Jumat, 22 Juni 2012

Meningkatkan Budaya Baca Masyarakat Indonesia

Membudayakan Anak Gemar Membaca (Foto: M Nurul Ikhsan Saleh)

Aktivitas membaca dalam masyarakat sangatlah penting. Ia menjadi salah satu kegiatan bahasa yang amat vital dalam masyarakat modern dan lebih-lebih di kalangan akademisi. Dari sinilah peringatan Hari Buku Nasional yang jatuh pada bulan kemarin, 17 Mei 2012, menjadi penting untuk selalu kita refleksikan, terlebih oleh masyarakat Indonesia.

Dalam masyarakat kita, setiap hari puluhan koran, majalah, bahkan buku-buku selalu diproduksi dan dipasarkan. Di dalam semua jenis media itu akan dijumpai informasi mengenai pengetahuan, berita, lapangan pekerjaan, iklan, dan sebagainya, yang mau tak mau harus diserap oleh masyarakat modern tersebut. Kecuali, jika masyarakat modern tersebut, hanya modern dalam dimensi waktu, bukan modern dalam dimensi kultural. Membaca, sudah seharusnya menjadi kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat.

Pengetahuan sebagian besar tidaklah didapatkan dari bangku sekolah atau di bangku kuliah, melainkan melalui buku. Banyak orang mengatakan bahwa buku itu sesungguhnya merupakan universitas yang paling baik, sehingga tidak salah apabila dikatakan bahwa buku adalah jendela ilmu pengetahuan. Maka keberadaan perpustakaan di sekolah, universitas dan masyarakat sangatlah penting sebagai tempat kagiatan membaca.

Senin, 04 Juni 2012

Membumikan Peace Education

Bersama Anak-anak SD Korban Letusan Merapi

Peace does not come with our DNA. To reach peace we need to teach peace.” (Core Weiss)

Konflik yang berbau kekerasan dalam masyarakat Indonesia, menjadi satu kata yang seringkali akrab di telinga. Ia menjadi sebuah keniscayaan yang secara sadar atau tidak, akan selalu menggerayangi, menghantui kehidupan masyarakat. Ia ada di sekitar rumah, lingkungan sekitar, bahkan di mana-mana. Ia muncul di tayangan-tayangan televisi, radio-radio, berita-berita internet, media massa dan surat kabar, yang tidak bosan-bosannya menampilkan berbagai tayangan atau berita kekerasan, dari masalah pembunuhan, pemerkosaaan, perkelahian, kekerasan terhadap perempuan, teror bom, hingga konflik sosial-keagamaan dengan latar belakang alasan yang begitu beragam.

Secara teoritis, kekerasan mencakup kekerasan simbolik, kekerasan psikologis, maupun kekerasan fisik. Sebagian kita mungkin tidak sadar bahwa dalam banyak kehidupan, kita seringkali menghadapi dan mengalami kekerasan simbolik baik di rumah, lingkungan sekitar, tempat kerja, dan sebagainya, yang pada gilirannya akan mengantarkan kepada kekerasan psikologis, lalu kekerasan fisik. Kekerasan simbolik seperti ini adalah kekerasan yang halus, tidak kasat mata, dan hampir tidak nampak, karena diselubungi oleh ideologi yang membuat kekerasan itu seolah-olah wajar. Ini banyak sekali, misalnya, dilakukan terhadap perempuan di dalam masyarakat patriarkal, secara ideologis mereka dianggap lebih rendah, seolah-olah hak mendominasi mereka menjadi hak laki-laki. 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...