Rabu, 06 Februari 2008

Mencermati Problem Lingkungan Hidup


Judul Buku : Menyapa Bumi Menyembah Hyang Ilahi
Penulis : Eddy Kristiyanto, dkk.
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : 230 halaman

Ketika bencana alam bertubi-tubi menimpa Indonesia, entah banjir yang melumpuhkan dan menghancurkan maupun kekeringan yang mematikan, entah tanah longsor dalam skala besar maupun gempa bumi yang menelan banyak korban manusia dan material, banyak orang mulai mencurigai akan adanya sesuatu yang tidak beres pada diri manusia dalam berelasi dengan lingkungannya. Lebih-lebih ketika bencana bencana-bencana alam serupa ini terjadi utamanya di negara-negara berkembang dan miskin, orang mulai mempertimbangkan kemungkinan adanya politik pembangunan pemerintah yang tidak ramah lingkungan dan yang ditunggangi oleh motif-motif ekonomi yang profit oriented.

Agaknya semua orang sepakat bahwa pencemaran dan kerusakan lingkungan (tanah, air, udara) disebabkan oleh berbagai kecerobohan manusia secara terus menerus. Sebut saja sebagai contoh pembalakan liar dan pembabatan hutan, pembuangan limbah industri dan sampah rumah tangga secara tidak bertanggung jawab, dan sebagainya. Kerusakan ekologis konflik ini ternyata juga melukai lingkungan sosial. Lihat misalnya, konflik kepentingan dalam mengatur ‘penguasaan’ dan ‘pengelolaan’ sumber daya alam (SDA) antara para pemilik modal dan para penegak hukum; konflik antara kepentingan pemilik industri dengan kesejahteraan masyarakat sekitar; konflik antara kebijakan pemerintah dengan kepentingan rakyat jelatan, dan berbagai konflik horisontal antara rakyat sendiri.

Selasa, 05 Februari 2008

Mengkonsep Pendidikan Tanpa Kekerasan


Dunia pendidikan Indonesia kembali menjadi sorotan media massa, tapi kali ini bukanlah kabar menyenangkan bagi masyarakat kita. Kekerasan terhadap anak didik di beberapa tempat oleh para guru di sekolah kembali terjadi. Perjalanan pendidikan bangsa ini rasanya sulit terlepas dari nuansa kekerasan yang melibatkan para pendidik. Seperti kebiasaan masyarakat kita, setelah beredar kabar kekerasan terhadap anak didik serentak baik para guru bersangkutan, masyarakat, pemerintahan mengecam perbuatan anarki yang menimpa anak didik mereka. Maka dibuatlah peringatan-peringan terhadap semua guru di lembaga pendidikan untuk tidak melakukan pratek yang sama.

Meski tragedi tragis ini bukanlah yang pertama terjadi di negeri kita, tapi mengapa perbuatan yang jelas-jelas tidak mendidik dan bertentangan dengan tujuan awal pendidikan masih saja terulang. Mungkinkan pendidikan yang selama ini diterapkan di sekolah belum mampu menanamkan nilai-nilai yang menjuntung tinggi martabat manusia dengan tanpa melibatkan tindak kekerasan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...