Sabtu, 31 Oktober 2009

Agama dan Radikalisasme


Judul Buku : Ideologi Kekerasan
Penulis : Agus Purnomo, M.Ag
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, Agustus 2009
Tebal : x + 77 halaman

Agama merupakan totalitas sumber kearifan, cinta, dan perdamaian di antara sesama manusia. Namun, realitas menyajikan fenomena yang justru berlawanan dengan hakikat agama. Fenomena tersebut terjadi dalam tradisi agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Argumen apologetik kemudian diberikan untuk mempertahankan kekudusan fungsi agama, yakni yang harus dipersalahkan dalam konteks perpecahan, konflik dan kekerasan agama bukanlah agama tetapi pihak-pihak yang tidak memenuhi keimanan dan religiusitas terhadap kekuatan eksternal yang berkonspirasi menebar benih kebencian dan permusuhan.

Cara agama-agama berperilaku dalam sejarah, ditentukan oleh worldview masing-masing terkait dengan problem identitasnya sebagai pemilik dan pemonopoli klaim kebenaran dan menafsirkan kebenaran pihak lain. Hal ini karena sesungguhnya semua agama bermula dari ‘momen’ khusus. Kecenderungan agama-agama memerhatikan yang khusus ini mengoptasi dan menghegemoni, sehingga mereduksi dan mengesampingkan klaim spiritualitasnya yang universal.

Guru Harapan Indonesia


Judul Buku : The Art of Teaching
Penulis : Jay Parini
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, Oktober 2009
Tebal : vii + 190 halaman

Reformasi pendidikan di Indonesia berjalan amat lambat salah satunya disebabkan karena guru. Banyak guru tidak suka perubahan. Inginnya kurikulum dan cara mengajarnya tetap seperti yang sudah-sudah. Banyak penataran guru dilakukan, tetapi banyak yang telah kembali tetap menjalankan tugas seperti sebelum berangkat penataran. Itu sebabnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dicanangkan pemerintah tidak berjalan mulus. Di banyak daerah, guru-guru masih bingung dan tidak menjalankan KTSP, meski sudah mengikuti banyak penataran.

Dengan kemajuan zaman dan tantangan zaman yang pesat sekarang ini, guru idealnya tetap terus belajar, kreatif mengembangkan diri, terus menyesuaikan pengetahuan dan cara mengajar mereka dengan penemuan baru dalam dunia pendidikan, psikologi, dan ilmu pengetahuan.

Rabu, 28 Oktober 2009

Kembali Bisnis Buku Sekolah


Persoalan buku pelajaran bagi murid SD-SLTA di Indonesia selalu muncul setiap dimulainya tahun ajaran baru. Ketika masih memakai sistem caturwulan, buku pelajaran menjadi masalah setiap caturwulan. Akar masalahnya tidak lain karena setiapcatur wulan/semester buku pegangan murid harus ganti. Setelah itu buku pelajaran harus diganti karena tidak bisa digunakan lagi oleh adik kelas pada tahun yang akan datang. Dengan kata lain, penggunaan buku-buku pelajaran kita amat tidak efisien, efektif, dan membodohkan.

Bisnis buku semacam itu sudah berlangsung selama hampir tiga dekade terakhir, tetapi hingga kini tidak ada penyelesaian yang jelas. Para birokrat pendidikan justru melemparkan tanggung jawab dengan alasan bahwa sekarang sudah otonomi daerah sehingga daerah/sekolah bebas menentukan jenis buku pegangan sendiri, tanpa campur tangan menteri atau Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Rabu, 21 Oktober 2009

Harapan dan Problem PAUD

Data dari Depdiknas pada akhir tahun 2008 jumlah anak yang terlayani PAUD formal dan non formal sebanyak 30 juta anak atau 50 persen. Kerja keras Direktorat PAUD Depdiknas memang sudah terlihat, karena pada tahun 2004 saja, dari 28,2 juta anak usia 0-6 tahun baru 28,3 % yang terlayani oleh PAUD formal maupun non formal. Namun usaha keras tetap harus dilakukan karena masih ada 50 persen lagi anak belum terlayani PAUD.

PAUD adalah investasi yang sangat besar bagi keluarga dan juga bangsa. Anak-anak adalah generasi penerus keluarga dan sekaligus penerus bangsa. Betapa bahagianya orang tua yang melihat anak-anaknya berhasil, baik dalam pendidikan, berkeluarga, bermasyarakat, maupun berkarya. Sebaliknya, orang tua akan sedih jika melihat anak-anaknya gagal dalam pendidikan dan kehidupannya. Betapa hancur perasaan orang tua ketika mendengar anaknya ditangkap polisi dan masuk penjara karena melakukan kejahatan. Disini PAUD menjadi sangat penting bagi setiap keluarga demi menciptakan generasi penerus keluarga yang baik dan berhasil.

Selasa, 13 Oktober 2009

Kepemimpinan yang Efektif


Kepemimpinan seperti yang sering kita dengar adalah kepemimpinan dalam kerangka referensi kekuasaan yang mengabdi dan melayani rakyat banyak. Perbaikan perikehidupan sehari-hari bagi rakyat banyak, bagi warga dan masyarakat yang miskin dan tertinggal secara nyata agar dilaksanakan. Sekaligus disertai sikap, langkah, dan isyarat kepemimpinan yang peduli.

Kenyataan dan kesan dewasa ini, perbaikan perikehidupan secara konkret tersendat, sementara warga dan masyarakat yang menderita serta tertimpa percobaan seperti dibiarkan sepi sendiri. Kita tandus kepedulian dan kebersamaan.

Pemerintah dan pemerintahan, goverment and governance. Pemerintah yang baik dilaksanakan lewat pemerintahan yang baik. Pemerintahan alias governance mengacu kepada proses dan pelaksanaan. Kebersamaan merupakan salah satu isi, semangat, dan realisasi dari pemerintahan yang baik. Untuk Indonesia yang bermasyarakat majemuk serta suatu negara kepulauan yang amat luas, panjang, serta bervariasi, kebersamaan merupakan kunci keberhasilan. Kebersamaan dalam makna equity, persamaan kesempatan dan tingkat perikehidupan yang tidak menganga apalagi semakin menganga kesenjangan.

Senin, 05 Oktober 2009

Demokrasi Deliberatif untuk Indonesia


Judul Buku : Demokarsi Deliberatif
Penulis : F. Budi Hardiman
Penerbit : Kanisius
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 246 halaman

Berakhirnya rezim Orde Baru, 21 Mei 1998, Indonesia segera memasuki fase yang disebut dengan “liberalisasi politik awal”. Inilah fase yang ditandai oleh serba ketidakpastian dan karenanya dinamai secara teoritis oleh O’Donnell dan Schimitter kurang lebih sebagai fase “transisi dari otoritarianisme entah menuju ke mana”.

Liberalisasi politik awal pasca-Orde Baru ditandai antara lain oleh redefinisi hak-hak politik rakyat. Daftar hak yang mana sebelumnya begitu pendek, dalam fase ini telah memanjang secara dramatis. Setiap kalangan menuntut kembali hak-hak politiknya yang selama bertahun-tahun diberangus oleh rezim otoriter. Sebaliknya, hampir tak ada kalangan yang peduli kepada kewajiban-kewajiban politik mereka.

Penguatan Pendidikan Islam


Menarik mencermati tulisan Abuddin Nata tentang Tantangan Pendidikan Islam, dia menilai bahwa pendidikan Islam zaman sekarang selain menghadapi pertarungan ideologi-ideologi besar dunia juga menghadapi berbagai kecenderungan tak ubahnya seperti badai besar (turbulance) atau tsunami (Republika, 24 Maret 2009). Memang, persoalan pendidikan Islam selalu menarik diperbincangkan secara akademik dalam upaya mencari formulasi alternatif bagi sistem pendidikan yang dalam batasan tertentu dianggap kurang akomodatif terhadap kebutuhan pendidikan Islam.

Konsep pendidikan barat, yang selama ini ditawarkan dan telah berurat berakar dipraktekkan di hampir seluruh dunia muslim, nampaknya belum secara massif berhasil “mencerahkan”. Demikian juga dengan usaha memperkenalkan sistem pendidikan Islam pada tataran pragmatis masih menyiratkan beberapa kerancuan. Institusi sekolah Islam misalnya, sampai saat ini dapat ditemukan nuansa yang kental dengan dualisme atau dikotomisme pendidikan. Sehingga pada konteks pelaksanaan pengajaran, lembaga sekolah Islam terkesan hanya berpretensi untuk mengajarkan aspek disiplin keilmuan agama (religious sciences), dengan memberi porsi yang sangat minim terhadap penelaahan ilmu-ilmu umum (secular sciences).

Jumat, 02 Oktober 2009

Moral dan Janin Berwajah


Judul Buku : Perspektif Etika Baru; 55 Esai tentang Masalah Aktual
Penulis : K. Bertens
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Cetak : Pertama, 2009
Tebal : ix + 251 halaman

Mengapa peraturan-peraturan moral mengikat kita? Pertanyaan ini sering diajukan dalam filsafat moral atau etika filosofis. Tentu saja, kita semua setuju bahwa membunuh, mencuri, menipu, dan sebagainya tidak boleh dilakukan. Kebanyakan orang menerima kenyataan itu sebagai biasa saja dan tidak merasa perlu untuk mempersoalkannya. Tetapi dalam filsafat kita ingin mencari lebih dalam dan kita coba menggali sampai ke fundamen rasional bagi banyak hal yang oleh masyarakat umum dianggap biasa saja. Begitu pula di sini filsafat moral berusaha menemukan alasan terakhir yang dapat memuaskan pikiran kita. Karena itu, pertanyaan tadi tetap menghantui banyak ahli filsafat.

Salah satu jawaban yang menarik diberikan oleh K. Bertens, penulis buku Perspektif Etika Baru; 55 Esai tentang Masalah Aktual ini. Bertents berpendapat bahwa dasar terdalam bagi peraturan-peraturan moral harus dicari dalam hubungan antar manusia, dalam hubungan aku dengan orang lain. Orang lain tampak begitu sebagai wajah. Wajah itu menyapa aku dan aku tidak boleh tinggal tak acuh saja. Ia mengimbau aku untuk mengakuinya. Imbauannya mengandung suatu kewajiban etis, yaitu “jangan membunuh”. Secara konsekuen, bagi Bertens itulah peraturan moral yang paling penting.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...