Selasa, 11 Oktober 2011

Benteng Vredeburg Yogyakarta; Museum Perjuangan


Benteng Vredeburg Tampak dari Depan
Kota Yogyakarta adalah salah satu dari sekian banyak kota di Indonesia yang mempunyai peranan penting dalam perjalanan sejarah dalam merintis, mencapai, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia. Peristiwa-peristiwa penting sebagai tonggak sejarah terjadi di kota Yogyakarta. Sehingga bukan tidak beralasan apabila Presiden Soekarno menyampaikan kesannya atas kota Yogyakarta bahwa “Yogyakarta menjadi termashur oleh karena jiwa kemerdekaannya, hiduplah terus jiwa kemerdekaan itu”.

Peristiwa bersejarah tersebut berjalan seiring dengan berputarnya roda sang waktu yang selalu bergerak dalam kesatuan dimensi waktu. Saat ini, dan yang akan datang. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya merupakan akumulasi dari gejolak jiwa jaman yang menggerakkan sejarah itu sendiri. Sejarah senantiasa berjalan bersama dinamikanya yang kemudian menjadi ciri khusus dari pembabakan.

Masa lalu, sekarang dan yang akan datang merupakan kesatuan rantai waktu yang tak dapat dipisahkan. Di dalamnya terhadap hubungan sebab akitab yang erat, dimana antara satu dengan yang lain saling kait-mengkait. Masa sekarang merupakan produk masa lalu dan masa sekarang menjadi lampau bagi masa yang akan datang. Demikian seterusnya.

Kejadian di masa lampau akan berlalu begitu saja tanpa makna apabila tidak dapat dipentaskan kembali dalam bentuk apresiasi dan rekonstruksi. Dengan begitu masa yang telah lalu menjadi guru yang terbaik bagi masa sesudahnya. Pemaknaan kembali masa lampau melalui rekonstruksi sejarah ini merupakan hal yang sangat penting dalam proses pembentukan jati diri bangsa.

Adalah sebuah kesalahan besar apabila sejarah adalah omong kosong dan hal yang penuh dengan kesia-siaan. Pendapat itu dipandang benar sejauh memandang bahwa masa lalu adalah potret usang tanpa makna dan tak mampu bercerita apa-apa.

Patung Jenderal Soedirman
Sejarah berjalan dengan berbagai peristiwa yang terjadi di dalamnya tanpa mengesampingkan nilai positif dan negatifnya, merupakan sebuah pengalaman kolektif yang sangat besar maknanya. Demikian pula yang terjadi dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Seluruh peristiwa yang terjadi di dalamnya merupakan pengalaman kolektif bangsa Indonesia sebagai bagian dari Sejarah Nasional Bangsa Indonesia. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi di daerah merupakan bagian dari kesatuan peristiwa nasional.

Lahirnya Kesultanan Yogyakarta, bersama dengan proses yang mendahuluinya, memulai sejarah Yogyakarta. Berdirinya kerajaan Mataram oleh Penembahan Senopati di Kota Gede, merupakan cikal bakal lahirnya Kasultanan Yogyakarta. sultan Agung Harnyakrakusuma, nenek moyang raja-raja Kasultanan Yogyakarta telah memulai menorehkan tinta emas dalam lembaran sejarah perjuangan dengan mengadakan serangan terhadap Belanda di Batavia. Meski serangan tersebut gagal namun telah mampu memudarkan mitos bahwa pribumi tidak harus menuruti kehendak bangsa Barat. Terbukti perlawanan terhadap Belanda terus berlangsung bahkan makin gencar.

Sejarah dengan perkembangan yang terjadi menunjukkan, bahwa perjuangan dengan otak akan lebih menjanjikan. Disamping itu resiko yang mungkin terjadi relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan perjuangan dengan otot. Maka dimulailah perjuangan melalui organisasi modern yang dimulai dengan berdirinya Organisasi Budi Utomo. Meski demikian, kongresnya yang pertama berlangsung di Yogyakarta.

Para Pejuang Kemerdekaan dalam Lukisan
Makin matangnya janin nasionalisme yang dibidani oleh Budi Utomo, makin hari makin tumbuh berkembang dengan pesatnya. Hingga terkristal dalam kongres Pemuda yang berlangsung di Jakarta tahun 1928. Sebagai tindak lanjut dari hasil kongres tersebut maka Jong Java mengadakan kongresnya di Yogyakarta di tahun yang sama, demikian juga kaum perempuan Indonesia juga segera mengadakan kongresnya yang pertama di Yogyakarta sebagai perwujudan proses perkembangan nasionalisme Indonesia. Demikianlah, sejarah telah membuktikan bahwa Yogyakarta banyak menyimpan masa silam yang besar artinya dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Ketika masa awal kemerdekaan Indonesai tahun 1945, Yogyakarta tampil ke permukaan mendukung berdirinya negara baru tersebut. Di bawah naungan kharisma Sultan Hamengku Buwono IX, Yogyakarta sanggup berdiri di belakang RI. Hal itu dibuktikan ketika ibukota RI dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta. Ketika itu pula Yogyakarta tampil sebagai penjaga gawang terakhir Republik Indonesia. Peristiwa kepahlawanan banyak terjadi di Kota Perjuangan ini.

Benteng Vredeburg: Museum Perjuangan Indonesia
Masa lalu dengan berbagai dinamikanya merupakan peristiwa bersejarah yang besar artinya bagi generasi mendatang. Dengan demikian sungguh bukan hal yang berlebihan apabila saya mengupas Benteng Vredeburg pada tulisan kali ini. Dengan tujuan agar kita semua bisa mengenal lebih dekat peristiwa-peristiwa bersejarah yang terangkung di tempat ini. Setidaknya Soekarno pernah bilang dalam sebuah pidatonya agar tidak meninggalkan sejarah.

Di dalam Museum Benteng Vredeburg
Benteng Vredeburg sendiri, di Yogyakarta berdiri sebagai tempat pengumpulan, menyimpan, merawat, meneliti dan mengkomunikasikan benda-benda bukti material perjalanan sejarah bangsa Indonesia yang terkait dengan sejarah perjuangan bangsa, yang dikenal lengkap dengan nama Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta.

Museum ini sangat strategis karena berada di pusat kota Yogyakarta. Oleh sebab letak yang strategis ini maka kegiatan-kegiatan atau even-even besar, maupun kegiatan rutin tahunan berskala baik nasional maupun regional banyak diselenggarakan di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Hal ini sebagai salah satu wujud pelayanan Museum Vredeburg terhadap masyarakat di lingkungan Yogykarta secara khusus.

Sesuai dengan visi Benteng Vredeburg, yaitu mewujudkan peran museum sebagai sarana edukasi, pusat informasi, pengembangan ilmu dan pariwisata; meningkatkan pemahaman sejarah masyarakat untuk mewujudkan ketahanan nasional dalam rangka memperkokoh keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia; mewujudkan pelestarian benda-benda peninggalan sejarah dan purbakala untuk memperkokoh jati diri bangsa; mewujudkan penyajian tata pameran benda-benda peninggalan sejarah dengan nuansa edutainment; serta menyediakan sarana dan prasarana pengembangan pembelajaran ilmu sejarah dan budaya pada umumnya.

Pada Mulanya
Sebelum dibangun benteng pada lokasinya yang sekarang, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, atas permintaan Belanda, Sultan HB I telah membangun sebuah benteng yang sangat sederhana berbentuk bujur sangkar. Di keempat sudutnya dibuat tempat penjagaan yang disebut seleka. Benteng tersebut keadaannya sangat sederhana. Tembok dari tanah yang diperkuat dengan tiang-tiang penyangga dari kayu pohon kelapa. Bangunan di dalamnya terdiri atas bambu dan kayu dengan atap ilalang.

Pada tahun-tahun selanjutnya, benteng diperkuat menjadi bangunan yang lebih permanen dengan tujuan agar lebih menjamin keamanannya. Setelah selesai bangunan benteng yang telah disempurnakan tersebut diberi nama Rustenburg yang berarti “Benteng Peristirahatan”.

Salah Satu Teras Benteng Vredeburg
Berkat terjadi gempa dahsyat tahun 1877 di Yogyakarta, Benteng Rustenburg serta bangunan lain banyak runtuh. Akhirnya bangunan tersebut dibangun kembali. Benteng Rustenburg dibenahi di beberapa bagian bangunan yang rusak. Setelah selesai bangunan benteng yang semula bernama Rustenburg diganti menjadi Vredeburg yang berarti “Benteng Perdamaian”. Nama ini diambil sebagai manifestasi hubungan antara Kasultanan Yogyakarta dengan pihak Belanda yang tidak saling menyerang waktu itu.

Sungguh, sejarah di masa lalu mempunyai makna yang sangat bernilai bagi kita yang bisa memahaminya dengan baik.

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...