Minggu, 21 Maret 2010

Giddens dan Teori Strukturasi

Judul Buku : Teori Strukturasi; Dasar-dasar Pembentukan
Struktur Sosial Masyarakat
Penulis : Anthony Giddens
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, Februari 2010
Tebal : 621 halaman

Anthony Giddens adalah teoritis sosial Inggris masa kini yang sangat penting dan salah seorang dari sedikit teoritisi yang sangat berpengaruh di dunia. Giddens berpengaruh dalam teori sosiologi lebih dari dua dekade. Ia pun berperan penting dalam membentuk sosiologi Inggris masa kini. Salah satunya, ia menjadi konsultan editor dua perusahaan penerbitan. Macmillan dan Hutchinson. Lebih penting lagi, ia adalah salah seorang pendiri Polity Press, sebuah perusahaan penerbitan yang sangat aktif dan berpengaruh terutama dalam teori sosiologi. Giddens pun menerbitkan Sociology (1987), sebuah buku ajar yang ditulisnya menurut gaya Amerika, yang mencapai sukses di seluruh dunia.

Sebagai teoritisi, Giddens sangat berpengaruh terutama di AS maupun di berbagai bagian dunia lain. Yang menarik, karyanya sering agak kurang diterima di negerinya sendiri (Inggris), dibandingkan dengan di bagian dunia lain. Hal ini mungkin disebabkan sebagian oleh kenyataan bahwa ia telah berhasil memenangkan perlombaan mendapat pengikut teoritis di seluruh dunia yang telah dicoba mencapainya oleh kebanyakan teoritis sosial Inggris lain dan gagal. Seperti dikatakan Craib, “Giddens-lah kiranya menyadari fantasi kebanyakan kita, yang menyatakan pendapat kita sendiri ke dalam sosiologi selama periode perdebatan yang bersemangat dan menggairahkan ketika dikembangkannya teori strukturasi” (1992:12).

Hadirnya buku Teori Strukturasi; Dasar-dasar Pembentukan Struktur Sosial Masyarakat ini hasil terjemahan The Constitution of Society adalah kontribusi terbesar Giddens yang ditulisnya pada tahun 1984. Melalui buku inilah pemikiran terpenting Giddens terlacak. Konsepsi yang kita kenal sebagai strukturasi. Ia melihat bahwa kajian ilmu sosial selalu berada pada dua kutub besar. Pandangan klasik melihat bahwa struktur (pandangan makro) adalah yang lebih berperan dibandingkan dengan individu (pandangan mikro), yang ia sebut agen.

Cukup lama kedua kutub pemikiran tersebut meraja dalam ilmu sosial. Giddens mengambil “jalan tengah” dan menunjukkan bahwa yang terpenting bukanlah agen ataupun struktur, melainkan interaksi keduanya. Inilah yang ia sebut dengan nama strukturasi. Melalui konsepsinya ini, Giddens menerabas hutan belantara teori sosial. Pohon-pohon di dalam rimba yang coba “dilampaui” oleh Giddens adalah fungsionalisme, interaksionisme, strukturalisme, post-strukturalisme, dan post-modernisme.

Selain itu, melalui strukturasi, Giddens juga menunjukkan makna dualitas. Biasanya di dalam ilmu sosial, dua elemen hadir untuk saling “meniadakan” satu sama lain. Ini dikenal sebagai dualisme. Giddens kemudian membedakannya dengan melansir konsep dualitas, yaitu karakter dari dua elemen yang “menyatu” adalah saling melengkapi. Salah satu ada karena yang lain ada.

Melihat sedikit eksplanasi di atas tentang kontribusi pemikiran Giddens dalam ilmu sosial, kita pun bisa menyimpulkan bahwa kontribusi pemikiran Giddens di dalam ilmu komunikasi cukup besar pula. Paling tidak ini ditunjukkan dalam buku “Political Economy of Communication: Rethinking and Renewal” yang ditulis oleh Vincent Mosco pada tahun 1996. Mosco menggunakan strukturasi sebagai salah satu pintu masuk untuk mendedah fenomena media dari sudut pandang ekonomi politik. Dua pintu masuk yang lain adalah komodifikasi dan spasialisasi. Pada konsep spasialisasi pun, sebenarnya Giddens juga berkontribusi karena ia juga menelaah konsepsi ruang dan waktu.

Buku lain yang cukup bagus yang juga menggunakan pemikiran Giddens adalah buku yang ditulis oleh David Gauntlett pada tahun 2002, yang berjudul “Media, Gender and Identity: An Introduction”. Di dalam buku ini, Gauntlett menggunakan pemikiran Giddens untuk menelaah interaksi identitas dan media melalui telaahnya atas modernisasi. Juga melalui telaah Giddens atas tubuh, keagenan, dan identitas. Giddens di dalam buku ini disandingkan dengan pemikiran Foucault untuk menelaah identitas.

Menurut saya, pemikiran Giddens membuat ia masuk dalam kategori “atap” di dalam rumah ilmu sosial dan komunikasi. Giddens tidak “mendirikan” rumah, dan ruang-ruang di dalamnya, ia menaungi rumah yang ada. Pemikiran Giddens sangat dekat dengan fenomena industri media dan komunikasi organisasi. Pemikirannya bisa digunakan pada hampir semua fenomena komunikasi media ataupun non-media.

Di dalam kajian media misalnya, kita bisa melihat wartawan sebagai agen, kemudian pola kerja, prosedur, dan yang berkaitan dengan konteks produksi pesan lainnya adalah struktur. Berita yang diproduksi tersebut selalu berkaitan dengan kecakapan wartawan, ketentuan prosedur di dalam profesi pencari berita, dan strategi organisasi media di mana wartawan tersebut bekerja. Proses produksi berita tersebut juga ada di dalam “struktur” lain yang lebih besar, semisal norma yang berlaku di dalam masyarakat, dan juga “sistem” bila struktur tersebut sudah relatif stabil.

Demikianlah, fungsi tokoh dan pemikirannya di dalam telaah memang bukan semata-mata untuk mengenal dan memahaminya, melainkan juga untuk lebih bagus dalam mengamati fenomena yang ada di dalam kehidupan.


*) Tulisan ini dimuat di Seputar Indonesia, 21 Maret 2010

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...