Senin, 24 Oktober 2011

Berawal dari Semangat Bermimpi

Inilah kota impian Nurul, Kota Yogyakarta
Bulan Oktober 2006, saya nekat datang ke Yogyakarta. Kedatangan itu merupakan mimpi yang menjadi kenyataan. Sebelumnya, pertengahan tahun 2006 setelah lulus Sekolah Menengah Atas, SMA Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, saya bermimpi kuliah di Yogyakarta, tapi tidak diperbolehkan oleh kedua orang tua dengan alasan tidak kuat membiayai dan didukung kepercayaan dalam keluarga saya bahwa kota Yogyakarta adalah sarang pergaulan bebas. Maklum saya hidup dalam keluarga yang taat beragama, dan seringkali beranggapan buruk terhadap pergaulan di kota-kota besar. Walhasil, dengan tanpa pamit di bulan Oktober tersebut, saya berangkat ke kota yang kaya akan budaya ini dengan hanya berbekal uang 600 ribu rupiah.

Namun, setelah sepuluh hari tinggal di Kota Gudeg, saya berubah pikiran. Teman saya Bernando J. Sujibto menyarankan kepada saya untuk pintar bahasa Inggris terlebih dahulu sebelum tinggal di kota pelajar ini. Dengan tanpa pertimbangan panjang akhirnya saya memutuskan pergi ke Pare Kediri untuk menimba bahasa Inggris. Berselang setengah bulan kemudian, uang saku saya habis. Ketika mencoba meminta kiriman uang kepada kedua orang tua di rumah, mereka tidak ada yang mau mengasihkan uang sepeser pun. Alhamdulillah tanpa diduga saya diterima menjadi officer pada lembaga kursus Raymond English Course, Pare dengan hanya bermodalkan bisa mengetik sepuluh jari dan melayout di Corel Draw. Saya mulai hidup tenang. Makan gratis. Tempat tinggal gratis.

Minggu, 23 Oktober 2011

Ketika Keajaiban Dunia Ada di Yogyakarta


Salah Satu Peserta Karnaval di Sepanjang Malioboro
Perayaan Jogja Java Carnival yang dihelat Sabtu 22 Oktober 2011 mendapat perhatian besar dari masyarakat luas. Pemberitaan yang begitu gencar mengenai akan diadakannya peringatan besar pada hari jadi Yogyakarta yang ke 255 ini, semakin meningkatkan rasa ingin tahu warga hampir dari seluruh Indonesia pada kota budaya sekaligus kota pelajar ini. Hal itu ditunjukkan dengan banyaknya masyarakat yang berkunjung ke Yogyakarta untuk menyaksikan perayaan tersebut. Tidak hanya media dalam negeri saja yang meliput, bahkan media asing cukup banyak yang ikut andil menyiarkan langsung perayaan ini.

Banyak wisatawan yang datang langsung ke Yogyakarta untuk menyaksikan pawai Mozaik Jogja Java Carnival. Bisa kita lihat, ada puluhan ribu orang memadati jalan Maliboro sampai ke Alun-Alun Utara. Selain itu ratusan bahkan ribuan undangan hadir untuk secara langsung melihat aksi-aksi fenomenal dari peserta karnaval. Turut hadir dalam perayaan ini, yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono X, Herry Zudianto selaku Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, Pejabat di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi/Kota Yogyakarta, dan beberapa pejabat dari instansi lainnya. Beberapa sajian yang turut dipertontonkan adalah Serigala Babilonia, Taman Gantung Ababionia, Kuda Troya sebagai legenda saat terjadi perang Troya oleh tentara Yunani, termasuk pasukan Gladiator yang berpakaian perang lengkap. Kemeriahan karnaval kali ini tampak sekali di malam itu, yang berlangsung sejak pukul 18.00 WIB. 

Rabu, 19 Oktober 2011

Royal Wedding Jogja: GKR Bendara dan KPH Yudanegara


KPH Yudanegara dan GKR Bendara Melambaikan Tangan Kepada Masyarakat
Selasa 18 Oktober 2011 menjadi puncak kebahagiaan pasangan antara GRAj Nurastuti Wirajeni yang bergelar GKR Bendara dengan Achmad Ubaidillah yang bergelar KPH Yudanegara. Selain disaksikan keluarga kraton Sri Sultan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani serta Wapres Budiono dan Ibu Herawati, mantan presiden/wapres, menteri dan ribuan pasangan tamu undangan lain termasuk 40 raja Nusantara yang memenuhi pelataran Bangsal Kencana menyaksikan secara langsung proses pernikahan keduanya. Ijab kobul yang dilaksanan pada pukul 07.20 WIB berlangsung selama tiga menit di Masjid Panepen Kraton, menandakan sepasang kekasih yang resmi menjadi sepasang suami isteri.

Setelah perhelatan prosesi pernikahan selesai. Selanjutnya dilakukan iring-iringan kirab. Rombongan kirab pasangan pengantin GKR Bendara dan KPH Yudanegara berangkat dari Keben sekitar pukul 15.50 WIB dan sampai pada tujuan di Kepatihan sekitar 17. 40 WIB. Karena padatnya pengunjung yang berdatangan dari berbagai penjuru kota, akhirnya rombongan kirab berjalan dengan sangat pelan. Panitia yang memperkirakan durasi kirab pasangan pengantin akan tepat waktu, ternyata jarak tempuh yang hanya 1,5 km bisa sampai lebih dari satu jam. Sebagai pihak yang menyambut kedatangan pengantin di Kepatihan adalah GKR Pembayun dan KGPH Hadiwinoto.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Gebyar Potensi dan Bakat di Taman Budaya


Bapak Suyanto Sedang Memberikan Sambutan
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan Nasional, Suyanto Ph.D menegaskan agar masyarakat terutama para orang tua bersemangat dan penuh optimis menyekolahkan anaknya, penyandang ketunaan atau yang biasa di kenal dengan anak berkebutuhan khusus. Menurutnya, setiap anak yang memiliki keterbatasan, juga memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Siapapun bisa berkarya, tanpa melihat keterbatasan yang dimiliki, tidak terkecuali bagi para penyandang ketunaan. Itulah pesan Suyanto pada sambutan penutupan Gebyar Potensi dan Bakat PK-LK Dikdas Nasional 2011 pada Jumat, 14 Oktober 2011 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY).

Terkadang masyarakat umum, memandang kecacatan, seperti anak tunalaras, tunaganda, tunanetra, tunarungu, tunadaksa, tunagrahita, dan lain-lain, sebagai penghalang untuk berbuat sesuatu. Namun hal itu dapat dipatahkan oleh prestasi dan kemahiran dalam keterampilan pada anak-anak penyandang ketunaan atau Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Setidaknya pada acara malam penutupan ini, yang sudah berlangsung selama empat hari, banyak dari kalangan ABK yang memiliki bakat tinggi dan mampu ditampilkan, dengan memperebutkan banyak piala perlombaan, diantaranya Lomba Tari Tradisional, Desain Grafis, Cerdas Cermat MIPA, Pidato Bahasa Inggris, dan Penelitian Iptek, juga memperebutkan juara perlombaan Manajemen Sentra PK-LK dan Lomba Pameran Stand yang diikuti oleh 33 propinsi yang tersebar di seluruh Indonesia. Juara umum, adalah propinsi Jawa Tengah sebagai propinsi yang paling banyak menyabet piala penghargaan.

Selasa, 11 Oktober 2011

Benteng Vredeburg Yogyakarta; Museum Perjuangan


Benteng Vredeburg Tampak dari Depan
Kota Yogyakarta adalah salah satu dari sekian banyak kota di Indonesia yang mempunyai peranan penting dalam perjalanan sejarah dalam merintis, mencapai, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia. Peristiwa-peristiwa penting sebagai tonggak sejarah terjadi di kota Yogyakarta. Sehingga bukan tidak beralasan apabila Presiden Soekarno menyampaikan kesannya atas kota Yogyakarta bahwa “Yogyakarta menjadi termashur oleh karena jiwa kemerdekaannya, hiduplah terus jiwa kemerdekaan itu”.

Peristiwa bersejarah tersebut berjalan seiring dengan berputarnya roda sang waktu yang selalu bergerak dalam kesatuan dimensi waktu. Saat ini, dan yang akan datang. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya merupakan akumulasi dari gejolak jiwa jaman yang menggerakkan sejarah itu sendiri. Sejarah senantiasa berjalan bersama dinamikanya yang kemudian menjadi ciri khusus dari pembabakan.

Masa lalu, sekarang dan yang akan datang merupakan kesatuan rantai waktu yang tak dapat dipisahkan. Di dalamnya terhadap hubungan sebab akitab yang erat, dimana antara satu dengan yang lain saling kait-mengkait. Masa sekarang merupakan produk masa lalu dan masa sekarang menjadi lampau bagi masa yang akan datang. Demikian seterusnya.

Kamis, 06 Oktober 2011

Taman Sari; Bukan Sekadar Tempat Rekreasi


Menuju Taman Sari
Jika kita melihat sejarah suatu bangsa, atau suatu kerajaan beserta raja-rajanya yang berkuasa, maka akan kita kenal tentang sejarah perjalanan bangsa itu sejak bagian permulaannya hingga masa-masa suram dan masa kehancurannya. Segala sesuatunya itu kebanyakan hanyalah berupa suatu cerita. Sehingga tanpa cerita seseorang atau penulisan seseorang, generasi berikutnya akan tidak mengenalnya dengan jelas.

Tetapi untunglah, bahwa dari hasil budaya bangsa atau kerajaan yang berkuasa semasa itu, dapatlah terwujudkan suatu peninggalan budaya bangsa, baik yang berupa tulisan, bangunan istana, bangunan makam, bangunan tempat pemujaan dan sebagainya, yang pada kemudian harinya dapat dinikmati atau dikenal secara nyata nilai budayanya oleh generasi-generasi berikutnya. Dengan tanpa cerita generasi-generasi berikutnya telah dapat meyakini keagungan masa silamnya.

Minggu, 02 Oktober 2011

Memaknai Keluhuran dari Pesona Candi Prambanan


Gerbang masuk menuju Candi Prambanan
Sahabat pembaca yang budiman, dua hari kemarin Sabtu 1 Oktober 2011 saya melakukan perjalanan Wisata Seni Budaya ke komplek Candi Prambanan. Melihat hasil karya manusia yang satu ini betapa kita akan sangat terkagum-kagum akan kecanggihannya, tidak salah apabila candi ini disebut-sebut oleh masyarakat dunia sebagai salah satu dari keajaiban dunia. Saya harap dari kalian sudah pernah berkunjung ke tempat yang sangat mempesona ini. Bagi yang belum pernah datang, ada baiknya pembaca sekalian membaca tulisan ini sampai selesai.

Candi Prambanan adalah nama lain dari Candi Loro Jonggrang, terletak persis di perbatasan propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan propinsi Jawa Tengah, kurang lebih 17 km ke arah timur dari kota Yogyakarta atau kurang lebih 35 km di sebelah barat kota Solo. Komplek Percandian Prambanan masuk ke dalam dua wilayah, yaitu komplek bagian barat masuk Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan bagian timur masuk wilayah propinsi Jawa Tengah.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...