Kamis, 15 Januari 2009

Bahaya Sindroma Bawah Sadar


Judul Buku : Methods in Behavioral Risearch
Penulis : Paul C. Cozby
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, Februari 2009
Tebal : xvii + 629 halaman

Bergonjang-ganjing akhir-akhir ini telah menjadi kebiasaan yang melanda segenap lapisan masyarakat.Hampir tidak ada setu tema pun yang lepas dari kebiasaan itu.

Mencermati maraknya kebiasaan seperti itu, menarik untuk kita apresiasi kehadiran buku Methods in Behavior Research. Paul C Cozby,penulis buku tersebut, menyatakan antara lain bahwa dalam diri manusia, baik selaku individu, kelompok, ataupun organisasi, pada momen-momen tertentu siklus kehidupannya dapat dihinggapi sindroma yang lazim disebut sebagai self defeating behavior.

Sindrom alam bawah sadar ini ditandai oleh kecenderungan atau dorongan untuk berperilaku destruktif berupa menikmati perasaan kegembiraan yang teramat sangat ketika berhasil menggagalkan langkah prestatif orang lain ataupun mengabaikan terciptanya suatu momentum problem solving yang melintas di hadapannya.

Dorongan seperti ini, menurut Cozby,biasanya muncul dan menghinggapi kelompok manusia yang pernah mengalami periode sukses berkelebihan (over-success) di rentang perjalanan kehidupan masa lalunya. Mereka itu, karena terbiasa memperoleh kesuksesan secara mudah dan instan sifatnya, acap kali menyepelekan keseriusan bekerja tatkala berupaya memecahkan beragam permasalahan yang harus dihadapinya.

Kecenderungan berperilaku seperti itu, jika tidak cepat disadari,dikhawatirkan hanya akan menimbulkan dampak kerugian yang serius bagi keberlangsungan aktivitas dan kinerja individu,kelompok, maupun organisasi. Apabila kita mencermati perilaku berorganisasi di berbagai masyarakat,akan tampak jelas bahwa belakangan ini perilaku seperti itu ternyata banyak sekali ditampilkan di muka publik,terutama sekali di kalangan para elite.

Membiarkan saja perilaku yang demikian tumbuh subur secara kolosal tentu akan membawa akibat fatal, terutama di zaman serbakrisis. Untuk mencegah kecenderungan berperilaku self defeating behavior tersebut, menurut Cozby, diperlukan proses penyadaran kognitif, baik secara individual maupun kolektif,secara sungguhsungguh dan berkesinambungan. Upaya melacak akar terbentuknya self defeating behavior,suatu keniscayaan.

Di Indonesia, perilaku seperti itu dimulai sejak 36 tahun lalu,pada era Orde Baru. Anak bangsa dikondisikan untuk hidup dalam kemunafikan dan inkonsistensi sehingga kehilangan kejujuran yang berujung pada hilangnya kemampuan bernalar.Semua fenomena ini secara telanjang tercermin pada gaya berbahasa yang lazim dipergunakan secara populer di kalangan birokrat,pers, militer, agamawan, dan bahkan di kalangan para akademisi yang terpaksa melahirkan makalah-makalah ilmiah.

Contoh kecil yang paling mudah diingat, misalnya, diubahnya istilah kelaparan menjadi kekurangan gizi. Dampak paling mengenaskan dari perilaku self defeating behavior ini yakni berupa kepicikan dan kekerdilan berpikir. Akan muncul sikap dan anggapan bahwa diri, kelompok, ataupun organisasinya sendiri sebagai pihak yang paling benar.

Orde Baru setidaknya telahmenciptakan suasanakehidupansepertiitu. Selama kurun waktu 30 tahun rasa paling benar sendiri nyata-nyata dipraktikkan oleh rezim pemerintahan otoriter melalui mekanisme komunikasi satu arah. Dialog-dialog satu arah menegaskan sikap superioritas pemerintah terhadap kelompok masyarakat. Akibatnya, secara tidak sadar masyarakat dibiasakan untuk berperilaku superior terhadap yang lainnya.

Buku Methods in Behavioral Research sangat relevan dengan kondisi sekarang. Di tengah kondisi multikrisis–– utamanya krisis mental anak bangsa––buku ini menawarkan langkah pencegahan. Langkah yang ditawarkan buku ini di antaranya melalui program-program yang bisa menumbuhkembangkan kebiasaan berkata secara jujur, apa adanya, tanpa perlu merasa sungkan.

Namun untuk menumbuhkan sikap kejujuran dibutuhkan keberanian baik secara individu, kelompok, ataupun organisasi.Tanpa keberanian untuk membangun kebiasaan berterus terang dan menyebarkan virus kejujuran berbahasa dalam mengutarakan suatu pemikiran, sepandai apapun kita sebagai bangsa, akhirnya tidak akan berhasil mencegah krisis mental ataupun krisis multidimensi lainnya.

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...