Jumat, 27 Maret 2009

Teologi Pembebasan Islam Mengenai HIV & AIDS


Judul Buku : AIDS dalam Islam; Krisis Moral atau Krisis Kemanusiaan?
Penulis : Ahmad Shams Madyan
Penerbit : Mizan
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 179 halaman

Buku AIDS dalam Islam: Krisis Moral atau Krisis Kemanusiaan? ini layak mendapat sambutan hangat. Sang penulis, seorang intelektual muda Muslim, secara kritis dan dengan bahasa yang mengalir lancar serta mudah dipahami berani menampilkan masalah yang selama ini banyak orang memilih tidak membicarakannya, sehingga seperti fenomena gunung es. Meskipun HIV dan AIDS sudah di depan mata dan bisa menulari mereka yang tak berdosa seperti kisah Vivi dan Mahmudah dalam buku ini, masih banyak terjadi penyangkalan atau sikap menghukum. Kita bisa mendengar komentar seperti ”Ah, itu kan mereka, bukan saya,” atau “Mereka pantas mendapat hukuman seperti itu.”

Memang rasa sakit itu bersifat personal, kita tidak merasakannya, dan hanya dirasakan oleh yang bersangkutan saja. Tetapi ketika sakit itu menimpa orang yang kita cinta seperti anak, istri, suami atau keluarga lainnya, barulah kita sadar bahwa sebetulnya sakit, termasuk HIV dan AIDS adalah sebuah isu publik. Saat kita membawa orang yang kita cinta berobat ke rumah sakit. Puskesmas, atau praktik dokter swasta, kita berhadapan dengan sebuah sistem yang mengatur segalanya. Misalnya, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk obat, dokter, perawat, dan sebagainya. Semua sudah diatur dan kita tinggal menurut saja. Bagi yang berduit, mungkin tidak ada masalah. Mereka bahkan bisa memilih kelas dan kualitas pelayanan. Tapi, bagaimana jika kita tidak mampu?

Rabu, 18 Maret 2009

Kiat Memilih Wakil Rakyat 2009


Pada tanggal 9 April 2009, kita akan melangsungkan pemilu tahap pertama, memilih Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah secara serentak untuk memilih 560 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), 132 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota) se-Indonesia periode 2009-2014. Demi masa depan bangsa yang adil dan sejahtera, dan dalam rangka mengembangkan estetika politik di republik ini, bagaimanakah kita memilih caleg secara cedas-demokratis sehingga mereka dapat mempertanggungjawabkan tugas kepada rakyat, dan bukan menjadikan rakyat sebagai tumbal bagi diri mereka sendiri? Kita itu mesti mencermati setiap kali kita harus memilih wakil rakyat, sampai kapan pun.

Harus diakui, ketika kita menyelenggarakan proses pemilu secara langsung, cara dalam proses pemilu saat ini belum terlalu banyak tersosialisasikan kepada rakyat! Proses itu menuntut perhatian lebih dan pemahaman yang cerdas terhadap mekanisme yang harus dijalankan dengan baik oleh masyarakat yang sudah memilih hak pilih. Maka, dibutuhkan kiat yang tepat agar bangsa ini tidak semakin bangkrut akibat para wakil rakyat yang sesat, yang ujung-ujungnya menipu rakyat!

Selasa, 10 Maret 2009

Pendidikan dan Dekadensi Moral Bangsa


“A primary function of school is the passing on of the knowledge and behaviours necessary to maintain order in society. Since children learn to be social beings and develop appropriate social values though contact with others, schools are an important training ground.” (Ballantine 1983)

Bangsa kita saat ini menghadapi persoalan yang amat pelik dilihat dari ukuran moralitas. Bangsa ini mengalami berbagai kesulitan yang diakibatkan semakin memudarnya dan atau bahkan semakin rusaknya moralitas sebagian penyelenggara negara. Karena mereka memiliki akses pada mengambilan keputusan penting, perilaku mereka sangat berpengaruh pada kesejahteraan atau kesengsaraan jutaan penduduk lain yang tidak tahu menahu asal muasal datangnya berbagai kesulitan hidup yang dihadapi.

Terhadap kenyataan ini, pendidikan perlu direkonstruksi kembali agar bisa menjadi terapi bagi terjadinya dekadensi moral yang terjadi saat ini. Hal ini bukan tidak mungkin dilakukan karena pendidikan pada hakekatnya dapat difungsikan sebagai instrument untuk melakukan koreksi dan rekonstruksi terhadap kesalahan-kesalahan praktik kehidupan yang ada di dalam masyarakat jika kita memandangnya dari posisi filosofi pendidikan reconstructionism (Beane, 1986).

Selasa, 03 Maret 2009

Estetika Panggung Politik Indonesia

Menyambut Pemilu 2009, kita bertanya akankah pemilu kali ini menyajikan estetika politik Indonesia sehingga bangsa ini bangkit dari keterpurukannya? Itu berarti keindahan demokrasi-politik harus diukir dalam kebenaran dan kesejahteraan. Sebab, keindahan, kebenaran, dan kesejahteraan sesungguhnya merupakan tritunggal manifestasi politik sejati.


Membaca peta politik Indonesia, kita bisa menegaskan betapa estetika, kebenaran, dan kesejahteraan masih jauh dari harapan. Politik yang semestinya merupakan seni pengabdian untuk mengusahakan kesejahteraan umum dicabik-cabik menjadi serpihan kebusukan oleh nafsu serakah, haus kekuasaan, dan sikap yang tidak adil! Akibatnya, citra politik sebagai estetika pengabdian untuk menyejahterakan seluruh bangsa tetap tinggal sebagai utopia. Dalam utopia tersebut, pantaslah kita menggagas makna estetika politik Indonesia yang tidak menjadikan rakyat sebagai tumbal politik.

Minggu, 01 Maret 2009

Mengkaji Islam dalam Keberagaman


Judul Buku : Mengindonesiakan Islam; Representasi dan Ideologi
Penulis : Dr. Mujiburrahman
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, Desember 2008
Tebal : xxiii + 438 halaman

Kenyataan bahwa Indonesia adalah bangsa yang sangat beragam merupakan fakta yang tidak bisa dipungkiri oleh siapa pun. Keragaman Indonesia tidak saja tercermin dari banyaknya pulau yang dipersatukan dibawah kekuasaan satu negara, melainkan juga keragaman warna kulit, bahasa, etnis, agama dan budaya. Tapi kemudian yang menjadi persoalan bukanlah kenyataan bahwa bangsa ini adalah amat beragam, melainkan cara kita memandang dan mengelola keragaman tersebut.

Para pendiri bangsa ini jelas sangat menyadari akan masalah keragaman ini. Pertanyaan mereka saat mendirikan negara ini adalah atas dasar apakah kiranya segala yang beraneka ragam itu dapat dipersatukan? Sejarah mencatat bahwa ada dua jawaban yang berbeda terhadap masalah ini. Satu kelompok mengatakan bahwa kita bisa bersatu atas dasar “kebangsaan” dan satu kelompok lagi mengatakan bahwa kita bersatu atas dasar “agama”, yakni agama Islam yang dianut oleh mayoritas bangsa ini.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...