Sabtu, 28 Februari 2009

Bahaya Neoliberalisme Pendidikan


Paham neoliberal telah merasuki para pemikir pendidikan di dunia. Dikatakan John Williamson, bahwa pendidikan menjadi sebagai komoditi dan tunduk kepada hukum pasar. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membutuhkan biaya besar maka orang berlomba-lomba membuat sekolah-sekolah yang mahal dengan bayaran tinggi. Lahirlah sekolah-sekolah elite yang hanya menampung anak-anak dari keluarga kaya. Pendidikan menjadi tidak demokratis dan hanya merupakan milik lapisan masyarakat yang berada.
Sekolah-sekolah mementingkan apa yang berguna berdasarkan paham pragmatisme, artinya menyediakan pelajaran-pelajaran yang berguna untuk kehidupan yang sekarang. Dengan demikian sekolah bukanlah mengasah kemampuan intelektual untuk hidup secara cerdas tetapi yang dapat memberikan keuntungan yang lebih banyak bagi yang menguasainya. Academic excellence bukan merupakan tujuan dalam pendidikan. Yang terpenting ialah menghasilkan keterampilan ataupun penguasaan-penguasaan ilmu-ilmu praktis yang segera dapat memberikan manfaat pada yang memilikinya.

Sekolah-sekolah kejuruan dilihat sebagai tempat untuk menguasai ilmu pengetahuan terapan dan bukan, misalnya untuk mengasah akal budi dan menikmati seni. Pada tingkat pendidikan tinggi muncullah perspektif-perspektif baru yaitu komersialisasi pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi bukan lagi dilihat sebagai lembaga yang memberikan kenikmatan dalam penguasaan ilmu pengetahuan tetapi dikembangkan untuk memperoleh lisensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja dengan bayaran yang tinggi.

Corporate Culture
Komersialisasi pendidikan tinggi dapat mengarah kepada apa yang disebut McDonaldisasi pendidikan yaitu penyajian program-program studi segera memberikan keuntungan, efisien, cepat layan tanpa memperhitungkan kualitas. Selanjutnya McDonaldisasi pendidikan tinggi melahirkan apa yang disebut budaya corporate (corporate culture) di dalam manajemen pendidikan tinggi. Lembaga pendidikan tinggi tidak lagi dilihat sebagai lembaga untuk mengembangkan, mencari solusi-solusi kehidupan masyarakat, tetapi lebih dipandang sebagai lembaga untuk mencari keuntungan.

Corporate culture juga merasuki kehidupan para dosen. Dosen akan berlomba-lomba memasuki perguruan tinggi yang memberikan gaji baik. Pertimbangan-pertimbangan untuk menjadi dosen bukan karena kecintaanya terhadap ilmu pengetahuan tetapi didorong oleh motif mendapatkan bayaran yang dianggap setimpal dengan keahliannya. Kita lihat misalnya, akhir-akhir ini pemilihan dekan di lingkungan perguruan tinggi telah mengikuti cara-cara yang dilakukan di dalam perusahaan-perusahaan yaitu menggunakan ‘head hunter’.

Kebanggaan para dosen yang mempunyai kemampuan untuk mengabdikan kemampuan itu sebagai administrator dari luar yang tertarik karena pertimbangan-pertimbangan komersial. Dalam dunia mahasiswa komersialisasi juga akan tampak, misalnya di dalam pemilihan bidang studi. Bidang studi yang tidak mempunyai pasarannya di dalam masyarakat tentunya tidak akan diminati oleh para mahasiswa.

Demikian pula para staf administrator sebagai manajer pendidikan terbuka untuk siapa saja bukan hanya dari kalangan pendidikan tinggi tapi juga dari luar terutama dunia bisnis. Sudah dapat dibayangkan korps administrator pendidikan tinggi akan diatur oleh para manajer bisnis berdasarkan kemampuannya untuk menjalankan lembaga pendidikan, bukan sebagai lembaga yang mengatur kehidupan intelektual dari suatu kampus ilmu pengetahuan, tetapi sebagai manajer dari lembaga bisnis.

Bahaya Neoliberalisme
Henry A. Giroux seorang pakar pendidikan kritis mempertanyakan mengenai bahaya neoliberalisme di dalam pendidikan modern dewasa ini. Neoliberalisme menurutnya merupakan suatu ideologi yang sangat berbahanya, sebab pada dasarnya, neoliberalisme menghancurkan segala hal yang merupakan milik pabrik, merusak nilai-nilai demokratis karena tunduk kepada fundamentalisme dasar. Nilai-nilai sosial yang luhur telah direduksi sebagai nilai-nilai yang tunduk kepada pertimbangan-pertimbangan komersial, privatisasi, dan deregulasi.

Apabila pandangan neoliberalisme ini telah dapat terlihat di dalam bidang pendidikan sebagai milik publik, maka yang serupa akan terjadi pula di dalam lembaga-lembaga masyarakat lainnya, di dalam lembaga-lembaga keagamaan, sarana informasi seperti surat kabar, radio, televisi, yang telah merampas hak-hak publik.

Apabila pendidikan tinggi telah masuk perangkap korporasi yang mempunyai modal yang kuat maka sebenarnya pendidikan tinggi telah kehilangan identitasnya. Segala sesuatu akan mengikuti sang majikan dan kegiatan-kegiatan di dalam kampus telah merupakan kegiatan-kegiatan bisnis. Program dan pokok-pokok pendidikan mengikuti pesanan dari corporate yang memberikan dana yang dibutuhkan oleh universitas. Jika pada permulaan para corporate bersembunyi di balik donor atau sumbangan kepada universitas, lambat laun donor atau sumbangan sukarela tersebut merupakan suatu kewajiban yang tunduk pada ‘supply and demand’.

Langkah Perlawanan
Apakah ada cara untuk menentang cengkeraman dari corporate culture yang dibawa oleh paham neoliberal? Apabila neoliberalisme menjadi demikian besar, tidak ada suatu kekuatan yang dapat menandingi karena kekuatan neoliberalisme telah merampas ruang-ruang publik yang ada. Oleh sebab itu corporate culture hanya dapat ditentang oleh keberadaan civil society, dengan adanya anggota masyarakat yang kritis. Hanya dengan sikap kritis dapat dibangun kekuatan civil society dalam kampus pendidikan tinggi.

Hal ini berarti, apabila para dosen, mahasiswa, para administrator pendidikan tinggi menggalang kekuatan yang besar untuk melepaskan diri dari cengkeraman corporate culture, maka hal ini dapat terjadi hanya apabila mendapat support dari kekuatan politik atau dari masyarakat luas. Dengan kata lain hanya di dalam lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola secara demokratis yang dapat bertahan dari ancaman corporate culture.

Oleh sebab itu, komite sekolah, dewan sekolah, majelis amanah pendidikan tinggi akan menempati ruang-ruang publik yang berfungsi mengontrol kekuatan-kekuatan corporate culture. Lembaga-lembaga tersebut merupakan suatu lembaga civil society di mana kebutuhan umum lebih dipentingkan daripada pertimbangan-pertimbangan komersial.

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...