 22 publications of articles or book reviews at Indonesian newspapers: Media Indonesia, Seputar Indonesia, Koran Jakarta, Bernas Jogja, Surabaya Post, Bali Post, Lampung Post.

Selasa, 23 Juni 2015

Pendidikan Perdamaian tanpa Kekerasan

Opini M Nurul Ikhsan Saleh, Lampung Post, 12 Juni 2015
SEORANG siswi bernama Dinda Diana Nosi yang berasal dari Samarinda mengunggah video pada 9 April 2015 di media Facebook. Video tersebut memperlihatkan dua siswi yang sedang berkelahi dengan ditonton teman-temannya satu sekolah. Pada April ini juga seorang siswa bernama Vika, siswa pelajar SMP di Manado, mengalami penganiayaan yang dilakukan teman satu sekolahnya dengan cara rambutnya ditarik, ditampar, dan perutnya diinjak. 

Sedangkan di Februari, seorang siswi SMA di Yogyakarta dianiaya beberapa teman sekolahnya dengan cara disekap, ditelanjangi, dan mengalami kekerasan di bagian kemaluannya. Bahkan hal ini juga terjadi kepada empat siswa sekolah dasar yang kemudian mendatangi Unit Perlindungan Perempuan dan Anak di Manado.

Empat contoh kasus di atas yang terjadi pada beberapa bulan belakangan memperlihatkan kepada kita bahwa tindakan kekerasan masih saja menghantui para siswa di sekolah, bukan hanya di kalangan siswa sekolah menengah atas, melainkan juga terjadi pada siswa di sekolah dasar. Lebih mirisnya lagi adalah karena teman-teman kelasnya hanya menonton dan mereka tidak langsung berupaya menghentikan kejadian tersebut. Bahkan sering ditemui di media sosial, seperti Facebook dan Youtube, para teman-temannya yang melihat perkelahian, hanya bisa menyoraki dan sibuk merekam lewat ponsel perihal kasus tersebut.

Seharusnya siapa pun yang melihat terjadinya kekerasan, minimal ia akan berusaha menghentikan kekerasan tersebut. Jika hal itu terjadi di sekolah, minimal siswa yang lain membantu melaporkan kepada para guru agar kejadian tersebut dihentikan dan langsung ditangani oleh pihak sekolah. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...