Sabtu, 29 Desember 2007

Menengok Sejarah Pers Indonesia


Judul Buku : Tanah Air Bahasa
Penulis : Taufik Rahzen, dkk.
Penerbit : I:BOEKOE
Cetakan : Pertama, Desember 2007
Tebal : xiv + 460

Sejarah mencatat bahwa Indonesia di bawah rejim orde baru pernah mengenal satu periode di mana pers bersikap sangat kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah dan berbagai bentuk penyimpangan kekuasaan. Pers berani mengkritik penyalahgunaan dan kesewenang-wenangan kekuasaan, membongkar korupsi yang merajalela di tubuh negara, mengecam ketidakadilan dan ketimpangan-ketimpangan akibat permbangunan, serta mengkritik strategi pembangunan yang kapitalistik.

Tetapi betapa tumbuh dan berkembangnya daya kritis dan kebebasan pers pada waktu itu ternyata tidak berbanding lurus dengan perubahan dan demokrasi, seperti yang diharapkan masyarakat. Kontrol sosial yang diartikulasikan pers ketika itu, tidak banyak artinya untuk mempengaruhi kebijaksanaan dan perilaku kekuasaan negara. Sebaliknya, daya kritis dan kebebasan pers tersebut justru menumbuhkan frustasi masyarakat. Sebab, daya kritis dan kebebasan pers waktu itu memungkinkan masyarakat mengetahui secara lengkap dan dalam berbagai pernyimpangan dan penyalahgunaan kekuasaan.

Kamis, 27 Desember 2007

ICMI dan Eksistensi Terhadap Bangsa


Perjalanan titik awal berdirinya ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia), tidak akan pernah lepas dari peranan penting para tokoh terkemuka, seperti; Imanuddin Abdulrahim, Dawan Raharjo, Nurcholis Madjid, Sri Bintang Pamungkas, dan para cendekiawan lainnya, yang tergabung dalam 49 cendekiawan muslim menginginkan atas berdirinya ICMI, dengan mempercayai Dr.Ing.B.J. Habibie sebagai pimpinan wadah cendekiawan muslim dalam lingkup nasional. Meskipun, sebenarnya keinginan berdirinya ICMI berawal dari forum sekelompok mahasiswa Universitas Brawijaya di Malang, yang merasa prihatin terhadap kondisi umat Islam, para cendekiawan muslim cendrung pecah, hanya memperjuangkan dan membesarkan kelompoknya sendiri.

Melalui agenda pertemuan simposiam sebagai langkah awal, membentuk kordinator, dengan mengundang para cendekiawan yang bertujuan mengharap pemberian dukungan atas tercapainya “keinginan” mempertemukan para dendekiawan. Pada tanggal 27 September 1990, Habibie dalam suatu pertemuan, memberitahukan bahwa usulan untuk menjadi pimpinan wadah cendekiawan muslim mendapat restu dari Presiden Sueharto.

Wayang, Bima Suci, dan Moralitas


Judul : Moral Islam dalam Lakon Bima Suci
Penulis : Teguh, M.Ag.
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Pertama, Desember 2007
Tebal : x + 200 halaman

Pertunjukan wayang sudah tidak menjadi hal baru bagi masyarakat Indonesia, pergelaran pentas wayang kerap di pertontonkan pada masyarakat, baik melalui kegiatan pentas kebudayaan ataupun di layar pertelevisian. Karena sebenarnya nilai-nilai yang tergambar dan terjalin dalam lakon wayang sangat banyak mengandung ajaran yang mencerminkan kehidupan masyarakat, seseorang dengan hanya memahami lakon wayang dapat pula dikatakan telah mempelajari aspek-aspek etika dalam menjalin hubungan dengan orang lain, juga terhadap Tuhannya.

Adapun bentuk wayang paling popular di Indonesia, khususnya pulau Jawa adalah wayang kulit. Bahan wayang kulit ini terbuat dari kulit yang diukir indah, lakon-lakonnya diambil dari empat siklus yang bahannya sebagaian besar dari India; mitos-mitos masa permulaan kosmos yang mengenai dewa, raksasa, dan manusia pada permulaan zaman; siklus Arjuna Sasrabahu yang memuat pendahuluan epos Ramayana; siklus Ramayana, dan siklus Mahabarata. Di kalangan mayarakat Jawa siklus Mahabaratalah yang paling popular dalam perkembanganya.

Senin, 24 Desember 2007

Global Warming Sebuah Tantangan Bagi Indonesia


Para pemimpin dari sejumlah Negara akan bertemu di Bali membahas Global Warming (Pemanasan Global). Pertemuan Konferensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan iklim ini, akan berlangsung tanggal 3-14 Desember dan diikuti oleh 10.000 peserta dari 168 negara. Sebagai Sekretaris Jendral PBB, Ban Ki Moon mengajak kepada negara-negara di seluruh dunia untuk melakuan aksi nyata mengatasi ancaman tersebut.

Bagi masyarakat Indonesia, dampak global warming menjadi sangat serius, mengingat secara geografis letaknya sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Negara Indonesia yang memiliki kepulauan lebih dari 17.000 buah pulau, terjadinya global warming dapat berakibat pada ancaman tenggelamnya pulau-pulau kecil yang tersebar di tanah air. Selain itu, pemanasan dan perubahan iklim akan berdampak pula pada pola tanam petani di seluruh tanah air. Dengan cuaca ekstrim, meningkatnya panas, dan banjir, akan berdampak pada kemunduran masa tanam dan krisis air untuk menopang kehidupan (air bersih) dan juga gagalnya panen di berbagai tempat.

Sabtu, 15 Desember 2007

Perjalanan Para Sufi Mencari Tuhan


Judul Buku : Para Pencari Tuhan; Menyibak Kearifan Kisah Para Sufi
Penulis : Idries Shah
Penerbit : Alas, Yogyakarta
Cetakan : I, November 2007
Tebal : 352 Halaman

Sejarah perkembangan tarekat Sufi secara umum dibagi dalam dua bagian: Pertama, di mulai pada abad-abad awal setelah kematian Nabi Muhammad, adalah individu-individu yang merasa terpanggil pada kehidupan mistik atau kepribadian. Kedua, perburuan secara bersama-sama dengan ‘jalan’ tariqah, dari berbagai kelompok Muslim yang bergabung dalam persaudaraan-persaudaraan Sufi dengan mengikuti salah satu Wali besar Islam Abad pertengahan.

Di Asia Tenggara, pada abad XIII tarekat-tarekat Sufi mulai muncul. Di antara tarekat Sufi yang terkenal adalah Tarekat Qadiriyyah yang dihubungkan dengan ‘Abd al-Qadir al-Jilani (w. 1166), tarekat Rifa’iyyah yang berasal dari Ahmad Ibn ar-Rifa’i (w. 1182) dan Tarekat Naqsyabanddiyah yang diasosiasikan dengan Muhammad Baha’ ad-Din an-Naqsyabandi (w. 1389), dan masih banyak lagi yang lainnya.

Jumat, 14 Desember 2007

Penyatuan Ekstatik Sufi Meraih Tuhan


Judul Buku : Nyanyi Sunyi Seorang Sufi
Penulis : James Fadiman dan Robert Frager Al-Jerrahi (Ed.)
Penerbit : Pustaka Al-Furqan
Cetakan : Pertama, Desember 2007
Tebal : I.XXIV + 347

Jalan sufi bukanlah jalan untuk meninggalkan diri dari dunia, tetapi sebuah jalan mencari Tuhan, sementara pada saat yang sama dirinya tetap aktif berada di dunia. Keterkaitan dalam dunia menyediakan kesempatan bagi pertumbuhan spiritual, peluang untuk menetapkan cinta, kesadaran, kemurahan hati dan keterikatan. Pendekatan para sufi oleh Syekh Muzaffir, seorang guru Sufi modern, dirumuskan dalam ungkapan, “biarkan tanganmu sibuk dengan tugas-tugasmu di dunia dan biarkan hatimu sibuk dengan Tuhan.”

Penyatuan seorang sufi meraih Tuhan sering kali ditempuh dengan jalan mengingat Tuhan, dimulai dengan pengulangan Nama-nama Tuhan melalui lidah. Kemudian, pengulangan lidah turun menjadi ingatan oleh hati. Akhirnya, dzikir oleh hati menjadi makin dalam dan menjadi dzikir ruh. Ada pula dengan menyanyikan Nama-nama Tuhan diiringi alunan musik merdu, serasa ikut terhanyut dalam dzikir yang mereka lantunkan atas pengagungan akan kebesaran Tuhan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...