Jumat, 25 September 2009

Politik Damai Menuju Perbaikan Nasional


Sejarah politik di negeri kita memang penuh konflik dan kering etika. Kebencian, balas dendam, dan penghimpunan kekuatan dengan segala cara untuk mengawasi lawan menjadi bagian dari budaya elite politik dan masyarakat. Jarang ditemukan perwujudan nilai-nilai politik yang santun seperti toleransi, pemberian maaf, serta penghargaan terhadap hukum dan keadilan. Keretakan yang sudah terlanjur seakan sulit diperbaiki. Dalam konteks ini, Forum Rembuk Nasional dan wahana-wahana sejenis menuju islah nasional harus terus dikembangkan.

Prasangka sosial (social prejudices) adalah faktor yang sangat berpengaruh terhadap masih munculnya konflik baik konflik antar-elite maupun horizontal. Masing-masing berusaha mempertahankan identitas seraya tidak mengakui dan bahkan berusaha menghilangkan identitas orang lain. Mereka enggan berinisiatif melakukan komunikasi politik, dan selalu berada dalam tempurung kelompoknya, seraya menjegal dan memberanguskan tempurung-tempurung kelompok lainnya. Identitas kelompok ibarat pisau bermata dua: mempertahankan eksistensi diri sambil berusaha menghilangkan eksistensi kelompok lain.

Rabu, 16 September 2009

Catatan Lengkap Kasus Munir


Judul Buku : Kasus Pembunuhan Munir; Kejahatan yang sempurna
Penulis : Wendratama
Penerbit : Gramedia
Cetakan : Agustus, 2009
Tebal : viii + 263 halaman

Munir, seorang mantan koordinator Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) pantas dijuluki sebagai pahlawan orang hilang. Dia seorang pejuang HAM sejati yang gigih dan berani. Keberaniannya jauh melampaui sosok pisiknya yang kerempeng. Namun, sayang, Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial kelahiran Malang 8 Desember 1965 ini, wafat dalam usia relatif muda, 39 tahun, dalam penerbangan menuju Amsterdam, 7 September 2004.

Pejuang hak asasi manusia (HAM) itu, pergi untuk selama-lamanya. Bangsa ini kehilangan seorang tokoh muda yang dikenal gigih membela kebenaran sejak Pak Harto masih berkuasa. Saat menjabat Koordinator Kontras namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. Ketika itu dia membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Setelah Pak Harto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus (waktu itu) Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota tim Mawar.

Jumat, 11 September 2009

Yesus Pun Ke Hollywood


Judul Buku : Jesus di Hollywood
Penulis : Imam Karyadi Aryanto
Penerbit : Kanisius
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 287 halaman
Harga : Rp 60.000

Yesus sang messiah dalam iman Kristiani rupanya telah lama memukau para pembuat film. Tercatat, hanya 2 tahun berselang setelah pertama kali film dipertontonkan di hadapan publik di Paris pada 1985, Henry C. Vincent memfilmkan kisah Yesus dalam The Passion Play of Oberamergau. Semenjak itulah serangkaian iktiar memfilmkan kisah Yesus, baik sebagai narasi utama maupun sisipan, terus bergulir. Menurut survei yang dilakukan Mike Hertenstein dan dilansir dalam situs flickering@cornerstone festifal tak kurang 26 film berkisah tentang Yesus dalam kurun waktu 107 tahun.

Tentu saja, kita bisa menggeledah motivasi di balik iktiar memfilmkan Yesus. Mulai dari keinginan merengkuh jumlah penonton yang besar hingga niatan menebarkan iman Kristen ke penjuru dunia. Begitu pula, kita menyaksikan beragam respon terhadap film yang mengangkat kisah Yesus; pujian, kecaman, kritikan, gugatan, larangan, dan imbauan. Harap dicatat, film tentang Yesus mampu meraup keuntungan yang menggiurkan. Misalnya, film The Passion of The Christ (2004) besutan Mel Gibson mampu membakau pendapatan 300 juta dollar hanya pada bulan pertama sejak peluncurannya di Amerika saja.

Sabtu, 05 September 2009

Rendahnya Kualitas Mahasiswa Kita


Dulu itu beda dengan sekarang. Itulah mungkin yang bisa digambarkan tentang masalah kualitas mahasiswa saat ini dengan masa dulu. Sepuluh tahun sebelumnya, masiswa banyak memiliki andil dalam masyarakat, mahasiswa mampu memperjuangkan hak-hak rakyat kecil. Saat ini, mahasiswa seperti menjauh dari kehidupan masyarakat, tiap kali mereka melakukan demonstrasi terhadap pemerintahan kita, malah hanya untuk kepentingan kelompoknya saja. Artinya, mahasiswa saat ini semakin menjauh dari suara-suara rakyat kecil. Kemudian muncul pertanyaan kepada para mahasiswa saat ini apakah karena kualitas mahasiswa sekarang itu rendah atau karena mereka memang sudah alergi dengan masyarakat?

Tentu untuk menjawab pertanyaan itu kita butuh mengadakan riset lebih mendalam, yang bisa menyakinkan kita apakah memang masalah kualitas ataukah ada motif lain. Dulu pergerakan mahasiswa banyak dihandalkan masyarakat sebagai penyambung aspirasi kepada para pemimpin di atas. Tapi sekarang para mahasiswa membawa aspirasi sendiri diperjuangkan dengan begitu getirnya, demi tujuan terselubung setelahnya. Latar belakang mahasiswa saat ini melakukan demo dimana-mana, serasa tidak memuaskan masyarakat. Malah, seringkali demo yang gelar mahasiswa dilakukan dengan cara-cara anarkis dengan mengesampingkan ketertiban sosial.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...