Jumat, 28 Maret 2008

Antara Muhammad Dan Karl Marx


Judul Buku : Muhammad SAW dan Karl Marx; Tentang Masyarakat Tanpa Kelas
Penulis : Munir Che Anam
Pengantar : KH. Abdurrahman Wahid
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Maret 2008
Tebal : xx + 289 halaman

Muhammad saw dan Karl Heinrich Marx adalah dua sosok pemikir yang telah mengguncangkan peradaban uamt manusia. Keduanya mampu memengaruhi pola pikir dan tindakan ”bermiliar-miliar” orang. Sampai hari ini, setidaknya pengaruh itu masih tertanam kuat dalam pikiran, tindakan bahkan hati umat manusia di seantero pelosok dunia (Michael H. Hart)

Muhammad saw adalah seorang Nabi bagi seluruh umat Islam, ia mampu melahirkan suatu masyarakat yang telah menciptakan revolusi terbesar dalam catatan sejarah umat manusia, yaitu suatu revolusi yang mencakup seluruh kegiatan manusia. Sosok Nabi Muhammad sering disebut sebagai “generalis ekstrem”, karena ajaran-ajaran dan perilakunya melintasi semua disiplin ilmu pengetahuan, pemimpin agama, kepala negara, ekonom, ilmuwan, pemimpin perang dan lain-lain. Beliau adalah ”pencatat” kitab suci al-quran kumpulan wahyu yang diyakini berasal langsung dari Allah swt melalui malaikat jibril yang sampai hari ini tetap utuh dan dijadikan pegangan oleh seluruh penganut Muhammad saw di seluruh pelosok dunia.

Kamis, 20 Maret 2008

Menilik Kearifan Epos Ramayana


Judul Buku : Ramayana
Penulis : Wawan Susetya
Penerbit : Narasi, Yogyakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : xii + 228 halaman

Berawal dari kisah Ramayana, karya Walmiki seorang pujangga kenamaan India yang kemudian mendarah-daging di Indonesia, khususnya bagi masyarakat Jawa. Sebagaimana pula kisah dalam Mahabharata karya spektakuler Wiyasa, pujangga besar India. Kedua epos ‘Ramayana’ dan ‘Mahabharata’ tersebut, sebagaimana dijelaskna Marwanto S.Kar dan R.Budhi Moehanto-dalam bukunya ‘Apresiasi Wayang’-memiliki kelebihan karena isinya bersifat universal menyangkut hidup dan kehidupan di dunia. Tak berlebihan kiranya, jika dalam pandangan Agama Hindu, wiracarita ‘Ramayana’ dan ‘Mahabharata’ merupakan pedoman hidup (pepakem) yang berhubungan dengan berbagai masalah kehidupan, seperti agama, filsafat, politik, kemasyarakatan, kepribadian, keluarga, keperwiraan, keutamaan, dan seterusnya.

Kepopuleran kisah dalam ‘Ramayana’ maupun ‘Mahabharata’ di Jawa-khusunya-memang sangat beralasan dan wajar. Pertama, masyarakat Jawa saat itu mayoritas memang beragama Hindu dan Budha, sehingga mendukung memasyarakatnya kisah atau cerita yang berasal dari India tersebut. Kedua, kiat memasukkan nilai-nilai keagamaan ke dalam kisah atau cerita ‘Ramayana’ dan ‘Mahabharata’ terlihat memang sangat efektif dan efisien.

Selasa, 18 Maret 2008

Menyingkap Sejarah Romusa di Indonesia


Judul Buku : Romusa; Sejarah yang Terlupakan
Penulis : Hendri F. Isnaeni dan Apid
Penerbit : Ombak, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal : xi + 157 halaman

Setiap bangsa di muka bumi ini mempunyai sejarahnya masing-masing. Walaupun tidak semua bangsa memiliki catatan tertulis. Melupakan sejarah sama dengan seorang yang menderita ”hilang ingatan”. Mengingat sejarah berarti mengingat siapa kita kemarin dan hari-hari sebelumnya. Sejak manusia ada di muka bumi ini, sejarah sekelompok orang, entah itu kelompok keluarga, kelompok agama atau bangsa, adalah bagian dari identitas kelompok tersebut. Sejarah merupakan petunjuk tentang apa dan siapa manusia itu sebenarnya.

Menyinggung bangsa Indonesia, kita pasti tidak akan pernah menginginkan peristiwa yang terjadi di masa lampau yang dialami oleh rakyat Indonesia terulang kembali di masa sekarang. Sebab walau bagaimanapun sejarah masa lalu kita sangat pedih dan terhina.

Bangsa indonesia merupakan satu dari sekian bangsa yang pernah merasakan pahitnya penderitaan dalam sejarah masa lalunya sebagai bangsa yang dijajah bangsa lain. Cukup lama bangsa Indonesia dijajah, oleh kolonialis Belanda selama tiga abad lebih, kemudian dilanjutkan bangsa Jepang selama 3,5 tahun yang dirasakan lebih kejam dari Belanda.

Bangsa Jepang yang menggantikan kolonialisme Belanda pada tahun 1942 hingga tahun 1945, meninggalkan bekas luka yang menyakitkan pada hati rakyat Indonesia. Mereka bahkan semakin menambah penderitaan yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia setelah sekian lama di perlakukan semena-mena oleh kolonialis sebelumnya.

Sebelum menggantikan kolonialis Belanda di Indonesia, Jepang terlebih dahulu menaklukkan pasukan sekutu (Belanda, Inggris, Australia) khususnya tentara KNIL (Koninklijk Netherlands Indische Leger) yang berkuasa di Indonesia waktu itu. Pemerintah yang berkuasa di Indonesia (Hindia Belanda) menyerahkan kekuasaannya tanpa syarat ke tangan Jepang pada tanggal 8 Mater 1942. Peristiwa tersebut terjadi di rumah sejarah yang terletak di sekitar kawasan pangkalan Angkatan Udara (AU) Kalijati, Subang, Jawa Barat. Dengan penyerahan itu, berakhirlah masa penjajahan Belanda di Indonesia yang sama sekali tidak dipersiapkan untuk menentukan nasibnya sendiri, oleh Belanda dilempar begitu saja kepada kekejaman penguasa Jepang. Dengan demikian secara moril pihak Belanda telah kehilangan haknya di Indonesia.

Pendudukan kemaharajaan Jepang di Indonesia berlangsung tidak begitu lama. Namun, dampaknya sangat besar dalam berbagai aspek kehidupan rakyat Indonesia baik dari aspek politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, pendidikan, birokrasi dan mobilitas sosial serta militer. Dampak tersebut begitu terasa dan menyanyat hati seluruh rakyat dan semuanya itu tidak akan pernah terlupakan dalam catatan sejarah masyarakat Indonesia.

Kehadiran buku ini, Romusa; Sejarah yang Terlupakan mengurai secara khusus dan terperinci tentang pendudukan Jepang di daerah wilayah Banten, tepatnya di Bayah Banten Selatan. Di wilayah ini Jepang dengan kekuasaannya mengeksplotasi sumber daya alam dan sumber daya manusia secara besar-besaran. Pengerahan tenaga kerja secara besar-besaran untuk bekerja paksa (romusa), dalam rangka membangun sarana dan prasarana untuk kepentingan Jepang berlangsung dari tahun 1942 sampai 1945.

Keberadaan romusa sangatlah pemprihatinkan, karena jaminan makanan, pakaian, kesehatan bahkan jaminan untuk hidup sekalipun tidak ada. Maka tidak mengherankan jika banyak tenaga romusa yang meninggal akibat kekurangan makan dan diserang oleh berbagai wabah penyakit.

Tapi, sampai sekarang sejarah romusa yang terjadi dipertambangan batu bara Bayah Banten Selatan seolah dilupakan atau mungkin sengaja dilupakan, mungkinkah ini disebabkan karena dianggap sebagai sejarah hina dan tidak pantas dijadikan sebagai catatan sejarah bangsa. Atau mungkin saja ada unsur politik dari oknum tertentu sehingga romusa ini keberadaannya ditutup-tutupi. Kalau hal itu benar maka kita telah melakukan suatu kesalahan dengan cara melupakan sebuah sejarah. Padahal, seperti yang telah dikemukakan di atas, melupakan sejarah berarti sama dengan menderita ”hilang ingatan”. Kenapa sejarah romusa terkesan dilupakan?

Sejarah romusa telah lama berlalu. Cerita dari mulut ke mulut mulai memudar, seiring gugurnya satu persatu romusa yang ketika hidupnya bersemangat menceritakan perngalamannya kepada siapapun yang ingin pengetahuannya. Bukan belas kasihan dan sumbangan yang diharapkannya. Tetapi, ceritanya di masa lalu selalu ada benang merah dengan masa kini yang dapat menunjukkan jalan terbaik di masa yang akan datang.

Kini jejak-jejak kekejaman yang menewaskan ribuan rakyat Indonesia itu mulai terhapus oleh sikap acuh tak acuh generasi penerus negeri ini. Sejarah romusa di pertambangan Bayah, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten Selatan, kini terancam hilang dari kenangan. Satu-satunya apresiasi terhadap kegetiran para romusa itu hanyalah berupa tonggak menumen bersisi empat dengan tinggi sekitar tiga meter. Bangunan yang dibangun tahun 1946 untuk mengenang ribuan romusa yang tewas pada masa pendudukan Jepang itu mulai rapuh tak terurus. Peninggalan-peninggalan romusa nyaris tak bersisa seperti lokasi stasiun, tempat parkir berbagai lokomotif kereta api yang terelakkan di kawasan pantai Pulau Manuk. Bekas stasiun itu hanya menyisakan pal-lal pondasi yang penuh rumput dan tanaman liar. Tidak jauh dari tempat itu, kuburan para romusa malah tidak ada lagi tanda-tandanya (hal.59).

Andaikata semua itu masih terawat, niscaya bisa saja dijadikan obyek wisata sejarah, melengkapi wisata pantai yang membentang di pesisir Banten Selatan. Sehingga keindahan panorama pantai ditambah bangunan-bangunan sejarah akan memancing para pendatang untuk mengenal lebih dekat dan memahami sejarah perjalanan negeri ini. Selain terkenal dengan sejarah romusa, Bayah juga tercatat dalam buku sejarah sebagai tempat persembunyian tokoh Tan Malaka. Di Banten Selatan itu, ia sempat juga mengorganisir para romusa membentuk perkumpulan.

Saat penjajahan Jepang, Bayah dikenal sebagai penghasil utama batu bara, yang digunakan untuk bahan bakar kereta api, kapal laut, dan pabrik. Penambangan batu bara, antara lain dengan pembuatan lubang-lubang tambang batu bara di Gunung Madur serta pembuatan rel kereta api Bayah-Seketi untuk mengangkut batu bara, diperkirakan memakan korban 93.000 lebih romusa dalam pembangunannya. Sebagian besar romusa itu didatangkan dari Jawa Tengah, seperti Purwokerto, Kutoarjo, Solo, Purwodadi, Semarang, Yogyakarta dan lain-lain (hal.89).

Sejarah romusa di Bayah merupakan potensi wisata sejarah yang diabaikan. Potensi itu sebenarnya akan melengkapi potensi wisata pantai selatan dan wisata ke gua-gua alam. Namun, semua potensi tersebut kurang digarap sehingga terkesan merana. Yang memprihatinkan, masyarakat Banten Selatan sendiri, khususnya masyarakat di pertambangan Bayah. Padahal sejarah ini adalah sejarah lokal yang berskala nasional bahkan internasional.

Buku ini menciptakan kesadaran bersejarah, karena sejarah romusa ini bisa memberikan suplemen sejarah lokal pada masyarakat Indonesia. Usaha yang telah dilakukan oleh Hendri F. Isnaeni dan Apid melengkapi pengetahuan kita tentang sejarah yang terjadi di Indonesia pada masa penjajahan Jepang. Juga mengajak masyarakat untuk menciptakan rasa cinta terhadap peninggalan-peninggalan sejarah sebagai bagian yang utuh dan tak terpisahkan dalam perjalanan sejarah bangsa.

Minggu, 16 Maret 2008

Teori Postkolonialisme dan Sastra


Judul Buku : Postkolonialisme Indonesia; Relevansi Sastra
Penulis : Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna SU
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Pebruari 2008
Tebal : xii + 497 halaman

Postkolonial umumnya didefinisikan sebagai teori yang lahir sesudah kebanyakan negara-negara terjajah memperoleh kemerdekaannya.

Sedangkan kajian dalam bidang kolonialisme mencakup seluruh khazanah tekstual nasional,khususnya karya sastra yang pernah mengalami kekuasaan imperial sejak awal kolonisasi hingga sekarang.Teori postkolonial sangat relevan dalam kaitannya dengan kritik lintas budaya sekaligus wacana yang ditimbulkan.

Tematema yang dikaji sangat luas dan beragam,meliputi hampir seluruh aspek kebudayaan,di antaranya politik, ideologi, agama, pendidikan, sejarah, antropologi, kesenian etnisitas, bahasa, dan sastra, sekaligus bentuk praktik di lapangan, seperti perbudakan, pendudukan, pemindahan penduduk, pemaksaan bahasa, dan berbagai bentuk invasi kultural yang lain.

Rabu, 05 Maret 2008

Kisah Pengembaraan Barrack Obama


Judul Buku : Barrack Hussein Obama; Kandidat Presiden Amerika yang Punya ”Muslim Connection”
Penulis : Anwar Holid
Penerbit : Mizania
Cetakan : Pertama, Februari 2008
Tebal : 176 halaman

Buku ini merupakan cerita tentang kehidupan Barrack Hussein Obama yang jiwa dan raganya melanglang buana. Ia lahir di Honolulu menghabiskan masa remaja sekaligus menamatkan pendidikan SLTA. Ia kemudian kuliah di Columbia University, New York City dan sempat bekerja di bursa saham di Wall Street. Tahun 1985 Obama menjadi community organizer di Chicago, lalu menamatkan pendidikan pasca sarjana di Harvard Law School, Boston tahun 1991. Setelah itu Obama terjun ke politik dan terpilih sebagai senator di Negara Bagian Illinois dan berkantor di Chicago selama delapan tahun. Tahun 2005 terpilih sebagai senator di tingkat federal mewakili Negara Bagian Illionois yang berkedudukan di Capitol Hill, Washington DC.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...