Kamis, 29 Juli 2010

MENULIS (Sekelumit Pelajaran Bersama ANBTI)


Bagaimana menuangkan ide yang ada dalam pikiran menjadi sebuah tulisan yang sistematis, dimana pembaca dapat tenggelam dalam esai yang kita tulis adalah persoalan pelik yang biasa dihadapi oleh penulis. Mengorganisir suatu gagasan dalam bentuk tulisan yang utuh bukanlah perkara instan dan mudah seperti laiknya membalik telapak tangan, namun perlu latihan secara terus menerus. Begitu kira-kira pesan pamungkas dari Ayu Utami yang saya tangkap. Setelah bercerita panjang dalam pelatihan penulisan esai ANBTI 2010. Penulis esai terkadang dihadapkan pada gagasan-gagasan universal yang mengakibatkan mereka tidak mampu menuangkan secara sistematis maupun spesifik.

Mengorganisasi gagasan sistematis membutuhkan pengayaan literatur yang cukup memadai dan refleksi atas berbagai hal yang diketahuinya melalui pengalaman maupun pembacaan literatur terkait. Maka, kegiatan membaca, merefleksikan dan menuangkan ke dalam suatu esai adalah tiga hal yang tidak bisa dipisahkan, dan memang harus dilakukan secara simultan. Kepiawaian seorang penulis bukan didapatkan dari kepemilikan potensi dalam diri, akan tetapi dari jerih payah dan latihan secara terus menerus dalam menuangkan gagasan maupun ide menjadi esai yang baik. Ini artinya, menjadi seorang penulis tidak hanya didukung oleh potensi individu yang melekat dalam diri seseorang, akan tetapi lebih dari itu ketekunan, kejelian, ketelitian, dan kemampuan yang keras dari seseorang menjadi modal yang sangat penting untuk menjadi penulis yang berkualitas.

Selaku pembicara kedua, Ignatius Haryanto, mengupas lebih teknis mengenai penulisan esai. Dia menekankan, betapa tulisan esai haruslah dimulai pemaparan yang menggugah. Tidak hanya dimaksudkan untuk memberitahukan pokok bahasan yang ingin diungkapkan. Akan tetapi juga untuk berbicara dengan audiens yang ingin dijangkau. Pragraf pertama harus dirumuskan dengan baik untuk dapat merebut dan memenangkan perhatian pembaca. Jika pragraf pertama atau bahkan judul yang ada dalam esai kita tidak mampu merebut perhatian pembaca, maka tulisan kita tidak akan mendapatkan perhatian yang serius dan tidak mampu membangkitkan minat pembaca. Isi awal-awal esai hendaknya dirumuskan secara sangat khusus untuk menarik perhatian pembaca. Sehingga mereka memiliki keinginan untuk mengikuti uraian-uraian lebih lanjut. Perhatian pembaca dapat ditarik antara lain dengan menyajikan di dalam pragraf pembuka informasi atau pernyataan baru yang mengejutkan atau bertentangan dengan pendapat umum, dikombinasikan dengan penyajian argumen dan fakta-fakta yang kuat. Atau paling tidak penulis harus menampilkan keunikan yang akan disajikan. Mengendalikan Setiap pragraf yang memiliki komposisi yang baik harus memiliki suatu gagasan pengendali yang jelas. Berupa suatu gagasan pokok yang pada umumnya dikemukakan melalui penyajian kalimat pertama yang akan didukung dan dijelaskan oleh semua kalimat yang lain di dalam paragraf yang bersangkutan. Suatu paragraf yang baik harus berkembang dan berpusat pada suatu gagasan sentral yang akan mengendalikan seluruh organisasi paragraf.

Terkadang penulis membuka pragraf melalui kalimat yang secara khusus dirancang dan didesain untuk mengungkapkan suatu topik pragraf. Berupa suatu pernyataan umum yang disajikan pada awal penyajian suatu paragraf dan didukung oleh kalimat-kalimat lain yang mengikutinya. Setiap pragraf memiliki suatu struktur logis yang bersumber di dalam gagasan pokok pragraf. Penyajian kalimat-kalimat secara berturut-turut dan aliran penyajian gagasan-gagasan menyusul penyajian kalimat pragraf pembuka dimaksudkan untuk mengendalikan struktur kelogisan. Akhirnya, saya hanya ingin menegaskan kembali perkataan Ayu Utami, bahwa kemampuan seseorang dalam menulis esai yang baik tidak hanya didukung dengan potensi yang ada dalam diri seseorang. Lebih dari itu. Hal yang paling penting adalah berlatih secara terus menerus dan berkelanjutan.

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...