Sabtu, 25 Desember 2010

Studying Islam in Diversity

Image: https://lstcccme.files.wordpress.com
The fact that Indonesia is a nation with diversity is something no one can deny. The diversity of Indonesia is not only reflected on its many islands bound together as a nation, but also on the variety of the skin colors, languages, ethnics, religions, and cultures.

However, the problem is not on the diverse nation, but it is more to the way we see and manage the diversity. The founders of Indonesia are aware of this diversity matter. When they built this country, they looked for a foundation to unify the diversity. History records two different responses to the matter. One group believe that we can unite on the ‘nationality’ base and the other say that we can unite on the ‘religion’ base, that is Islam as the religion adhered by the majority of Indonesian.

The history of the nation has a long record of the on going dialects between the nationality concept on one side and the religion concept on the other side. The arguments sometimes even end with a violent behavior, but sometimes a synthesis and integrity can take place peacefully.

Jumat, 12 November 2010

From Jogja To Semarang


Dalam Perjalanan Bersama Beswan Djarum Yogyakarta
Saya ingat betul, minggu kedua di Nopember tahun 2010, saya mengunjungi kota Semarang. Kunjungan itu merupakan suatu anugerah terdahsyat yang diberikan oleh Allah SWT. Sebelumnya, pada tahun 2008 awal, saya pernah melewati kota Semarang, bukan untuk menikmati, tapi hanya sekedar lewat. Kebetulan waktu itu saya dalam perjalanan dari Bandung ke Surabaya sehabis bekerja di sana. Kunjungan di penghujung tahun 2010 ini sangatlah berbeda. Kunjungan saya bukan hanya sebatas melihat keindahan kota tersebut. Saya akan bertemu mahasiswa-mahasiswa berprestasi dari belahan bumi Indonesia yang masuk dalam keluarga Beswan Djarum. Dalam kesempatan indah-penuh rasa senang ini, saya mendapatkan undangan dari PT. Djarum untuk menghadiri acara Sulaturrahmi Nasional (Silatnas) selama lima hari. Tanggal 6-10 Nopember.

Apa yang istimewa dari kunjungan saya ke Semarang? Bagitu banyak yang istimewa. Sulit saya menyebutkan satu-persatu. Yang jelas, kedatan gan saya kesana adalah sebagai salah satu mahasiswa yang akan dianugerahi beasiswa bakti pendidikan, Djarum Beasiswa Plus. Sejak pertama mendapatkan undangan, tertanggal pada 18 Oktober 2010 oleh bapak Handjojo Budiman, sebagai Public Relation Officer Regional Semarang, saya mengalami puncak kebahagiaan melebihi kebahagiaan pada tahun-tahun sebelumnya ketika saya mendapat beasiswa dari instansi lain.

Rabu, 10 November 2010

Silaturrahmi Nasional Beswan Djarum 2010


Para Penerima Beswan Djarum Tahun 2010/2011
Acara Silaturrahmi Nasional (Silatnas) penganugerahan Djarum Beasiswa Plus kepada 450 mahasiswa seluruh Indonesia pada tahun 2010-2001 sukses terselenggara. Acara berlangsung pada Selasa 9 Nopember 2010, bertempat di Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan (PRPP) Semarang, Jawa Tengah. Perhelatan acara inagurasi ini sebagai penyambutan awal bagi mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus yang baru, sekaligus pemberian status alumni bagi mahasiswa penerima beasiswa pada tahun sebelumnya.

Penyelenggaraan Silatnas ini adalah sebagai salah satu bentuk serangkaian program bagi mahasiswa penerima beasiswa Djarum. Selain itu, masih banyak kegiatan pengembangan soft skill yang di persembahkan dari program Djarum Beasiswa Plus, seperti outbond, latihan kepemimpinan, dan latihan pengembangan kepribadian. Serangkaian kegiatan beasiswa ini, menjadi salah satu bentuk tanggung jawab PT. Djarum kepada masyarakat Indonesia dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Di mana, masyarakat Indonesia saat sekarang, Sumber Daya Manusianya (Human Capital) masih sangat rendah, dibawah negara-negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Maka, dengan cara membantu meringankan beban biaya pendidikan bagi mahasiswa di perguruan tinggi adalah sebagai bentuk nyata mensukseskan penyelenggaraan pendidikan, yang akhirnya bermuara pada peningkatan kualitas SDM masyarakat Indonesia. Partisipasi pemberian beasiswa seperti inilah yang diharapkan dapat berkontribusi mewujudkan Indonesia yang maju dan bermartabad.

Rabu, 20 Oktober 2010

Mendambakan Guru Teladan

Peran guru dalam proses pembelajaran di sekolah sangat penting dan dominan bagi keberhasilan peserta didik.  Hal ini tidak lepas dari peran serta para pengajar  dalam mentransfer pengetahuan (tranfer of knowlegde) kepada anak didik baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik.  Karena itu, wajar bila posisinya sangat vital bagi masa depan anak bangsa.

Sesuai dengan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang mewajibkan negara mencerdaskan bangsa. Di sini, sosok seorang guru hadir memainkan peranan penting untuk benar-benar bisa “digugu dan ditiru” sebagai wujud realisasi amanat UUD. Di lembaga pendidikan, guru adalah tumpuan harapan bagi terciptanya generasi unggul. Pertanyaan yang kemudian timbul, seperti apakah kriteria ideal bagi sosok guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa?


Kriteria umum seorang guru, paling tidak harus memiliki kompetensi ilmu pengetahuan (kompetensi profesional) yang luas sesuai dengan bidang studi yang ditekuninya. Di samping itu, guru juga harus memiliki kemampuan pribadi (kompetensi personal) yang kuat dalam menghadapi persoalan yang dihadapi para peserta didik. Jadi, tidak hanya sekedar “mengajar sambil lalu”, akan tetapi hasil dari proses pembelajaran benar-beanar diperoleh setelahnya. Karena sebenarnya, puncak kesuksesan proses transformasi keilmuan bergantung kelihaian pada guru mengajarkan ilmu pengertahuan pada peserta didik. Jadi, selama bertahun-tahun menempuh pendidikan tidak terbuang begitu saja tanpa memberikan nilai-nilai keilmuan berarti.

Jumat, 01 Oktober 2010

Opini Para Tokoh tentang Buku Asa Itu (Masih) Ada


Judul Buku : Asa Itu (Masih) Ada
Penulis : M Nurul Ikhsan Saleh, dkk.
Penerbit : ANBTI, Jakarta Selatan
Cetakan : Oktober, 2010
Tebal : xxii + 214 halaman

”Saya kira para peserta adalah pentolan-pentolan generasi muda yang suka menulis dan tertarik dengan isu ini, serta secara umum bagi saya mereka adalah generasi muda yang cerdas dan bahkan ada beberapa peserta SMA yang materi bacaannya luas, itu mengagumkan. Saya harapkan mereka menjadi intelektual publik yang memperjuangkan kepentingan publik untuk mengarahkan opini dan pandangannya menuju sesuatu yang lebih demokratis, pro-gender, dan pro-HAM. Menulis adalah perluasan berpikir. Berlatih menulis dengan jujur berarti juga berlatih berpikir kritis yang artinya kita sedang mencerdaskan diri sendiri dan bangsa.”
Ayu Utami – Novelis

”Esai-esai yang saya baca dari para peserta luar biasa. Mereka sungguh menunjukkan potensi-potensi besar untuk menjadi para penulis terbaik di masa mendatang. Tentu saya berharap bahwa bibit yang sudah baik ini akan terus dirawat oleh diri sendiri, dengan cara terus belajar, terus membaca, dan pengembangan diri terus-menerus. Tanpa itu bibit yang baik, akan hanyut atau tenggelam tanpa sempat berkembang lebih jauh. Sebagai kumpulan, pastilah buku ini adalah gado-gado, tapi mari kita nikmati gado-gado sebagai gado-gado, bukan sebagai sop buntut atau sate ayam. Gado-gado dalam keberagamannya menawarkan suatu kenikmatan tersendiri.”
Ignatius Haryanto – Direktur LSPP

”Gaya hidup remaja saat ini jauh dari kebiasaan membaca. Maka, ketika menerima naskah-naskah yang sangat bervariasi, dan ini sangat membanggakan karena ternyata para generasi muda bangsa ini masih banyak yang peduli terhadap masalah-masalah sosial yang berkembang di sekitar kehidupan mereka. Kami berharap celah kepedulian yang telah kita buka bersama ini, dapat terus diperluas dengan daya juang tinggi para intelektual muda, yang masih memiliki kejernihan pikiran dan kemurnian hati untuk terus bangkit demi jayanya bangsa dan negeri kita, Indonesia.”
Ratna Hapsari Rudjito – Guru Sejarah

”Inilah Indonesia menurut orang muda. Coretan-coreta mereka merupakan cermin opini, kegelisahan, kekecewaan, sekaligus harapan tentang Indonesia yang lebih baik. Dari seribuan naskah yang saya baca, ada satu hal yang sangat dominan, yakni mereka mempunyai mimpi Indonesia menjadi ’rumah’ yang baik bagi mereka. Rumah yang memberi rasa aman, rumah yang toleran atas segala perbedaan, rumah yang memberi damai yang berbasis keadilan, dan sebagainya. Kalau mau melihat Indonesia, bacalah tulisan mereka. Inilah Indonesia!”
Sigit Kurniawan – Penulis Muda

Rabu, 01 September 2010

Guru Pembawa Nilai Kejujuran?

Peran guru dalam mempersiapkan generasi muda agar siap menghadapi tantangan dan laju perubahan dalam masyarakat sangat dinantikan. Perubahan dan pergeseran nilai yang terjadi di dalam masyarakat mendesak guru untuk kembali menemukan keberadaan dirinya sebagai agen pembawa nilai yang mengukuhkan keberadaan dirinya sebagai pendidik karakter.

Persoalan pokok yang dihadapi guru sebagai agen pembawa nilai akibat pergeseran tata nilai adalah masalah seputar kejernihan visi. Pergeseran tata nilai dalam masyarakat membuat guru bisa kehilangan pegangan dan pijakan. Kekaburan visi sering ditandai atas ketidakjelasan sistem nilai yang menjadi bagian dari kinerja guru. Guru mesti bertanya pada diri sendiri, bagaimana mereka dapat menanamkan nilai-nilai tertentu jika mereka sendiri terjerumus dalam kekaburan visi, bahkan tidak tahu lagi apa yang sesungguhnya masih bernilai dan bisa dipertahankan di zaman yang berubah cepat seperti ini?

Selasa, 31 Agustus 2010

Guru dan Jiwa Profesionalisme


Sampai saat ini, persoalan rendahnya kualitas guru di republik kita masih bagitu kompleks. Seorang guru pun seringkali jatuh dalam kecenderungan mengalihkan persoalan dalam memahami persoalan pengembangan profesionalnya sendiri. Alih-alih mengoreksi diri, kita para guru bisa lebih mudah menyalahkan pembuat kebijakan, entah itu pada tingkat sekolah maupun dalam tingkat pemerintahan. Kalau ada siswa yang selalu tertinggal, kita lebih suka menyalahkan siswa yang tidak mau belajar. Bukankah tugas guru adalah mengajar dan tugas siswa adalah belajar? Kalau siswa tiak mau belajar, meskipun gurunya sudah susah payah mengajar bukankah kesalahan itu terletak pada siswa dan bukan pada guru? Begitu salah satu alasan yang sering kita dengar keluar dari mulut guru ketika para siswa tidak mau belajar sehingga nilainya buruk.

Singkatnya, yang salah dalam dunia pendidikan selalu berada di luar diri guru. Jika model cari kambing hitam ini yang menjadi cara bertindak guru sebagai pendidik, saya khawatir kita akan kehilangan kesempatan untuk memaksimalkan ruang-ruang lain yang masih bisa kita masuki untuk pengembangan guru serta menemukan jalan-jalan keluar yang lebih realistis. Kita semestinya mulai mengarahkan analisis situasi ini pada apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan dan dialami para guru, dan bagaimana guru sendiri bergulat dengan dinamika perubahan dalam rentang perjalanan kehidupan professional mereka sebagai guru.

Rabu, 11 Agustus 2010

Pengelolaan Tata Ruang Ramah Lingkungan

Kerusakan lingkungan di Indonesia tambah hari semakin memprihatinkan. Seperti halnya laju kerusakan hutan yang mencapai 2,8 juta hektar per tahun. Kerusakan hutan dan lahan menyebabkan terjadinya banjir di mana-mana saat musim hujan tiba. Bencana banjir menimbulkan korban jiwa dan dampak lain yaitu menyebarnya banyak penyakit bukan hanya di kalangan masyarakat desa tapi juga masyarakat perkotaan. Kerusakan lingkungan ini antara lain disebabkan terjadinya alih fungsi lahan baik pada kawasan hutan, pedesaan maupun perkotaan. Kawasan hutan banyak ditebang, diserobot dan dirambah. Keadaan serperti ini bahkan berlanjut terus setiap tahun, dapat dibayangkan betapa akan merosotnya kondisi lingkungan.

Memang banyak hal yang menyebabkan semakin maraknya kerusakan dan pencemaran lingkungan. Akhir-akhir ini menggejala bahwa kerusakan lingkungan banyak dipicu pembangunan yang tidak terkendali dan kurang memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan. Kesadaran masyarakat untuk berperan aktif menjaga dan melestarikan lingkungan tampaknya juga masih rendah, terbukti dari banyaknya masalah lingkungan yang timbul akibat ulah masyarakat, seperti pembalakan hutan, pemanfaatan kawasan lindung, dan sebagainya. Saat sekarang ini tengah meningkat kebutuhan dan persaingan dalam penggunaan lahan baik untuk keperluan produksi pertanian maupun untuk keperluan lainnya memerlukan kebijakan pemanfaatan yang paling tepat, mengingat keterbatasan sumber daya lahan.

Minggu, 01 Agustus 2010

Sinopsis untuk Buku Islam National Character Building dan Etika Global


Judul Buku : Islam National Character Building dan Etika Global
Penulis : M Nurul Ikhsan Saleh, dkk.
Penerbit : Bagian Kemahasiswaan UIN Jogja
Cetakan : Agustus, 2010
Tebal : vi + 167 halaman

Krisis sosial budaya yang meluas dapat disaksikan dalam berbagai modus disorientasi dan dislokasi, seperti disintegrasi sosial-politik yang bersumber dari euforia kebebasan yang nyaris kebablasan, lenyapnya kesabaran publik dalam menghadapi kehidupan yang semakin sulit sehingga mudah marah dengan melakukan berbagai tindak kekerasan dan anarki, merosotnya penghargaan dan kepatuhan terhadap hukum, etika, moral, dan kesatuan, semakin meluasnya penyebaran narkoba dan patologi sosial, dan lain-lain.

Disorientasi, dislokasi dan krisis sosial-budaya tersebut selain merupakan dampak dari pendidikan yang kurang mengembangkan karakter pribadi maupun bangsa juga merupakan ekses dari semakin meningkatnya penetrasi dan ekspansi budaya global sebagai akibat proses globalisasi yang terus tidak terbendung dan nyata-nyata membawa dampak signifikan.

Terkait dengan itu, perguruan tinggi Islam, khususnya Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, merasa terpanggil untuk memberikan sumbangsihnya melalui pemikiran kreatif-solutif. Sumbangsih ini salah satunya diwujudkan dalam bentuk Karya Tulis Ilmiah yang diperuntukkan bagi sivitas akademika UIN Sunan Kalijaga, khususnya para mahasiswa, dan pembaca umumnya, terutama terkait dengan upaya bagaimana mewujudkan spirit Islam untuk mendorong terciptanya etika global dalam membangun karakter bangsa.

Kamis, 29 Juli 2010

MENULIS (Sekelumit Pelajaran Bersama ANBTI)


Bagaimana menuangkan ide yang ada dalam pikiran menjadi sebuah tulisan yang sistematis, dimana pembaca dapat tenggelam dalam esai yang kita tulis adalah persoalan pelik yang biasa dihadapi oleh penulis. Mengorganisir suatu gagasan dalam bentuk tulisan yang utuh bukanlah perkara instan dan mudah seperti laiknya membalik telapak tangan, namun perlu latihan secara terus menerus. Begitu kira-kira pesan pamungkas dari Ayu Utami yang saya tangkap. Setelah bercerita panjang dalam pelatihan penulisan esai ANBTI 2010. Penulis esai terkadang dihadapkan pada gagasan-gagasan universal yang mengakibatkan mereka tidak mampu menuangkan secara sistematis maupun spesifik.

Mengorganisasi gagasan sistematis membutuhkan pengayaan literatur yang cukup memadai dan refleksi atas berbagai hal yang diketahuinya melalui pengalaman maupun pembacaan literatur terkait. Maka, kegiatan membaca, merefleksikan dan menuangkan ke dalam suatu esai adalah tiga hal yang tidak bisa dipisahkan, dan memang harus dilakukan secara simultan. Kepiawaian seorang penulis bukan didapatkan dari kepemilikan potensi dalam diri, akan tetapi dari jerih payah dan latihan secara terus menerus dalam menuangkan gagasan maupun ide menjadi esai yang baik. Ini artinya, menjadi seorang penulis tidak hanya didukung oleh potensi individu yang melekat dalam diri seseorang, akan tetapi lebih dari itu ketekunan, kejelian, ketelitian, dan kemampuan yang keras dari seseorang menjadi modal yang sangat penting untuk menjadi penulis yang berkualitas.

Jumat, 21 Mei 2010

Guru Pelaku Perubahan

Guru menjadi tulang punggung perubahan dalam pembelajaran di lembaga pendidikan. Kemana akan dibawa proses pembelajaran tergantung pada profesionalisme guru. Proses internalisasi ilmu pengetahuan dipengaruhi sejauh mana kemampuan seorang guru ini menguasai materi dan kemampuan menyampaikan dalam kelas. Mustahil anak didik bisa menerima pelajaran dengan baik tanpa ada kemampuan mendekati anak didik dengan baik.


Saat ini, ditengah perubahan zaman dengan kecanggihan teknologi yang begitu cepat membawa posisi guru tidak lagi sebagai sumber utama pembelajaran. Anak didik banyak memanfaatkan media lain dalam belajar. Guru dituntut bisa mengikuti perubahan dan perkembangan pada diri siswa menyesuaikan dengan berjalannya zaman. Pembaharuan dalam ilmu pengetahuan selalu menuntut keilmuan yang dimiliki seorang guru. Dia harus selalu tanggap dengan informasi dan keilmuan mutakhir agar kemudian seorang guru tetap sesuai seiring perubahan itu sendiri. Begitu guru tidak bisa menyesuaikan diri maka dia akan tergilas dengan perubahan zaman yang begitu cepat.

Rabu, 12 Mei 2010

Pencurian Ikan Kembali Mengusik


Harga diri bangsa kita kembali terusik. Polisi kelautan Malaysia menangkap tiga anggota patrol pengawas Kementerian Kelautan dan Perikanan sesaat setelah patrol KKP menangkap pencuri ikan asal Malaysia pada 13 Agustus lalu di perairan Tanjung Berakit, pulau Bintan, kepulauan Riau. Kasus ini bukanlah yang pertama. Bahkan, setiap tahun kasus serupa hampir selalu terjadi.

Jika dilihat kemasa lalu, maraknya praktik pencurian ikan ini bermula dari diterbitkannya sekitar 7.000 Surat Ijin Penangkapan Ikan (SPI), yang ternyata diperkirakan 70% digunakan oleh Kapal Asing berbendera Indonesia. Masalah perizinan inilah yang menurut TNI AL menjadi biang pencurian ikan, di samping keterbatasan fasilitas pengawasan. Akan tetapi, TNI AL lupa bahwa masalah itu juga tidak lepas dari peran oknum TNI AL yang berkolaborasi dengan nelayan asing. Juga sering dilupakan bahwa jaksa, pengadilan, dan bea cukai yang juga bagian dari rantai masalah kapal asing. Apa artinya peran TNI AL yang menangkap kapal asing kalau pada akhirnya mentah di tingkat penyidikan atau pengadilan?

Sabtu, 08 Mei 2010

Acara Adat Babat Dalan Sodo


Kebudayaan merupakan hasil dari kreatifitas manusia yang didasari oleh daya cipta, rasa, karsa dan budi nurani. Pikiran dan perbuatan manusia yang dilakukan secara terus-menerus pada akhirnya menjadi sebuah tradisi. Budaya sebagai hasil tingkah laku manusia atau kreasi manusia memerlukan alat penghantar untuk menyampaikan maksud. Medium itu dapat berbentuk bahasa, warna, benda, suara, tindakan, yang kesemuanya itu merupakan simbol-simbol dalam budaya.

Seperangkat simbol dalam suatu upacara keagamaan, hakekatnya bermakna sebagai pengatur tingkah laku disamping berfungsi sebagai sumber upacara keagamaan, dapat pula dikatakan sebagai sarana komunikasi dan bahkan sarana sosialisasi pada masing-masing upacara. Upacara adat Babat Dalan Sodo di Desa Sodo Paliyang Gunung Kidul Yogyakarta mempunyai arti penting bagi masyarakat di Desa Sodo, mereka percaya agar seluruh warga Desa diberi keselamatan dan dijauhkan dari bencana yang akan mengancam.

Rabu, 05 Mei 2010

Tradisi Begalan; Simbol Tanggung Jawab Moral Masyarakat


Tradisi begalan adalah bagian dari rangkaian upacara perkawinan adat Banyumas yang dilakukan apabila perkawinan itu terdiri dari pasangan anak sulung dengan anak sulung, anak sulung dengan anak bungsu dan anak bungsu dengan anak bungsu. Tradisi berbentuk kesenian yang berupa perpaduan antara seni gerak, seni bertutur dan gendhing banyumas ini menggunakan brenong kepang (perkakas dapur) dan alur permainan sebagai simbol.

Simbol-simbol berupa alat dapur yang ada dalam begalan mengandung dua unsur makna, yaitu sebagai simbol bajang sawan (godaan dan gangguan) yang akan merintangi perjalanan hidup kedua mempelai. Di samping itu brenong kepang disebut juga mengandung makna tentang tata cara berkehidupan dalam sebuah rumah tangga yang baik. Sedang alurnya menggambarkan bagaimana bajang sawan tersebut dihilangkan dengan jalan dirampas, yang kemudian diperebutkan oleh para penonton atau tamu undangan untuk mengambil manfaat dari barang-barang tersebut. Simbol-simbol dalam begalan ini bertujuan untuk menghilangkan bajang sawan yang akan merintangi perjalanan hidup kedua mempelai.

Minggu, 02 Mei 2010

Kraton; Sarana Inspirasi Problematika Bangsa


Dalam kehidupan berbangsa, sebuah masyarakat yang beradap tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai budaya dan sejarah masa lampaunya. Karena tanpa melibatkan dua hal tersebut, suatu bangsa akan kehilangan identitas dan jati diri sebagai bangsa. Bila bangsa kehilangan identitas dan itu terus dibiarkan, bukan tidak mungkin pada gilirannya bangsa itu akan hilang, bahkan musnah. Kita tidak menginginkan hal yang sangat mengerikan ini terjadi.

Kita bersama dapat merasakan kenyataan yang sedang terjadi saat ini. Akhir-akhir ini kita rasakan kesedihan, manakala bangsa ini perlahan mulai meninggalkan nilai-nilai budaya dan sejarah masa lalu. Bangsa ini seperti kehilangan jati diri sehingga jauh dari kekuatan spritual yang pernah dimiliki oleh generasi masa lampau.

Bangsa ini seperti lupa bahwa sumber budaya merupakan cikal bakal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejarah telah mencatat bahwa ketika bangsa ini melakukan perlawanan terhadap penjajah, sumber budaya itu menjadi mata air inspirasi yang tak pernah kering bagi perjuangan dan perlawanan terhadap penjajah.

Selasa, 13 April 2010

Problem Kultur Mahasiswa Mutakhir


Mahasiswa adalah tumpuan masyarakat akan peningkatan kualitas sumberdaya manusia di masa depan. Terbukti telah banyak peranan mahasiswa dalam proses kemajuan negari ini. Perubahan sistem pemerintahan yang otoriter tidak bisa dinafikan dari peranan mahasiswa pada waktu itu. Bukan hanya itu saja, mahasiswa juga terus menggiring gerak-gerik pemerintahan yang tidak memihak masyarakat. Tidak wajar kemudia jika mahasiswa dalam hal ini tidak diperhitungkan keberadaanya.

Dari begitu banyak torehan mahasiswa dimasa lalu, masih membekas sampai generasi mahasiswa saat ini. Tapi mengapa seiring perjalanan waktu idealisme yang telah mereka perjuangkan seakan semakin menghilang seiring perjalanan waktu. Seperti mengisyaratkan bahwa mahasiswa yang dulu sangat nampak peran sertanya berbeda dengan masyarakat untuk saat ini. Hingga kemudian sepertinya peran mahasiswa di masyarakat tidak lagi buming seperti di masa lalu.

Saat ini, mahasiswa seperti sudah tidak ingat lagi seperti apa yang telah mereka inginkan ketika mau masuk di perguruan tinggi yaitu menjadi mahasiswa yang ideal. Yaitu mahasiswa yang disamping juga aktif di perkuliahan dengan nilai bagus juga aktif dalam organisasi yang berperan aktif dalam menggiring perjalanan masyarakat, yaitu dalam proses pemberdayaan masyarakat yang cerdas dan berkeadilan.

Minggu, 21 Maret 2010

Giddens dan Teori Strukturasi

Judul Buku : Teori Strukturasi; Dasar-dasar Pembentukan
Struktur Sosial Masyarakat
Penulis : Anthony Giddens
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, Februari 2010
Tebal : 621 halaman

Anthony Giddens adalah teoritis sosial Inggris masa kini yang sangat penting dan salah seorang dari sedikit teoritisi yang sangat berpengaruh di dunia. Giddens berpengaruh dalam teori sosiologi lebih dari dua dekade. Ia pun berperan penting dalam membentuk sosiologi Inggris masa kini. Salah satunya, ia menjadi konsultan editor dua perusahaan penerbitan. Macmillan dan Hutchinson. Lebih penting lagi, ia adalah salah seorang pendiri Polity Press, sebuah perusahaan penerbitan yang sangat aktif dan berpengaruh terutama dalam teori sosiologi. Giddens pun menerbitkan Sociology (1987), sebuah buku ajar yang ditulisnya menurut gaya Amerika, yang mencapai sukses di seluruh dunia.

Sebagai teoritisi, Giddens sangat berpengaruh terutama di AS maupun di berbagai bagian dunia lain. Yang menarik, karyanya sering agak kurang diterima di negerinya sendiri (Inggris), dibandingkan dengan di bagian dunia lain. Hal ini mungkin disebabkan sebagian oleh kenyataan bahwa ia telah berhasil memenangkan perlombaan mendapat pengikut teoritis di seluruh dunia yang telah dicoba mencapainya oleh kebanyakan teoritis sosial Inggris lain dan gagal. Seperti dikatakan Craib, “Giddens-lah kiranya menyadari fantasi kebanyakan kita, yang menyatakan pendapat kita sendiri ke dalam sosiologi selama periode perdebatan yang bersemangat dan menggairahkan ketika dikembangkannya teori strukturasi” (1992:12).

Kamis, 25 Februari 2010

Tragedi Kebohongan


Manusia akhir-akhir ini dipenuhi kebohongan. Tidak dimana-mana, manusia sudah gandrung dengan kebohongan. Keseringan berbohong yang kemudian menjadi ritual sehari-hari. Gejala ini bisa kita saksikan dengan mudahnya bagaimana manusia yang satu berbohong dengan tanpa rasa malu. Manusia zaman sekarang selalu berbohong hanya demi keuntungan diri sendiri. Menutupi segala segala kejelekan yang telah dia perbuat. Manusia ingin selalu di puji, tidak salah kemudian apabila setiap manusia pengen di puji-puji. Seperti manusia yang sempurna tanpa kesumbingan. Padahal di balik itu, banyak kebohongan-kebohongan terselubung.

Kebohongan manusia tiap hari menjadi bumbu dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak enak apabila dalam pembicaraannya tidak mengandung unsur kebohongan. Seperti makanan yang tanpa lauk yang tidak punya rasa apapun, sehingga tidak enak dirasa. Bahkan kebiasaan ini menjadikan seseorang tanpa beban terlebih malah kadang mewariskan pada anak-anaknya sejak masih kecil. Anak-anaknya di ajari berbohong ketika berbicara dengan tetangganya atau tamu yang datang kerumahnya. Yaitu menutup-nutupi segala kejelekan dan membesar-besarkan segala kebaikannya agar orang menjadi terengah mendengar cerita hasil ramuannya.

Sabtu, 20 Februari 2010

Mahasiswa Gado-Gado


Mahasiswa banyak mengeluh dengan minimnya kreativitas yang dia miliki. Banyak mahasiswa di negeri ini yang tidak memiliki kreatifitas yang sesuai dengan keinginan dunia pasar kerja. Sepertinya kemampuan yang mereka punya tidak relevan dengan apa-apa kebutuhan yang tuntut dunia kerja. Terjadi ketidak sesuai antara output perguruan tinggi dengan pasar. Bukan hanya itu saja malah sering terjadi, walaupun mereka sudah memiliki relevansi antara kreatifitasnya dengan yang dibutuhkan ternyata belum mempuni kemampuan yang dimiliki, yaitu kualitas rendah. Dari sinilah mahasiswa sering berpikir bahwa keadaan yang menimpa diri mereka adalah takdir Tuhan, pasrah dengan keadaan itu.

Apa yang salah dengan dunia perguruan tinggi yang menyebabkan kualitas keilmuan mahasiswa kita terpuruk. Mereka kalah saing dengan para pekerja-pekerja asing dari luar Indonesia. Apa sajakah pola sistematika pemikiran kita agar bisa memecahkan problem yang sangat delematis ini. Banyaknya pengangguran selama ini tidak bisa dipungkiri, disebabkan oleh kurangnya sumberdaya kreatif yang para mahasiswa miliki. Setelah mereka lulus merasa bingung apa yang akan mereka lakukan. Mereka baru sadar bahwa keilmuan yang selama dia dapat dari kampus ternyata belum mampu membawa dia untuk bisa di terima pada dunia kerja yang bagus. Mereka berpikir telah terjadi ketimpangan keilmuan mereka dengan dunia nyata.

Jumat, 19 Februari 2010

Memacu Kreatifitas Pemuda


Pemuda adalah generasi penerus yang sangat diharapkan di masa depan. Apabila para pemuda memiliki kreativitas maka akan sangat tentu di kemudian hari Negara itu berangkat kearah yang lebih baik. Kemajuan negeri ini di masa depan ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang dimiliki para pemuda. Karena di masa depan republik ini akan di pegang dan mengganti pada generasi sebelunya. Seorang Suekarno pernah bilang berikan aku sepuluh orang pemuda maka akan sangat mudah merubah republik ini. Dari perkataan mantan presiden pertama Indonesia itu, terlihat betapa dalam diri seorang pemuda sangat tampak kekuatan yang bisa merubah generasi terpuruk menjadi lebih baik.

Pertanyaan kemudian betulkan pemuda bisa menjadi harapan bangsa. Jika kita lihat realitasnya saat ini banyak sekali pemuda yang malah menjadi biang keladi kerusakan. Dari sinilah menjadi pertanyaan kita bersama akan eksistensi pemuda zaman sekarang. Kita harus jeli melihat pemuda seperti apakah yang kita harapkan? setidaknya kita punya kriteria pemuda yang menjadi dambaan setiap masyarakat dan bangsa itu sendiri. Pemuda bisa sangat gampang merubah negeri ini, apakah dia akan merubah menjadi baik atau malah sebaliknya menjadi Negara yang carut-marut.

Selasa, 16 Februari 2010

Anomali Penegakan Hukum Pidana


Judul Buku : Sistem Hukum Pidana dan Bahaya Laten Korupsi
Penulis : Dr. Drs. Igm Nurdjana, SH., M.Hum
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, Januari 2010
Tebal : xv + 450 halaman
Peresensi : M Nurul Ikhsan

Konfigurasi problematik sistem penegakan hukum pidana Indonesia saat ini sangat berpengaruh signifikan dan berimplikasi buruk dalam penegakan hukum tindak pidana korupsi dalam konsepsi negara hukum Indonesia. Praktek menegakkan hukum yang didasarkan penerapan sistem hukum dan dogmatik hukum menurut hukum positif di Indonesia menjadikan ‘anomali’ dan menciptakan problematik sistem hukum pidana bahkan telah terjebak teori gunung es yaitu perkembangan korupsi di Indonesia telah menjadi bahaya laten.

Hasil penegakan hukum kuantitas dan kualitas rendah tidak sebanding dengan tren korupsi yang terus meningkat dengan kerugian negara yang besar. Lemahnya penegakan hukum korupsi dipengaruhi oleh produk sistem hukum pidana sebagai hukum formal dan hukum materiil yang secara substansi hukum potensial korupsi, secara struktural hukum terdapat kurangnya kewenangan over lapping dan dukungan anggaran sarana prasarana terbatas, sedangkan lawannya adalah mafioso koruptor dengan menggerakkan jaringan agen-agen mafia hukum atau mafia peradilan serta secara kultur hukum menjadi cara dinamis atau jalan pintas memperkaya diri dan vonis hakim Tipikor banyak yang bebas, SP3, SKP2, ringan belum ada yang dihukum mati sehingga tidak ada efek jera.

Senin, 15 Februari 2010

Menelaah Upacara Gumbrengan Desa Karang


Upacara gumbrengan di Desa Karang Wonosari Gunungkidul Yogyakarta dipraktekkan dalam rangka memenuhi kebutuhan rokhaniah setiap pengikutnya agar terhindar dari kecemasan dan kekhawatiran. Kegiatan tersebut hakekatnya ingin mencapai harapan yang didambakan, yaitu hidup baik, rizki cukup dan jauh dari malapetaka.

Dengan adanya gejolak-gejolak hati, manusia atau kelompok orang-orang tertentu berusaha secara lahir dan batin melalui fikiran dan perasaannya untuk mendapatkan apa yang diharapkannya dan sejauh-jauh mungkin menghindar dari apa yang ditakutinya. Usaha-usaha lahiriyah akan menghasilkan kebudayaan murni sebagai jelmaan dari cipta, rasa dan karsa seorang manusia. Sedang usaha dalam bidang rokhaniah akan melahirkan tumbuhnya kebudayaan yang tersinkretik dengan kepercayaan agama.

Menilik dan menelaah antara produk budaya dan produk wahyu, akan jelas bahwa semua bentuk upacara atau kegiatan keagamaan jika sumber inspirasi dari praktik tersebut memasukkan unsur budaya atau adat-istiadat dari nenek moyang kita maka besar kemungkinan upacara-upacara tersebut bukan dari inspirasi wahyu, akan tetapi terinspirasi oleh kebiasaan yang bersumber dari hasil cipta, rasa dan karsa seseorang.

Kita Bangsa Minder


Masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan tidak percaya diri. Yang namanya masyarakat Indonesia sepertinya tidak selalu yakin bahwa dirinya memiliki kemampuan yang cukup untuk melaksanakan setiap kegiatan. Mungkin juga di pengaruhi oleh kolonialisme yang sampai lebih dari tiga ratus tahun menjajah Indonesia sehingga menjadikan mental masyarakat kita menjadi rendah. Sekian lama kita dijadikan budak para kolonial di pekerjakan secara paksa dengan tanpa imbalan apapun kecuali hanya diberi makan secukupnya. Integritas kita sebagai manusia pada saat itu tidaklah terlihat. Martabat kita diinjak-injak tanpa rasa kasihan.

Penjajah yang sekian lama itu telah demikian kuat mempengaruhi watak masyarakat kita. Masyarakat terbiasa dengan hidup menjadi pembantu bagi orang lain. Maka bisa kita lihat sampai detik ini banyak dari masyarakat kita yang bekerja di luar negeri untuk menjadi pembantu. Mereka sudah tidak memikirkan lagi dampak yang sering kali menimpa diri mereka, baik yang berbentuk kekerasan fisik, seperti pemerkosaan, bahkan pembunuhan terhadap TKI.

Rabu, 10 Februari 2010

Pemberdayaan Pemuda dan Budaya


Ada degradasi dalam tatanan adat istiadat dan budaya kita. Bila ini terus dibiarkan maka akan membahayakan jatidiri dan identitas bangsa, sebab keberadaan keduanya ada dalam budaya. Kebiasaan merendahkan karya bangsa adalah salah satu hal yang menyebabkan bangsa ini terus digerus kemeralatan budaya. Hampir tidak ada kebanggaan berbangsa, apalagi kebanggaan pada karya bangsa sendiri.

Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa ketahanan budaya bangsa ini rapuh. Bangsa kita tidak berdaya menghadapi dinamika perubahan. Ketidakberdayaan itu diperparah oleh hilangnya identitas dan rendahnya produktivitas. Kerumunan bangsa ini disibukkan aktivitas pencitraan alternatif dan belanja konsumsi. Tidak ada pemberdayaan pemuda, kosong pemberdayaan budaya.

Degradasi dalam tatanan budaya itu harus dirumuskan dalam satu kesempatan untuk membangun gerakan pelestarian budaya. Upaya itu dapat dilakukan melalui pemberdayaan pemuda dan budaya. Langkah pertama adalah menentukan siapa (tokoh, figur, panutan, pakar) yang bisa untuk mempengaruhi pemuda dan merumuskan siapa yang harus diberdayakan.

Rabu, 13 Januari 2010

Reinterpretasi Ekonomi Kerakyatan


Judul Buku : Manifesto Ekonomi Kerakyatan
Penulis : Revrisond Baswir
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, Desember 2009
Tebal : xv + 162 halaman

Ekonomi kerakyatan akhir-akhir ini semakin sering diperbincangkan. Perbincangan tidak hanya berlangsung di media massa atau di rung-ruang diskusi dan seminar, tetapi berlangsung pula diberbagai forum lainnya di tengah-tengah masyarakat. Dalam kepungan pelaksanaan agenda-agenda ekonomi neoliberal yang semakin mencekeram Indonesia, dan di bawah tekanan pelaksanaan agenda-agenda perdagangan bebas dalam pentas ekonomi-politik dunia, perbincangan mengenai ekonomi kerakyatan ini tentu terasa cukup menyegarkan. Setidak-tidaknya, dengan semakin gencarnya perbincangan mengenai ekonomi kerakyatan, kehadiran ekonomi kerakyatan sebagai wacana tandingan ekonomi neoliberal terasa semakin kuat.

Walau pun demikian, jika disimak substansi dari berbagai perbincangan tersebut, ekonomi kerakyatan ternyata masih sering disalah pahami. Buku Manifesto Ekonomi Kerakyatan ini mencoba mengkritisi panjang lebar beberapa kesalahpahaman tersebut, diantaranya. Pertama, ekonomi kerakyatan cenderung dipandang sebagai gagasan baru dalam pentas ekonomi-politik di Indonesia. Kedua, ekonomi kerakyatan sering diperbincangkan tanpa mengaitkannya secara langsung dengan cita-cita proklamasi dan amanat konstitusi. Dan ketiga, ini yang paling banyak terjadi, ekonomi kerakyatan cenderung dimaknai secara tumpang tindih dengan ekonomi rakyat dan ekonomi pro-rakyat.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...