Jumat, 12 Desember 2008

Mereformasi Pembelajaran di Sekolah


Judul Buku : Brain-Based Learning; Pembelajaran Berbasis Kemampuan Otak
Penulis : Eric Jensen
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, November 2008
Tebal : xxii + 576 halaman

Pembelajaran berbasis kemampuan otak telah merevolusi sistem dan pola pembelajaran seseoranng lebih sistematis sejak kemunculannya sekitar 1980-an ketika semua cabang ilmu baru berkembang secara perlahan. Pada 1990-an, cabang ilmu ini telah berkembang pesat menjadi lusinan subdisiplin yang meluas. Berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang sepertinya tidak berhubungan mengemuka dalam jurnal-jurnal ilmiah menyajikan perihal imunologi, fisika, gen, emosi, dan farmologi mulai dikaitkan ke dalam artikel-artikel tentang teori pembelajaran dan teori tentang otak.

Paradigma baru yang dramatis ini, kemudian dikenal sebagai pembelajaran brain-compatible atau brain-base, yang merupakan pembelajaran berbasis pada kemampuan otak. Kehadirannya membawa berbagai implikasi yang menakjubkan bagi para guru dan pembelajar di belahan dunia. Dengan didasarkan pada disiplin-disiplin dalam ilmu saraf, biologi, dan psikologi. Pembelajaran ini mengantarkan pada pemahaman tentang hubungan antara pembelajaran dan otak kita kepada peran emosi, pola, pemaknaan, lingkungan, ritme tubuh, sikap, penilaian, musik, gerakan, gender dan pengayaan.

Rabu, 26 November 2008

Idealisasi Kebijakan Pendidikan Kita


Judul Buku : Kebijakan Pendidikan yang Unggul
Penulis : Dr. Riant Nugroho
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, November 2008
Tebal : vii + 259 halaman

Sebagai seorang spesialis kebijakan publik, beberapa buku yang berhasil ditulis Riant Nugroho dari tahun 2003 adalah Kebijakan Publik, Kebijakan Publik untuk Negara Berkembang, Analisis Kebijakan, Public Policy, dan Kebijakan Pendidikan yang ditulis bersama H.A.R. Tilaar.

Kini Nugroho kembali melahirkan buku yang berjudul Kebijakan Pendidikan yang Unggul, hasil pengamatan penulis terhadap keadaan pendidikan nasional kita dewasa ini yang kurang menjanjikan. Nugroho melihat adanya kebijakan pendidikan yang tidak konsisten yang dapat berakibat fatal terhadap pembinaan generasi muda dan nasib dari bangsa Indonesia.

Dunia dewasa ini berkembang dengan sangat pesat yang perlu diikuti oleh strategi pendidikan nasional yang tepat pula agar dapat terbinanya sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas sehingga dapat mempertahankan diri dari arus perubahan global. Pemahaman mengenai kebijakan pendidikan dan kebijakan publik telah merupakan suatu kebutuhan dalam masyarakat modern.

Jumat, 24 Oktober 2008

Telaah Kritis Kebijakan Pendidikan dan Kebijakan Publik


Judul Buku : Kebijakan Pendidikan; Pengantar untuk Memahami Kebijakan Pendidikan dan Kebijakan Pendidikan sebagai Kebijakan Publik
Penulis : H.A.R. Tilaar dan Riant Nugroho
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Agustus 2008
Tebal : xvii + 479 halaman (termasuk indeks)

Setiap negara mempunyai ideologinya masing-masing sebagai flatform untuk menyejahterakan rakyatnya. Dari flatform inilah dijabarkan berbagai jenis kebijakan yang akan ditempuh oleh pemerintah beserta aparatnya untuk mencapai tujuan yang telah disepakati bersama itu. Bagi negara Indonesia, kita mengenal Pancasila sebagai dasar negara atau sebagai ideologi negara kita. Dari landasan Pancasila sebagai nilai-nilai mendasar di dalam berkehidupan bernegara kita, dijabarkan visi dan misi dari kehidupan dan kehidupan bernegara.

Dewasa ini kita telah mempunyai visi 2025 sebagai visi jangka panjang dalam kehidupan bernegara. Dari visi 2025 tersebut dijabarkan berbagai kebijakan dalam semua sektor kehidupan berbangsa. Salah satu kebijakan yang lahir dari visi serta misi tersebut adalah kebijakan pendidikan dan kebijakan publik. Bagaimanakah hubungan antara kedua jenis kebijakan tersebut? Salah satu jawaban yang elementer dalam pertanyaan ini adalah pertama-tama kita harus mempunyai orang-orang (pemimpin) yang dapat merumuskan kebijakan pendidikan dan kebijakan publik yang tepat.

Rabu, 22 Oktober 2008

Optimalisasi Cara Mengajar


Judul Buku : Learning to Teach; Belajar untuk Mengajar
Penulis : Richard I. Arends
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal : xx + 371 halaman

Saat ini mengajar menawarkan karier yang cerah dan rewarding bagi mereka yang dapat menjawab tantangan intelektual dan sosial pekerjaan ini. Terlepas dari membanjirnya laporan yang bernada mengkritik sekolah dan guru selama dekade terakhir, kebanyakan orang terus mendukung sekolah dan mengekspresikan keyakinannya terhadap pendidikan. Masyarakat modern membutuhkan sekolah-sekolah yang memiliki guru-guru ahli untuk mengajar dan mengurus anak-anak selama orang tua mereka bekerja.

Di masyarakat kita, guru diberi status profesional. Sebagai pakar dan profesional, mereka diharapkan dapat menggunakan praktik terbaik untuk membantu siswa mempelajari berbagai keterampilan dan sikap yang esensial. Sekarang tidak cukup bagi guru untuk sekedar bersikap hangat dan menyayangi anak-anak, atau sekadar menerapkan praktik-praktik mengajar yang semata-mata didasarkan pada intuisi, preferensi pribadi, atau kearifan konvensional.

Neoliberalisasi Pendidikan


Judul Buku : Tirani Kapital dalam Pendidikan
Penulis : Darmaningtyas, dkk.
Penerbit : Pustaka Yashiba
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : xxix + 412 halaman

Paham neoliberal telah merasuki para pemikir pendidikan di dunia. Dikatakan John Williamson, bahwa pendidikan menjadi sebagai komoditi dan tunduk kepada hukum pasar. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membutuhkan biaya besar maka orang berlomba-lomba membuat sekolah-sekolah yang mahal dengan bayaran tinggi. Lahirlah sekolah-sekolah elite yang hanya menampung anak-anak dari keluarga kaya. Pendidikan menjadi tidak demokratis dan hanya merupakan milik lapisan masyarakat yang berada.

Di Indonesia, terbukti dengan disahkannya UU Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) secara sistematis semakin memperkecil peranan negara dalam pembiayaan pendidikan. Akibatnya, hampir semua Perguruan Tinggi Negeri tidak lagi dapat diakses oleh kaum miskin, meski mereka memiliki kemampuan akademik yang baik. Pengelolaan pendidikan pun tidak berbeda dengan korporasi yang mementingkan finansial. Dijadikannnya pendidikan sebagai komuditas yang diperdagangkan itulah salah satu agenda yang didesakkan oleh WTO (World Trade Organization). Demikian pula pengesahan UU BHP tidak lepas dari tekanan Bank Dunia melalui Proyek Pengembangan Relevansi dan Efisiensi Pendidikan Tinggi.

Kamis, 14 Agustus 2008

Bali dan Pradoks Masyarakat Lokal


Judul Buku : Bali yang Hilang; Pendatang, Islam dan Etnisitas di Bali
Penulis : Yudhis M. Burhanuddin
Penerbit : Impulse dan Kanisius
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal : 213 halaman

Bali tempo dulu dan bali masa kini adalah dualisme paradoks wajah Bali yang hendak dikemukakan dalam buku ini. Dengan merujuk sejarah kerajaan Jawa-Bali dan karya-karya etnografis tentang Bali dari antropolog asing, wajah Bali tempo dulu digambarkan penuh gairah dan pesona. Orang Bali, alam, budaya, dan agamanya dalam khazanah pariwisata lebih menjadi objek daripada subjek karena pertautan keempatnya semata-mata merupakan aset pariwisata Bali.

Antropolog Barat misalnya, menemukan Bali sebagai sebuah pulau, dimana budaya dan alam saling berpautan erat, tempat tinggal sebuah masyarakat mapan dan harmonis yang secara berkala digairahkan ritus-ritus yang memesona. Alamnya menyajikan keindahan Bali dalam warga gaib tridatu dan kilauan sunset dewata nawa sanga yang menggetarkan rasa-agama-budhi. Kebudayaan Bali yang diwarnai pernik-pernik yadnya menawarkan keramahan orang Bali khas Bhakti dalam tatanan dan tuntunan santun sarat pesona melalui jalinan tattawa-susila-acara. Keterpaduan antara kelimpahan upacara, kesenian dan pemandangan hijau menggambarkan ciri arkais kebudayaan Bali.

Minggu, 27 Juli 2008

Membincang Teori Sosial


Judul Buku : Social Theory Today: Panduan sistematis tradisi dan tren terdepan teori sosial
Penulis : Anthony Giddens, Jonathan H. Turner dkk.
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Juni 2008
Tebal : xxvi + 720 halaman (termasuk indeks)

Buku ini akan menyuguhi pembaca pandangan-pandangan yang mewakili setiap aliran teori sosial saat ini. Sebagaimana diketahui, bahwa teori sosial merupakan sebuah ilmu yang paling beragam. Bahkan di dalamnya seringkali terjadi ketidak-sepakatan sejumlah persoalan paling mendasarnya: genre keilmuan ilmu sosial yang paling tepat, pokok persoalan yang digeluti ilmu sosial, dan prosedur analitis apa yang seharusnya digunakan.

Ketidak-sepakatan terhadap jenis apakah teori-teori sosial itu, dan semestinya ia menjadi apa, tercermin dari argumen-argumen mengenai pokok masalah paling mendasar yang dipahami teori-teori tersebut. Perdebatan di sini mencakup sejumlah pertanyaan seperti: apakah ’batasan’ dunia sosial? Apakah sifat paling fundamental dari dunia sosial? Jenis analisis sifat apa yang paling memungkinkan dan/atau tepat? Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan inilah, maka kemudian konsep-konsep filosofis lama-seperti reduksionisme, realisme dan nominalisme muncul kembali.

Minggu, 20 Juli 2008

Membedah Kesalahan Lima Pemimpin Indonesia


Judul Buku : Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia
Penulis : Ishak Rafick
Pengantar : Rizal Ramli
Penerbit : Ufuk Publishing House
Cetakan : I Januari 2008
Tebal : 440 halaman

Ishak Rafick adalah seorang jurnalis yang memiliki pengalaman belasan tahun, menulis berbagai artikel tentang ekonomi politik, korporasi, menajemen dan lain-lain. Ishak yang alumnus Universitas Indonesia ini, juga mendapatkan gelar Master of Art dari Rijks Universiteit Leiden Netherland dengan tesis berjudul Het Beeld van Indonesia in the 20-steewse Koloniale Literatuur -Wajah Indonesia dalam Literatur Kolonial Abad 20. Ishak juga tergolong orang yang sering mengikuti berbagai jenis training di dalam maupun luar negeri dalam bidang jurnalistik maupun manajemen seperti Nijenrode Management Institute, Breukelen Netherland. Dengan latar belakang pengetahuan yang sangat luas itulah Ishak kemudian menelorkan buku Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia.

Buku ini merupa kan sebuah karya dan prestasi yang menonjol karena jarang jurnalis Indonesia menulis buku, terutama tentang topik yang cukup serius. Sebagai seorang jurnalis, style penulisan Ishak sangat mudah dimengerti, enak dibaca walaupun memerlukan waktu yang cukup panjang untuk dapat memahami garis merah dari buku ini. Hal itulah yang sebenarnya menjadi daya tarik tersendiri dari buku ini, karena penulis tidak menjejalkan kesimpulannya sendiri kepada pembaca.. Dia lebih memaparkan duduk perkaranya daripada menggurui. Gaya bahasanya tidak berbentuk telling, tapi showing. Dia menantang pikiran, sekaligus menggugah nurani.

Sabtu, 24 Mei 2008

Wajah Manusiawi Globalisme


Judul Buku : Runtuhnya Globalisme Dan Penemuan Kembali Dunia
Judul Asli : The Callapse of Globalism and Reinvention of the World
Penulis : John Ralston Saul
Penerjemah : Dariyantno
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, April 2008
Tebal : xvi + 516 halaman

Globalisasi telah menyusutkan ruang dan waktu. Ini tercermin dengan peningkatan interkoneksi dan interdependensi sosial, politik, ekonomi, dan kultur dalam skala global.

Namun tidak semua orang merasakan globalisasi dengan cara yang sama. Kenyataannya, orang-orang yang hidup di berbagai belahan dunia dipengaruhi oleh transformasi besar struktur sosial dan zona kultural dengan sangat beragam. Globalisasi tampaknya melahirkan peluang dan kekayaan yang sangat luar biasa bagi segelintir orang, dan menjerumuskan sebagian besar lainnya kedalam kemiskinan dan kesengsaraan yang memilukan. Kita harus ingat bahwa globalisasi merupakan proses awal yang perlahan-lahan memunculkan kondisi globalisasi baru dengan kualitas dan hasil akhir yang belum pasti. Hal yang bisa kita ketahui dari pengalaman masa lalu hanyalah bahwa semua periode transformasi sosial yang cepat mengancam kebiasaan, mendestabilisaasi batas-batas lama, serta merusak tradisi-tradisi yang telah mapan. Globalisasi bukan hanya menjadi perusak, tetapi juga menjadi pencipta berbagai gagasan, nilai, identitas, praktik dan perubahan.

Sabtu, 10 Mei 2008

Fenomena Penanganan Korupsi


Judul Buku : Skandal BLBI: Ramai-ramai Merampok Negara
Penulis : Marwan Batubara, dkk
Penerbit : Haekal Media Center
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal : xx + 371 halaman

Ketika skandal Bantual Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) kembali diangkat ke permukaan, mungkin sebagian orang akan mempertanyakan mengapa catatan hitam Indonesia harus kembali diungkit. Apa relevansinya? Apakah bermanfaat menguak kembali berkas-berkas korupsi masa lalu untuk kepentingan masa sekarang? Tidakkah lebih baik kasus tersebut dikubur dan diterima saja sebagai ongkos krisis, meskipun sangat mahal harganya, sehingga kita dapat memfokuskan diri pada agenda-agenda perbaikan ekonomi di masa depan?

Jawabannya jelas: karena selain penyelesaian sarat dengan rekayasa dan KKN, kasus BLBI juga memiliki dampak yang sangat luas pada perekonomian bangsa saat ini dan bahkan hingga beberapa waktu ke depan. Demikian besarnya kerusakan yang diakibatkan skandal BLBI, hingga beban harus ditanggung seluruh rakyat Indonesia berupa pembayaran utang dalam APBN setiap tahunnya hingga paling tidak tahun 2021. jumlah minimal utang yang harus dibayar tersebut Rp 630 triliun. Bahkan, dalam skenario terburuk (seperti misalnya jika pemerintah terus melakukan penjadwalan ulang terhadap utang-utang tersebut), beban yang harus dibayar dapat mencapai Rp. 2.000 triliun!

Jumat, 09 Mei 2008

Revitalisasi Ekonomi Islam


Judul Buku : Ekonomi Islam
Penulis : Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam UII Yogyakarta
Penerbit : PT. Raja Grafindo Persada
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal : xx + 541 halaman

Setiap paham ekonomi memiliki karakteristik tertentu yang dibedakan dengan paham lainnya. Suatu paham, termasuk ekonomi, dibangun oleh satu tujuan, prinsip, nilai, dan paradigma. Sebagai misal, paham liberalisme dibangun atas tujuan terwujudnya kebebasan setiap individu untuk mengembangkan dirinya. Kebebasan ini akan terwujud jika setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Oleh karena itu, kesamaan kesempatan merupakan prinsip yang akan dipegang yang pada akhirnya akan melahirkan paradigma persaingan bebas.

Buku ini mencoba memberikan pemahaman tentang bangunan dan mekanisme ekonomi Islam berdasarkan interpretasi terhadap nilai dan prinsip syariah Islam. Dimana ekonomi Islam sendiri dibangun untuk tujuan suci, dituntun oleh ajaran Islam dan dicapai dengan cara-cara yang dituntunkan pula 0leh ajaran Islam. Oleh karena itu, kesemua hal tersebut saling terkait dan terstruktur secara hierarkis, dalam arti bahwa spirit ekonomi Islam tercermin dari tujuannya, dan ditopang oleh pilarnya. Tujuan untuk mencapai falah (kebahagian di dunia dan di akhirat) hanya bisa diwujudkan dengan pilar ekonomi Islam, yaitu nilai-nilai dasar (islamic value), dan pilar operasional, yang tercermin dalam prinsip-prinsip ekonomi (Islamic principles). Dari sinilah akan tampak suatu bangunan ekonomi Islam dalam suatu paradigma, baik paradigma dalam berpikir dan berperilaku maupun bentuk perekonomiannya.

Kamis, 01 Mei 2008

Catatan Perjuangan Hisbullah


Judul Buku : Blueprint Hizbullah
Penulis : Naim Qassem
Penerbit : Ufuk Press
Cetakan : I, 2008
Tebal : 423 halaman

Pada zaman ketika bendera Islam dianggap sudah tidak lagi menarik di Palestina, atau sebagai sumber ajakan yang tidak memadai dalam menghadapi pendudukan Israel dan tekanan internasional, Hizbullah muncul sebagai sebuah partai yang khas karena mengadopsi bendera Islam, demikian juga karena fungsinya sebagai kekuatan perlawanan.

Pelbagai operasi perlawanan Islam mereka lakukan berhasil secara unik sehingga memperoleh pujian dari para pendukung pembebasan dan para penganut keadilan. Termasuk Israel yang dibuat kaget dan tidak mempercayai keberhasilan mereka itu. Serangan musuh berkali-kali digagalkan, dan posisi penting penjajah pun diguncang. Arti penting Hizbullah semakin meningkat dengan kemenangan aktual, yang dicapai pada tanggal 25 Mei 2000, ketika tentara Israel dipaksa menarik-diri dari Lebanon (hal.186). sebuah hasil dari pelbagai operasi yang dilakukan Hisbullah dan sebuah pencaian yang tidak pernah sebelumnya dalam kurun limapuluh tahun perjuangan mereka melawan musuh Israel.

Senin, 28 April 2008

Membumikan Islam Progresif


Judul Buku : Akar-akar Pemikiran Progresif dalam Kajian Al-Qur’an
Penulis : Dr. Phil. H. M. Nur Kholis Setiawan
Penerbit : eLSAQ Press, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, April 2008
Tebal : xv + 189 halaman

Islam progresif adalah Islam yang menawarkan sebuah kontekstualisasi penafsiran Islam yang terbuka, ramah, segar, serta responsif terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan. Hal ini tentu berbeda dengan Islam militan dan ekstrimis yang tetap berusaha menghadirkan wacana penafsiran masa lalu serta menutup diri terhadap ide-ide baru yang berasal dari luar kelompoknya. Bahkan, seringkali untuk meneguhkan keyakinannya, mereka bertindak dengan mengklaim diri sebagai pemilik otoritas kebenaran untuk bertindak secara otoriter terhadap paham dan agama lain.

Buku Akar-akar Pemikiran Progresif dalam Kajian Al-Qur’an, mencoba menawarkan sebuah metode ber-Islam yang menekankan pada terciptanya keadilan sosial, kesetaraan gender, dan pluralisme keagamaan. Maka, seorang Muslim yang progresif haruslah bersedia untuk berjuang demi menegakkan keadilan sosial di muka bumi ini. Perjuangan itu bisa berwujud pada advokasi hak-hak orang yang termarjinalisasi, orang yang tertindas, orang yang terkena polusi lingkungan, serta orang yang ”yatim” secara sosial dan politik.

Kamis, 24 April 2008

Melihat Pemikiran 50 Sejarawan Dunia


Judul Buku : 50 Tokoh Penting Dalam Sejarah
Judul Asli : Fifty Key Thinkers on History
Penulis : Marnie Hughes-Warrington
Penerjemah : Abdillah Halim
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Maret 2008
Tebal : xxxix + 695 halaman

Sejak berakhirnya perang dingin antara dua kekuatan raksasa dunia (Amerika Serikat dan Uni Soviet) dan munculnya Eropa Barat sebagai satu-satunya kekuatan dominan, telah menjadikan sejarah dunia sebagai gerak tunggal linear yang tak terbendung. Dan selanjutnya sejarah menjadi monolog Eropa Barat yang menimbulkan apatisme dan keputusasaan di belahan dunia yang lain. Seiring dengan itu, perbincangan tentang sejarah (terutama yang terjadi pada ranah akademik) kian redup dan sejarah praktis menjadi tema pinggiran. Namun tidak buat ahli sejarah perempuan Marnie Hunghes-Warrington, ditengah kelangkaan dan keadaan semacam ini, dia muncul sebagai sosok yang tetap memiliki kesadaran sejarah (historical consciusness) dan tradisi penulisan sejarah.

Salah satu buku yang ditulis Marnie adalah Fifty Key Thinkers on History yang kemudian diterjemah kedalam bahasa Indonesia; 50 Tokoh Penting Dalam Sejarah. Dalam buku ini Marnie mencoba memberi pengenalan yang lumayan komprehensif tentang riwayat hidup dan pemikiran para pemikir penting sejarah dari beragam aliran, dari era kuno sampai kontemporer, dan dari berbagai belahan dunia. Buku ini sangat berguna bagi pembaca yang ingin mengenal dasar-dasar pemikiran para pemikir utama sejarah, diantara lima puluh tokoh para pemikir terkemuka sejarah yang dihadirkan oleh penulis antara lain Eric Hobsbawm, Thomas Samuel Kuhn, Francis Fukuyama, Arnold J. Toynbee, Heidegger, Ibnu Khaldun, dan Hegel.

Selasa, 08 April 2008

Hans-Georg Gadamer dan Hermeneutik


Judul Buku : Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer
Penulis : Inyiak Ridwan Muzir
Penerbit : Ar-Ruzz Media Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Maret 2008
Tebal : 279 halaman

Sosok Hans-Georg Gadamer mulai dikenal luas ketika menerbitkan buku Truth and Method tahun 1960, sebuah proyek intelektual yang telah dirintisnya sejak awal tahun 50-an. Namanya kian menjulang ketika terjadi polemik hangat antara dia dengan Habermas dan kritikus-kritikus lain di paro kedua dekade 60-an. Ketika pensiun di tahun 1968, Gadamer sudah mendapat nama Internasional.

Truth and Method menjadi menarik, karena menganalisis seni dan estetika sebagai titik tolak bagi analisis tentang pemahaman secara umum. Dalam buku ini, Gadamer mempertanyakan kenapa wilayah seni dan estetika menjadi terpinggirkan dalam Geistenswissenschaften. Kalaupun ada disiplin ilmu yang membahasnya, itu hanya dengan menempatkan seni sebagai salah satu fenomena sosiologis dan antropologis. Untuk menyelesaikan persoalan ini, Truth and Method pertama-tama membahas klarifikasi diri metodologis dalam Geistenswissenschaften.

Jumat, 04 April 2008

Mencipta Harmonisasi Lintas Agama


Judul Buku : Agama-Agama Baru di Indonesia
Penulis : M. Mukhsin Jamil, M.A.
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Maret 2008
Tebal : xxii + 214 halaman

Kehadiran era modern yang diprediksi bakal terjadi kemunduran agama dari panggung kehidupan manusia, ternyata tidak terbukti. Agama terus menjadi sesuatu yang menarik minat umat manusia. Agama-agama konvensional untuk sebagian mengalami revitalisasi dalam bentuk kebangkitan kembali, setelah sekularisme menyudutkannya di pinggiran sejarah peradaban manusia modern. “Agama-agama baru” dengan berbagai gejalanya seperti perhimpunan spiritualitas, new age, kultus, sinkretisme, dan sebagainya muncul tidak hanya di negara-negara berkembang seperti Indonesia, tetapi juga negara-negara maju seperti Amerika serikat.

Di tengah fenomina sosial keagamaan semacam itu, maka muncul kembali semangat untuk meninjau kembali tesis sekularisme tentang kemunduran agama. Pada saat yang sama juga muncul ketertarikan kembali untuk melihat agama dalam kehidupan kontemporer dengan berbagai kompleksitas problem yang menyertainya. Salah satu di antara problem itu adalah bagaimana fenomina baru kehidupan agama itu dijelaskan. Dan bagaimana klaim religius yang diyakini sebagai jalan keselamatan dan kedamain oleh para pemeluknya itu bisa diletakkan dalam kerangka membangun tata peradaban yang humanis, tanpa konflik dan pertumpahan darah.

Hakekat Pendidikan dan Filsafat Islam


Judul Buku : Wacana Baru Pendidikan; Meretas Filsafat Pendidikan Islam
Penulis : Drs. Ismail Thoib, M.Pd
Penerbit : Genta Press
Cetakan : Januari, 2008
Tebal : xv + 220 halaman

Pendidikan merupakan aktivitas yang dilakukan oleh dan diperuntukkan bagi manusia. Pendidikan hanya dapat membentuk manusia yang humanis apabila hakekat kemanusiaan manusia dipahami secara komprehensif dan menyeluruh. Kesalahan dalam memberikan tafsiran atas eksistensi manusia berimplikasi pada kekeliruan dalam menghadirkan pendidikan serta membentuk menusia-manusia yang “tidak sehat”. Pemahaman yang benar dan tepat tentang manusia dan pendidikan sangat diperlukan terutama oleh pendidik dan calon-calon pendidik dalam dunia pendidikan karena mereka dipersiapkan untuk menciptakan manusia-manusia baru.

Dalam perspektif sistemik untuk menilai keberhasilan suatu pelaksanaan pendidikan dalam membangun sumber daya manusia yang lebih baik, kreatif, dan normatif memerlukan kajian secara simultan dan mendalam atas pelbagai unsur yang secara sistemik mempengaruhi keberhasilan tersebut, yaitu; input, process, output, dan outcome. Perspektif sistemik mempercayai bahwa keberhasilan pendidikan yang baik perlu di-back up oleh input, process, dan output yang baik.

Jumat, 28 Maret 2008

Antara Muhammad Dan Karl Marx


Judul Buku : Muhammad SAW dan Karl Marx; Tentang Masyarakat Tanpa Kelas
Penulis : Munir Che Anam
Pengantar : KH. Abdurrahman Wahid
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Maret 2008
Tebal : xx + 289 halaman

Muhammad saw dan Karl Heinrich Marx adalah dua sosok pemikir yang telah mengguncangkan peradaban uamt manusia. Keduanya mampu memengaruhi pola pikir dan tindakan ”bermiliar-miliar” orang. Sampai hari ini, setidaknya pengaruh itu masih tertanam kuat dalam pikiran, tindakan bahkan hati umat manusia di seantero pelosok dunia (Michael H. Hart)

Muhammad saw adalah seorang Nabi bagi seluruh umat Islam, ia mampu melahirkan suatu masyarakat yang telah menciptakan revolusi terbesar dalam catatan sejarah umat manusia, yaitu suatu revolusi yang mencakup seluruh kegiatan manusia. Sosok Nabi Muhammad sering disebut sebagai “generalis ekstrem”, karena ajaran-ajaran dan perilakunya melintasi semua disiplin ilmu pengetahuan, pemimpin agama, kepala negara, ekonom, ilmuwan, pemimpin perang dan lain-lain. Beliau adalah ”pencatat” kitab suci al-quran kumpulan wahyu yang diyakini berasal langsung dari Allah swt melalui malaikat jibril yang sampai hari ini tetap utuh dan dijadikan pegangan oleh seluruh penganut Muhammad saw di seluruh pelosok dunia.

Kamis, 20 Maret 2008

Menilik Kearifan Epos Ramayana


Judul Buku : Ramayana
Penulis : Wawan Susetya
Penerbit : Narasi, Yogyakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : xii + 228 halaman

Berawal dari kisah Ramayana, karya Walmiki seorang pujangga kenamaan India yang kemudian mendarah-daging di Indonesia, khususnya bagi masyarakat Jawa. Sebagaimana pula kisah dalam Mahabharata karya spektakuler Wiyasa, pujangga besar India. Kedua epos ‘Ramayana’ dan ‘Mahabharata’ tersebut, sebagaimana dijelaskna Marwanto S.Kar dan R.Budhi Moehanto-dalam bukunya ‘Apresiasi Wayang’-memiliki kelebihan karena isinya bersifat universal menyangkut hidup dan kehidupan di dunia. Tak berlebihan kiranya, jika dalam pandangan Agama Hindu, wiracarita ‘Ramayana’ dan ‘Mahabharata’ merupakan pedoman hidup (pepakem) yang berhubungan dengan berbagai masalah kehidupan, seperti agama, filsafat, politik, kemasyarakatan, kepribadian, keluarga, keperwiraan, keutamaan, dan seterusnya.

Kepopuleran kisah dalam ‘Ramayana’ maupun ‘Mahabharata’ di Jawa-khusunya-memang sangat beralasan dan wajar. Pertama, masyarakat Jawa saat itu mayoritas memang beragama Hindu dan Budha, sehingga mendukung memasyarakatnya kisah atau cerita yang berasal dari India tersebut. Kedua, kiat memasukkan nilai-nilai keagamaan ke dalam kisah atau cerita ‘Ramayana’ dan ‘Mahabharata’ terlihat memang sangat efektif dan efisien.

Selasa, 18 Maret 2008

Menyingkap Sejarah Romusa di Indonesia


Judul Buku : Romusa; Sejarah yang Terlupakan
Penulis : Hendri F. Isnaeni dan Apid
Penerbit : Ombak, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal : xi + 157 halaman

Setiap bangsa di muka bumi ini mempunyai sejarahnya masing-masing. Walaupun tidak semua bangsa memiliki catatan tertulis. Melupakan sejarah sama dengan seorang yang menderita ”hilang ingatan”. Mengingat sejarah berarti mengingat siapa kita kemarin dan hari-hari sebelumnya. Sejak manusia ada di muka bumi ini, sejarah sekelompok orang, entah itu kelompok keluarga, kelompok agama atau bangsa, adalah bagian dari identitas kelompok tersebut. Sejarah merupakan petunjuk tentang apa dan siapa manusia itu sebenarnya.

Menyinggung bangsa Indonesia, kita pasti tidak akan pernah menginginkan peristiwa yang terjadi di masa lampau yang dialami oleh rakyat Indonesia terulang kembali di masa sekarang. Sebab walau bagaimanapun sejarah masa lalu kita sangat pedih dan terhina.

Bangsa indonesia merupakan satu dari sekian bangsa yang pernah merasakan pahitnya penderitaan dalam sejarah masa lalunya sebagai bangsa yang dijajah bangsa lain. Cukup lama bangsa Indonesia dijajah, oleh kolonialis Belanda selama tiga abad lebih, kemudian dilanjutkan bangsa Jepang selama 3,5 tahun yang dirasakan lebih kejam dari Belanda.

Bangsa Jepang yang menggantikan kolonialisme Belanda pada tahun 1942 hingga tahun 1945, meninggalkan bekas luka yang menyakitkan pada hati rakyat Indonesia. Mereka bahkan semakin menambah penderitaan yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia setelah sekian lama di perlakukan semena-mena oleh kolonialis sebelumnya.

Sebelum menggantikan kolonialis Belanda di Indonesia, Jepang terlebih dahulu menaklukkan pasukan sekutu (Belanda, Inggris, Australia) khususnya tentara KNIL (Koninklijk Netherlands Indische Leger) yang berkuasa di Indonesia waktu itu. Pemerintah yang berkuasa di Indonesia (Hindia Belanda) menyerahkan kekuasaannya tanpa syarat ke tangan Jepang pada tanggal 8 Mater 1942. Peristiwa tersebut terjadi di rumah sejarah yang terletak di sekitar kawasan pangkalan Angkatan Udara (AU) Kalijati, Subang, Jawa Barat. Dengan penyerahan itu, berakhirlah masa penjajahan Belanda di Indonesia yang sama sekali tidak dipersiapkan untuk menentukan nasibnya sendiri, oleh Belanda dilempar begitu saja kepada kekejaman penguasa Jepang. Dengan demikian secara moril pihak Belanda telah kehilangan haknya di Indonesia.

Pendudukan kemaharajaan Jepang di Indonesia berlangsung tidak begitu lama. Namun, dampaknya sangat besar dalam berbagai aspek kehidupan rakyat Indonesia baik dari aspek politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, pendidikan, birokrasi dan mobilitas sosial serta militer. Dampak tersebut begitu terasa dan menyanyat hati seluruh rakyat dan semuanya itu tidak akan pernah terlupakan dalam catatan sejarah masyarakat Indonesia.

Kehadiran buku ini, Romusa; Sejarah yang Terlupakan mengurai secara khusus dan terperinci tentang pendudukan Jepang di daerah wilayah Banten, tepatnya di Bayah Banten Selatan. Di wilayah ini Jepang dengan kekuasaannya mengeksplotasi sumber daya alam dan sumber daya manusia secara besar-besaran. Pengerahan tenaga kerja secara besar-besaran untuk bekerja paksa (romusa), dalam rangka membangun sarana dan prasarana untuk kepentingan Jepang berlangsung dari tahun 1942 sampai 1945.

Keberadaan romusa sangatlah pemprihatinkan, karena jaminan makanan, pakaian, kesehatan bahkan jaminan untuk hidup sekalipun tidak ada. Maka tidak mengherankan jika banyak tenaga romusa yang meninggal akibat kekurangan makan dan diserang oleh berbagai wabah penyakit.

Tapi, sampai sekarang sejarah romusa yang terjadi dipertambangan batu bara Bayah Banten Selatan seolah dilupakan atau mungkin sengaja dilupakan, mungkinkah ini disebabkan karena dianggap sebagai sejarah hina dan tidak pantas dijadikan sebagai catatan sejarah bangsa. Atau mungkin saja ada unsur politik dari oknum tertentu sehingga romusa ini keberadaannya ditutup-tutupi. Kalau hal itu benar maka kita telah melakukan suatu kesalahan dengan cara melupakan sebuah sejarah. Padahal, seperti yang telah dikemukakan di atas, melupakan sejarah berarti sama dengan menderita ”hilang ingatan”. Kenapa sejarah romusa terkesan dilupakan?

Sejarah romusa telah lama berlalu. Cerita dari mulut ke mulut mulai memudar, seiring gugurnya satu persatu romusa yang ketika hidupnya bersemangat menceritakan perngalamannya kepada siapapun yang ingin pengetahuannya. Bukan belas kasihan dan sumbangan yang diharapkannya. Tetapi, ceritanya di masa lalu selalu ada benang merah dengan masa kini yang dapat menunjukkan jalan terbaik di masa yang akan datang.

Kini jejak-jejak kekejaman yang menewaskan ribuan rakyat Indonesia itu mulai terhapus oleh sikap acuh tak acuh generasi penerus negeri ini. Sejarah romusa di pertambangan Bayah, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten Selatan, kini terancam hilang dari kenangan. Satu-satunya apresiasi terhadap kegetiran para romusa itu hanyalah berupa tonggak menumen bersisi empat dengan tinggi sekitar tiga meter. Bangunan yang dibangun tahun 1946 untuk mengenang ribuan romusa yang tewas pada masa pendudukan Jepang itu mulai rapuh tak terurus. Peninggalan-peninggalan romusa nyaris tak bersisa seperti lokasi stasiun, tempat parkir berbagai lokomotif kereta api yang terelakkan di kawasan pantai Pulau Manuk. Bekas stasiun itu hanya menyisakan pal-lal pondasi yang penuh rumput dan tanaman liar. Tidak jauh dari tempat itu, kuburan para romusa malah tidak ada lagi tanda-tandanya (hal.59).

Andaikata semua itu masih terawat, niscaya bisa saja dijadikan obyek wisata sejarah, melengkapi wisata pantai yang membentang di pesisir Banten Selatan. Sehingga keindahan panorama pantai ditambah bangunan-bangunan sejarah akan memancing para pendatang untuk mengenal lebih dekat dan memahami sejarah perjalanan negeri ini. Selain terkenal dengan sejarah romusa, Bayah juga tercatat dalam buku sejarah sebagai tempat persembunyian tokoh Tan Malaka. Di Banten Selatan itu, ia sempat juga mengorganisir para romusa membentuk perkumpulan.

Saat penjajahan Jepang, Bayah dikenal sebagai penghasil utama batu bara, yang digunakan untuk bahan bakar kereta api, kapal laut, dan pabrik. Penambangan batu bara, antara lain dengan pembuatan lubang-lubang tambang batu bara di Gunung Madur serta pembuatan rel kereta api Bayah-Seketi untuk mengangkut batu bara, diperkirakan memakan korban 93.000 lebih romusa dalam pembangunannya. Sebagian besar romusa itu didatangkan dari Jawa Tengah, seperti Purwokerto, Kutoarjo, Solo, Purwodadi, Semarang, Yogyakarta dan lain-lain (hal.89).

Sejarah romusa di Bayah merupakan potensi wisata sejarah yang diabaikan. Potensi itu sebenarnya akan melengkapi potensi wisata pantai selatan dan wisata ke gua-gua alam. Namun, semua potensi tersebut kurang digarap sehingga terkesan merana. Yang memprihatinkan, masyarakat Banten Selatan sendiri, khususnya masyarakat di pertambangan Bayah. Padahal sejarah ini adalah sejarah lokal yang berskala nasional bahkan internasional.

Buku ini menciptakan kesadaran bersejarah, karena sejarah romusa ini bisa memberikan suplemen sejarah lokal pada masyarakat Indonesia. Usaha yang telah dilakukan oleh Hendri F. Isnaeni dan Apid melengkapi pengetahuan kita tentang sejarah yang terjadi di Indonesia pada masa penjajahan Jepang. Juga mengajak masyarakat untuk menciptakan rasa cinta terhadap peninggalan-peninggalan sejarah sebagai bagian yang utuh dan tak terpisahkan dalam perjalanan sejarah bangsa.

Minggu, 16 Maret 2008

Teori Postkolonialisme dan Sastra


Judul Buku : Postkolonialisme Indonesia; Relevansi Sastra
Penulis : Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna SU
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Pebruari 2008
Tebal : xii + 497 halaman

Postkolonial umumnya didefinisikan sebagai teori yang lahir sesudah kebanyakan negara-negara terjajah memperoleh kemerdekaannya.

Sedangkan kajian dalam bidang kolonialisme mencakup seluruh khazanah tekstual nasional,khususnya karya sastra yang pernah mengalami kekuasaan imperial sejak awal kolonisasi hingga sekarang.Teori postkolonial sangat relevan dalam kaitannya dengan kritik lintas budaya sekaligus wacana yang ditimbulkan.

Tematema yang dikaji sangat luas dan beragam,meliputi hampir seluruh aspek kebudayaan,di antaranya politik, ideologi, agama, pendidikan, sejarah, antropologi, kesenian etnisitas, bahasa, dan sastra, sekaligus bentuk praktik di lapangan, seperti perbudakan, pendudukan, pemindahan penduduk, pemaksaan bahasa, dan berbagai bentuk invasi kultural yang lain.

Rabu, 05 Maret 2008

Kisah Pengembaraan Barrack Obama


Judul Buku : Barrack Hussein Obama; Kandidat Presiden Amerika yang Punya ”Muslim Connection”
Penulis : Anwar Holid
Penerbit : Mizania
Cetakan : Pertama, Februari 2008
Tebal : 176 halaman

Buku ini merupakan cerita tentang kehidupan Barrack Hussein Obama yang jiwa dan raganya melanglang buana. Ia lahir di Honolulu menghabiskan masa remaja sekaligus menamatkan pendidikan SLTA. Ia kemudian kuliah di Columbia University, New York City dan sempat bekerja di bursa saham di Wall Street. Tahun 1985 Obama menjadi community organizer di Chicago, lalu menamatkan pendidikan pasca sarjana di Harvard Law School, Boston tahun 1991. Setelah itu Obama terjun ke politik dan terpilih sebagai senator di Negara Bagian Illinois dan berkantor di Chicago selama delapan tahun. Tahun 2005 terpilih sebagai senator di tingkat federal mewakili Negara Bagian Illionois yang berkedudukan di Capitol Hill, Washington DC.

Rabu, 06 Februari 2008

Mencermati Problem Lingkungan Hidup


Judul Buku : Menyapa Bumi Menyembah Hyang Ilahi
Penulis : Eddy Kristiyanto, dkk.
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : 230 halaman

Ketika bencana alam bertubi-tubi menimpa Indonesia, entah banjir yang melumpuhkan dan menghancurkan maupun kekeringan yang mematikan, entah tanah longsor dalam skala besar maupun gempa bumi yang menelan banyak korban manusia dan material, banyak orang mulai mencurigai akan adanya sesuatu yang tidak beres pada diri manusia dalam berelasi dengan lingkungannya. Lebih-lebih ketika bencana bencana-bencana alam serupa ini terjadi utamanya di negara-negara berkembang dan miskin, orang mulai mempertimbangkan kemungkinan adanya politik pembangunan pemerintah yang tidak ramah lingkungan dan yang ditunggangi oleh motif-motif ekonomi yang profit oriented.

Agaknya semua orang sepakat bahwa pencemaran dan kerusakan lingkungan (tanah, air, udara) disebabkan oleh berbagai kecerobohan manusia secara terus menerus. Sebut saja sebagai contoh pembalakan liar dan pembabatan hutan, pembuangan limbah industri dan sampah rumah tangga secara tidak bertanggung jawab, dan sebagainya. Kerusakan ekologis konflik ini ternyata juga melukai lingkungan sosial. Lihat misalnya, konflik kepentingan dalam mengatur ‘penguasaan’ dan ‘pengelolaan’ sumber daya alam (SDA) antara para pemilik modal dan para penegak hukum; konflik antara kepentingan pemilik industri dengan kesejahteraan masyarakat sekitar; konflik antara kebijakan pemerintah dengan kepentingan rakyat jelatan, dan berbagai konflik horisontal antara rakyat sendiri.

Selasa, 05 Februari 2008

Mengkonsep Pendidikan Tanpa Kekerasan


Dunia pendidikan Indonesia kembali menjadi sorotan media massa, tapi kali ini bukanlah kabar menyenangkan bagi masyarakat kita. Kekerasan terhadap anak didik di beberapa tempat oleh para guru di sekolah kembali terjadi. Perjalanan pendidikan bangsa ini rasanya sulit terlepas dari nuansa kekerasan yang melibatkan para pendidik. Seperti kebiasaan masyarakat kita, setelah beredar kabar kekerasan terhadap anak didik serentak baik para guru bersangkutan, masyarakat, pemerintahan mengecam perbuatan anarki yang menimpa anak didik mereka. Maka dibuatlah peringatan-peringan terhadap semua guru di lembaga pendidikan untuk tidak melakukan pratek yang sama.

Meski tragedi tragis ini bukanlah yang pertama terjadi di negeri kita, tapi mengapa perbuatan yang jelas-jelas tidak mendidik dan bertentangan dengan tujuan awal pendidikan masih saja terulang. Mungkinkan pendidikan yang selama ini diterapkan di sekolah belum mampu menanamkan nilai-nilai yang menjuntung tinggi martabat manusia dengan tanpa melibatkan tindak kekerasan.

Rabu, 30 Januari 2008

Mempertegas Posisi Filsafat Islam


Judul Buku : Wacana Baru Pendidikan; Meretas Filsafat Pendidikan Islam
Penulis : Drs. Ismail Thoib, M.Pd
Penerbit : Genta Press
Cetakan : Januari, 2008
Tebal : xv + 220

Pendidikan merupakan aktivitas yang dilakukan oleh dan diperuntukkan bagi manusia. Pendidikan hanya dapat membentuk manusia yang humanis apabila hakekat kemanusiaan manusia dipahami secara komprehensif dan menyeluruh. Kesalahan dalam memberikan tafsiran atas eksistensi manusia berimplikasi pada kekeliruan dalam menghadirkan pendidikan serta membentuk menusia-manusia yang ”tidak sehat”. Pemahaman yang benar dan tepat tentang manusia dan pendidikan sangat diperlukan terutama oleh pendidik dan calon-calon pendidik dalam dunia pendidikan karena mereka dipersiapkan untuk meretas manusia-manusia baru.

Dalam perspektif sistemik untuk menilai keberhasilan suatu pelaksanaan pendidikan dalam membangun sumber daya manusia yang lebih baik, kreatif, dan normatif memerlukan kajian secara simultan dan mendalam atas pelbagai unsur yang secara sistemik mempengaruhi keberhasilan tersebut, yaitu; input, process, output, dan outcome. Perspektif sistemik mempercayai bahwa keberhasilan pendidikan yang baik perlu di-back up oleh input, process, dan output yang baik.

Sabtu, 19 Januari 2008

Pengajaran Pendidikan Karakter


Judul Buku : Pendidikan Karakter; Strategi Mendidik Anak di Zaman Modern
Penulis : Doni Koesoema A.
Penerbit : PT. Grasindo, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2007
Tebal : viii + 320 halaman

“Manusia hanya dapat menjadi sungguh-sungguh manusia melalui pendidikan dan pembentukan diri yang berkelanjutan. Manusia hanya dapat dididik oleh manusia lain yang juga dididik oleh manusia yang lain.” (IMMANUEL KANT)

Istilah karakter dipakai secara khusus dalam konteks pendidikan baru muncul pada akhir abad-18, dan untuk pertama kalinya dicetuskan oleh pedadog Jerman F.W.Foerster. Terminologi ini mengacu pada sebuah pendekatan idealis-spiritualis dalam pendidikan yang juga dikenal dengan teori pendidikan normatif. Yang menjadi prioritas adalah nilai-nilai transenden yang dipercaya sebagai motor penggerak sejarah, baik bagi individu maupun bagi sebuah perubahan sosial. Namun, sebenarnya pendidikan karakter telah lama menjadi bagian inti sejarah pendidikan itu sendiri. Misalnya, dalam cita-cita Paideia Yunani dan Humanitas Romawi. Pendekatan idealis dalam mayarakat modern memuncak dalam ide tentang kesadaran Roh Hegelian. Perkembangan ini pada gilirannya mengukuhkan dialektika sebagai sebuah bagian integral dari pendekatan pendidikan karakter.

Senin, 14 Januari 2008

Keruntuhan Semangat Berbangsa


Judul Buku : Mencintai Bangsa dan Negara
Penulis : Gunawan Sumodiningrat dan Ary Ginanjar Agustian
Penerbit : PT. Sarana Komunikasi Utama, Bogor
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal : xvii + 203 halaman

Perjalanan kehidupan berbangsa Indonesia mengalami pasang surut. Ada kalanya kesadaran sebagai bangsa begitu kuat membara, tetapi pada waktu lain begitu lemah.

Pada masa penjajahan, kesadaran sebagai bangsa tumbuh kuat terutama di kalangan kaum muda. Baik yang berada dalam negeri maupun kaum muda yang berada di luar negeri berjuang bersama demi mencapai kemerdekaan. Mereka membentuk organisasi-organisasi kemasyarakatan guna mempermudah perjuangan.

Diawali dengan gerakan budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908, kesadaran berbangsa semakin menguat. Dua puluh tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1928, kesadaran sebagai satu bangsa mewujud dalam Kongres Pemuda. Dalam kesempatan itu, para pemuda mengikrarkan akan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...