Sabtu, 26 November 2011

Memperhatikan Peran Guru

Mengajar dalam Kelas
Jumat kemarin (25/11), kita memperingati Hari Guru Nasional. Peringatan tersebut sebagai tanda penghargaan terhadap guru. Betapa peranan seorang guru sangatlah penting bagi pencerdasan kehidupan bangsa. Sampai-sampai negara-negara maju seperti Cina, Jepang, dan Singapura memperketat dalam seleksi penerimaan guru. Hal ini berbeda dengan negara kita yang masih terkesan longgar.

Mestinya pemerintah harus semakin serius melakukan rekrutmen calon anggota guru. Pemerintah harus ketat dengan kriteria kompetensi yang telah ditetapkan bagi siapa saja yang ingin masuk menjadi guru. Setidaknya, bertambah besarnya tunjangan yang dikucurkan terhadap profesi guru berbanding lurus dengan peningkatan kualitas. Meski dalam beberapa kasus proses pemberian tunjangan seringkali di panggkas oleh pihak pemerintah daerah bidang pendidikan.

Tak salah apabila di beberapa daerah masih ditemukan kejanggalan dan kesenjangan tunjangan dibanding dengan yang diterima guru-guru di perkotaan. Padahal memberikan perhatian yang besar serta memperlakukan adil terhadap semua guru adalah hal yang sangat penting. Agar setiap guru merasakan penghargaan yang sama. Tidak dibeda-bedakan.

Senin, 24 Oktober 2011

Berawal dari Semangat Bermimpi

Inilah kota impian Nurul, Kota Yogyakarta
Bulan Oktober 2006, saya nekat datang ke Yogyakarta. Kedatangan itu merupakan mimpi yang menjadi kenyataan. Sebelumnya, pertengahan tahun 2006 setelah lulus Sekolah Menengah Atas, SMA Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, saya bermimpi kuliah di Yogyakarta, tapi tidak diperbolehkan oleh kedua orang tua dengan alasan tidak kuat membiayai dan didukung kepercayaan dalam keluarga saya bahwa kota Yogyakarta adalah sarang pergaulan bebas. Maklum saya hidup dalam keluarga yang taat beragama, dan seringkali beranggapan buruk terhadap pergaulan di kota-kota besar. Walhasil, dengan tanpa pamit di bulan Oktober tersebut, saya berangkat ke kota yang kaya akan budaya ini dengan hanya berbekal uang 600 ribu rupiah.

Namun, setelah sepuluh hari tinggal di Kota Gudeg, saya berubah pikiran. Teman saya Bernando J. Sujibto menyarankan kepada saya untuk pintar bahasa Inggris terlebih dahulu sebelum tinggal di kota pelajar ini. Dengan tanpa pertimbangan panjang akhirnya saya memutuskan pergi ke Pare Kediri untuk menimba bahasa Inggris. Berselang setengah bulan kemudian, uang saku saya habis. Ketika mencoba meminta kiriman uang kepada kedua orang tua di rumah, mereka tidak ada yang mau mengasihkan uang sepeser pun. Alhamdulillah tanpa diduga saya diterima menjadi officer pada lembaga kursus Raymond English Course, Pare dengan hanya bermodalkan bisa mengetik sepuluh jari dan melayout di Corel Draw. Saya mulai hidup tenang. Makan gratis. Tempat tinggal gratis.

Minggu, 23 Oktober 2011

Ketika Keajaiban Dunia Ada di Yogyakarta


Salah Satu Peserta Karnaval di Sepanjang Malioboro
Perayaan Jogja Java Carnival yang dihelat Sabtu 22 Oktober 2011 mendapat perhatian besar dari masyarakat luas. Pemberitaan yang begitu gencar mengenai akan diadakannya peringatan besar pada hari jadi Yogyakarta yang ke 255 ini, semakin meningkatkan rasa ingin tahu warga hampir dari seluruh Indonesia pada kota budaya sekaligus kota pelajar ini. Hal itu ditunjukkan dengan banyaknya masyarakat yang berkunjung ke Yogyakarta untuk menyaksikan perayaan tersebut. Tidak hanya media dalam negeri saja yang meliput, bahkan media asing cukup banyak yang ikut andil menyiarkan langsung perayaan ini.

Banyak wisatawan yang datang langsung ke Yogyakarta untuk menyaksikan pawai Mozaik Jogja Java Carnival. Bisa kita lihat, ada puluhan ribu orang memadati jalan Maliboro sampai ke Alun-Alun Utara. Selain itu ratusan bahkan ribuan undangan hadir untuk secara langsung melihat aksi-aksi fenomenal dari peserta karnaval. Turut hadir dalam perayaan ini, yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono X, Herry Zudianto selaku Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, Pejabat di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi/Kota Yogyakarta, dan beberapa pejabat dari instansi lainnya. Beberapa sajian yang turut dipertontonkan adalah Serigala Babilonia, Taman Gantung Ababionia, Kuda Troya sebagai legenda saat terjadi perang Troya oleh tentara Yunani, termasuk pasukan Gladiator yang berpakaian perang lengkap. Kemeriahan karnaval kali ini tampak sekali di malam itu, yang berlangsung sejak pukul 18.00 WIB. 

Rabu, 19 Oktober 2011

Royal Wedding Jogja: GKR Bendara dan KPH Yudanegara


KPH Yudanegara dan GKR Bendara Melambaikan Tangan Kepada Masyarakat
Selasa 18 Oktober 2011 menjadi puncak kebahagiaan pasangan antara GRAj Nurastuti Wirajeni yang bergelar GKR Bendara dengan Achmad Ubaidillah yang bergelar KPH Yudanegara. Selain disaksikan keluarga kraton Sri Sultan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani serta Wapres Budiono dan Ibu Herawati, mantan presiden/wapres, menteri dan ribuan pasangan tamu undangan lain termasuk 40 raja Nusantara yang memenuhi pelataran Bangsal Kencana menyaksikan secara langsung proses pernikahan keduanya. Ijab kobul yang dilaksanan pada pukul 07.20 WIB berlangsung selama tiga menit di Masjid Panepen Kraton, menandakan sepasang kekasih yang resmi menjadi sepasang suami isteri.

Setelah perhelatan prosesi pernikahan selesai. Selanjutnya dilakukan iring-iringan kirab. Rombongan kirab pasangan pengantin GKR Bendara dan KPH Yudanegara berangkat dari Keben sekitar pukul 15.50 WIB dan sampai pada tujuan di Kepatihan sekitar 17. 40 WIB. Karena padatnya pengunjung yang berdatangan dari berbagai penjuru kota, akhirnya rombongan kirab berjalan dengan sangat pelan. Panitia yang memperkirakan durasi kirab pasangan pengantin akan tepat waktu, ternyata jarak tempuh yang hanya 1,5 km bisa sampai lebih dari satu jam. Sebagai pihak yang menyambut kedatangan pengantin di Kepatihan adalah GKR Pembayun dan KGPH Hadiwinoto.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Gebyar Potensi dan Bakat di Taman Budaya


Bapak Suyanto Sedang Memberikan Sambutan
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan Nasional, Suyanto Ph.D menegaskan agar masyarakat terutama para orang tua bersemangat dan penuh optimis menyekolahkan anaknya, penyandang ketunaan atau yang biasa di kenal dengan anak berkebutuhan khusus. Menurutnya, setiap anak yang memiliki keterbatasan, juga memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Siapapun bisa berkarya, tanpa melihat keterbatasan yang dimiliki, tidak terkecuali bagi para penyandang ketunaan. Itulah pesan Suyanto pada sambutan penutupan Gebyar Potensi dan Bakat PK-LK Dikdas Nasional 2011 pada Jumat, 14 Oktober 2011 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY).

Terkadang masyarakat umum, memandang kecacatan, seperti anak tunalaras, tunaganda, tunanetra, tunarungu, tunadaksa, tunagrahita, dan lain-lain, sebagai penghalang untuk berbuat sesuatu. Namun hal itu dapat dipatahkan oleh prestasi dan kemahiran dalam keterampilan pada anak-anak penyandang ketunaan atau Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Setidaknya pada acara malam penutupan ini, yang sudah berlangsung selama empat hari, banyak dari kalangan ABK yang memiliki bakat tinggi dan mampu ditampilkan, dengan memperebutkan banyak piala perlombaan, diantaranya Lomba Tari Tradisional, Desain Grafis, Cerdas Cermat MIPA, Pidato Bahasa Inggris, dan Penelitian Iptek, juga memperebutkan juara perlombaan Manajemen Sentra PK-LK dan Lomba Pameran Stand yang diikuti oleh 33 propinsi yang tersebar di seluruh Indonesia. Juara umum, adalah propinsi Jawa Tengah sebagai propinsi yang paling banyak menyabet piala penghargaan.

Selasa, 11 Oktober 2011

Benteng Vredeburg Yogyakarta; Museum Perjuangan


Benteng Vredeburg Tampak dari Depan
Kota Yogyakarta adalah salah satu dari sekian banyak kota di Indonesia yang mempunyai peranan penting dalam perjalanan sejarah dalam merintis, mencapai, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia. Peristiwa-peristiwa penting sebagai tonggak sejarah terjadi di kota Yogyakarta. Sehingga bukan tidak beralasan apabila Presiden Soekarno menyampaikan kesannya atas kota Yogyakarta bahwa “Yogyakarta menjadi termashur oleh karena jiwa kemerdekaannya, hiduplah terus jiwa kemerdekaan itu”.

Peristiwa bersejarah tersebut berjalan seiring dengan berputarnya roda sang waktu yang selalu bergerak dalam kesatuan dimensi waktu. Saat ini, dan yang akan datang. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya merupakan akumulasi dari gejolak jiwa jaman yang menggerakkan sejarah itu sendiri. Sejarah senantiasa berjalan bersama dinamikanya yang kemudian menjadi ciri khusus dari pembabakan.

Masa lalu, sekarang dan yang akan datang merupakan kesatuan rantai waktu yang tak dapat dipisahkan. Di dalamnya terhadap hubungan sebab akitab yang erat, dimana antara satu dengan yang lain saling kait-mengkait. Masa sekarang merupakan produk masa lalu dan masa sekarang menjadi lampau bagi masa yang akan datang. Demikian seterusnya.

Kamis, 06 Oktober 2011

Taman Sari; Bukan Sekadar Tempat Rekreasi


Menuju Taman Sari
Jika kita melihat sejarah suatu bangsa, atau suatu kerajaan beserta raja-rajanya yang berkuasa, maka akan kita kenal tentang sejarah perjalanan bangsa itu sejak bagian permulaannya hingga masa-masa suram dan masa kehancurannya. Segala sesuatunya itu kebanyakan hanyalah berupa suatu cerita. Sehingga tanpa cerita seseorang atau penulisan seseorang, generasi berikutnya akan tidak mengenalnya dengan jelas.

Tetapi untunglah, bahwa dari hasil budaya bangsa atau kerajaan yang berkuasa semasa itu, dapatlah terwujudkan suatu peninggalan budaya bangsa, baik yang berupa tulisan, bangunan istana, bangunan makam, bangunan tempat pemujaan dan sebagainya, yang pada kemudian harinya dapat dinikmati atau dikenal secara nyata nilai budayanya oleh generasi-generasi berikutnya. Dengan tanpa cerita generasi-generasi berikutnya telah dapat meyakini keagungan masa silamnya.

Minggu, 02 Oktober 2011

Memaknai Keluhuran dari Pesona Candi Prambanan


Gerbang masuk menuju Candi Prambanan
Sahabat pembaca yang budiman, dua hari kemarin Sabtu 1 Oktober 2011 saya melakukan perjalanan Wisata Seni Budaya ke komplek Candi Prambanan. Melihat hasil karya manusia yang satu ini betapa kita akan sangat terkagum-kagum akan kecanggihannya, tidak salah apabila candi ini disebut-sebut oleh masyarakat dunia sebagai salah satu dari keajaiban dunia. Saya harap dari kalian sudah pernah berkunjung ke tempat yang sangat mempesona ini. Bagi yang belum pernah datang, ada baiknya pembaca sekalian membaca tulisan ini sampai selesai.

Candi Prambanan adalah nama lain dari Candi Loro Jonggrang, terletak persis di perbatasan propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan propinsi Jawa Tengah, kurang lebih 17 km ke arah timur dari kota Yogyakarta atau kurang lebih 35 km di sebelah barat kota Solo. Komplek Percandian Prambanan masuk ke dalam dua wilayah, yaitu komplek bagian barat masuk Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan bagian timur masuk wilayah propinsi Jawa Tengah.

Kamis, 29 September 2011

Sepak Terjang Taman Budaya Yogyakarta


Taman Budaya Yogyakarta tampak dari Depan
Yogyakarta sebagai sebuah eksiten yang menyimpan kreativitas dan pemikiran beraneka ragam, terlihat dari berbagai representasi pemikiran dan bentuk dari yang tradisional hingga kontemporer. Dinamika proses kreatif yang berlangsung dari waktu kewaktu dan penuh daya cipta ini telah memposisikan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) sebagai The Window of Yogyakarta, di mana masyarakat nusantara maupun mancanegara akan bisa mengenal, mengetahui potensi seni budaya yang dimiliki Yogyakarta.

Sejarah Eksistensi TBY
Taman budaya berdiri diawali lahirnya sebuah gagasan, dengan salah satu penggagasnya yang memiliki peran besar lahirnya Taman Budaya adalah Bapak Ida Bagus Mantra, Direktur Jendral Kebudayaan pada awal tahun 1970, an. Saat Dirjenbud berkunjung ke beberapa Negara di luar negeri menjumpai Pusat Kebudayaan Negara di luar negeri, menjumpai pusat Kebudayaan dan Kesenian begitu maju dan hidup dengan didukung sarana prasarana sangat memadai seperti: gedung pertunjukan, galeri seni, teater terbuka, ruang workshop dan lain-lain yang sangat integratif telah memberikan inspirasi untuk mendirikan pula Pusat Kebudayaan diseluruh propinsi di Indonesia sebagai ‘etalase’ seni budaya yang ada di daerah.

Kamis, 01 September 2011

Prakata Ratih Kumala Dewi untuk Buku Potret Realita Pendidikan Masa Kini


Judul Buku : Buku Potret Realita Pendidikan Masa Kini
Penulis : M Nurul Ikhsan Saleh, dkk.
Penerbit : IPB Press, Bogor
Cetakan : September, 2011
Tebal : vi + 149 halaman

Tahun 1945 menjadi tahun penting dalam catatan sejarah dunia khususnya bagi Jepang yang saat itu merupakan salah satu tokoh utama dalam perang dunia II. Tidak ingin kehilangan kesempatan, sebuah negara dengan kekayaan yang melimpah saat itu juga segera melepaskan diri dari jajahan Negeri Matahari tersebut. Itulah negara kita yang mendeklarasikan kemerdekaan tepat pada tanggal 17 Agustus 1945.

Bom yang jatuh di Nagasaki dan Hiroshima dalam sekejap mata menghancurkan Jepang, dan membuat Indonesia merdeka. Dua negara yang sama-sama membangun kembali negerinya dari titik nol menunjukkan fakta yang begitu ironis. Logika berbicara, negara yang cepat maju karena lebih awal berkesempatan membangun diri tentu bangsa kita, Indonesia. Akan tetapi, bahkan Hiroshima dan Nagasaki yang hancur kembali pun dapat bangkit kembali dengan infrastruktur yang jauh melebihi Indonesia.

Kunci kesuksesan negara Jepang membangun diri ternyata adalah peduli terhadap pembangun  Sumber Daya Manusia dengan cara memperhatikan pendidikan masyarakat. Langkah awal yang dilakukan pemerintah Jepang pasca bom atom yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat (AS) pada tahun 1945 itu adalah mengirim pelajar-pelajar Jepang ke luar negeri untuk belajar dengan misi membangun Jepang kembali. Buku-buku Barat diterjemahkan ke adalam bahasa Jepang agar mempermudah transfer ilmu pengetahuan dan teknologi Barat. Kemudian buku-buku pengetahuan itu dijual dengan sangat murah sehingga mempermudah masyarakat memperolehnya. Dari situ timbulah kegemaran membaca pada sebagian besar masyarakat Jepang. Jepang sadar betul ujung tombak pendidikan adalah guru. Maka pemerintah dan masyarakat Jepang sangat menghargai sosok seorang guru, baik secara finansial maupun moral. Robert C. Christopher, mantan koresponden majalah Newsweek yang tinggal di Jepang pernah berujar, ”lihatlah sikap para guru Jepang, perhatian mereka sampai ke totalitas kehidupan murid mereka”.

Sementara, bagaimanakah Indonesia saat itu? Jelas bahwa Negeri Matahari yang memberi start point yang sama seperti kita dalam membangun negerinya, menjadikan pendidikan sebagai salah satu solusi untuk permasalahan bangsa kita. Sementara hingga saat ini, pendidikan di Indonesia masih dianggap sebagai salah satu permasalahan pelik yang tak kunjung usai dan habisnya. Padahal, begitu banyak produk samping hasil permasalahan pendidikan yang hingga saat ini ternyata menjadi masalah yang sangat besar di negera ini, antara lain ialah kemiskinan, kejahatan, dan pengangguran.

”Potret Relitas Pendidikan Indonesia Masa Kini” hadir sebagai salah satu buah pemikiran anak-anak negeri dalam memandang kondisi pendidikan bangsanya. Berbagai potret kehidupan anak bangsa menunjukkan betapa berharganya pendidikan bagi generasi emas bangsa sebagai salah satu lukisan masa depan di wajah-wajah yang membangun mimpi di tanah ini. Berbagai ide, informasi, dan opini pun juga muncul sebagai salah satu fakta yang dikemas dalam bentuk essai oleh para praktisi akademisi yang peduli akan nasib pendidikan negeri ini.

Buku ini hadir sebagai persembahan kami, generasi muda yang bertekad dengan sepenuh hati untuk membangun negeri ini melalui pendidikan yang tengah kami jalani. ”Pendidikan murah dan berkualitas” adalah kata kunci dari harapan kami dan seluruh anak negeri ini. Buku ini hadir sebagai suara hati kami dan suara hati anak negeri lain, tentang kenyataan dan harapan kami terhadap kemajuan pendidikan di Negeri Khatulistiwa yang kaya akan sumber daya hayati ini.  

Minggu, 12 Juni 2011

Bagaimana Menjadi Wirausahawan Handal?


Panitia Seminar
Sebagai bentuk partisipasi aktif Beswan Djarum Djogja (Bedjo) angkatan ke-26 dalam berbagi ilmu pengetahuan kepada mahasiswa yang tinggal di Yogyakarta, pada Sabtu 11 Juni 2011 Bedjo meyelenggarakan Seminar Entrepreneurship. Bertempat di Auditorium Kampus Bonaventura, Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Kurang lebih ada 200 mahasiswa yang mendaftar untuk bisa mengikuti acara ini. Karena panitia menyediakan tempat terbatas, maka hanya 100 mahasiswa terpilih yang dapat berpartisipasi. Padahal, panitia hanya mempublikasikan poster dalam waktu tiga hari sebelum acara diselenggarakan. Tentu, antusiasme mahasiswa yang besar untuk mengikuti acara ini tidak lepas dari keinginan untuk belajar tentang kewirausahaan dari dua orang narasumber yang sudah cukup dikenal.

Minggu, 15 Mei 2011

Kesan Ikut Dare To Be A Leader (DTL) and Debate


Peserta DTL VI 2011
Suatu kebanggaan yang luar biasa, saya sebagai mahasiswa Kependidikan Islam (KI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berkesempatan mendapatkan beasiswa dari Djarum Beasiswa Plus yang dinaungi oleh CSR Djarum. Di antara satu kebanggaan dari banyak kebanggaan lain adalah ketika saya mendapatkan pelatihan Dare To Be A Leader (DTL) and Debate batch VI. Yang berlangsung dari tanggal 11 sampai 14 Mei 2011 di Hotel Melia Purosani Yogyakarta.

Pelatihan ini bagian dari serangkaian kegiatan yang diperuntukkan khusus bagi para Beswan Djarum (nama panggilan bagi penerima Djarum Beasiswa Plus). Beswan Djarum dilatih kemampuan soft skill-nya di bidang kepemimpinan. Bagaimana menjadi pemimpin yang aktif, kreatif dan mampu bekerjasama dengan bawahannya. Selama empat hari pelatihan, selain pemberian materi dalam bentuk ranah kognitif, para Beswan Djarum juga disajikan materi dalam bentuk praktis. Para trainer memberikan rangkaian simulasi pemecahan beragam masalah untuk dipecahkan dalam berkelompok. Di sela-sela padatnya acara, Beswan Djarum juga diberikan permainan (games) menarik sehingga saya nilai acara ini benar-benar mempesona dan tidak membosankan.

Minggu, 01 Mei 2011

Aku (Beswan Djarum) Menulis, Maka Aku Ada


Peserta Pelatihan Menulis
Mulailah menulis, jangan berpikir. Berpikir itu nanti saja. Yang penting menulis dulu. Tulis draf pertamamu itu dengan hati. Baru nanti kau akan menulis ulang dengan kepalamu. Kunci utama menulis adalah menulis, bukannya berpikir.” (James Whitfield Ellison)

Setiap manusia yang lahir di muka bumi membawa bakat dan potensi. Berkat bakat dan potensi yang diasah, seseorang bisa menjadi sukses dan terpandang. Tinggal bagaimana kesungguhan seseorang itu menggali dan mengasahnya. Ibaratkan pisau, apabila ia sering diasah, akan menjadi tajam. Sebaliknya, apabila tidak diasah, pisau itu tetap tumpul dan sulit dimanfaatkan untuk memotong barang apapun. Otak manusia pun begitu.

Ada yang mampu mengasah bakatnya dengan baik. Salah satu contohnya beberapa tokoh terkenal Indonesia yang tekun mengasah di bidang tulis menulis. Misalnya, Goenawan Mohamad, Rendra, Kuntowijoyo, Umar Kayam, Gus Dur, Gus Mus, Nurcholis Madjid, Emha Ainun Nadjib dan masih banyak lagi yang lainnya. Mereka mampu membaca dan mengembangkan bakatnya dengan baik. Bahkan mereka menginspirasi banyak orang. Bagaimana dengan diri kita, sudahkah mengasah bakat yang kita miliki dengan baik?

Senin, 28 Maret 2011

Beswan, Bersama Membangun Harmoni


Berpose di Sela Melaksanakan Out Bond
Betapa indahnya kebersamaan apabila kita mampu mewujudkan dan memaknainya dengan baik. Belum tentu persahabatan yang sudah lama terbangun bisa harmonis. Jika di antara perseorangan belum merasa dihormati, diapresiasi, dan diterima dengan baik. Bagaimana apabila perseorangan dalam persahabatan telah diperlakukan seperti itu? Tentu dia merasa senang dan bangga memiliki sahabat. Sangat mungkin akan merasa kehilangan apabila sahabat itu sudah tidak lagi di sisinya. Bahkan, memiliki sahabat yang sudah bertahun-tahun lamanya, tapi tidak pernah diperlakukan dengan baik, bisa dikalahkan dengan persahabatan yang hanya beberapa saat.

Minggu, 20 Maret 2011

Indahnya Bersama Beswan Djarum Pekalongan


Peserta Melantunkan Lagu Indonesia Raya
Waktu itu, jam sembilan pagi, aula Universitas Pekalongan (Unikal) mulai hangat dan ramai. Sekitar 40 mahasiswa dari beberapa universitas di Pekalongan berdatangan untuk mengikuti pelatihan motivasi dan pengembangan diri, Motivation and Self Improvement Training. Kehangatan itu pun memukau karena semua peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Beswan Djarum bersama-sama untuk memulai acara pelatihan tersebut.

Pelatihan ini diselenggarakan oleh Ikatan Beswan Djarum Pekalongan angkatan 26 pada Sabtu 19 Maret 2011, bertema Let’s Improve and Be Success. Saya sangat salut dengan kerja keras panitia dalam mensukseskan pelatihan. Hanya beranggotakan 6 orang, mereka mampu menghandel acara dengan baik. Tidak salah ketika mulai dari persiapan acara sampai pada puncak acara, salah satu panitia merangkap beberapa tugas, dari membuat sertifikat, menerima peserta, membagikan snack kesemua peserta, bahkan memberikan sambutan di depan para peserta. Betapa terkurasnya tenaga mereka. Tapi, sampai diakhir acara semua panitia tetap nampak sangat bergairah dan semangat.

Minggu, 20 Februari 2011

Pemimpin yang Antah Berantah

Di tengah ingar-bingar seruan penegakan tindak pidana korupsi di republik ini, ada realitas pahit yang dibiarkan kelu oleh gilasan waktu. Sejak proklamasi republik ini, rezim berganti rezim, tetapi lebih dari setengah abad itu masih sangat banyak pemimpin di daerah belahan republik ini yang tersangkut kasus korupsi tetap hidup tenang.
Para pemimpin daerah tersebut masih bisa berlalu lalang menduduki kursi kepemimpinan. Bahkan di beberapa daerah, para pemimpin yang jelas-jelas masih tersandung kasus pencurian uang rakyat kembali terpilih pada ajang pemilihan kepala daerah berikutnya.
Mengapa banyak masyarakat begitu gampang dikibuli oleh pemimpin yang tidak bertanggung jawab. Meski jelas-jelas melakukan tindak pidana korupsi terhadap hasil pendapatan daerah, masih saja diberi kursi kepemimpinan. Seharusnya diadili, malah dipelihara. Perlakuan seperti ini, seperti layaknya menyimpan tikus dalam rumah yang siap sedia menguras apa saja yang ada di dalam rumah kita.
Dimanakah yang salah? Dalam beberapa kasus pemilihan kepada daerah, masyarakat tidak lagi mendasarkan pilihannya pada siapakah tokoh yang memiliki integritas kepemimpinan yang baik. Tapi lebih pada seberapa besar materi yang diberikan kepada mereka. Sehingga tidak sulit bagi pemimpin yang memiliki uang miliyaran bahkan triliunan untuk menjadi pemimpin. Hanya ada sedikit ruang bagi mereka yang ingin menjadi pemimpin yang hanya bermodalkan kepercayaan. Tidak salah jika Buya Syafii Maarif (2010) menyebut negeri ini sebagai negeri antah-berantah.

Minggu, 13 Februari 2011

Outbound; Achievement Motivation Training


Beswan Djarum dari Yogyakarta
Berakhirnya pelaksanaan “Outbound: Achievement Motivation Training” batch (kelompok) ke-3 pada tanggal 09 sampai 12 Pebruari 2011 di Cikole, Lembang, Jawa Barat, maka berakhir pula pelaksanaan Outbound Training bagi penerima program Beasiswa Djarum pada tahun ini.

Masih segar dalam ingatan saya. Betapa kegiatan Outbound Training telah memberikan warna yang luar biasa dalam perjalanan hidup saya mengarungi kehidupan. Dari sini, saya semakin sadar, betapa proses pendidikan tidak harus selalu berlangsung di lembaga pendidikan formal, seperti lembaga persekolahan atau pun juga di lembaga perguruan tinggi. Kegiatan Outbound Training adalah sebagai salah satu proses dari pendidikan dalam pembentukan karakter bagi seseorang. Dalam kegiatan ini saya belajar banyak hal, salah satunya, bagaimana saya harus berani menghadapi semua rintangan, tanpa ada keinginan untuk menyerah sebelum berusaha melewatinya, siap menjadi pemimpin, siap pula dipimpin oleh orang lain. Terlebih, dalam kegiatan ini saya dilatih untuk memiliki mental sang juara dalam kondisi apapun.

Selasa, 11 Januari 2011

Bersama Kita Mengajar

Sudah 65 tahun Indonesia merdeka. Sebagian besar masyarakat merasakan kemerdekaan, tapi tidak kalah besarnya, masih banyak kalangan masyarakat yang belum merasakan kemerdekaan sepenuhnya. Mengapa saya katakan demikian? Mari kita lihat arti kemerdekaan dalam perspektif pendiri republik ini. Mereka mengandaikan, kemerdekaan dikatakan tercapai bukan hanya minggatnya kolonialisme, tapi yang terpenting adalah apabila semua lapisan masyarakat mendapatkan pendidikan formal, ternyata sampai sekarang pun tidak semua masyarakat dapat menyenyam pendidikan di lembaga sekolah.

Beberapa kalangan, sibuk mempersoalkan seputar kebijakan, sarana prasarana, dan anak didik di lembaga pendidikan. Tapi sering lupa, membicarakan orang-orang yang belum sempat mengenyam persekolahan. Banyak masyarakat kita di pelosok-pelosok negeri belum sempat mengenyam pendidikan. Bukankah mereka juga orang Indonesia yang berhak mendapatkan pendidikan di lembaga persekolahan? Kenapa kita sering lupa terhadap mereka? Coba kita banyangkan orang-orang dimana kita tinggal. Adakah anak-anak yang masih belum sempat mengenyam pendidikan? Kalau ada, berarti mereka belum sepenuhnya merdeka, karena kriteria kemerdekaan di atas belum tercapai.

Janji kemerdekaan republik Indonesia, yaitu melindungi, memajukan dan mencerdaskan kehidupan bangsa, juga ikut melaksanakan ketertiban dunia. Dalam hal ini saya akan memfokuskan pada proses pencerdasan kehidupan bangsa. Bagi saya, apabila kecerdasan bisa tercapai dengan baik, maka kemajuan republik ini akan tampak di depan mata. Cara yang paling tepat adalah dengan memasukkan anak-anak kita ke dalam lembaga pendidikan.

Selasa, 04 Januari 2011

Perempuan; Haruskah Saya Berharap

Tiap kali harapan yang saya hadirkan untuk mendapatkan seseorang perempuan, selalu menemui jalan buntu. Betapa saya merasa rapuh ketika harus menerima kenyataan itu. Harapan itu selalu datang tiap kali saya menemukan ketertarikan, tapi sejauh ini belum pernah menemukan jawaban yang pasti. Beberapa kenangan yang pernah saya jalani selama ini hanya berakhir pada harapan yang tiada pasti. Haruskah saya tersiksa dengan pengharapan yang tidak menentu itu?

Memang saya sadar untuk tidak menghilangkan harapan itu. Tiap orang pasti merasakan pahit manisnya harapan, meski dengan bentuk yang berbeda. Bagi saya harapan itu adalah jalan awal mencapai sesuatu yang kita inginkan. Tanpa harapan, mungkin saja saya tidak akan pernah merasa hidup. Harapan telah memberikan saya semangat untuk berbuat, bahkan dengan mengorbankan apa saja yang saya miliki. Harapan membuat saya semangat dalam melakukan suatu pekerjaan. Walau terkadang, dibalik prilaku itu, saya tanamkan imbalan yang bisa saya dapatkan.

Pernah suatu waktu, saya tanamkan harapan pada sesosok perempuan, dengan begitu besarnya harapan itu saya miliki ditambah optimisme yang besar pula. Tapi seiring perjalanan waktu, harapan itu tumbang. Memang, di awal-awal, ketika saya harus berjalan dengan harapan itu yang hampir menghabiskan waktu selama dua tahun saya menemukan kenikmatan tersendiri. Bisa saling bertukar keluh kesah dan saling mensupport. Saat itu, saya sempat berpikir bahwa perjalanan ini akan terus bertahan karena kita telah membuat kenangan-kenangan bersama. Meski sebenarnya saya tidak cinta dengan sepenuh hati karena saya berpikir untuk tidak mencintai seseorang dengan betul-betul seutuhnya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...