Selasa, 19 Mei 2009

Mencetak Guru Inspiratif


Judul Buku : Menjadi Guru Inspiratif
Penulis : Ngainun Naim
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, April 2009
Tebal : xvi +289 halaman

Menjadi guru inspiratif ternyata tidak mudah. Hanya sebagian kecil saja dari guru-guru yang ada dapat menjadi guru inspiratif. Hal ini disebabkan karena karakter inspiratif tidak bersifat permanen. Suatu saat, seorang guru, dapat menjadikan dirinya bagitu inspiratif di mata para siswanya. Di saat yang lain, karakter semacam itu memudar. Sebagaimana karakter manusia yang senantiasa berubah, demikian juga dengan spirit inspiratif. Ada saat dimana spirit inspiratif melemah, atau bahkan menghilang. Juga ada saat di mana spirit tersebut naik dan menjadi landasan yang kukuh dalam mendidik.

Bagaimana menyulut spirit inspiratif? Jawaban atas pertanyaan ini memang tidak mudah. Setiap guru dapat memiliki cara dan mekanisme tersendiri untuk melakukannya. Pengalaman masing-masing guru bisa jadi berlainan. Ada yang berusaha melakukan evaluasi diri, ada yang membaca buku-buku motivasi, membaca biografi tokoh-tokoh sukses, melakukan relaksasi, dan beraneka teknik lainnya. Memang tidak ada teori baku dan universal yang menjelaskan terhadap persoalan ini.

Kehadiran buku Menjadi Guru Inspiratif ini, mencoba menemukan cara jitu menemukan pemantik yang dapat menyulut inspiratif. Penulis, Ngainun Naim mengelaborasi berbagai teori dalam menggapai guru inspiratif. Teori ini memiliki makna penting untuk menyulut spirit inspiratif jika diposisikan sebagai rujukan untuk menghidupkan dan membangkitkan spirit yang melemah. Dalam aplikasinya, bisa jadi antara seorang guru dengan guru yang lainnya memiliki mekanisme yang berbeda.

Meskipun menurut penulis, sebenarnya persoalan keragaman metode dalam menemukan spirit bukanlah menjadi persoalan. Hal yang justru penting adalah bagaimana spirit inspiratif tetap tumbuh, terjaga, dan memberikan dampak secara konkret dalam suasana pembelajaran di kelas.

Begitu juga bagi para penulis, inspirasi adalah hal penting yang senantiasa dicari. Tanpa inspirasi, menulis tidak akan bisa berjalan. Ada beragam cara yang dilakukan untuk menemukan inspirasi, mulai dari menyepi, merenung, membaca, berdiskusi, mengamati fenomena sosial, maupun berbagai cara lainnya. Menurut Naim, bagi guru, spirit inspirasi ini bisa dibagun dengan beberapa landasan.

Pertama, komitmen. Komitmen sebagai guru inspiratif harus dibangun secara kukuh dalam jiwa. Komitmen akan memberikan makna yang sangat penting terhadap apa yang kita kerjakan, kita lihat, kita rasa, kita dengar, dan kita pikirkan. Setiap mengajar, sejauh kita memegang komitmen, maka kita akan senantiasa berusaha semaksimal mungkin untuk memberi inspirasi kepada para siswa. Mengamati bagaimana siswa kurang bergairah belajar, maka komitmen sebagai guru inspiratif akan melahirkan beragam usaha untuk membangkitkan semangat mereka terhadap belajar.

Melihat siswa yang dinilai bermasalah, spirit inspiratif akan terdorong untuk melacak penyebabnya dan mencari jalan keluarnya. Menghadapi hasil evaluasi yang kurang memuaskan, spirit inspiratif akan tergerak untuk menemukan cara-cara konstruktif untuk meningkatkan prestasi. Begitu seterusnya. Setiap ada persoalan, spirit inspiratif selalu memunculkan dorongan dalam diri guru untuk mencari jalan pemecahannya.

Komitmen yang kuat akan membuat para guru selalu memiliki spirit inspiratif. Hal ini disebabkan karena komitmen yang tertanam dalam jiwa secara kukuh akan memengaruhi terhadap emosi, pikiran, dan juga konasi. Semuanya itu akan mampu merangsang inspirasi yang segar, inovasi yang cerdas, dan kekuatan mendidik yang dahsyat.

Kegelisahan yang muncul karena keinginan memberikan yang terbaik terhadap para siswa dapat menarik guru inspiratif untuk benar-benar terserap dalam apa yang sedang dikerjakan. Jadi, mengajar menjadi aktivitas yang penuh dengan penghayatan dan totalitas. Hal inilah yang oleh Daniel Goleman disebut sebagai kondisi flow, yaitu keadaan ketika seorang sepenuhnya terserap ke dalam apa yang sedang dikerjakannya, dan kesadarannya menyatu dengan tindakan.

Goleman menunjukkan bahwa kita dapat mencapai kondisi flow apabila kita memiliki keterlibatan psikologis yang sangat kuat (psychological presence). Keadaan ini membuat otak kita lebih tajam, pikiran kita lebih mudah mengalir, dan jiwa kita lebih inspiratif. Kondisi inilah yang “menyerap” keseluruhan kedirian guru dalam pembelajaran.

Kedua, cinta itu menggerakkan jiwa. Mengajar yang dilandasi oleh kecintaan yang mendalam akan melahirkan dan menyulut spirit inspiratif secara kukuh. Cinta yang kuat dapat menggerakkan jiwa untuk senantiasa penuh semangat, yakin, optimis, dan penuh harapan. Besarnya cinta terhadap profesi, terhadap tanggung jawab, terhadap masa depan siswa, dan terhadap tanggung jawab kepada Tuhan, akan menjadikan mengajar menjadi sedemikian memberdayakan, penuh kenikmatan dan penghayatan.

Bagi seorang guru, jangan sampai tugas mengajar dilakukan karena faktor keterpaksaan. Hal ini merupakan sesuatu yang fatal, karena sikap terpaksa akan menjadikan mengajar hanya sebagai pemenuhan kewajiban saja. Tidak ada lagi spirit dan cinta yang mampu melandasinya. Tidak ada lagi visi lebih luas dan mendalam yang dibangun. Spirit inspiratif tidak akan muncul pada guru yang memiliki karakter semacam ini. Mereka yang mengajar secara terpaksa akan kehilangan gairah dan orientasi yang lebih luas. Mengajar kemudian dilakukan hanya sekadarnya saja.

Ketiga, menajamkan visi. Seperti juga diungkap Philip Kotler, visi merupakan an ideal standar of excellence (standar ideal kesempurnaan) yang ingin kita raih. Atau bisa dimaknai sebagai a dream must be archieve (mimpi yang harus kita raih). Visi sangat penting perananya dalam berbagai aspek kehidupan. Negara, organisasi, sekolah, bahkan diri kita, harus memiliki visi. Hidup tanpa visi akan kehilangan orientasi. Visi adalah titik tertentu yang harus kita capai. Visi yang akan mengarahkan segala gerak dan orientasi dalam hidup kita,

Guru inspiratif adalah mereka yang berada dalam kategori climbers. Dalam diri guru inspiratif terpancang visi yang tinggi dan semangat besar untuk mewujudkannya. Hambatan dan tantangan apa pun akan dihadapi dan ditundukkan. Karakteristik semacam ini menjadikan guru inspiratif senantiasa memiliki kemampuan besar untuk memberikan pencerahan dalam diri para siswanya.

Akhirnya, tidak berlebihan jika dibilang, buku ini sebagai salah satu kitab wajib bagi para guru di Indonesia dalam memantik spirit para guru untuk menjadi sosok yang inspiratif, sehingga mampu mengubah kehidupan para siswanya menuju kehidupan yang bermakna dan lebih berkualitas.

*) Tulisan ini dimuat di Kabar Indonesia, 19 Mei 2009

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...