Minggu, 02 Mei 2010

Kraton; Sarana Inspirasi Problematika Bangsa


Dalam kehidupan berbangsa, sebuah masyarakat yang beradap tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai budaya dan sejarah masa lampaunya. Karena tanpa melibatkan dua hal tersebut, suatu bangsa akan kehilangan identitas dan jati diri sebagai bangsa. Bila bangsa kehilangan identitas dan itu terus dibiarkan, bukan tidak mungkin pada gilirannya bangsa itu akan hilang, bahkan musnah. Kita tidak menginginkan hal yang sangat mengerikan ini terjadi.

Kita bersama dapat merasakan kenyataan yang sedang terjadi saat ini. Akhir-akhir ini kita rasakan kesedihan, manakala bangsa ini perlahan mulai meninggalkan nilai-nilai budaya dan sejarah masa lalu. Bangsa ini seperti kehilangan jati diri sehingga jauh dari kekuatan spritual yang pernah dimiliki oleh generasi masa lampau.

Bangsa ini seperti lupa bahwa sumber budaya merupakan cikal bakal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejarah telah mencatat bahwa ketika bangsa ini melakukan perlawanan terhadap penjajah, sumber budaya itu menjadi mata air inspirasi yang tak pernah kering bagi perjuangan dan perlawanan terhadap penjajah.

Saat ini kita seperti bangsa yang lupa dan hilang percaya. Rentetan krisis multidimensi yang mengoyak tatanan sosial bermasyarakat telah menyebabkan bangsa ini kehilangan kebudayaannya. Merebaknya krisis kepercayaan terhadap pemerintah dan sesama masyarakat adalah satu contoh. Beberapa kejadian krusial, seperti teror dan kerusuhan, yang melanda Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini, merupakan satu gambaran muram wajah identitas bangsa sebagai bangsa yang beradab.

Pengalaman pahit kita dalam bernegara adalah adanya perubahan yang menjurus pada kebablasan. Di era Orde Baru banyak oknum yang kebablasan menggunakan kekuasaan melebihi kewenangannya. Kini di era kebebasan demokrasi, banyak orang yang memanfaatkan kewenangan untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. Bahkan ekspresi kebebasan yang begitu bebas, sebebas-bebasnya, dalam mengemukakan pendapat atau melakukan tindakan, tak jarang telah menjurus pada anarkisme. Hal seperti ini yang kemudian oleh banyak pihak disebut sebagai demokrasi yang kebablasan.

Kehidupan berbangsa kita pun didera krisis. Suasana berbangsa yang diwarnai hiruk-pikuk konflik kepentingan politik dan arus jaman yang berubah sangat cepat telah mengikis sendi-sendi berbudaya bangsa kita. Karakter budaya bangsa menjadi rapuh sehingga bangsa ini menjadi terlena dan lupa akan keberadaan budayanya sendiri. Pada gilirannya, keterlenaan tersebut memicu ketidakjujuran pada diri sendiri. Semua itu menjadi sumber dari kegagapan kita memaknai kebebasan. Akibatnya, selama ini kita salah dalam memahami arti kebebasan berdemokrasi. Hal itu pada akhirnya dapat mencemari mental dan moral bangsa seperti keutuhan NKRI.

Sejauh ini kebebasan berdemokrasi yang kita praktikkan memang masih berada di jalan yang mendaki. Kita hendak meninggalkan kekangan otoritarianisme jaman Orde Baru, namun eforia demokrasi membuat kita menggapai segala rupa kebebasan tanpa kesadaran bernegara dan kesantunan berbangsa. Reformasi menjadi ironi, kekangan lama yang mau kita tinggalkan justru menjerumuskan kita ke dalam kekangan baru berwujud ‘kebebasan yang kebablasan’. Negara bangsa ini kehilangan sendi-sendi perekat sosial di antara sesama warga.

Kraton sebagai inspirasi budaya
Bangsa ini memiliki tradisi kraton dengan warisan budaya yang sangat mengakar di tengah masyarakat. Namun, peranan kraton sebagai pusat inspirasi sumber budaya dan alat perekat bangsa nyaris telah terlupakan. Upaya untuk memunculkan kembali kebangkitan kraton-kraton di Indonesia bukan dimaksudkan sebagai gerakan neo feodalisme, tetapi sebagai bentuk pelestarian budaya. Bentuk ‘pelestarian budaya’ tersebut diartikan sebagai usaha menjadikan kraton ‘pusat pengembangan budaya’. Dengan demikian, kraton bisa menjadi simbol budaya bagi masyarakat setempat.

Kraton bukanlah institusi politik atau sosial. Melainkan, simbol budaya dan pengemban misi kebudayaan. Kraton sebagai simbol budaya berarti menghadirkan fungsi kekratonan untuk mengemban tugas kebudayaan, yaitu merawat tradisi dan melestarikan adat kebudayaan setempat. Institusi kraton menjadi perekat tradisi dan penjaga warisan budaya yang harus tetap lestari.

Oleh karena itu, kerajaan atau kesultanan sebagai ‘pemangku adat’ bisa berperan sebagai berikut: Pertama, pengayom masyarakat yang menghormati tata cara adat. Kraton diharapkan mengayomi masyarakat segala lapisan dan golongan yang majemuk melalui pendekatan kebudayaan. Budaya dan tata cara adat kraton menjadi model untuk pengembangan kebudayaan dan adat istiadat masyarakat lokal setempat.

Sementara itu, model budaya kraton tetap memberi ruang kreatif bagi berkembangnya aneka kebudayaan lain, sehingga akan berkembang pluralisme budaya yang konstruktif. Dengan demikian, kraton bisa mengayomi semua elemen masyarakat dengan tetap menghormati tata cara budaya dan adat istiadat mereka.

Kedua, panutan yang santun. Kraton dengan segala atribut kekratonan dan unsur person di dalamnya (raja dan segenap petinggi kraton) harus mampu menjadi panutan yang santun bagi kehidupan masyarakat. Kraton dengan sosok raja atau sultan memang figur pemimpin rakyat yang sepatutnya dihormati. Namun demikian, penghormatan itu jangan merupakan bentuk feodalisme pengkultusan individu. Raja atau sultan dihormati karena karisma kepemimpinan yang bijak dan keteladanan yang pantas dipanuti rakyat atau masyarakatnya. Saat raja tampil menjadi panutan yang santun, serentak ia menjadi referensi keteladanan warganya.

Ketiga, pemersatu lingkungan. Kraton selain sebagai simbol budaya dan pengemban misi kebudayaan juga adalah pemersatu wilayah dan lingkungan. Masyarakat di sekitar lingkungan kraton biasanya memiliki ikatan kekerabatan yang kuat dan saling menjaga kesatuan kelompok masyarakatnya. Tradisi ini baik untuk dikembangkan bagi lingkungan masyarakat modern yang banyak apatis terhadap lingkungannya. Kraton bisa menjadi simbol pemersatu masyarakat dan lingkungannya sehingga membangkitkan sikap peduli dan ramah terhadap lingkungan.

Kelima, perekat bangsa. Selain berperan dalam lingkup masyarakat setempat, kraton sebagai simbol budaya dan pengemban misi kebudayaan sangat bisa berimbas peran dalam skala nasional. Dalam lingkup bangsa, kraton bisa menjadi perekat bangsa. Hal ini disebabkan potensialitas kraton merupakan wasiat warisan leluhur dimana kraton-kraton di masa lalu adalah kraton yang merekatkan, menyatukan, dan mengayomi rakyatnya.

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...