Minggu, 12 April 2009

Menggagas Pendidikan Moral


Judul Buku : The Art of Learning
Penulis : Josh Waitzkin
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, April 2009
Tebal : xxiii + 374 halaman

Sudah berabad-abad yang lalu para filosof menyatakan bahwa seorang anak pada dasarnya adalah sebuah kertas putih yang bersih dan apakah kelak di kemudian hari ia akan menjadi manusia berguna atau ngelantur sangat tergantung dari pendidikan yang akan diperolehnya, baik itu pendidikan yang bersifat formal maupun non formal. Setiap orang tua pun akan senantiasa berharap bahwa anak-anak mereka suatu saat nanti dapat menjadi orang kesatria yang punya moralita dan etika.

Josh Waitzkin, penulis buku The Art of Learning ini, juga berkeyakinan bahwa penanaman awal nilai-nilai kedisiplinan, moralita dan etika yang dilakukan pada masa balita akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan persepsi hati nurani (superego) seseorang tatkala ia mulai beranjak dewasa. Superego tersebut tentunya akan pula berpengaruh menentukan arah keseluruhan perilaku individu, termasuk bagaimana kecenderungannya nanti saat ia mulai memakai hal-hal baik atau buruk yang berkaitan dengan dimensi pengetahuan, maupun perjalanan akhlak kehidupan beragama dirinya berikut pemahaman moralita dan etika yang mungkin telah diperolehnya semasa di bangku kuliah atau pun di lapangan pertarungan yang riil.

Rabu, 01 April 2009

Pertaruhan Multikultural Jogja


Judul Buku : Kekuasaan sebagai Wakaf Politik; Manajemen Yogyakarta kota multikultur
Penulis : Herry Zudianto
Penerbit : Impulse dan Kanisius, Yogyakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : vii + 167 halaman

Kota Yogyakarta yang berdiri sejak tahun 1756, telah mengalami perjumpaan dengan agama-agama besar di dunia, seperti Hinduisme dan Budhisme, Islam dan Kristen. Juga dengan budaya-budaya besar dari luar, seperti Eropa, Cina, Arab, dan India, kemudian disusul budaya-budaya dari berbagai wilayah nusantara.

Dalam kurun waktu dua setengah abad itu Kota Yogyakarta bertumbuh pelan-pelan menjadi sebuah kota dengan basis budaya Jawa dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang terbuka dan inklusif bagi kultur yang lain, dan oleh karena itu kemudian menjadi pusat kekaguman dunia sebagai kota budaya.

Problem Pemekaran Daerah


Judul Buku : Pemekaran Daerah; Politik Lokal & Beberapa Isu Terseleksi
Penulis : Tri Ratnawi
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, Februari 2009
Tebal : xiii + 284 halaman

Buku ini merupakan tinjauan umum pemekaran daerah di Indonesia di era reformasi (1999-sekarang), problematika yang dihadapi serta alternatif pemecahan masalahnya. Dalam pandangan Tri Ratnawi, pemekaran daerah di Indonesia secara besar-besaran sehingga berubah menjadi semacam ‘bisnis’ atau ‘industri’ pemekaran saat ini, tidak sepenuhnya didasari oleh pandangan-pandangan normatif-teoritis seperti yang tersurat dalam peraturan pemekaran wilayah atau dalam teori-teori desentralisasi yang dikemukakan oleh banyak pakar untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, mengembangkan demokrasi lokal, memaksimalkan akses publik ke pemerintahan, mendekatkan pemerintah dengan rakyatnya, menyediakan pelayanan publik sebaik dan seefesien mungkin.

Sebaliknya, tujuan-tujuan politik-pragmatis seperti untuk merespons separatisme agama dan etnis, membangun citra rezim sebagai rezim yang demokratis, memperkuat legitimasi rezim yang berkuasa, dan karena self-interest dari para aktor daerah dan pusat, merupakan faktor-faktor yang lebih dominan, politisasi dan pragmatisme dalam pemekaran wilayah seperti itulah yang akhirnya menimbulkan banyaknya masalah atau komplikasi di daerah-daerah pemekaran, daerah induk dan juga di pusat.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...