Selasa, 05 Februari 2008

Mengkonsep Pendidikan Tanpa Kekerasan


Dunia pendidikan Indonesia kembali menjadi sorotan media massa, tapi kali ini bukanlah kabar menyenangkan bagi masyarakat kita. Kekerasan terhadap anak didik di beberapa tempat oleh para guru di sekolah kembali terjadi. Perjalanan pendidikan bangsa ini rasanya sulit terlepas dari nuansa kekerasan yang melibatkan para pendidik. Seperti kebiasaan masyarakat kita, setelah beredar kabar kekerasan terhadap anak didik serentak baik para guru bersangkutan, masyarakat, pemerintahan mengecam perbuatan anarki yang menimpa anak didik mereka. Maka dibuatlah peringatan-peringan terhadap semua guru di lembaga pendidikan untuk tidak melakukan pratek yang sama.

Meski tragedi tragis ini bukanlah yang pertama terjadi di negeri kita, tapi mengapa perbuatan yang jelas-jelas tidak mendidik dan bertentangan dengan tujuan awal pendidikan masih saja terulang. Mungkinkan pendidikan yang selama ini diterapkan di sekolah belum mampu menanamkan nilai-nilai yang menjuntung tinggi martabat manusia dengan tanpa melibatkan tindak kekerasan.

Padahal, melihat esensi pendidikan Indonesia menurut UU Sisdiknas no. 20 tahun 2003 menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa. Begitu juga dalam pasal 1 ayat 1 pendidikan ditujukan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dari situ nampak jelas berlangsungnya pendidikan membawa misi akan terciptanya anak didik yang cerdas, dibarengi dengan etika dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadaban. Tentunya tujuan ini bisa dicapai apabila pendidik bisa menyampaikan dengan cara baik, tanpa memaksakan kehendakanya dengan menghalalkan segala cara agar keinginannya tercapai. Apalagi melalui tindak kekerasan, yang memang bertentangan dan bukanlah cermin sebagai sosok pendidik yang bisa mengayomi.

Variasi penindasan
Kasus penindasan di lembaga pendidikan menurut Barbara Coloroso terbagi atas tiga jenis penindasan; verbal, fisik dan relasional. Masing-masing dapat menimbulkan bencana sendiri-sendiri. Namun ketiganya kerap membentuk kombinasi untuk menciptakan sesrangan yang lebih kuat. Anak perempuan dan anak laki-laki sama-sama menggunakan penindasan verbal. Anak laki-laki cenderung menggunakan penindasan fisik-lebih kerap daripada anak perempuan. Sementara, anak perempuan menggunakan penindasan relasional lebih banyak daripada anak laki-laki. Perbedaan ini lebih berkaitan dengan sosialisasi laki-laki dan perempuan dalam budaya kita, daripada dengan keberanian fisik ukuran. Anak laki-laki cenderung untuk bermain kelompok dalam jumlah besar, dengan disatukan oleh minat bersama. Mereka menetapkan suatu tatanan tentang siapa menguasai siapa yang ditetapkan dengan jelas dan benar-benar dihargai. Ada suatu perebutan bagi posisi yang dominan.
Pertama, penindasan verbal, kekerasan verbal adala bentuk penindasan yang paling umum digunakan baik oleh anak perempuan maupun anak laki-laki. Kerena ini mudah dilakukan dan dapat dibisikkan di hadapan orang dewasa serta teman sebaya, tanpa terdeteksi.  Penindasan verbal dapat diteriakkan di taman berbain dan bercampur dengan hingar-bingar yang terdengar oleh pengawas taman bermain, diabaikan kerena hanya dianggap sebagai dialog yang bodoh dan tidak simpatik di antara rekan sebaya. Cepat dan tidak menyakitkan sang penindas, namun dapat dangat melukai sang target.

Penindasan verbal dapat berupa julukan nama, celaan, fitnah, kritik kejam, penghinaan-baik yang bersifat pribadi maupun-rasial-dan pernyataan-pernyataan bernuansa ajakan seksual atau pelecehan seksual.

Dari ketiga bentuk penindasan, penindasan verbal adalah salah satu jenis yang paling mudah dilakukan, kerap merupakan pintu masuk menuju ke kedua bentuk penindasan lainnya, serta dapat menjadi langkah pertama menuju pada kekerasan yang lebih kejam dan merendahkan martabat.
Kedua, penindasan fisik, kendati penindasan ini merupakan jenis yang paling tampak dan paling dapat diidentifikasi di atanara bentuk-bentuk penindasan lainnya, namun kejadian penindasan fisik terhitung kurang dari sepertiga insiden penindasan yang dilaporkan oleh anak-anak. Yang termasuk ini adalah memukuli, mencekik, menyikut, meninju, menendang, menggigit, memiting, mencakar, serta meludahi anak yang ditindas; menekuk anggota tubuh anak yang ditindas hingga keposisi yang menyakitkan; dan merusak, menghancurkan pakaian serta barang-barang milik anak yang tertindas. Anak yang secara teratur memainkan peran ini kerap melakukan penindasan yang paling bermasalah di antara para penindas lainnya, dan yang paling cenderung beralih pada tindakan-tindakan kriminal yang lebih serius.

Ketiga, penindasan relasional, jenis ini paling sulit dideteksi dari luar. Penindasan resional adalah pelemahan harga diri si korban penindasan secara sistematis melalui pengabaian, pengucilan, pengecualian, atau penghindaran. Penhindaran, suatu tindakan penyingkiran, adalah alat penindasan yang terkuat. Anak yang digunjingkan mungkin bahkan tidak mendengar gosip itu, namun tetap akan mengalami efeknya.

Penindasan relasional dapat digunakan untuk mengasingkan atau menolak seorang teman atau secara sengaja ditujukan untuk merusak persahabatan. Perilaku ini dapat mencakup sikap-sikap tersembunyi seperti pandangan yang agresif, lirikan mata, helaan nafas, bahu yang bergidik, cibiran, tawa mengejek, dan bahasa tubuh yang kasar.

Penindasan resional mencapai puncak kekuatannya di awal masa remaja, saat terjadi perubahan-perubahan fisik, mental, emosional, dan seksual. Ini adalah saat ketika remaja mencoba untuk mengetahui diri mereka dan menyesuaikan diri dengan rekan-rekan sebaya mereka. Seorang anak yang sengaja disingkirkan dari pertemanan mereka kerap tidak dipandang sebagai sebentuk penindasan karena tidak dapat diidentifikasi secara langsung seperti mengolok-olok atau tonjokan di wajah.

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...