Kamis, 24 April 2008

Melihat Pemikiran 50 Sejarawan Dunia


Judul Buku : 50 Tokoh Penting Dalam Sejarah
Judul Asli : Fifty Key Thinkers on History
Penulis : Marnie Hughes-Warrington
Penerjemah : Abdillah Halim
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Maret 2008
Tebal : xxxix + 695 halaman

Sejak berakhirnya perang dingin antara dua kekuatan raksasa dunia (Amerika Serikat dan Uni Soviet) dan munculnya Eropa Barat sebagai satu-satunya kekuatan dominan, telah menjadikan sejarah dunia sebagai gerak tunggal linear yang tak terbendung. Dan selanjutnya sejarah menjadi monolog Eropa Barat yang menimbulkan apatisme dan keputusasaan di belahan dunia yang lain. Seiring dengan itu, perbincangan tentang sejarah (terutama yang terjadi pada ranah akademik) kian redup dan sejarah praktis menjadi tema pinggiran. Namun tidak buat ahli sejarah perempuan Marnie Hunghes-Warrington, ditengah kelangkaan dan keadaan semacam ini, dia muncul sebagai sosok yang tetap memiliki kesadaran sejarah (historical consciusness) dan tradisi penulisan sejarah.

Salah satu buku yang ditulis Marnie adalah Fifty Key Thinkers on History yang kemudian diterjemah kedalam bahasa Indonesia; 50 Tokoh Penting Dalam Sejarah. Dalam buku ini Marnie mencoba memberi pengenalan yang lumayan komprehensif tentang riwayat hidup dan pemikiran para pemikir penting sejarah dari beragam aliran, dari era kuno sampai kontemporer, dan dari berbagai belahan dunia. Buku ini sangat berguna bagi pembaca yang ingin mengenal dasar-dasar pemikiran para pemikir utama sejarah, diantara lima puluh tokoh para pemikir terkemuka sejarah yang dihadirkan oleh penulis antara lain Eric Hobsbawm, Thomas Samuel Kuhn, Francis Fukuyama, Arnold J. Toynbee, Heidegger, Ibnu Khaldun, dan Hegel.

Berbeda halnya dengan yang terjadi seperti filsafat, psikologi, dan politik. Dalam disiplin sejarah, buku yang memberi pengenalan cukup menyeluruh terhadap para pemikir pentingnya tergolong buku yang jarang ditulis, apalagi oleh para penulis seperti di Indonesia. Banyaknya jumlah pemikir sejarah dan beragamnya pemikiran mereka barangkali menjadi alasan mengapa tidak banyak penulis memiliki gairah dan energi ekstra untuk membuat buku semacam ini. Belum lagi fakta bahwa beberapa pemikir memiliki spektrum pemikir yang luas dan mencakup banyak hal sehingga tidak mudah untuk meringkas pemikiran mereka.

Dalam buku ini Marnie memilih lima puluh tokoh yang ia anggap sebagai pemikir penting dalam disiplin sejarah dan mengupasnya secara memadai berdasarkan urutan abjad awal nama mereka. Dalam tiap entri Marnie mendasarkan uraiannya pada referensi-referensi yang cukup luas dan sangat otoritatif dan diakhir entri dicantumkan daftar karya lengkap si pemikir dan beberapa referensi lanjutan yang mungkin sangat diperlukan buat pembaca yang ingin mendapatkan wawasan atau melakukan kajian yang lebih mendalam.

Pemikiran penting sejarah sebagai sebuah kategori memang memiliki kelemahan tersendiri. Selain sifatnya yang selalu terus bisa ditawar dan ditolah, ia tetap merupakan kategori yang tidak mungkin akan selalu pas dan cocok ketika dipakai untuk mengkarakterisasi dan mengerangkai pemikiran beberapa tokoh yang memiliki pemikiran yang sifatnya plural, tidak definitif, dan terus berkembang. Namun tentu, dalam ranah ilmiah-akademik, dan juga ranah-ranah lain yang lebih luas cakupannya, kategori akan terus diperlukan demi mempermudah identifikasi, pendefinisian, pengelompokan, dan juga menjelaskan.

Mengidentifikasi lima puluh ‘pemikir penting sejarah’ bukanlah perkara gampang. Mungkin, jika ada beberapa sejarawan yang juga diberi kesempatan untuk mengidentifikasi, tentu saja akan didapati pandangan yang bervariasi tentang siapa yang harus dimasukkan kedalam daftar lima puluh pemikir penting sejarah. Paling tidak ada dua alasan menurut Marnie dari hasil pemilihan lima puluh ‘tokoh penting sejarah’ yang dihadirkan. Pertama, “lima puluh tokoh penting dalam sejarah jelas bukan daftar ‘lima puluh unggulan’ pemikir besar sepanjang masa berdasarkan popularitas. Banyak pemikir yang saya pilih yang tentu saja layak untuk dimasukkan ke dalam daftar semacam itu (misalnya, Gibbon, Ranke, Thucydides), namun banyak yang lain yang barangkali lebih merupakan ketergesaan bila mereka dimaksudkan kedalamnya. Daftar yang dibuat sama sekali bukan daftar ‘lima puluh unggulan’ namun lebih berdasar pada tantangan”.

Kedua, “jika pun pembaca senang dengan setiap tokoh yang saya pilih, pada akhirnya saya akan dikecam, sebab persetujuan universal selalu berarti berakhirnya diskursus. Saya juga tidak ingin meyakinkan bahwa pembaca seharusnya setuju dengan dan mengikuti setiap pemikir yang saya cantumkan. Pilihan saya terhadap para pemikir mustahil akan mampu mengarahkan siapa pun. Dalam pandangan saya, salah satu ciri ‘pemikir penting’ adalah seseorang yang mendorong polemik dan memicu perdebatan pendapat” (hal. xxii).

Tapi, ada beberapa hal yang patut disayangkan dalam penerbitan edisi Indonesia dari karya Marnie ini. Di dalam buku ini penulis tidak menjelaskan secara spesifik tentang metode yang di pakai untuk membahas pemikiran-pemikiran lima puluh filsuf sejarah yang ia pilih kecuali bahwa tokoh-tokoh itu dipilih atas dasar pengaruh pemikirannya dalam perdebatan pemikiran historis di masanya atau masa sesudahnya. Tidaklah mengherankan jika kesulitan akan ditemui, terutama bagi para pemula, dalam memahami secara utuh wujud kesinambungan atau dialektika pemikiran para filsuf itu, karena penulis tidak mendasarkan pemaparannya berdasarkan subjek tertentu dalam perdebatan pemikiran sejarah.

Tulisan ini dimuat di Jurnalnet.com, 24 April 2008

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...