Kamis, 24 Desember 2009

Membangun Nasionalisme Melalui Pendidikan


Rasa persatuan atau nasionalisme suatu bangsa merupakan modal utama dalam menghadapi kemajuan ataupun mengatasi krisis bangsa itu. Sejak nasionalisme lahir di dalam kehidupan bangsa dan bertanah air, di dalam sejarah kehidupan manusia dewasa ini, khususnya dalam menghadapi perubahan global, nasionalisme terus merupakan permasalahan yang menentukan hidup matinya suatu negara-bangsa. Dalam menjaga kelangsungan hidup suatu negara-bangsa dengan nasionalisme ini maka sejarah membuktikan betapa negara-negara maju dan negara-negara berkembang menjadikan pendidikan nasionalnya sebagai sarana untuk memelihara, mengembangkan, dan menggunakannya untuk survival.

Nasionalisme Indonesia
Kita mengenal kebangkitan Nasional I pada tahun 1908. Nasionalisme 1908 tumbuh dari sekolompok pemuda yang diikat oleh rasa untuk menentang cengkeraman penjajah di bumi Indonesia. Nasionalisme 1908 tentunya masih terbatas pada kelompok-kelompok terbatas serta bersifat kelompok-kelompok primordial. Nasionalisme 1908 mencapai puncaknya pada tahun 1928 dengan lahirnya Sumpah Pemuda. Oleh sejarawan Anhar Gonggong dikatakan bahwa nasionalisme 1908 adalah nasionalisme otak yang di lahirkan oleh kelompok pemuda yang berpendidikan modern dari kumpulan-kumpulan suku dari berbagai pelosok Indonesia. Nasionalisme yang menggunakan otak ini menggantikan nasionalisme yang lahir dari kesetiakawanan sekelompok pemuda yang masih diikat oleh feodalisme dan premordialisme yang sempit.

Kamis, 10 Desember 2009

Muhammadiyah dalam Bingkai Perpolitikan


Judul Buku : Muhammadiyah dalam Dinamika Politik
Indonesia 1966-2006
Penulis : Syarifuddin Jurdi
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan I : Pebruari, 2010
Tebal : xxxviii + 520 halaman

Muhammadiyah merupakan gerakan sosial Islam yang bersifat multiwajah. Aktivitasnya tidak hanya berkaitan dengan bidang agama, pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi, tetapi juga dengan wilayah politik kenegaraan. Peran maupun respons Muhammadiyah dalam dinamika politik Indonesia lebih ditentukan oleh watak rezim berkuasa. Walaupun demikian, secara umum peran Muhammadiyah ditandai oleh ketergantungan yang dominan kepada pemerintah berkuasa, jika tidak mengatakan bahwa Muhammadiyah terkooptasi dan terhegemoni.

Kiprah politik Muhammadiyah pernah mengalami ‘jalan buntu’ pada masa Demokrasi Terpimpin. Faktor utama yang menyebabkan melemahnya peran politiknya adalah posisi Masyumi yang krusial. Partai tersebut pada 1960 diperintah untuk membubarkan diri, sedangkan Muhammadiyah merupakan anggota istimewa partai Masyumi. Sehingga selama enam tahun kiprah politiknya terpinggirkan. Akibatnya, Muhammadiyah kesulitan memainkan peran-peran politiknya secara proporsional dalam memperjuangkan ide-ide politiknya.

Rabu, 09 Desember 2009

Kontroversi Ujian Nasional


Perdebatan Ujian Nasional (UN) tanpaknya belum akan berakhir, Mahkamah Agung (MA) kembali memenangkan gugatan masyarakat lewat citizen law suit terkait penyelenggarakan UN. Berbagai argumen dikemukakan para pakar, pemerhati, praktisi pendidikan, orangtua, dan siswa sendiri untuk menggugat kebijakan UN. Disisi lain, pemerintah masih akan kembali melakukan upaya hukum terakhir, yakni pengajuan peninjauan kembali.

Pendapat dan pandangan dalam polemik mengenai UN ini tampak terbelah menjadi dua kutub. Namun, argumen-argumen yang mengemuka hanya mempersoalkan UN dari sisi keabsahan hukum atau peraturan. Tak heran bila tema ini hanya berkisar pada gugatan atas pasal-pasal dalam UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SPN) berikut PP turunannya yang mengatur tentang siapa yang berwenang melaksanakan UN. Penting dicatat, UU SPN menggunakan istilah “evaluasi belajar”, tidak menyebut secara jelas “Ujian Nasional”.
Untuk itu, perdebatan harus ditarik pada pembahasan isu-isu substansial. Pertanyaan pokok yang patut diajukan adalah apakah UN diperlukan? Jika perlu, apakah UN dapat menjadi penentu kelulusan atau sekadar istrumen memetakan mutu pendidikan? Apakah UN merupakan bentuk evaluasi pendidikan atau pengukuran pencapaian prestasi akademik?

Rabu, 02 Desember 2009

Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan


Judul Buku : Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan:
Seberapa Jauh?
Penulis : Malcolm D. Evans, dkk.
Penerbit : Kanisius
Cetakan : Pertama, 2010
Tebal : xvii + 829

Memasuki abad ke-21, kebebasan agama dan keyakinan (freedom of religion and belief) merupakan salah satu bagian penting dari Hak Asasi Manusia (HAM). Meski hampir tidak ada lagi perdebatan substantif tentang esensialnya subjek ini, jelas pula kebebasan agama dan keyakinan masih menghadapi masalah dan kendala tertentu di banyak bagian dunia, termasuk di tanah air kita Indonesia. Karena itu, kebebasan beragama dan berkeyakinan masih perlu diperjuangkan secara terus menerus pada berbagai level kehidupan.

Hambatan dan kendala dalam aktualisasi kebebasan beragama dan berkeyakinan itu boleh jadi berkaitan dengan ketentuan-ketentuan hukum dan kebijakan-kebijakan tertentu Negara, yang dalam satu dan lain hal menyebabkan individu atau masyarakat tertentu terhalangi atau tidak dapat sepenuhnya mengekspresikan agama dan keyakinan yang mereka anut. Dalam hal ini, perlu diperjuangkan untuk perubahan ketentuan hukum dan kebijakan Negara tersebut, sehingga kebebasan agama dan keyakinan dapat terwujud lebih baik.

Sabtu, 28 November 2009

Polemik Keistimewaan Jogja


Buku : Catatan Perjalanan Keistimewaan Yogya
Penulis : Haryadi Baskoro dan Sudomo Sunaryo
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, Februari 2010
Tebal : xii + 201 halaman

Di tangah maraknya penyelenggaraan pilkada dan pilgub di seluruh belahan bumi pertiwi, sebagian besar wong Yogya justru mengharapkan penetapan kembali Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Sri Paku Alam IX sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DIY. Sebagian dari mereka melakukan berbagai bentuk aksi massa untuk menunjukkan aspirasi tersebut. Orasi-orasi pun digelar meski tak galak namun lebih bernuansa dialog budaya. Peristiwa seperti itu sudah berulang kali terjadi sejak reformasi bergulir. Aksi pada 11 agustus 1998 dikenal dengan aksi Pisowanan Kawulo Mataram. Aksi pada 26 Agustus 2003 juga tak kalah marak. Sedangkan pada 2008, aksi-aksi serupa dilakukan semakin intensif dan sistematis.

Ciri keistimewaan Yogya, meski sampai medio 2008 belum diundangkan dengan jelas, terletak pada kepemimpinan otomatis Sri Sultan dan Sri Paku Alam sebagai Kepala Daerah DIY. Prinsip itulah yang sejak masa Kemerdekaan RI dulu dinyatakan sebagai kekhasan DIY, meski juga tak jelas dan tak tegas. Hal itu pulalah yang dipahami oleh masyarakat sehingga mereka berulang kali menyampaikan aspirasi tersebut.

Sabtu, 21 November 2009

Jihad Melawan Teror


Aksi teror jelas merupakan tindak amoral sekaligus kriminal yang sangat merugikan manusia dan kemanusiaan. Siapa pun tentu tahu bahwa aksi teror dan mereka yang menganut paham terorisme sesungguhnya melawan agama. Tidak ada alasan apapun secara moral maupun teologis untuk mengatakan bahwa teror bisa dibedakan antara ‘teror suci’ dan ‘teror kotor’. Lain halnya mungkin dengan istilah ‘perang suci’, di mana dalam keadaan tertentu yang sangat mendesak seseorang boleh mengangkat senjata demi mempertahankan keimanan dan menegakkan kebenaran.

Dalam Islam, agama, yang secara politik sekarang ini lebih dicurigai sebagai lawan Barat dan sering dituduh sebagai dekat dengan aksi-aksi terorisme ini, pengertian jihad sebenarnya bukanlah identik dengan kekerasan. Siapa pun yang mau mempelajari secara sungguh-sungguh makna jihad melalui sumbernya yang autentik, maka ia akan menemukan pehamanan bahwa mengangkat senjata hanya diperbolehkan dalam kedaan yang sangat darurat dan terbatas.

Selasa, 17 November 2009

Mencipta Guru Kreatif


Judul Buku : Methods for Teaching
Penulis : David A. Jacobsen dkk.
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, November 2009
Tebal : xvi + 340 halaman

Tanpa guru yang kreatif dan dapat diandalkan penguasaan materinya, mustahil suatu sistem pendidikan berikut kurikulum serta muatan kurikulumnya dapat mencapai hasil yang diidealkan. Yang dikatakan mantan Menteri Pendidikan Fuad Hassan tersebut di atas tetap relevan untuk situasi sekarang, ketika kurikulum tingkat satuan pendidikan diterapkan.

Kurikulum memang penting, namun bisa berhenti sebagai perangkat mati yang masih membutuhkan sosok-sosok guru untuk menerjemahkannya dalam praksis pengajaran. Menjadi pertanyaan bagi kita, seberapa banyak dapat kita jumpai guru yang kreatif di negeri ini? Masih adakah guru yang tergerak untuk kreatif tanpa imbangan finansial yang memadai?

Komitmen Pemimpin untuk Pendidikan


Menurut Suyanto, Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Depdiknas (Kompas 30/05/08), dari total 531.186 ruangan kelas SD dan SMP di seluruh Indonesia yang rusak, 60,25 persen di antaranya sudah selesai direhabilitasi oleh pemerintah pusat. Adapun pemerintah daerah bisa menyelesaikan rehabilitasi sebanyak 47.926 ruangan kelas atau baru 5,3 persen. Sampai saat ini, sudah 128 kabupaten/kota yang tuntas dalam perbaikan gedung sekolah yang rusak. Itu pun pengembangannya baru sebatas fisik sekolah, belum pada sasaran sarana dan prasarana untuk menunjang kualitas pembelajaran di sekolah. Suyanto mengatakan, khusus untuk perbaikan SD rusak masih 213.63 ruang kelas.

Bagaimana dengan kualitas guru? Menurut Balitbang Depdiknas, guru-guru Indonesia yang layak mengajar untuk tingkat SD baik negeri maupun swasta ternyata hanya 28,94%. Guru SMP negeri 54,12%, swasta 60,99%, guru SMA negeri 65,29%, swasta 64,73 %, guru SMK negeri 55,91 %, swasta 58,26 %. Rendahnya profesionalitas guru ini salah satu dipengaruhi oleh pendidikan guru yang belum memadai. Dari 2,7 juta orang guru di Indonesia hanya sepertiganya atau 35% saja yang berpendidikan S1. Sedangkan di Sekolah Dasar guru berpendidikan S1 baru sekitara 10% sedangkan menurut undang-undang no 14 tahun 2005 guru Sekolah Dasar harus S1.

Jumat, 06 November 2009

Pelajaran Untuk Guru Muda


Judul Buku : The Art of Teaching
Penulis : Jay Parini
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, Oktober 2009
Tebal : vii + 190 halaman

Mengajar bukanlah sebuah kerja sebagaimana layaknya pekerjaan untuk menghasilkan uang. Seorang guru dibebani tugas untuk membangun siswa kepada alam realitas, memberikan pengantar yang ketat bagi sebuah disiplin tertentu, dan menciptakan kesadaran tentang tanggung jawab mereka sebagai warga negara yang dilatih dalam seni berpikir kritis. Tentu saja, banyak anak muda di dunia ini yang belum pernah diasuh dengan cara yang demikian, bahkan mungkin termasuk mereka yang tergolong cerdas sekalipun.

Pendidikan tidaklah sepantasnya selalu mengajarkan mengenai masa lalu, akan tetapi sebanyak mengenai masa depan. Mengenai hal ini, Paulo Freire, seorang teoritisi pendidikan, pernah mengingatkan bahwa “Berpikir sejarah sebagai kemungkinan adalah mengakui pendidikan sebagai kemungkinan.” Artinya, mengakui bahwa jika pendidikan tidak dapat menyelesaikan semua, setidaknya pendidikan mampu menghasilkan beberapa hal penting.

Menakar Neoliberalisme Indonesia


Judul Buku : Bahaya Neoliberalisme
Penulis : Revrisond Baswir
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, November 2009
Tebal : ix + 197 halaman

Pro-kontra neoliberalisme versus ekonomi kerakyatan yang berlangsung pada tahun terakhir ini sangat menarik untuk dicermati. Di luar dugaan, semua pihak yang selama ini cenderung sangat pro-pasar, secara tiba-tiba mengelak dituduh sebagai neolib. Bahkan, sebagaimana dipertontonkan oleh para ekonom neoliberal pembela Boediono, mereka tidak hanya berusaha sekuat tenaga untuk menepis pelabelan Boediono sebagai seorang neolib. Dengan sangat memaksa mereka mencoba mengungkit sejarah dengan mengaitkan Bodiono dengan ekonomi Pancasila.

Pertanyaannya, mengapa kebanyakan ekonom yang selama ini sangat pro-pasar tersebut tiba-tiba mengelak untuk diasosiasikan dengan neoliberalisme? Benarkah Boediono seorang penghayat ekonomi Pancasila dan bukan seorang neolib? Peristiwa apa sajakah yang perlu dicermati untuk mengetahui ideologi ekonomi seseorang?

Kamis, 05 November 2009

Membangkitkan Kewirausahaan


Baru-baru ini Presiden mengemukakan bahwa untuk mengatasi keterbatasan kemampuan pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja, maka sebagai salah satu upaya untuk mengatasi semakin meningkatnya jumlah pengangguran dan penduduk miskin adalah dengan memberdayakan masyarakat menjadi wirausaha melalui pengembangan usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah (UMKM).

UMKM di Indonesia sebanyak 44.693.759 atau 99,84% dari unit usaha secara keseluruhan (BPS, 2005) menyerap tenaga kerja sebesar 82,2 juta tenaga kerja (88,64%) dari jumlah tenaga kerja yang ada di Indonesia. Ironisnya kontribusi UKM terhadap pembentukan PDB hanya sebesar 5,6% selebihnya merupakan peran usaha besar yang jumlahnya hanya 0,16%. Hal tersebut menggambarkan bahwa perekonomian nasional masih dikuasai oleh usaha besar. Berkenaan dengan hal di maksud sudah selayaknya pemerintah memberikan perhatian yang lebih besar dan iklim yang kondusif bagi UMKM agar dapat mengejar ketertinggalannya dan sekaligus pemerataan hasil-hasil pembangunan.

Sabtu, 31 Oktober 2009

Agama dan Radikalisasme


Judul Buku : Ideologi Kekerasan
Penulis : Agus Purnomo, M.Ag
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, Agustus 2009
Tebal : x + 77 halaman

Agama merupakan totalitas sumber kearifan, cinta, dan perdamaian di antara sesama manusia. Namun, realitas menyajikan fenomena yang justru berlawanan dengan hakikat agama. Fenomena tersebut terjadi dalam tradisi agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Argumen apologetik kemudian diberikan untuk mempertahankan kekudusan fungsi agama, yakni yang harus dipersalahkan dalam konteks perpecahan, konflik dan kekerasan agama bukanlah agama tetapi pihak-pihak yang tidak memenuhi keimanan dan religiusitas terhadap kekuatan eksternal yang berkonspirasi menebar benih kebencian dan permusuhan.

Cara agama-agama berperilaku dalam sejarah, ditentukan oleh worldview masing-masing terkait dengan problem identitasnya sebagai pemilik dan pemonopoli klaim kebenaran dan menafsirkan kebenaran pihak lain. Hal ini karena sesungguhnya semua agama bermula dari ‘momen’ khusus. Kecenderungan agama-agama memerhatikan yang khusus ini mengoptasi dan menghegemoni, sehingga mereduksi dan mengesampingkan klaim spiritualitasnya yang universal.

Guru Harapan Indonesia


Judul Buku : The Art of Teaching
Penulis : Jay Parini
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, Oktober 2009
Tebal : vii + 190 halaman

Reformasi pendidikan di Indonesia berjalan amat lambat salah satunya disebabkan karena guru. Banyak guru tidak suka perubahan. Inginnya kurikulum dan cara mengajarnya tetap seperti yang sudah-sudah. Banyak penataran guru dilakukan, tetapi banyak yang telah kembali tetap menjalankan tugas seperti sebelum berangkat penataran. Itu sebabnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dicanangkan pemerintah tidak berjalan mulus. Di banyak daerah, guru-guru masih bingung dan tidak menjalankan KTSP, meski sudah mengikuti banyak penataran.

Dengan kemajuan zaman dan tantangan zaman yang pesat sekarang ini, guru idealnya tetap terus belajar, kreatif mengembangkan diri, terus menyesuaikan pengetahuan dan cara mengajar mereka dengan penemuan baru dalam dunia pendidikan, psikologi, dan ilmu pengetahuan.

Rabu, 28 Oktober 2009

Kembali Bisnis Buku Sekolah


Persoalan buku pelajaran bagi murid SD-SLTA di Indonesia selalu muncul setiap dimulainya tahun ajaran baru. Ketika masih memakai sistem caturwulan, buku pelajaran menjadi masalah setiap caturwulan. Akar masalahnya tidak lain karena setiapcatur wulan/semester buku pegangan murid harus ganti. Setelah itu buku pelajaran harus diganti karena tidak bisa digunakan lagi oleh adik kelas pada tahun yang akan datang. Dengan kata lain, penggunaan buku-buku pelajaran kita amat tidak efisien, efektif, dan membodohkan.

Bisnis buku semacam itu sudah berlangsung selama hampir tiga dekade terakhir, tetapi hingga kini tidak ada penyelesaian yang jelas. Para birokrat pendidikan justru melemparkan tanggung jawab dengan alasan bahwa sekarang sudah otonomi daerah sehingga daerah/sekolah bebas menentukan jenis buku pegangan sendiri, tanpa campur tangan menteri atau Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Rabu, 21 Oktober 2009

Harapan dan Problem PAUD

Data dari Depdiknas pada akhir tahun 2008 jumlah anak yang terlayani PAUD formal dan non formal sebanyak 30 juta anak atau 50 persen. Kerja keras Direktorat PAUD Depdiknas memang sudah terlihat, karena pada tahun 2004 saja, dari 28,2 juta anak usia 0-6 tahun baru 28,3 % yang terlayani oleh PAUD formal maupun non formal. Namun usaha keras tetap harus dilakukan karena masih ada 50 persen lagi anak belum terlayani PAUD.

PAUD adalah investasi yang sangat besar bagi keluarga dan juga bangsa. Anak-anak adalah generasi penerus keluarga dan sekaligus penerus bangsa. Betapa bahagianya orang tua yang melihat anak-anaknya berhasil, baik dalam pendidikan, berkeluarga, bermasyarakat, maupun berkarya. Sebaliknya, orang tua akan sedih jika melihat anak-anaknya gagal dalam pendidikan dan kehidupannya. Betapa hancur perasaan orang tua ketika mendengar anaknya ditangkap polisi dan masuk penjara karena melakukan kejahatan. Disini PAUD menjadi sangat penting bagi setiap keluarga demi menciptakan generasi penerus keluarga yang baik dan berhasil.

Selasa, 13 Oktober 2009

Kepemimpinan yang Efektif


Kepemimpinan seperti yang sering kita dengar adalah kepemimpinan dalam kerangka referensi kekuasaan yang mengabdi dan melayani rakyat banyak. Perbaikan perikehidupan sehari-hari bagi rakyat banyak, bagi warga dan masyarakat yang miskin dan tertinggal secara nyata agar dilaksanakan. Sekaligus disertai sikap, langkah, dan isyarat kepemimpinan yang peduli.

Kenyataan dan kesan dewasa ini, perbaikan perikehidupan secara konkret tersendat, sementara warga dan masyarakat yang menderita serta tertimpa percobaan seperti dibiarkan sepi sendiri. Kita tandus kepedulian dan kebersamaan.

Pemerintah dan pemerintahan, goverment and governance. Pemerintah yang baik dilaksanakan lewat pemerintahan yang baik. Pemerintahan alias governance mengacu kepada proses dan pelaksanaan. Kebersamaan merupakan salah satu isi, semangat, dan realisasi dari pemerintahan yang baik. Untuk Indonesia yang bermasyarakat majemuk serta suatu negara kepulauan yang amat luas, panjang, serta bervariasi, kebersamaan merupakan kunci keberhasilan. Kebersamaan dalam makna equity, persamaan kesempatan dan tingkat perikehidupan yang tidak menganga apalagi semakin menganga kesenjangan.

Senin, 05 Oktober 2009

Demokrasi Deliberatif untuk Indonesia


Judul Buku : Demokarsi Deliberatif
Penulis : F. Budi Hardiman
Penerbit : Kanisius
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 246 halaman

Berakhirnya rezim Orde Baru, 21 Mei 1998, Indonesia segera memasuki fase yang disebut dengan “liberalisasi politik awal”. Inilah fase yang ditandai oleh serba ketidakpastian dan karenanya dinamai secara teoritis oleh O’Donnell dan Schimitter kurang lebih sebagai fase “transisi dari otoritarianisme entah menuju ke mana”.

Liberalisasi politik awal pasca-Orde Baru ditandai antara lain oleh redefinisi hak-hak politik rakyat. Daftar hak yang mana sebelumnya begitu pendek, dalam fase ini telah memanjang secara dramatis. Setiap kalangan menuntut kembali hak-hak politiknya yang selama bertahun-tahun diberangus oleh rezim otoriter. Sebaliknya, hampir tak ada kalangan yang peduli kepada kewajiban-kewajiban politik mereka.

Penguatan Pendidikan Islam


Menarik mencermati tulisan Abuddin Nata tentang Tantangan Pendidikan Islam, dia menilai bahwa pendidikan Islam zaman sekarang selain menghadapi pertarungan ideologi-ideologi besar dunia juga menghadapi berbagai kecenderungan tak ubahnya seperti badai besar (turbulance) atau tsunami (Republika, 24 Maret 2009). Memang, persoalan pendidikan Islam selalu menarik diperbincangkan secara akademik dalam upaya mencari formulasi alternatif bagi sistem pendidikan yang dalam batasan tertentu dianggap kurang akomodatif terhadap kebutuhan pendidikan Islam.

Konsep pendidikan barat, yang selama ini ditawarkan dan telah berurat berakar dipraktekkan di hampir seluruh dunia muslim, nampaknya belum secara massif berhasil “mencerahkan”. Demikian juga dengan usaha memperkenalkan sistem pendidikan Islam pada tataran pragmatis masih menyiratkan beberapa kerancuan. Institusi sekolah Islam misalnya, sampai saat ini dapat ditemukan nuansa yang kental dengan dualisme atau dikotomisme pendidikan. Sehingga pada konteks pelaksanaan pengajaran, lembaga sekolah Islam terkesan hanya berpretensi untuk mengajarkan aspek disiplin keilmuan agama (religious sciences), dengan memberi porsi yang sangat minim terhadap penelaahan ilmu-ilmu umum (secular sciences).

Jumat, 02 Oktober 2009

Moral dan Janin Berwajah


Judul Buku : Perspektif Etika Baru; 55 Esai tentang Masalah Aktual
Penulis : K. Bertens
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Cetak : Pertama, 2009
Tebal : ix + 251 halaman

Mengapa peraturan-peraturan moral mengikat kita? Pertanyaan ini sering diajukan dalam filsafat moral atau etika filosofis. Tentu saja, kita semua setuju bahwa membunuh, mencuri, menipu, dan sebagainya tidak boleh dilakukan. Kebanyakan orang menerima kenyataan itu sebagai biasa saja dan tidak merasa perlu untuk mempersoalkannya. Tetapi dalam filsafat kita ingin mencari lebih dalam dan kita coba menggali sampai ke fundamen rasional bagi banyak hal yang oleh masyarakat umum dianggap biasa saja. Begitu pula di sini filsafat moral berusaha menemukan alasan terakhir yang dapat memuaskan pikiran kita. Karena itu, pertanyaan tadi tetap menghantui banyak ahli filsafat.

Salah satu jawaban yang menarik diberikan oleh K. Bertens, penulis buku Perspektif Etika Baru; 55 Esai tentang Masalah Aktual ini. Bertents berpendapat bahwa dasar terdalam bagi peraturan-peraturan moral harus dicari dalam hubungan antar manusia, dalam hubungan aku dengan orang lain. Orang lain tampak begitu sebagai wajah. Wajah itu menyapa aku dan aku tidak boleh tinggal tak acuh saja. Ia mengimbau aku untuk mengakuinya. Imbauannya mengandung suatu kewajiban etis, yaitu “jangan membunuh”. Secara konsekuen, bagi Bertens itulah peraturan moral yang paling penting.

Jumat, 25 September 2009

Politik Damai Menuju Perbaikan Nasional


Sejarah politik di negeri kita memang penuh konflik dan kering etika. Kebencian, balas dendam, dan penghimpunan kekuatan dengan segala cara untuk mengawasi lawan menjadi bagian dari budaya elite politik dan masyarakat. Jarang ditemukan perwujudan nilai-nilai politik yang santun seperti toleransi, pemberian maaf, serta penghargaan terhadap hukum dan keadilan. Keretakan yang sudah terlanjur seakan sulit diperbaiki. Dalam konteks ini, Forum Rembuk Nasional dan wahana-wahana sejenis menuju islah nasional harus terus dikembangkan.

Prasangka sosial (social prejudices) adalah faktor yang sangat berpengaruh terhadap masih munculnya konflik baik konflik antar-elite maupun horizontal. Masing-masing berusaha mempertahankan identitas seraya tidak mengakui dan bahkan berusaha menghilangkan identitas orang lain. Mereka enggan berinisiatif melakukan komunikasi politik, dan selalu berada dalam tempurung kelompoknya, seraya menjegal dan memberanguskan tempurung-tempurung kelompok lainnya. Identitas kelompok ibarat pisau bermata dua: mempertahankan eksistensi diri sambil berusaha menghilangkan eksistensi kelompok lain.

Rabu, 16 September 2009

Catatan Lengkap Kasus Munir


Judul Buku : Kasus Pembunuhan Munir; Kejahatan yang sempurna
Penulis : Wendratama
Penerbit : Gramedia
Cetakan : Agustus, 2009
Tebal : viii + 263 halaman

Munir, seorang mantan koordinator Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) pantas dijuluki sebagai pahlawan orang hilang. Dia seorang pejuang HAM sejati yang gigih dan berani. Keberaniannya jauh melampaui sosok pisiknya yang kerempeng. Namun, sayang, Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial kelahiran Malang 8 Desember 1965 ini, wafat dalam usia relatif muda, 39 tahun, dalam penerbangan menuju Amsterdam, 7 September 2004.

Pejuang hak asasi manusia (HAM) itu, pergi untuk selama-lamanya. Bangsa ini kehilangan seorang tokoh muda yang dikenal gigih membela kebenaran sejak Pak Harto masih berkuasa. Saat menjabat Koordinator Kontras namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. Ketika itu dia membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Setelah Pak Harto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus (waktu itu) Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota tim Mawar.

Jumat, 11 September 2009

Yesus Pun Ke Hollywood


Judul Buku : Jesus di Hollywood
Penulis : Imam Karyadi Aryanto
Penerbit : Kanisius
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 287 halaman
Harga : Rp 60.000

Yesus sang messiah dalam iman Kristiani rupanya telah lama memukau para pembuat film. Tercatat, hanya 2 tahun berselang setelah pertama kali film dipertontonkan di hadapan publik di Paris pada 1985, Henry C. Vincent memfilmkan kisah Yesus dalam The Passion Play of Oberamergau. Semenjak itulah serangkaian iktiar memfilmkan kisah Yesus, baik sebagai narasi utama maupun sisipan, terus bergulir. Menurut survei yang dilakukan Mike Hertenstein dan dilansir dalam situs flickering@cornerstone festifal tak kurang 26 film berkisah tentang Yesus dalam kurun waktu 107 tahun.

Tentu saja, kita bisa menggeledah motivasi di balik iktiar memfilmkan Yesus. Mulai dari keinginan merengkuh jumlah penonton yang besar hingga niatan menebarkan iman Kristen ke penjuru dunia. Begitu pula, kita menyaksikan beragam respon terhadap film yang mengangkat kisah Yesus; pujian, kecaman, kritikan, gugatan, larangan, dan imbauan. Harap dicatat, film tentang Yesus mampu meraup keuntungan yang menggiurkan. Misalnya, film The Passion of The Christ (2004) besutan Mel Gibson mampu membakau pendapatan 300 juta dollar hanya pada bulan pertama sejak peluncurannya di Amerika saja.

Sabtu, 05 September 2009

Rendahnya Kualitas Mahasiswa Kita


Dulu itu beda dengan sekarang. Itulah mungkin yang bisa digambarkan tentang masalah kualitas mahasiswa saat ini dengan masa dulu. Sepuluh tahun sebelumnya, masiswa banyak memiliki andil dalam masyarakat, mahasiswa mampu memperjuangkan hak-hak rakyat kecil. Saat ini, mahasiswa seperti menjauh dari kehidupan masyarakat, tiap kali mereka melakukan demonstrasi terhadap pemerintahan kita, malah hanya untuk kepentingan kelompoknya saja. Artinya, mahasiswa saat ini semakin menjauh dari suara-suara rakyat kecil. Kemudian muncul pertanyaan kepada para mahasiswa saat ini apakah karena kualitas mahasiswa sekarang itu rendah atau karena mereka memang sudah alergi dengan masyarakat?

Tentu untuk menjawab pertanyaan itu kita butuh mengadakan riset lebih mendalam, yang bisa menyakinkan kita apakah memang masalah kualitas ataukah ada motif lain. Dulu pergerakan mahasiswa banyak dihandalkan masyarakat sebagai penyambung aspirasi kepada para pemimpin di atas. Tapi sekarang para mahasiswa membawa aspirasi sendiri diperjuangkan dengan begitu getirnya, demi tujuan terselubung setelahnya. Latar belakang mahasiswa saat ini melakukan demo dimana-mana, serasa tidak memuaskan masyarakat. Malah, seringkali demo yang gelar mahasiswa dilakukan dengan cara-cara anarkis dengan mengesampingkan ketertiban sosial.


Sabtu, 29 Agustus 2009

Krisis Guru Profesional


Membincang persoalan profesionalisme guru di negeri ini, menarik untuk kita angkat kembali, ditengah semakin tingginya kebutuhan akan guru yang profesional dalam era yang serba pesat perkembangan ilmu pengatahuan. Guru sebagai harapan utama dalam kesuksesan proses pendidikan di sekolah dalam mendidik peserta didik sangatlah menempati posisi penting. Sehingga ketika tuntutan akan profesionalisme guru semakin gencar, ini menjadi wajar, untuk mendapat perhatian yang serius baik bagi para pemegang kebijakan disekolah ataupun dalam pemerintahan.

Di sini, ketika guru dijadikan sebagai tonggak utama atas semua proses pembelajaran di sekolah adalah sebagai hal yang sangat prinsipil untuk kita perhatikan karena dialah yang menjadi harapan akan keefektifan proses pembelajaran. Maka dari itu, guru dituntut untuk selalu memperbaharui pengetahuan yang dia miliki, karena pengetahuan yang dimiliki di masa lalu tentu tidaklah semuanya relevan dengan zaman sekarang. Perubahan zaman telah merubahan berbagai kemajuan di berbagai sekor, baik perkembangan dalam bidang informasi, telekomunikasi, dan transportasi yang membuat wajah dunia semakin tampak berbeda dengan waktu yang singkat.

Rabu, 19 Agustus 2009

Sekolah yang Gagal


Pernahkah kita bertanya, untuk apa orang-orang membuang waktu, uang, dan tenaga hanya untuk menempuh persekolahan? Tentu, banyak orang yang akan menjawab pertanyaan ini dengan alasan bahwa hanya dengan sekolahlah kita bisa mengangkat derajat kita dari kebodohan dan ketertinggalan. Tapi pertanyaan yang muncul kemudian, betulkah demikian? Jika kita lihat seiring perjalanan waktu, bahkan sudah sejak dari dulu masih banyak orang bertindak semena-mena, saling membunuh, saling caci maki, saling benci, bahkan sampai saat sekarang pun sifat seperti itu masih saja terjadi atau bahkan malah semakin menguat saja.

Selanjutnya, kita juga patut mempertanyakan, betulkan sekolah telah sukses mendidik peserta didik agar lebih baik dalam bertingkah? Pertanyaan inilah yang seharusnya kita dengungkan untuk mengevaluasi apa-apa yang telah kita canangkan. Jika memang sekolah belum sukses membawa anak didik sesuai dengan yang diinginkan, apa saja faktor yang menjadi penyebab atas ketidak suksesan semua ini? Mari kita lihat beberapa persoalan di bawah ini;
Pertama; meningkatnya pengangguran, dewasa ini fenomena pengangguran semakin membengkak saja, para peserta didik baik yang sudah lulus dari jenjang sekolah menengah atas, bahkan sampai perguruan tinggi, masih saja merasa kebingungan menentukan langkah setelah kelulusannya. Mereka tidak menemukan pekerjaan. Sebenarnya ada beberapa faktor yang menyebabkan fenomena pengangguran ini, bisa saja dikarenakan belum suksesnya lembaga persekolahan memberikan skill kepada mereka untuk memiliki kemampuan agar bisa diserap oleh dunia kerja. Bisa juga dari faktor ketidak sesuaian antara keilmuan yang dimiliki dengan kebutuhan dunia kerja yang ada.

Sabtu, 15 Agustus 2009

Mempertanyakan Kualitas Pendidikan Islam


Pendidikan Islam selalu menarik untuk kita kaji bersama, dengan kompleksitas persoalan yang dimiliki menjadi tanggung jawab pelaku pendidikan Islam untuk memformulasikan pembaharuan kedepan. Hal ini bertujuan untuk kembali merumuskan alternatif atas problema yang bergulir selama beberapa tahun belakangan, setelah kemunduran keilmuan Islam sejak abad ke tujuh sampai abad kedua belas. Sebagai umat muslim, saya harus mengakui akan kemunduran itu, begitu juga dengan kemajuan sain dan teknologi, umat muslim tertinggal jauh dari Barat. Mereka sudah terlalu jauh melangkahinya, sehingga untuk menyeimbangi saja agar setara degnan mereka saja umat muslim harus melakukan reorientasi secara menyeluruh atas semua metode dan cara-cara yang dianggap sudah usang digunakan.

Akibat dari itu semua, banyak dari kalangan kita harus berbondong-bondong belajar ke dunia Barat. Karena bisa dibilang dengan kemajuan ilmu pengetahuan di barat, dunia barat telah menguasai ilmu pengetahuan dunia. Sehingga tidak bisa dielakkan lagi bagi umat muslim untuk mengakui akan kehebatan mereka dalam kancah percaturan global ini. Memang sangat ironis sekali jika umat Islam akan terus-menerus hanya belajar kepada mereka, sehingga kita tidak cepat mandiri. Melihat realitas ini, sebenarnya banyak alasan yang menjadi penyebab mengapa kalangan umat Islam sendiri tidak maju-maju.

Kamis, 06 Agustus 2009

Etika, Politik dan Postmodernisme


Judul Buku : Postmodernisme
Penulis : Kevin O’donnell
Penerbit : Kanisius
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 164 halaman

Para filsuf berusaha mendasarkan etika pada masyarakat atau pada jiwa rasional. Etika merepresentasikan tradisi sosial, yang membentuk dan membimbing kita, atau ditulis ke dalam bangunan alam semesta dan dapat dilihat dalam hati nurani individu sebagai sesuatu yang terberi.

Aristoteles mensugestikan bahwa etika merupakan hasil dari hidup dalam masyarakat. Orang yang baik adalah orang yang menyumbangkan keterampilannya dan bekerja sama. Keutamaan dikembangkan dan menjadi kebiasaan. Namun, Sokrates mengusik manusia untuk mempertanyakan nilai dan hukum negara. Hal-hal ini harus didasarkan pada rasio, bukan pada permainan kekuasaan dan prasikap, supaya adil dan benar, dan karena itu layak disepakati.

Kamis, 30 Juli 2009

Biaya Sekolah Diserahkan Pasar


Judul Buku : Sekolah Bukan Pasar
Penulis : St. Kartono
Penerbit : Kompas
Cetakan : Pertama, Juni 2009
Tebal : 221 halaman

Ada jarak sangat jauh bagi kita untuk mencapai kondisi di mana ada kesempatan yang sama bagi setiap orang untuk menikmati setiap jenjang pendidikan dalam sistem pendidikan” Joseph A Soares (Penulis Buku The Power of Privilege, Yale and America’s Elite College)

Pendidikan tinggi bermutu membutuhkan pembiayaan mahal. Tidak heran pada tahun 2009, untuk masuk perguruan tinggi sekaliber UGM, setiap semester mahasiswa harus membayar Rp 1,58 sampai 1,85 juta, ITB Rp 2,7 sampai Rp 3,7 juta, dan Unpad 2,5 juta. Biaya ini berlaku bagi mereka yang lolos Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN), berbeda dengan mereka yang melalui jalur Seleksi Masuk jalur khusus dengan harus membayar sumbangan puluhan hingga ratusan juta, tergantung jurusan yang diambil. Seperti Seleksi Masuk Universitas Padjadjaran (SMUP) pada Fakultas Kedokteran dengan sumbangan minimal Rp 175 juta, sementara Fakultas Peternakan, Sastra dan MIPA memasang harga minimal Rp 10 juta sampai Rp 15 juta. Fakultas lain, seperti Hukum dan Ekonomi minimal sumbangan sekitar Rp 30 juta.

Kamis, 16 Juli 2009

Muslim Mendahului Columbus


Judul Buku : Columbus menemukan Jejak Islam
Penulis : Wisnu Arya Wardhana
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Juli 2009
Tebal : xxvii + 276

Hampir tidak ada orang yang pernah mengenyam pendidikan yang tidak mengenal nama Columbus. Nama tersebut dipatrikan para guru secara berulang-ulang barangkali sejak taman kanak-kanak. Christopher Columbus menginjakkan kakinya di benua Amerika pada 21 Oktober 1492. Benua yang kemudian dinamainya Dunia Baru atau The New World. Seakan benua Amerika adalah wilayah yang betul-betul perawan bahkan dikesankan kosong, walaupun sebenarnya telah dihuni oleh penduduk asli Indian dalam waktu yang sangat lama.

Ketika Columbus bersama anggota ekspedisinya mendarat di Amerika, dunia Timur Tengah dan Eropa sudah maju. Bahkan, saat itu wilayah Islam telah mencakup Timur Tengah, Persia, Eropa Tengah, Afrika Utara dan Afrika Timur. Hanya saja pada periode tersebut merupakan periode mulai menurunnya pengaruh Islam yang sebelumnya pernah menjadi pusat dunia. Eropa Barat bagian selatan yaitu Spayol dan Portugis menjadi pelabuhan utama ekspedisi ke berbagai belahan dunia terutama ke Asia dan Amerika.

Sabtu, 27 Juni 2009

Menggairahkan Kembali Kaum Santri


Judul Buku : Politik Santri; Cara Menang Merebut Hati Rakyat
Penulis : Abdul Munir Mulkhan
Penerbit : Impulse dan Kanisius
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 304 halaman

Dalam perkembangannya yang terakhir, kehidupan sosial-politik pemeluk Islam Indonesia cenderung berbeda dengan gejala sebelum reformasi 1998. Berbagai gagasan baru Islam muncul terutama dari kalangan generasi muda santri yang tidak seluruhnya bisa dirujukkan pada konsep-konsep klasik Islam yang salama ini menjadi referensi utama gerakan sosial dan politik Islam.

Anak-anak muda santri itu kini tidak hanya terlibat aktif di dalam partai berbasis Islam, tapi juga dalam partai berbasis budaya sekuler dan nasionalis. Bersamaan itu muncul pula berbagai organisasi sosial Islam baru seperti menandingi Muhammadiyah, NU, dan berbagai organisasi Islam yang sudah ada sejak sebelum kemerdekaan seperti Persis, Al-Washiyah, dan Tarbiyah, atau lainnya. Sebagian di antara aktor muda gerakan Islam tersebut juga aktif dalam berbagai gerakan lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Minggu, 14 Juni 2009

Teori Pembaharu Habermas


Judul Buku : Kritik Idiologi
Penulis : F. Budi Hardiman
Penerbit : Kanisius
Cetakan : 2009
Tebal : 236 halaman

Jurgen Habermas tidak diragukan lagi merupakan filsuf Jerman terpenting dewasa ini. Tulisan-tulisannya sejak lebih dari 20 tahun dibicarakan di fakultas-fakultas filsafat Eropa kontinental. Sejak tahun 1970-an semakin daripadanya banyak diterjemahkan juga ke dalam bahasa Inggris dan bahasa lain.

Mempelajari Habermas bukan pekerjaan mudah. Gagasan-gagasannya biasanya tidak diutarakannya secara langsung, melainkan selagi membahas pikiran orang lain. Dengan leluasa ia berdialog dengan Thomas Aquinas dan Kant, dengan Fichte, Hegel, Marx dan Comte, dengan Freud dan Dilthey, dengan Pierce, Kohlberg dan banyak tokoh lain.

Selasa, 02 Juni 2009

Pendidikan Berbasis Masyarakat


Judul Buku : Sekolah Masyarakat
Penulis : Wahyudin Sumpeno
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, Mei 2009
Tebal : xv + 329 halaman

Kemiskinan di dunia ketiga merupakan masalah sosial terbesar di zaman ini. Sejak lebih dari tiga puluh tahun negara-negara makmur telah memberikan bantuan ratusan miliar dolar kepada negara berkembang dan miskin untuk meningkatkan laju pertumbuhan dan kesejahteraan. Namun, perubahan itu tidak seperti yang dibayangkan, angka pengangguran dan anak putus sekolah semakin tinggi, dan ketergantungan dunia ketiga pada bantuan internasional semakin besar.

Hasil pembangunan di semua negara berkembang hanya 10 hingga 20 persen penduduk saja yang menikmati hasilnya, sisanya terjebak dalam kemiskinan. Pertanyaan selanjutnya, apakah strategi dan titik berat pembangunan yang dicanangkan lebih dari tiga dasawarsa di atas bendera bantuan internasional benar-benar mencerminkan kebutuhan dan persoalan sebenarnya? Apakah masyarakat terpinggirkan telah memeroleh haknya untuk melakukan perubahan atas dirinya?

Selasa, 19 Mei 2009

Mencetak Guru Inspiratif


Judul Buku : Menjadi Guru Inspiratif
Penulis : Ngainun Naim
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, April 2009
Tebal : xvi +289 halaman

Menjadi guru inspiratif ternyata tidak mudah. Hanya sebagian kecil saja dari guru-guru yang ada dapat menjadi guru inspiratif. Hal ini disebabkan karena karakter inspiratif tidak bersifat permanen. Suatu saat, seorang guru, dapat menjadikan dirinya bagitu inspiratif di mata para siswanya. Di saat yang lain, karakter semacam itu memudar. Sebagaimana karakter manusia yang senantiasa berubah, demikian juga dengan spirit inspiratif. Ada saat dimana spirit inspiratif melemah, atau bahkan menghilang. Juga ada saat di mana spirit tersebut naik dan menjadi landasan yang kukuh dalam mendidik.

Bagaimana menyulut spirit inspiratif? Jawaban atas pertanyaan ini memang tidak mudah. Setiap guru dapat memiliki cara dan mekanisme tersendiri untuk melakukannya. Pengalaman masing-masing guru bisa jadi berlainan. Ada yang berusaha melakukan evaluasi diri, ada yang membaca buku-buku motivasi, membaca biografi tokoh-tokoh sukses, melakukan relaksasi, dan beraneka teknik lainnya. Memang tidak ada teori baku dan universal yang menjelaskan terhadap persoalan ini.

Jumat, 15 Mei 2009

Profesi Pekerjaan Sosial


Judul Buku : Pekerjaan Sosial dan Kesejahteraan Sosial: Sebuah Pengantar
Penulis : Miftachul Huda
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, Mei 2009
Tebal : xxii + 332 halaman

Masih banyak disadvantage groups (kelompok masyarakat kurang beruntung) di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang menuntut keterlibatan profesi pekerja sosial dalam menanganinya. Disadvantage group ini atau biasa juga disebut Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial/PPKS adalah mereka yang mengalami hambatan dalam menjalankan fungsi sosialnya sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Misalnya, orang miskin, anak-anak terlantar, anak jalanan, anak/wanita yang mangalami kekerasan dalam rumah tangga, lanjut usia terlantar, orang dengan HIV/AIDS (ODHA), pekerja sektor informal dan lain sebagainya.

Senin, 04 Mei 2009

Suara Rakyat Suara Tuhan


Judul Buku : Suara Tuhan, Suara Pemerdekaan
Penulis : Dr. Moeslim Abdurrahman
Penerbit : Impulse dan Kanisius
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 296 halaman

Apa manfaat kita berdemokrasi? Pertanyaan ini muncul karena demokrasi pada dasarnya adalah sebuah prosedur politik yang bisa dipakai untuk memperjuangkan ide, gagasa, dan cita-cita politik apa saja. Oleh karena itu, di balik semua jalan politik demokrasi, tidak serta-merta terkandung maksud, misalnya untuk memperjuangkan pemerataan basis kekuasaan. Dengan demikian, setiap pengambilan keputusan melibatkan representasi yang luas, tidak hanya dikuasai oleh kalangan atas atau kelompok-kelompok tertentu.

Dalam perkembangannya, demokrasi yangn disimbolkan sebagai electoral system malah dalam kenyataannya sering menimbulkan berbagai keadaan yang tidak membawa perubahan ke arah yang positif. Bahkan sering kali melahirkan kekacauan, keributan, dan menjadi ajang untuk merebut kekuasaan. Rakyat yang menjadi subjek demokrasi tidak pernah menikmati hasil ‘pesta’ demokrasi.

Minggu, 12 April 2009

Menggagas Pendidikan Moral


Judul Buku : The Art of Learning
Penulis : Josh Waitzkin
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, April 2009
Tebal : xxiii + 374 halaman

Sudah berabad-abad yang lalu para filosof menyatakan bahwa seorang anak pada dasarnya adalah sebuah kertas putih yang bersih dan apakah kelak di kemudian hari ia akan menjadi manusia berguna atau ngelantur sangat tergantung dari pendidikan yang akan diperolehnya, baik itu pendidikan yang bersifat formal maupun non formal. Setiap orang tua pun akan senantiasa berharap bahwa anak-anak mereka suatu saat nanti dapat menjadi orang kesatria yang punya moralita dan etika.

Josh Waitzkin, penulis buku The Art of Learning ini, juga berkeyakinan bahwa penanaman awal nilai-nilai kedisiplinan, moralita dan etika yang dilakukan pada masa balita akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan persepsi hati nurani (superego) seseorang tatkala ia mulai beranjak dewasa. Superego tersebut tentunya akan pula berpengaruh menentukan arah keseluruhan perilaku individu, termasuk bagaimana kecenderungannya nanti saat ia mulai memakai hal-hal baik atau buruk yang berkaitan dengan dimensi pengetahuan, maupun perjalanan akhlak kehidupan beragama dirinya berikut pemahaman moralita dan etika yang mungkin telah diperolehnya semasa di bangku kuliah atau pun di lapangan pertarungan yang riil.

Rabu, 01 April 2009

Pertaruhan Multikultural Jogja


Judul Buku : Kekuasaan sebagai Wakaf Politik; Manajemen Yogyakarta kota multikultur
Penulis : Herry Zudianto
Penerbit : Impulse dan Kanisius, Yogyakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : vii + 167 halaman

Kota Yogyakarta yang berdiri sejak tahun 1756, telah mengalami perjumpaan dengan agama-agama besar di dunia, seperti Hinduisme dan Budhisme, Islam dan Kristen. Juga dengan budaya-budaya besar dari luar, seperti Eropa, Cina, Arab, dan India, kemudian disusul budaya-budaya dari berbagai wilayah nusantara.

Dalam kurun waktu dua setengah abad itu Kota Yogyakarta bertumbuh pelan-pelan menjadi sebuah kota dengan basis budaya Jawa dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang terbuka dan inklusif bagi kultur yang lain, dan oleh karena itu kemudian menjadi pusat kekaguman dunia sebagai kota budaya.

Problem Pemekaran Daerah


Judul Buku : Pemekaran Daerah; Politik Lokal & Beberapa Isu Terseleksi
Penulis : Tri Ratnawi
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, Februari 2009
Tebal : xiii + 284 halaman

Buku ini merupakan tinjauan umum pemekaran daerah di Indonesia di era reformasi (1999-sekarang), problematika yang dihadapi serta alternatif pemecahan masalahnya. Dalam pandangan Tri Ratnawi, pemekaran daerah di Indonesia secara besar-besaran sehingga berubah menjadi semacam ‘bisnis’ atau ‘industri’ pemekaran saat ini, tidak sepenuhnya didasari oleh pandangan-pandangan normatif-teoritis seperti yang tersurat dalam peraturan pemekaran wilayah atau dalam teori-teori desentralisasi yang dikemukakan oleh banyak pakar untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, mengembangkan demokrasi lokal, memaksimalkan akses publik ke pemerintahan, mendekatkan pemerintah dengan rakyatnya, menyediakan pelayanan publik sebaik dan seefesien mungkin.

Sebaliknya, tujuan-tujuan politik-pragmatis seperti untuk merespons separatisme agama dan etnis, membangun citra rezim sebagai rezim yang demokratis, memperkuat legitimasi rezim yang berkuasa, dan karena self-interest dari para aktor daerah dan pusat, merupakan faktor-faktor yang lebih dominan, politisasi dan pragmatisme dalam pemekaran wilayah seperti itulah yang akhirnya menimbulkan banyaknya masalah atau komplikasi di daerah-daerah pemekaran, daerah induk dan juga di pusat.

Jumat, 27 Maret 2009

Teologi Pembebasan Islam Mengenai HIV & AIDS


Judul Buku : AIDS dalam Islam; Krisis Moral atau Krisis Kemanusiaan?
Penulis : Ahmad Shams Madyan
Penerbit : Mizan
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 179 halaman

Buku AIDS dalam Islam: Krisis Moral atau Krisis Kemanusiaan? ini layak mendapat sambutan hangat. Sang penulis, seorang intelektual muda Muslim, secara kritis dan dengan bahasa yang mengalir lancar serta mudah dipahami berani menampilkan masalah yang selama ini banyak orang memilih tidak membicarakannya, sehingga seperti fenomena gunung es. Meskipun HIV dan AIDS sudah di depan mata dan bisa menulari mereka yang tak berdosa seperti kisah Vivi dan Mahmudah dalam buku ini, masih banyak terjadi penyangkalan atau sikap menghukum. Kita bisa mendengar komentar seperti ”Ah, itu kan mereka, bukan saya,” atau “Mereka pantas mendapat hukuman seperti itu.”

Memang rasa sakit itu bersifat personal, kita tidak merasakannya, dan hanya dirasakan oleh yang bersangkutan saja. Tetapi ketika sakit itu menimpa orang yang kita cinta seperti anak, istri, suami atau keluarga lainnya, barulah kita sadar bahwa sebetulnya sakit, termasuk HIV dan AIDS adalah sebuah isu publik. Saat kita membawa orang yang kita cinta berobat ke rumah sakit. Puskesmas, atau praktik dokter swasta, kita berhadapan dengan sebuah sistem yang mengatur segalanya. Misalnya, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk obat, dokter, perawat, dan sebagainya. Semua sudah diatur dan kita tinggal menurut saja. Bagi yang berduit, mungkin tidak ada masalah. Mereka bahkan bisa memilih kelas dan kualitas pelayanan. Tapi, bagaimana jika kita tidak mampu?

Rabu, 18 Maret 2009

Kiat Memilih Wakil Rakyat 2009


Pada tanggal 9 April 2009, kita akan melangsungkan pemilu tahap pertama, memilih Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah secara serentak untuk memilih 560 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), 132 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota) se-Indonesia periode 2009-2014. Demi masa depan bangsa yang adil dan sejahtera, dan dalam rangka mengembangkan estetika politik di republik ini, bagaimanakah kita memilih caleg secara cedas-demokratis sehingga mereka dapat mempertanggungjawabkan tugas kepada rakyat, dan bukan menjadikan rakyat sebagai tumbal bagi diri mereka sendiri? Kita itu mesti mencermati setiap kali kita harus memilih wakil rakyat, sampai kapan pun.

Harus diakui, ketika kita menyelenggarakan proses pemilu secara langsung, cara dalam proses pemilu saat ini belum terlalu banyak tersosialisasikan kepada rakyat! Proses itu menuntut perhatian lebih dan pemahaman yang cerdas terhadap mekanisme yang harus dijalankan dengan baik oleh masyarakat yang sudah memilih hak pilih. Maka, dibutuhkan kiat yang tepat agar bangsa ini tidak semakin bangkrut akibat para wakil rakyat yang sesat, yang ujung-ujungnya menipu rakyat!

Selasa, 10 Maret 2009

Pendidikan dan Dekadensi Moral Bangsa


“A primary function of school is the passing on of the knowledge and behaviours necessary to maintain order in society. Since children learn to be social beings and develop appropriate social values though contact with others, schools are an important training ground.” (Ballantine 1983)

Bangsa kita saat ini menghadapi persoalan yang amat pelik dilihat dari ukuran moralitas. Bangsa ini mengalami berbagai kesulitan yang diakibatkan semakin memudarnya dan atau bahkan semakin rusaknya moralitas sebagian penyelenggara negara. Karena mereka memiliki akses pada mengambilan keputusan penting, perilaku mereka sangat berpengaruh pada kesejahteraan atau kesengsaraan jutaan penduduk lain yang tidak tahu menahu asal muasal datangnya berbagai kesulitan hidup yang dihadapi.

Terhadap kenyataan ini, pendidikan perlu direkonstruksi kembali agar bisa menjadi terapi bagi terjadinya dekadensi moral yang terjadi saat ini. Hal ini bukan tidak mungkin dilakukan karena pendidikan pada hakekatnya dapat difungsikan sebagai instrument untuk melakukan koreksi dan rekonstruksi terhadap kesalahan-kesalahan praktik kehidupan yang ada di dalam masyarakat jika kita memandangnya dari posisi filosofi pendidikan reconstructionism (Beane, 1986).

Selasa, 03 Maret 2009

Estetika Panggung Politik Indonesia

Menyambut Pemilu 2009, kita bertanya akankah pemilu kali ini menyajikan estetika politik Indonesia sehingga bangsa ini bangkit dari keterpurukannya? Itu berarti keindahan demokrasi-politik harus diukir dalam kebenaran dan kesejahteraan. Sebab, keindahan, kebenaran, dan kesejahteraan sesungguhnya merupakan tritunggal manifestasi politik sejati.


Membaca peta politik Indonesia, kita bisa menegaskan betapa estetika, kebenaran, dan kesejahteraan masih jauh dari harapan. Politik yang semestinya merupakan seni pengabdian untuk mengusahakan kesejahteraan umum dicabik-cabik menjadi serpihan kebusukan oleh nafsu serakah, haus kekuasaan, dan sikap yang tidak adil! Akibatnya, citra politik sebagai estetika pengabdian untuk menyejahterakan seluruh bangsa tetap tinggal sebagai utopia. Dalam utopia tersebut, pantaslah kita menggagas makna estetika politik Indonesia yang tidak menjadikan rakyat sebagai tumbal politik.

Minggu, 01 Maret 2009

Mengkaji Islam dalam Keberagaman


Judul Buku : Mengindonesiakan Islam; Representasi dan Ideologi
Penulis : Dr. Mujiburrahman
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, Desember 2008
Tebal : xxiii + 438 halaman

Kenyataan bahwa Indonesia adalah bangsa yang sangat beragam merupakan fakta yang tidak bisa dipungkiri oleh siapa pun. Keragaman Indonesia tidak saja tercermin dari banyaknya pulau yang dipersatukan dibawah kekuasaan satu negara, melainkan juga keragaman warna kulit, bahasa, etnis, agama dan budaya. Tapi kemudian yang menjadi persoalan bukanlah kenyataan bahwa bangsa ini adalah amat beragam, melainkan cara kita memandang dan mengelola keragaman tersebut.

Para pendiri bangsa ini jelas sangat menyadari akan masalah keragaman ini. Pertanyaan mereka saat mendirikan negara ini adalah atas dasar apakah kiranya segala yang beraneka ragam itu dapat dipersatukan? Sejarah mencatat bahwa ada dua jawaban yang berbeda terhadap masalah ini. Satu kelompok mengatakan bahwa kita bisa bersatu atas dasar “kebangsaan” dan satu kelompok lagi mengatakan bahwa kita bersatu atas dasar “agama”, yakni agama Islam yang dianut oleh mayoritas bangsa ini.

Sabtu, 28 Februari 2009

Bahaya Neoliberalisme Pendidikan


Paham neoliberal telah merasuki para pemikir pendidikan di dunia. Dikatakan John Williamson, bahwa pendidikan menjadi sebagai komoditi dan tunduk kepada hukum pasar. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membutuhkan biaya besar maka orang berlomba-lomba membuat sekolah-sekolah yang mahal dengan bayaran tinggi. Lahirlah sekolah-sekolah elite yang hanya menampung anak-anak dari keluarga kaya. Pendidikan menjadi tidak demokratis dan hanya merupakan milik lapisan masyarakat yang berada.
Sekolah-sekolah mementingkan apa yang berguna berdasarkan paham pragmatisme, artinya menyediakan pelajaran-pelajaran yang berguna untuk kehidupan yang sekarang. Dengan demikian sekolah bukanlah mengasah kemampuan intelektual untuk hidup secara cerdas tetapi yang dapat memberikan keuntungan yang lebih banyak bagi yang menguasainya. Academic excellence bukan merupakan tujuan dalam pendidikan. Yang terpenting ialah menghasilkan keterampilan ataupun penguasaan-penguasaan ilmu-ilmu praktis yang segera dapat memberikan manfaat pada yang memilikinya.

Sekolah-sekolah kejuruan dilihat sebagai tempat untuk menguasai ilmu pengetahuan terapan dan bukan, misalnya untuk mengasah akal budi dan menikmati seni. Pada tingkat pendidikan tinggi muncullah perspektif-perspektif baru yaitu komersialisasi pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi bukan lagi dilihat sebagai lembaga yang memberikan kenikmatan dalam penguasaan ilmu pengetahuan tetapi dikembangkan untuk memperoleh lisensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja dengan bayaran yang tinggi.

Senin, 23 Februari 2009

Sejarah Cina


Judul Buku : History of China
Penulis : Ivan Taniputera
Penerbit : Ar-Ruzz Media
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal : 693 halaman

Buku ini menyajikan secara gamblang dan sistematis sejarah Cina dari zaman ribuan tahun sebelum masehi hingga era mutakhir. Berbagai dinasti yang memang sudah terkenal dalam sejarah China dikisahkan begitu menarik dan mencerahkan. Buku yang bisa menjadi sebuah media acuan, pemahaman, pembelajaran, dan juga pengayaan intelektual kita sebagai manusia yang hidup di zaman ini. Dilihat dari perjalanannya yang panjang, sejarah China telah memberikan sebuah penampakan yang sangat mengagumkan dan memesona di bidang budaya, politik, ilmu pengetahuan, filsafat, pengobatan, kehidupan ekonomi, dan perjalanannya deribasi agama yang begitu dinamis.

Sejarah telah membuktikan bahwa Cina adalah sebuah negara-bangsa yang berhasil melalui berbagai episode kehidupan, dengan akhir kisah yang tragis maupun bahagia. Dari sebuah bangsa besar yang dipimpin oleh berbagai dinasti, Cina harus melewati dulu “masa penghinaan” oleh kekuatan Eropa sejak pertengahan abad ke-19 sebelum pada akhirnya “dibebaskan” oleh kekuatan komunis di bawah pimpinan Mao Zedong pada tahun 1949.

Sabtu, 21 Februari 2009

Garebeg; Sumber Kearifan Keraton


Garebeg atau gerbeg dalam bahasa Jawa memiliki makna ‘suara angin menderu’. Sedangkan kata hanggarebeg mengandung makna ‘mengiring raja, pembesar, atau pengantin’ (Soelarto, 1980:27). Sedangkan kata ‘garebeg’ di Kraton Yogyakarta mempunyai makna khusus yaitu upacara kerajaan yang diselenggarakan untuk keselamatan Negara (wiujengan negari), yaitu berupa keluarnya gunung dari keraton untuk diperebutkan oleh para pengunjung sebagai kucah dalem (sedekah raja) untuk rakyatnya. Upacara Garebeg yang dilaksanakan oleh Keraton Yogyakarta terdiri dari tiga macam, yaitu Garebeg Mulud untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad s.a.w, Garebeg Syawal untuk merayakan hari raya Idul Fitri, dan Garebeg Besar untuk merayakan hari raya Idul Adha. Jadi setiap tahun Kraton Yogyakarta menyelenggarakan upacara garebeg sebanyak tiga kali.

Garebeg Mulud diselenggarakan pada setiap tanggal 12 bulan Mulud untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. Garebeg Syawal diselenggarakan setiap tanggal 1 bulan Syawal untuk merayakan hari kemenangan umat Islam setelah selama sebulan penuh menjadi ibadah puasa di Bulan Ramadlan. Garebeg Syawal sering juga disebut Garebeg Pasa atau Garebeg Bakda yang maksudnya upacara Garebeg yang diselenggarakan sehabis puasa pada bulan suci Ramadhan. Sedangkan Garebeg Besar diselenggarakan setiap tanggal 10 bulan Dzulhijah untuk memperingati hari raya Haji atau hari raya Idul Adha. Disebut Garebeg Besar karena hari raya ‘Idul Adha’ juga disebut al-ied al kabir yang mempunyai makna ‘perayaan besar’, maka bulan Dzulhijah untuk Idul Adha disebut ‘Garebeg Besar’.

Jumat, 20 Februari 2009

Catatan Kelam di Vatikan


Judul Buku : Skandal Seks di Vatikan Abad 21; Sex, Crime, dan The Vatican
Penyunting : Abu Salma Ibnu Yahya
Penerbit : Beranda, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal : xii + 316 halaman

“Saya tidak akan pernah membiarkan anak-anak saya bersama dengan pastor tanpa pengawasan.” Begitulah gambaran pernyataan dari beberapa orang yang sudah menyaksikan film dokumenter Panorama BBC berjudul Sex Crimes and The Vatican, yang transkip lengkapnya ada di buku Skandal Seks di Vatikan Abad 21 ini. Pertama kalinya ditayangkan oleh TV BBC pada tanggal 1 Oktober 2006, wawancara ekslusif tentang kejahatan seksual para pastor ini segera menyentak publik, khususnya umat Katolik di Barat. Sejak saat itu, film berdurasi 39 menit ini menduduki rating tertinggi permintaan download gratis di pelbagai website.

Mengapa orang dari pelbagai belahan dunia begitu ingin tahu film ini? Isu panas apakah yang diangkat? Sebagaimana judulnya, Sex Crimes and The Victican mengungkap kasus kekerasan seksual oleh para pastor yang sudah dapat dikatagorikan sebagai sebuah tindakan kejahatan seks (sexual crime). Salah satu “bintang utama” film ini adalah Bapa Oliver O’Grady yang terbukti melakukan serangkaian kejahatan seksual dalam rentang waktu antara 1970-an hingga 1980-an di California. Dia di penjara selama 7 tahun, dan sekarang sudah dibebaskan dan hidup sebagai orang biasa di negeri asalnya, Irlandia.

Jumat, 13 Februari 2009

Menelisik Komparatif Prinsip Syariah


Judul Buku : Penerapan Prinsip Syariah; Dalam Lembaga Keuangan Lembaga Pembiayaan Dan Perusahaan Pembiayaan
Penulis : Prof. Dr. Abdul Ghofur Anshori, S.H.,M.H.
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, Desember 2008
Tebal : XIV + 464 halaman

Adanya lembaga keuangan pada hakikatnya adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan dana sebagai sarana untuk melakukan kegiatan ekonomi, seperti mengkonsumsi suatu barang, tambahan modal kerja, mendapatkan manfaat atau nilai guna suatu barang, atau bahkan untuk permodalan awal bagi seseorang yang mempunyai usaha prospektif namun padanya tidak memiliki permodalan berupa keuangan yang memadai.

Dalam kategori lembaga keuangan bank secara yuridis dan empiris berdasarkan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas undang-undang nomor 7 Tahun 1992 dikenal dua macam bank, yaitu Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. Sementara dari prinsip pengelolanya dikenal adanya bank konvensional dan bank berdasarkan prinsip syariah, baik pada Bank Umum maupun Bank Perkreditan Rakyat.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...