Kamis, 25 Februari 2010

Tragedi Kebohongan


Manusia akhir-akhir ini dipenuhi kebohongan. Tidak dimana-mana, manusia sudah gandrung dengan kebohongan. Keseringan berbohong yang kemudian menjadi ritual sehari-hari. Gejala ini bisa kita saksikan dengan mudahnya bagaimana manusia yang satu berbohong dengan tanpa rasa malu. Manusia zaman sekarang selalu berbohong hanya demi keuntungan diri sendiri. Menutupi segala segala kejelekan yang telah dia perbuat. Manusia ingin selalu di puji, tidak salah kemudian apabila setiap manusia pengen di puji-puji. Seperti manusia yang sempurna tanpa kesumbingan. Padahal di balik itu, banyak kebohongan-kebohongan terselubung.

Kebohongan manusia tiap hari menjadi bumbu dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak enak apabila dalam pembicaraannya tidak mengandung unsur kebohongan. Seperti makanan yang tanpa lauk yang tidak punya rasa apapun, sehingga tidak enak dirasa. Bahkan kebiasaan ini menjadikan seseorang tanpa beban terlebih malah kadang mewariskan pada anak-anaknya sejak masih kecil. Anak-anaknya di ajari berbohong ketika berbicara dengan tetangganya atau tamu yang datang kerumahnya. Yaitu menutup-nutupi segala kejelekan dan membesar-besarkan segala kebaikannya agar orang menjadi terengah mendengar cerita hasil ramuannya.

Sabtu, 20 Februari 2010

Mahasiswa Gado-Gado


Mahasiswa banyak mengeluh dengan minimnya kreativitas yang dia miliki. Banyak mahasiswa di negeri ini yang tidak memiliki kreatifitas yang sesuai dengan keinginan dunia pasar kerja. Sepertinya kemampuan yang mereka punya tidak relevan dengan apa-apa kebutuhan yang tuntut dunia kerja. Terjadi ketidak sesuai antara output perguruan tinggi dengan pasar. Bukan hanya itu saja malah sering terjadi, walaupun mereka sudah memiliki relevansi antara kreatifitasnya dengan yang dibutuhkan ternyata belum mempuni kemampuan yang dimiliki, yaitu kualitas rendah. Dari sinilah mahasiswa sering berpikir bahwa keadaan yang menimpa diri mereka adalah takdir Tuhan, pasrah dengan keadaan itu.

Apa yang salah dengan dunia perguruan tinggi yang menyebabkan kualitas keilmuan mahasiswa kita terpuruk. Mereka kalah saing dengan para pekerja-pekerja asing dari luar Indonesia. Apa sajakah pola sistematika pemikiran kita agar bisa memecahkan problem yang sangat delematis ini. Banyaknya pengangguran selama ini tidak bisa dipungkiri, disebabkan oleh kurangnya sumberdaya kreatif yang para mahasiswa miliki. Setelah mereka lulus merasa bingung apa yang akan mereka lakukan. Mereka baru sadar bahwa keilmuan yang selama dia dapat dari kampus ternyata belum mampu membawa dia untuk bisa di terima pada dunia kerja yang bagus. Mereka berpikir telah terjadi ketimpangan keilmuan mereka dengan dunia nyata.

Jumat, 19 Februari 2010

Memacu Kreatifitas Pemuda


Pemuda adalah generasi penerus yang sangat diharapkan di masa depan. Apabila para pemuda memiliki kreativitas maka akan sangat tentu di kemudian hari Negara itu berangkat kearah yang lebih baik. Kemajuan negeri ini di masa depan ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang dimiliki para pemuda. Karena di masa depan republik ini akan di pegang dan mengganti pada generasi sebelunya. Seorang Suekarno pernah bilang berikan aku sepuluh orang pemuda maka akan sangat mudah merubah republik ini. Dari perkataan mantan presiden pertama Indonesia itu, terlihat betapa dalam diri seorang pemuda sangat tampak kekuatan yang bisa merubah generasi terpuruk menjadi lebih baik.

Pertanyaan kemudian betulkan pemuda bisa menjadi harapan bangsa. Jika kita lihat realitasnya saat ini banyak sekali pemuda yang malah menjadi biang keladi kerusakan. Dari sinilah menjadi pertanyaan kita bersama akan eksistensi pemuda zaman sekarang. Kita harus jeli melihat pemuda seperti apakah yang kita harapkan? setidaknya kita punya kriteria pemuda yang menjadi dambaan setiap masyarakat dan bangsa itu sendiri. Pemuda bisa sangat gampang merubah negeri ini, apakah dia akan merubah menjadi baik atau malah sebaliknya menjadi Negara yang carut-marut.

Selasa, 16 Februari 2010

Anomali Penegakan Hukum Pidana


Judul Buku : Sistem Hukum Pidana dan Bahaya Laten Korupsi
Penulis : Dr. Drs. Igm Nurdjana, SH., M.Hum
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, Januari 2010
Tebal : xv + 450 halaman
Peresensi : M Nurul Ikhsan

Konfigurasi problematik sistem penegakan hukum pidana Indonesia saat ini sangat berpengaruh signifikan dan berimplikasi buruk dalam penegakan hukum tindak pidana korupsi dalam konsepsi negara hukum Indonesia. Praktek menegakkan hukum yang didasarkan penerapan sistem hukum dan dogmatik hukum menurut hukum positif di Indonesia menjadikan ‘anomali’ dan menciptakan problematik sistem hukum pidana bahkan telah terjebak teori gunung es yaitu perkembangan korupsi di Indonesia telah menjadi bahaya laten.

Hasil penegakan hukum kuantitas dan kualitas rendah tidak sebanding dengan tren korupsi yang terus meningkat dengan kerugian negara yang besar. Lemahnya penegakan hukum korupsi dipengaruhi oleh produk sistem hukum pidana sebagai hukum formal dan hukum materiil yang secara substansi hukum potensial korupsi, secara struktural hukum terdapat kurangnya kewenangan over lapping dan dukungan anggaran sarana prasarana terbatas, sedangkan lawannya adalah mafioso koruptor dengan menggerakkan jaringan agen-agen mafia hukum atau mafia peradilan serta secara kultur hukum menjadi cara dinamis atau jalan pintas memperkaya diri dan vonis hakim Tipikor banyak yang bebas, SP3, SKP2, ringan belum ada yang dihukum mati sehingga tidak ada efek jera.

Senin, 15 Februari 2010

Menelaah Upacara Gumbrengan Desa Karang


Upacara gumbrengan di Desa Karang Wonosari Gunungkidul Yogyakarta dipraktekkan dalam rangka memenuhi kebutuhan rokhaniah setiap pengikutnya agar terhindar dari kecemasan dan kekhawatiran. Kegiatan tersebut hakekatnya ingin mencapai harapan yang didambakan, yaitu hidup baik, rizki cukup dan jauh dari malapetaka.

Dengan adanya gejolak-gejolak hati, manusia atau kelompok orang-orang tertentu berusaha secara lahir dan batin melalui fikiran dan perasaannya untuk mendapatkan apa yang diharapkannya dan sejauh-jauh mungkin menghindar dari apa yang ditakutinya. Usaha-usaha lahiriyah akan menghasilkan kebudayaan murni sebagai jelmaan dari cipta, rasa dan karsa seorang manusia. Sedang usaha dalam bidang rokhaniah akan melahirkan tumbuhnya kebudayaan yang tersinkretik dengan kepercayaan agama.

Menilik dan menelaah antara produk budaya dan produk wahyu, akan jelas bahwa semua bentuk upacara atau kegiatan keagamaan jika sumber inspirasi dari praktik tersebut memasukkan unsur budaya atau adat-istiadat dari nenek moyang kita maka besar kemungkinan upacara-upacara tersebut bukan dari inspirasi wahyu, akan tetapi terinspirasi oleh kebiasaan yang bersumber dari hasil cipta, rasa dan karsa seseorang.

Kita Bangsa Minder


Masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan tidak percaya diri. Yang namanya masyarakat Indonesia sepertinya tidak selalu yakin bahwa dirinya memiliki kemampuan yang cukup untuk melaksanakan setiap kegiatan. Mungkin juga di pengaruhi oleh kolonialisme yang sampai lebih dari tiga ratus tahun menjajah Indonesia sehingga menjadikan mental masyarakat kita menjadi rendah. Sekian lama kita dijadikan budak para kolonial di pekerjakan secara paksa dengan tanpa imbalan apapun kecuali hanya diberi makan secukupnya. Integritas kita sebagai manusia pada saat itu tidaklah terlihat. Martabat kita diinjak-injak tanpa rasa kasihan.

Penjajah yang sekian lama itu telah demikian kuat mempengaruhi watak masyarakat kita. Masyarakat terbiasa dengan hidup menjadi pembantu bagi orang lain. Maka bisa kita lihat sampai detik ini banyak dari masyarakat kita yang bekerja di luar negeri untuk menjadi pembantu. Mereka sudah tidak memikirkan lagi dampak yang sering kali menimpa diri mereka, baik yang berbentuk kekerasan fisik, seperti pemerkosaan, bahkan pembunuhan terhadap TKI.

Rabu, 10 Februari 2010

Pemberdayaan Pemuda dan Budaya


Ada degradasi dalam tatanan adat istiadat dan budaya kita. Bila ini terus dibiarkan maka akan membahayakan jatidiri dan identitas bangsa, sebab keberadaan keduanya ada dalam budaya. Kebiasaan merendahkan karya bangsa adalah salah satu hal yang menyebabkan bangsa ini terus digerus kemeralatan budaya. Hampir tidak ada kebanggaan berbangsa, apalagi kebanggaan pada karya bangsa sendiri.

Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa ketahanan budaya bangsa ini rapuh. Bangsa kita tidak berdaya menghadapi dinamika perubahan. Ketidakberdayaan itu diperparah oleh hilangnya identitas dan rendahnya produktivitas. Kerumunan bangsa ini disibukkan aktivitas pencitraan alternatif dan belanja konsumsi. Tidak ada pemberdayaan pemuda, kosong pemberdayaan budaya.

Degradasi dalam tatanan budaya itu harus dirumuskan dalam satu kesempatan untuk membangun gerakan pelestarian budaya. Upaya itu dapat dilakukan melalui pemberdayaan pemuda dan budaya. Langkah pertama adalah menentukan siapa (tokoh, figur, panutan, pakar) yang bisa untuk mempengaruhi pemuda dan merumuskan siapa yang harus diberdayakan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...