Selasa, 11 Januari 2011

Bersama Kita Mengajar

Sudah 65 tahun Indonesia merdeka. Sebagian besar masyarakat merasakan kemerdekaan, tapi tidak kalah besarnya, masih banyak kalangan masyarakat yang belum merasakan kemerdekaan sepenuhnya. Mengapa saya katakan demikian? Mari kita lihat arti kemerdekaan dalam perspektif pendiri republik ini. Mereka mengandaikan, kemerdekaan dikatakan tercapai bukan hanya minggatnya kolonialisme, tapi yang terpenting adalah apabila semua lapisan masyarakat mendapatkan pendidikan formal, ternyata sampai sekarang pun tidak semua masyarakat dapat menyenyam pendidikan di lembaga sekolah.

Beberapa kalangan, sibuk mempersoalkan seputar kebijakan, sarana prasarana, dan anak didik di lembaga pendidikan. Tapi sering lupa, membicarakan orang-orang yang belum sempat mengenyam persekolahan. Banyak masyarakat kita di pelosok-pelosok negeri belum sempat mengenyam pendidikan. Bukankah mereka juga orang Indonesia yang berhak mendapatkan pendidikan di lembaga persekolahan? Kenapa kita sering lupa terhadap mereka? Coba kita banyangkan orang-orang dimana kita tinggal. Adakah anak-anak yang masih belum sempat mengenyam pendidikan? Kalau ada, berarti mereka belum sepenuhnya merdeka, karena kriteria kemerdekaan di atas belum tercapai.

Janji kemerdekaan republik Indonesia, yaitu melindungi, memajukan dan mencerdaskan kehidupan bangsa, juga ikut melaksanakan ketertiban dunia. Dalam hal ini saya akan memfokuskan pada proses pencerdasan kehidupan bangsa. Bagi saya, apabila kecerdasan bisa tercapai dengan baik, maka kemajuan republik ini akan tampak di depan mata. Cara yang paling tepat adalah dengan memasukkan anak-anak kita ke dalam lembaga pendidikan.

Memang, usaha pemerintah dan masyarakat dalam membangun lembaga pendidikan setelah meraih kemerdekaan sampai sekarang, perubahannya sangat besar. Semakin banyak berdiri lembaga pendidikan setiap tahunnya. Begitu pula partisipasi masyarakat yang masuk lembaga pendidikan yang juga semakin besar. Tapi, ada beberapa cacatan miris apabila kita kaji kaitannya dengan kualitas pendidikan di negerti kita, ketimbang negara-negara lain, seperti Taiwan, Jepang, Korea, Singapura bahkan Malaysia sekalipun.

Kenapa kualitas pendidikan kita di bawah negara-negara tetangga itu? Padahal melek huruf kita setiap tahunnya naik drastis. Menurut Anis Baswedan, yang akrab dipanggil Baswedan, dalam Talkshow Indonesia Mengajar di Auditorium University Club UGM pada tanggal 11 Januari 2011, meskipun merek huruf kita tinggi, tapi tidak diikuti dengan kualitas bahan bacaan yang ada, bacaan mereka dalam kesehariaan hanya ala kadarnya.

Kualitas Guru
Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah, selain ada beberapa faktor yang mempengaruhi, faktor rendahnya kualitas gurulah yang memiliki dampak besar. Sejak awal kemerdekaan Indonesia, profesi guru dianggap rendahan. Seorang guru dipandang sebelah mata. Dari sinilah, masyarakat tidak memiliki ketertarikan yang besar untuk menjadi seorang guru. Hanya dari kalangan masyarakat biasa saja yang tertarik masuk, tidak dengan kalangan orang pintar.
Banyak anak-anak negeri yang memiliki kompetensi tinggi tidak tertarik untuk menjadi guru karena faktor itu tadi, profesi guru dianggap tidak berbobot, bahkan gajinya sangat kecil. Tidak salah apabila guru-guru yang ada adalah dari kalangan orang biasa-biasa saja. Sehingga kualitas profesionalisme guru di sini dipertaruhkan. Baru tahun-tahun terakhirlah profesi guru mulai dilirik.

Indonesia Mengajar
Sebuah terobosan baru yang coba digagas oleh Baswedan bersama dengan teman-temannya, dengan cara penyelenggaraan Indonesia Mengajar. Program ini menyaring mahasiswa lulusan strata satu (S1) untuk mengajar di pelosok-pelosok desa. Diantaranya tempat yang menjadi tujuan program ini adalah, Bengkalis, Tulangbawang, Majene, Paser, dan Halmahera Selatan. Menurut Baswedan, dengan program ini, seorang guru tidak lagi selalu identik dari kalangan tidak berkualitas, malah sebaliknya, mahasiswa yang direkrut untuk menjadi guru pada program ini adalah dari kalangan mahasiswa yang berprestasi tinggi.
Ide awal lahirnya Indonesia Mengajar menurut Baswedan, dalam Talkshow tersebut, adalah pada bulan Mei, Juni, dan Juli 2009 muncul gagasan antara Baswedan dengan teman-temannya dalam suatu pertemuan. Baru pada tanggal 16 Desember 2009 dibuat proposal untuk mencari sponsor untuk membiayai program tersebut.

Mahasiswa yang masuk program ini akan mendapatkan gaji dan akomodasi yang cukup. Agar kata Baswenan dengan bantuan gaji tersebut guru yang terpilih dalam program ini tidak memberatkan orang tua, bahkan bisa membantu adik-adik mereka yang sedang bersekolah dengan hasil gaji tersebut. Meskipun ada dari beberapa kalangan mahasiswa yang menyarankan untuk tidak usah digaji.

Lebih lanjut, program ini berinisiatif agar beban pendidikan di Indonesia tidak hanya dibebankan kepada pemerintah saja, tapi kita harus bisa mengkonfersi menjadi tanggung jawab masyarakat bersama. Program ini tidak ada sangkut pautnya dengan administrasi pemerintahan, tapi program ini hanya membantu pemerintah untuk memajukan pendidikan. Pendanaan program ini tidak dibiayai pemerintah, karena menurut pendiri program ini, Indonesia Mengajar tidak akan memberatkan pemerintah yang sudah ruwet itu.

Dengan lahirnya program Indonesia Mengajar yang sudah berjalan, telah menginspirasi beberapa kalangan masyarakat untuk juga berandil dalam dunia pendidikan. Bahkan, salah satu perguruan tinggi di Bandung, Institute Teknologi Bandung (ITB), terinspirasi menyelenggarakan program ITB Mengajar, mirip dengan Indonesia Mengajar, tapi program ini sekopnya hanya di Bandung.

Menginspirasi
Untuk menyalakan semangat masa depan republik Indonesia salah satu jalan terbaik adalah dengan menjadi guru. Guru yang selalu menjadi inspirasi bagi anak-anak didiknya. Kita tidak hanya bisa selalu menyalahkan kegagalan-kegagalan pemerintah dalam penyelenggarakan pendidikan, tetapi mari nyalakan api semangat, untuk menyelesaikan persoalan yang didera republik ini melalui pendidikan. Apabila masyarakat zaman penjajahan mampu dan berani melawan penjajahan Belanda dan Jepang, kenapa kita tidak mampu untuk melawan kebodohan di saat sekarang ini. Bergeraklah.

Berikanlah pengalaman hidup kita yang bisa menginspirasi, ditengah rakyat kebanyakan dan daerah terpencil.

Maka, bagi mahasiswa yang berkeinginan untuk mendapatkan wawasan mengajar selama satu tahun lewat program ini, bisa mendaftar di http://registrasi.indonesiamengajar.org. Di sini temen mahasiswa bisa langsung mengisi formulir yang telah disediakan lewat on line. Mengenai informasi lebih lanjut tentang persyaratan masuk program Indonesia Mengajar bisa dilihat di www.indonesiamengajar.org. Bagi yang berkeinginan masuk program ini, persiapkanlah sejak sekarang, dengan memperbanyak diri aktif di beberapa kegiatan kampus dan luar kampus, karena semakin banyak pengalaman yang temen-temen miliki, peluang untuk mendapatkannya semakin lebar.

Pesan terakhir dari Baswedan, be yourself, jadilah diri sendiri, percaya dengan kemampuan dan skill yang kita miliki, jangan mengada-ada. Kehadiran kita harus memberi impectfull, sehingga keberaan kita terasa. Wallahua’lam

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...