Rabu, 21 Oktober 2009

Harapan dan Problem PAUD

Data dari Depdiknas pada akhir tahun 2008 jumlah anak yang terlayani PAUD formal dan non formal sebanyak 30 juta anak atau 50 persen. Kerja keras Direktorat PAUD Depdiknas memang sudah terlihat, karena pada tahun 2004 saja, dari 28,2 juta anak usia 0-6 tahun baru 28,3 % yang terlayani oleh PAUD formal maupun non formal. Namun usaha keras tetap harus dilakukan karena masih ada 50 persen lagi anak belum terlayani PAUD.

PAUD adalah investasi yang sangat besar bagi keluarga dan juga bangsa. Anak-anak adalah generasi penerus keluarga dan sekaligus penerus bangsa. Betapa bahagianya orang tua yang melihat anak-anaknya berhasil, baik dalam pendidikan, berkeluarga, bermasyarakat, maupun berkarya. Sebaliknya, orang tua akan sedih jika melihat anak-anaknya gagal dalam pendidikan dan kehidupannya. Betapa hancur perasaan orang tua ketika mendengar anaknya ditangkap polisi dan masuk penjara karena melakukan kejahatan. Disini PAUD menjadi sangat penting bagi setiap keluarga demi menciptakan generasi penerus keluarga yang baik dan berhasil.

Anak adalah generasi penerus bangsa. Merekalah yang kelak membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju, yang tidak tertinggal dari bangsa-bangsa lain. Dengan kata lain, masa depan bangsa sangat ditentukan oleh pendidikan yang diberikan kepada anak-anak kita. Oleh karena, PAUD merupakan investasi bangsa yang sangat berharga dan sekaligus merupakan infrastruktur bagi pendidikan selanjutnya. Itulah sebabnya negara-negara maju sangat serius mengembangkan PAUD. 

Problem Penyelenggaraan
Meskipun pemerintah dan masyarakat telah melakukan berbagai usaha untuk meningkatkan pendidikan anak usia dini di Indonesia, PAUD masih menghadapi banyak problem yang kompleks dan saling terkait satu dengan yang lainnya. Persoalan tersebut antara lain; Pertama, Ekonomi lemah. Jumlah penduduk miskin di Indonesia menurut World Bank pada tahun 2006 mencapai 108.7 juta orang (49%). Itu berarti lebih dari 49% persen anak usia dini hidup dalam keluarga miskin. Banyak anak-anak yang hanya menikmati air susu ibunya selama sekitar setahun. Karena banyak anak berusia satu tahun sudah mempunyai adik lagi. Di samping itu, kualitas makanan pun tidak memenuhi kebutuhan gizi anak. Kondisi ini menyebabkan potensi genetisnya tidak dapat berkembang secara optimal. Kondisi tersebut semakin parah dengan adanya krisis ekonomi yang menjalar ke berbagai sektor sehingga banyak anak-anak yang pertumbuhan badan dan intelektualnya terhambat. 

Kedua, kualitas asuhan rendah. Kondisi ekonomi lemah ditambah dengan tingkat pendidikan ibu dan calon ibu yang rendah, menyebabkan rendah pula kualitas asuhan terhadap anak usia dini. Bahkan, banyak kasus terjadi seorang ibu tega membuang atau membunuh bayi yang dilahirkannya hanya karena malu atau takut tidak bisa merawatnya. Banyak pula ibu atau calon ibu yang tidak tahu bagaimana cara memberi makan, mengasuh, dan mendidik anak. Asal anaknya diam, mereka sudah puas. Banyak calon ibu yang tidak mampu membeli buku-buku tentang merawat dan mendidik anak, dan sebagian lagi tidak sempat membaca buku-buku tersebut karena kesibukannya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. 

Ketiga, kualitas PAUD rendah. Data dari Depdiknas menunjukkan hingga 2008, jumlah lembaga PAUD tercatat 182.201 lembaga. Dari jumlah tersebut, semuanya merupakan lembaga milik masyarakat. Artinya biaya PAUD masih sangat bergantung orang tua. Sehingga wajar jika biaya PAUD jauh lebih besar dari biaya di SD atau SM. Dengan kondisi ekonomi yang lemah banyak orang tua yang tidak sanggup membayar tinggi untuk pendidikan anaknya. Hal ini menyebabkan kualitas layanan PAUD tidak seperti yang diharapkan. Layanan PAUD yang berkualitas umumnya hanya terdapat di kota-kota besar. Di kota orang tua anak sanggup membayar biaya sekolah yang tinggi. Banyak anak TK yang hanya memberi kontribusi Rp 1.000 sampai dengan Rp 3.000 per bulan, tapi ada juga TK yang menarik biaya Rp 300.000 sampai dengan 500.000 per bulan. Kontribusi yang berbeda tersebut jelas kualitas layanannya akan berbeda pula.

Keempat, program intervensi orang tua rendah. Program intervensi untuk membantu keluarga dengan anak usia dini masih rendah. Pos pelayanan terpadu belum dapat mencukupi kebutuhan mereka. Di negara-negara maju keluarga yang tidak mampu mendapat gaji, bantuan makanan pokok, dan susu untuk anak-anak. Bantuan serupa sangat terbatas, tidak reguler, dan belum bisa mencakup seluruh masyarakat miskin di Indonesia. Selain itu, banyak ibu hamil yang kekurangan gizi dan tidak pernah memeriksakan diri ke dokter sehingga pertumbuhan dan perkembangan janinnya kurang terawat dan tidak optimal. Wajar saja jika tingkat kematian bayi dan ibu sangat tinggi. 

Upaya pemecahan
Berbagai persoalan PAUD seperti di atas harus diatasi secara terpadu. Pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi harus bekerja sama untuk mengembangkan PAUD. Pemerintah harus bekerja sama untuk mengembangkan PAUD minimal setara dengan pendidikan dasar dan menengah. Pemerintah perlu secara bertahap mendidirikan TK atau santunan pendidikan anak usia dini agar mampu menampung minimal 80% anak usia TK. Gedung SD yang tidak berfungsi karena kekuarangan siswa dapat digunakan sebagai TK atau pendidikan anak usia dini. Untuk itu, pemerintah perlu bekerja sama dengan komponen masyarakat dan perguruan tinggi. Perguruan tinggi mempersiapkan guru TK yang berkualitas, baik melalui program D-2 mapun S-1, S-2, dan S-3.

Asosiasi PAUD perlu dikembangkan sebagai wahana temu ilmiah dan pengembangan profesi para pemerhati PAUD. Berbagai buku, alat permainan, sarana pembelajaran untuk anak usia dini perlu dikembangkan. Penelitian berskala nasional tentang kondisi gizi, pendidikan, dan pola asuh anak usia dini perlu dilakukan agar dapat digunakan sebagai acuan untuk menyusun program intervensi secara akurat, semoga PAUD di Indonesia makin berkembang pesat.

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...