Kamis, 29 September 2011

Sepak Terjang Taman Budaya Yogyakarta


Taman Budaya Yogyakarta tampak dari Depan
Yogyakarta sebagai sebuah eksiten yang menyimpan kreativitas dan pemikiran beraneka ragam, terlihat dari berbagai representasi pemikiran dan bentuk dari yang tradisional hingga kontemporer. Dinamika proses kreatif yang berlangsung dari waktu kewaktu dan penuh daya cipta ini telah memposisikan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) sebagai The Window of Yogyakarta, di mana masyarakat nusantara maupun mancanegara akan bisa mengenal, mengetahui potensi seni budaya yang dimiliki Yogyakarta.

Sejarah Eksistensi TBY
Taman budaya berdiri diawali lahirnya sebuah gagasan, dengan salah satu penggagasnya yang memiliki peran besar lahirnya Taman Budaya adalah Bapak Ida Bagus Mantra, Direktur Jendral Kebudayaan pada awal tahun 1970, an. Saat Dirjenbud berkunjung ke beberapa Negara di luar negeri menjumpai Pusat Kebudayaan Negara di luar negeri, menjumpai pusat Kebudayaan dan Kesenian begitu maju dan hidup dengan didukung sarana prasarana sangat memadai seperti: gedung pertunjukan, galeri seni, teater terbuka, ruang workshop dan lain-lain yang sangat integratif telah memberikan inspirasi untuk mendirikan pula Pusat Kebudayaan diseluruh propinsi di Indonesia sebagai ‘etalase’ seni budaya yang ada di daerah.

Kamis, 01 September 2011

Prakata Ratih Kumala Dewi untuk Buku Potret Realita Pendidikan Masa Kini


Judul Buku : Buku Potret Realita Pendidikan Masa Kini
Penulis : M Nurul Ikhsan Saleh, dkk.
Penerbit : IPB Press, Bogor
Cetakan : September, 2011
Tebal : vi + 149 halaman

Tahun 1945 menjadi tahun penting dalam catatan sejarah dunia khususnya bagi Jepang yang saat itu merupakan salah satu tokoh utama dalam perang dunia II. Tidak ingin kehilangan kesempatan, sebuah negara dengan kekayaan yang melimpah saat itu juga segera melepaskan diri dari jajahan Negeri Matahari tersebut. Itulah negara kita yang mendeklarasikan kemerdekaan tepat pada tanggal 17 Agustus 1945.

Bom yang jatuh di Nagasaki dan Hiroshima dalam sekejap mata menghancurkan Jepang, dan membuat Indonesia merdeka. Dua negara yang sama-sama membangun kembali negerinya dari titik nol menunjukkan fakta yang begitu ironis. Logika berbicara, negara yang cepat maju karena lebih awal berkesempatan membangun diri tentu bangsa kita, Indonesia. Akan tetapi, bahkan Hiroshima dan Nagasaki yang hancur kembali pun dapat bangkit kembali dengan infrastruktur yang jauh melebihi Indonesia.

Kunci kesuksesan negara Jepang membangun diri ternyata adalah peduli terhadap pembangun  Sumber Daya Manusia dengan cara memperhatikan pendidikan masyarakat. Langkah awal yang dilakukan pemerintah Jepang pasca bom atom yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat (AS) pada tahun 1945 itu adalah mengirim pelajar-pelajar Jepang ke luar negeri untuk belajar dengan misi membangun Jepang kembali. Buku-buku Barat diterjemahkan ke adalam bahasa Jepang agar mempermudah transfer ilmu pengetahuan dan teknologi Barat. Kemudian buku-buku pengetahuan itu dijual dengan sangat murah sehingga mempermudah masyarakat memperolehnya. Dari situ timbulah kegemaran membaca pada sebagian besar masyarakat Jepang. Jepang sadar betul ujung tombak pendidikan adalah guru. Maka pemerintah dan masyarakat Jepang sangat menghargai sosok seorang guru, baik secara finansial maupun moral. Robert C. Christopher, mantan koresponden majalah Newsweek yang tinggal di Jepang pernah berujar, ”lihatlah sikap para guru Jepang, perhatian mereka sampai ke totalitas kehidupan murid mereka”.

Sementara, bagaimanakah Indonesia saat itu? Jelas bahwa Negeri Matahari yang memberi start point yang sama seperti kita dalam membangun negerinya, menjadikan pendidikan sebagai salah satu solusi untuk permasalahan bangsa kita. Sementara hingga saat ini, pendidikan di Indonesia masih dianggap sebagai salah satu permasalahan pelik yang tak kunjung usai dan habisnya. Padahal, begitu banyak produk samping hasil permasalahan pendidikan yang hingga saat ini ternyata menjadi masalah yang sangat besar di negera ini, antara lain ialah kemiskinan, kejahatan, dan pengangguran.

”Potret Relitas Pendidikan Indonesia Masa Kini” hadir sebagai salah satu buah pemikiran anak-anak negeri dalam memandang kondisi pendidikan bangsanya. Berbagai potret kehidupan anak bangsa menunjukkan betapa berharganya pendidikan bagi generasi emas bangsa sebagai salah satu lukisan masa depan di wajah-wajah yang membangun mimpi di tanah ini. Berbagai ide, informasi, dan opini pun juga muncul sebagai salah satu fakta yang dikemas dalam bentuk essai oleh para praktisi akademisi yang peduli akan nasib pendidikan negeri ini.

Buku ini hadir sebagai persembahan kami, generasi muda yang bertekad dengan sepenuh hati untuk membangun negeri ini melalui pendidikan yang tengah kami jalani. ”Pendidikan murah dan berkualitas” adalah kata kunci dari harapan kami dan seluruh anak negeri ini. Buku ini hadir sebagai suara hati kami dan suara hati anak negeri lain, tentang kenyataan dan harapan kami terhadap kemajuan pendidikan di Negeri Khatulistiwa yang kaya akan sumber daya hayati ini.  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...