Rabu, 30 Januari 2008

Mempertegas Posisi Filsafat Islam


Judul Buku : Wacana Baru Pendidikan; Meretas Filsafat Pendidikan Islam
Penulis : Drs. Ismail Thoib, M.Pd
Penerbit : Genta Press
Cetakan : Januari, 2008
Tebal : xv + 220

Pendidikan merupakan aktivitas yang dilakukan oleh dan diperuntukkan bagi manusia. Pendidikan hanya dapat membentuk manusia yang humanis apabila hakekat kemanusiaan manusia dipahami secara komprehensif dan menyeluruh. Kesalahan dalam memberikan tafsiran atas eksistensi manusia berimplikasi pada kekeliruan dalam menghadirkan pendidikan serta membentuk menusia-manusia yang ”tidak sehat”. Pemahaman yang benar dan tepat tentang manusia dan pendidikan sangat diperlukan terutama oleh pendidik dan calon-calon pendidik dalam dunia pendidikan karena mereka dipersiapkan untuk meretas manusia-manusia baru.

Dalam perspektif sistemik untuk menilai keberhasilan suatu pelaksanaan pendidikan dalam membangun sumber daya manusia yang lebih baik, kreatif, dan normatif memerlukan kajian secara simultan dan mendalam atas pelbagai unsur yang secara sistemik mempengaruhi keberhasilan tersebut, yaitu; input, process, output, dan outcome. Perspektif sistemik mempercayai bahwa keberhasilan pendidikan yang baik perlu di-back up oleh input, process, dan output yang baik.

Sabtu, 19 Januari 2008

Pengajaran Pendidikan Karakter


Judul Buku : Pendidikan Karakter; Strategi Mendidik Anak di Zaman Modern
Penulis : Doni Koesoema A.
Penerbit : PT. Grasindo, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2007
Tebal : viii + 320 halaman

“Manusia hanya dapat menjadi sungguh-sungguh manusia melalui pendidikan dan pembentukan diri yang berkelanjutan. Manusia hanya dapat dididik oleh manusia lain yang juga dididik oleh manusia yang lain.” (IMMANUEL KANT)

Istilah karakter dipakai secara khusus dalam konteks pendidikan baru muncul pada akhir abad-18, dan untuk pertama kalinya dicetuskan oleh pedadog Jerman F.W.Foerster. Terminologi ini mengacu pada sebuah pendekatan idealis-spiritualis dalam pendidikan yang juga dikenal dengan teori pendidikan normatif. Yang menjadi prioritas adalah nilai-nilai transenden yang dipercaya sebagai motor penggerak sejarah, baik bagi individu maupun bagi sebuah perubahan sosial. Namun, sebenarnya pendidikan karakter telah lama menjadi bagian inti sejarah pendidikan itu sendiri. Misalnya, dalam cita-cita Paideia Yunani dan Humanitas Romawi. Pendekatan idealis dalam mayarakat modern memuncak dalam ide tentang kesadaran Roh Hegelian. Perkembangan ini pada gilirannya mengukuhkan dialektika sebagai sebuah bagian integral dari pendekatan pendidikan karakter.

Senin, 14 Januari 2008

Keruntuhan Semangat Berbangsa


Judul Buku : Mencintai Bangsa dan Negara
Penulis : Gunawan Sumodiningrat dan Ary Ginanjar Agustian
Penerbit : PT. Sarana Komunikasi Utama, Bogor
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal : xvii + 203 halaman

Perjalanan kehidupan berbangsa Indonesia mengalami pasang surut. Ada kalanya kesadaran sebagai bangsa begitu kuat membara, tetapi pada waktu lain begitu lemah.

Pada masa penjajahan, kesadaran sebagai bangsa tumbuh kuat terutama di kalangan kaum muda. Baik yang berada dalam negeri maupun kaum muda yang berada di luar negeri berjuang bersama demi mencapai kemerdekaan. Mereka membentuk organisasi-organisasi kemasyarakatan guna mempermudah perjuangan.

Diawali dengan gerakan budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908, kesadaran berbangsa semakin menguat. Dua puluh tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1928, kesadaran sebagai satu bangsa mewujud dalam Kongres Pemuda. Dalam kesempatan itu, para pemuda mengikrarkan akan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...