Jumat, 22 Agustus 2014

M Nurul Ikhsan Saleh di Rubrik Inspirasi Lampung Post

Edisi Jumat, 22 Agustus 2014

Lampung Post, Rubrik Inspirasi 22 Agustus 2014

Sabtu, 16 Agustus 2014

Senam Riang Anak SD Terang Agung



Siswa SD Terang Agung sedang melaksanakan senam

Hari Jumat (15/8/2014) saya berangkat ke sekolah pagi-pagi. Sama dengan Jumat tujuh hari sebelumnya. Saya berangkat pagi-pagi karena hendak memimpin senam. Seperti biasa anak-anak sangat bersemangat mengikuti Senam Riang Anak Indonesia belakangan. Ini mungkin disebabkan anak-anak jarang sekali mengikuti senam. Senam jarang sekali diadakan oleh para guru, bahkan bisa dibilang hampir tidak pernah, oleh karena belum ada pengeras suara. Bahkan, sekolah belum tentu bisa menyalakan alat pengeras suara untuk senam karena tidak ada aliran listrik.
Di SD Terang Agung belum ada saluran listrik, buru-buru saluran listrik, tiang pancang kabel saja di dusun Terang Agung belum masuk. Padahal dalam setahun terakhir, masyarakat sudah melakukan iuran lima ratus ribu rupiah kepada salah satu perangkat desa yang menjanjikan pemasangan aliran listrikdari PLN. Sampai sekarang pun belum ada tiang kabel yang masuk, bahkan uang yang dibayar masyarakat tidak tahu kemana. Sungguh ironis, hanya karena ketamakan pada uang, para petinggi Desa kemudian menyelewengkan uang iuran dari masyarakat, ia menukar dengan kepercayaan yang sudah lama dibangun. Masyarakat pun kadang kala mengeluhkan hal tersebut lewat cerita, saat saya berkunjung ke rumah-rumah untuk silaturrahim di lingkup beberapa dusun.
Terlepas dari itu semua. Saya tidak cukup jika hanya mengutuk, maka saya harus menyalakan lilin. Itulah prinsip yang ditanamkan Indonesia Mengajar. Jadi, dulunya Sekolah Dasar tempat saya mengajar, jika ada kegiatan senam biasanya meminjam pengeras suara dan genset punya salah satu guru atau milik pak RT dengan syarat sekolah siap mengganti uang minyak. Walhasil, duagenset yang digunakan di saat yang berbeda untuk mengaliri listrik ke pengeras suara meledak, alias rusak. Saya tidak tahu kenapa bisa rusak, saya hanya mendengar cerita dari salah satu guru begitu. Akibatnya setelah dua kali genset rusak akibat digunakan untuk penyelenggaraan senam, akhirnya pemilik genset tidak mau lagi bersedia menfasilitasi penggunaan genset untuk sekolah. Akibatnya, sekolah hampir tidak pernah melaksanakan senam setelahnya. Ini juga karena semua masyarakat tidak menyalakan genset di siang hari.
Perlu diketahui, genset di masyarakat tempat saya tinggal, hanya menyala di kala malam hari dari menjelang Magrib sampai jam sebelas malam. Habis itu, dusun gelap gulita. Maka, pada waktu awal-awal saya menjadi Pengajar Muda di sini, saya mengajukan usul kepada guru dan kepala sekolah agar menganggarkan pembelian pengeras suara yang bisa dicas. Sekolah pun mengiyakan usulan saya. Jangan membayangkan sekolah jika sudah mengiyakan terus kemudian menindak lanjuti. Seperti biasa agar rencana ini tidak berjalan sia-sia saya menawarkan diri menfasilitasi pembelian. Konsekuensinya saya harus nombok dulu dengan uang sendiri. Harapannya ketika uang BOS (Bantuan Operasional Sekolah) turun, kemudian uang yang saya gunakan untuk membeli diganti. Tapi saya pun tidak terlalu banyak berharap, karena belakangan Kepala Sekolah bilang, kalau sekolah sedang memiliki hutang ke Dinas Pendidikan, yang dalam hal ini kepada Korwas Pendidikan Kecamatan Gunung Terang sebesar tiga belas juta rupiah.
Besarnya hutang tersebut selalu dikeluhkan dan dikasih tahu Kepsek dalam rapat guru-guru di sekolah. Saya pun tidak tertarik ngurus kenapa sekolah punya hutang sebanyak itu. Kata Kepsek sih, di tingkat kecamatan atau kabupaten selalu ada program pembelian barang-barang untuk sekolah se-kecamatan, dimana sekolah tidak boleh tidak harus beli. Seperti halnya pembelian laptop yang dipatok harga delapan juta. Padahal jika ditelusuri, harga laptop dengan merek yang sama di toko rata-rata harganya empat juta setengah. Hendak dibuat apa lebihnya uang tersebut? Dengan jumlah sekolah cukup banyak di tingkat kabupaten. Di kecamatan Gunung Terang saja ada 23 Sekolah Dasar, belum lagi di tujuh kecamatan lain yang ada dikabupaten ini. Selain itu, ada program pengadaan buku Panduan Sukses UN, Buku Pesantren Kilat dan terakhir pengadaan Buku Silabus Kurikulum 2013 yang harganya dua juta rupiah. Itu semua tidak gratis sodara-sodara. Sekolah harus membelinya dari Dinas Pendidikan Kabupaten, yang dalam hal ini diwakilkan ke Korwas dalam pembayaran di tingkat kecamatan. Tapi saya yakin, bahwa itu semua pasti untuk tujuan baik, dimana dari semua pembelian itu demi menambah jumlah fasilitas di sekolah dan sekaligus mendukung efektifitas proses pembelajaran di sekolah.
Apa boleh buat, begitulah kenyataan di lapangan. Uang BOS yang turun setiap tiga bulan sekali, hanya cukup untuk membayar gaji honorer yang berjumlah tujuh orang (belum ada guru PNS) dan menutupuang tunggakan kepada Dinas Pendidikan secara bertahap. Layaknya negara Indonesia, yang tidak selesai-selesai membayar hutang ke luar. Belum lagi ancaman kedatangan wartawan abal-abal yang berlagak preman, yang memeras Kepsek untuk meminta uang. Ketika kepala sekolah menanyakan “Sampeyan wartawan dari mana?” Biasanya kata Kepsek, si wartawan menjawab “Kami wartawan buletin lalu lintas”. Saya pun hanya bisa tertawa mendengar. Kok ada sih wartawan yang mau hidup dari uang hasil memeras?Saya sendiri belum pernah bertemu langsung dengan si wartawan yang bersangkutan ketika datang ke rumah Kepsek.“Wartawan tersebut rata-rata tidak sendiri minimal berdua”tambahKepsek.
Singkat cerita, pada 29 Maret 2014, ketika saya pergi ke Palembang bersama enam Pengajar Muda lain yang ada di TBB, saya menepati janji untuk menfasilitasi sekolah dalam pembelianpengeras suara merek Kris yang berharga tujuh ratus ribu rupiah lebih sedikit.Bersyukur meskipun pengeras suaranya kecil, tapi suaranya keras. Bahkan ketika sekolah melaksanakan senam pagi, suaranya cukup terdengar dengan jelas kepada siswa-siswi yang berjumlah 116 anak di sekolah, bahkan suaranya terdengar keras sampai di ruang TK seberang yang berjarak 100 meter. Hal itu juga bisa terlihat karena anak-anak mengikuti nyanyian Senam Riang Anak Indonesia dengan jelas menirukan suara yang keluar dari pengeras suara.
Bagi saya, kunci pengabdian di sekolah adalah selalu ikhlas dan semangat. Sampai saat ini pun di bulan Agustus, penggunaan uang untuk membeli pengeras suara dari saya belum diganti oleh sekolah secara penuh. Sekolah hanya mampu mengganti tiga ratus rupiah. Saya pun ikhlas meskipun sekolah tidak membayar penuh. Saya tidak mungkin harus memaksa Kepsek membayarkan penuh dari uang BOS, karena saya sadar bahwa masih ada guru-guru dan tentu Kepala Sekolah sendiri yang lebih membutuhkan dari pada saya. Gaji mereka yang didapat dari uang BOS rata-rata digunakan untuk biaya hidup keluarga di rumah, sedangkan saya belum berkeluarga.#Aku rapopo.
Saya hanya selalu berdoa kepada Tuhan agar rejeki saya dimudahkan. Dan alhamdulillah rejeki saya masih saja cukup. Cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari, bahkan lebih. Tapi mungkinbisa tidak cukup jika saya mengikuti keinginan. Karena keinginan saya adalah membeli pesawat biar bisa keliling keluar negeri. Haha. Boro-boro beli pesawat. Pergi ke luar negeri saja belum pernah. Semoga deh suatu hari nanti bisa terwujud.
Tentu, kebahagiaan tak ternilai dalam pengabdian sebagai Pengajar Muda adalah ketika melihat anak-anak senang melihat kedatangan saya di sekolah. Tak terkeculai ketika saya memimpin senam di halaman sekolah. Rata-rata anak-anak tidak cukup hanya dengan satu kali senam. Mereka rata-rata bilang “Lagi. Lagi Pak!”. Saya pun tidak bisa menolak permintaan 116 siswa itu. Saya selalu mengiyakan, yang penting anak-anak riang gembiara melakukan senam.
Salah satu momenlucu yang saya rasakan adalah ketika pada suatu hari saya mengulangi senam untuk yang kedua kalinya. Tiba-tiba pengeras suaranya mati. Saya pun berhenti. Tiba-tiba nyala lagi. Saya pun memulai gerakan lagi. Selang beberapa kali gerakan, pengeras suaranya mati kembali. Anak-anak pada tertawa.Habis mati yang kedua kalinya, pengeras suara tidak nyala lagi sebab kehabisan daya. Lupa dicas pada malam hari sebelumnya. Habis tertawa, sebagian anak pun kecewa sodara-sodara. Saya hanya bilang “Tenang, masih ada minggu depan lagi ya!”. Anak-anak pun tertawa kembalisambil bilang “Siap pak!”. Itulah diantara kesenangan yang tidak ternilai. Anak-anak senang. Saya ikut senang.
Ke depan, saya menginginkan pelaksanaan senam bisa berjalan meskipun saya tidak hadir di sekolah. Sempat beberapa kali guru yang memimpin meskipun saya tidak lagi di sekolah, dikarenakan ada pertemuan di kecamatan atau di tingkat kabupaten,biasanya bertemu dengan orang Dinas pendidikan atau dengan perangkat pemerintah. Saya cukup senang melihatnya. Belakangan senam tidak lagi jalan karena pengeras suaranya tidak tahu kemana. Saya pun seperti pahlawan yang selalu berada di depan untuk mencari keberadaan pengeras suara. Ternyata, pengeras suaranya ada di rumah Kepsek dengan kondisi tercecer. Hal yang sama dengan kondisi alat peraga olah raga punya sekolah yang ada di rumah Kepsek. Sangat memprihatinkan. Tentu saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, ini disebabkan kondisi rumah Kepsek sendiri sangat memprihatinkan. Sekolah juga tidak ada tempat penyimpanan barang. Kalaupun kita coba taruh di kantor sekolah yang sempit, bisa dipastikan dalam waktu satu malam barang tersebut hangus, alias hilang dibawa tangan-tangan tidak bertanggung jawab. Memang ajaib sodara-sodara. Air minum saja dalam kardus yang tertinggal di kantor, langsung hilang dalam semalam.
Tapi tetap saja, saya, kamu, kita, harus optimis dengan kondisi apa pun. Pengeras suara kembali terawat dengan baik ketika saya taruh di tempat saya tinggal. Selalu ada jalan menuju solusi terbaik asal kita mau berpikir. Haha... Oke. Sepertinya saya harus mengambil pelajaran di akhir tulisan ini agar ceritanya bisa disudahi. Seperti halnya Hutbah Jumat, yang diakhir ceramah diisi dengan kesimpulan atau pelajaran berharga yang bisa dipetik. Pelajaran berharga pertama dari tulisan ini adalah, untuk menjadi guru yang disenangi siswa, seorang guru sebaiknya tidak harus selalu memaksakan kehendak, akan tetapi harus mengikuti kesenangan siswa, asal itu positif dan bermanfaat. Pelajaran kedua adalah ketika kita mau berbaik hati, berbagi dengan orang lain, pastilah kebahagiaan akan datang dengan sendirinya kepada kita, dengan bahagia yang tidak ternilai. So, mari berbagi untuk orang lain. Ketiga, sebagai guru yang menginginkan perubahan yang lebih baik, kita harus selalu berpikir untuk mencarikan alternatif segala permasalahan dengan positif dan optimis. Pastilah ada jalan keluar bagi setiap masalah. Hidup tidak sesulit yang dibayangkan apabila kita berpikir positif dan opitimis.

Kamis, 07 Agustus 2014

Menjadi Pengajar Muda di Tulang Bawang Barat



Nama Lengkap: M. Nurul Ikhsan Saleh, S.Pd.I
Nama Panggilan : Nurul
Tempat Tanggal Lahir : Sumenep, 27 Juli 1988
Pendidikan Terakhir: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Kependidikan Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Aktivitas/Organisasi/Pengalaman Kerja :
-          Forum Badan Eksekutif Mahasiswa Pendidikan Yogyakarta, Bidang Pengembangan Bahasa Asing, Beswan Djarum DSO Semarang dan Kelompok Studi Ilmu Pendidikan
-          Komunitas Peace Generation Yogyakarta yang bergerak di bidang perdamaian pemuda dan organisasi kepemudaan Forum Indonesia Muda (FIM) dan Senyum Community Yogyakarta
-          Aktif menulis opini dan resensi buku di berbagai surat kabar lokal dan nasional. Selain itu, tiga tulisannya telah dimuat dalam tiga buku kompilasi, sedangkan buku terakhir yang diterbitkan adalah Peace Education
-          Pernah menjadi asisten dosen matakuliah Metode Penelitian Pendidikan II di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan jurusan Kependidikan Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta dan pernah mengajar di Sekolah Dasar Negeri 30 Inp Ulidang selama 13 bulan
Prestasi:
-          Juara pertama LKTI se-Yogyakarta yang diselenggarakan HMI Cabang Yogyakarta
-          Bagian dari 20 penulis terbaik Sayembara Esai Nasional IDEA IPB
-          Menjadi 5 komentator terbaik Blog Competition Beswan Djarum
-          Juara pertama LKTI se-Yogyakarta dan Jawa Tengah Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga
-          Juara Kedua LKTI DPP Bidang Penelitian Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
-          Juara Ketiga LKTI Jurusan Kependidikan Islam
-          Peraih Beasiswa PT Djarum, Kementarian Agama dan Pemerintah Kabupaten Sumenep
SD Tempat Penugasan : SD Terang Agung, Dusun Terang Agung, Kecamatan Gunung Terang, Kabupaten Tulang Barat
Contak Person : 081242023909 email : nurul_ih@yahoo.com

Apa motivasi Anda ikut bergabung menjadi Pengajar Muda pada Gerakan Indonesia Mengajar?
Secara garis besar, ada tiga motivasi saya ikut bergabung menjadi Pengajar Muda pada Gerakan Indonesia Mengajar. Pengabdian menjadi motivasi Saya yang pertama untuk ikut bergabung dengan Indonesia Mengajar (IM) lewat menjadi Pengajar Muda (PM) angkatan VII. Bagi saya, jalur pengabdian untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tidak berbatas waktu. Salah satu jalan pengabdian bagi bangsa Indonesia yaitu dengan cara saya memilih menjadi PM. Pengabdian seperti inilah yang saya pahami dalam agama saya sebagai sebentuk jihad di jalan Tuhan.
Motivasi kedua saya bergabung menjadi PM adalah untuk menginspirasi. Saya berkomitmen menginspirasi dengan cara memaksimalkan kemampuan dan pengalaman yang saya miliki agar bisa bermanfaat sebesar-besarnya bagi kemaslahatan dan kebermanfaatan masyarakat. Saya ingin berbagi inspirasi dengan siswa, guru, pemerintah dan masyarakat secara lebih luas dalam rangka menuju perbaikan pendidikan di mana pun saya bertugas.
Motivasi ketiga saya yaitu berbagi. Bagi saya, semakin banyak saya berbagi ilmu, maka akan semakin banyak pula ilmu pengetahuan yang akan saya dapatkan. Seperti halnya Saya berbagi pengajaran menulis bagi siswa, semakin banyak pula ilmu kepenulisan yang saya dapatkan. Oleh karena itu, alasan saya bertugas menjadi PM adalah untuk berbagi. Pengalaman saya selama ini, baik di bidang kepenulisan, keorganisasian dan kegiatan kepengajaran, menjadi pelajaran berarti untuk kemudian saya bagikan kepada anak-anak di tempat saya mengabdi.Apalah arti sebuah prestasi dan pengalaman yang menumpuk apabila tidak dibagikan kepada orang lain. Maka dari itu saya terpanggil untuk berbagi dengan anak-anak dan masyarakat di Tulang Bawang Barat.

Anda sudah lebih dari lima bulan mengajar di sekolah. Ceritakan mengenai aktivitas pembelajaran yang Anda lakukan!
Aktivitas saya di tempat penugasan meliputi empat hal, kurikuler, ekstrakurikuler, pembelajaran masyarakat dan pelibatan daerah. Pada kegiatan kurikuler saya mengajar bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dari kelas empat sampai kelas enam. Sedangkan dalam ekstra kurikuler saya mengampu anak-anak mengelola Mading dan inisiasi Kelompok Belajar Indonesia Mengajar(KBIM) di dusun. Dalam KBIM ini anak-anak diberikan materi tambahan seputar pelajaran-pelajaran yang belum dikuasai dengan baik di sekolah. Dalam kegiatan kemasyarakatan saya terlibat dalam kegiatan musholla dan masjid, seperti mengajar TPA dan pembelajaran fiqh di masyarakat. Dalam hal pelibatan daerah biasanya saya dengan tujuh Pengajar Muda yang lain di kabupaten Tulang Bawang Barat bersama-sama dengan stakeholder pendidikan beberapa kali menginisiasi program seperti Achievement Motivation Training, pemberian informasi beasiswa ke sekolah menengah atas. Saya sendiri pernah mewakili teman-teman PM mengisi acara di Universitas Megow Pak untuk memotivasi mahasiswa yang ada di sana. Selain itu kami bersama guru-guru menfasilitasi kegiatan olimpiade untuk kegiatan sains ilmu pengetahuan alam.

Bagaimana kesan-kesan Anda tinggal bersama masyarakat dan mengajar di sekolah?
Dimana bumi pijak di situ langit dijunjung. Itulah prinsip yang selalu saya pegang teguh di tempat saya bertugas. Alhamdulillah dengan prinsip tersebut saya diterima oleh masyarakat dengan sangat baik. Di sana saya melihat Indonesia mini, dimana terlihat kemajemukan masyarakatnya dengan bermacam latar belakang, akan tetapi tetap hidup harmonis, saling menghormati satu sama lain. Masyarakat Lampung yang saya kenal adalah masyarakat yang baik. Yang terpenting bagi saya sebagai pendatang harus menghormati adat istiadat yang ada.
Selain itu, saya juga diterima di lingkungan sekolah dengan baik oleh semua lapisan, baik di lapisan anak-anak ataupun guru-guru. Sehingga saya mendapatkan kesenangan yang luar biasa. Setiap kali saya melewati rumah-rumah warga selalu saja ada sapaan kepada saya, bahkan tidak jarang selalu saja disuruh mampir. Ini pengalaman yang luar biasa bagi saya. Walaupun di beberapa hal ada kekurangan, di tempat bertugas saya menemukan guru-guru yang luar biasa, mereka punya kepedulian yang besar terhadap anak-anak. Di sana saya juga menemukan banyak anak-anak yang memiliki potensi yang luar biasa. Di samping saya mengajar, tapi saya juga banyak belajar dari guru-guru dan anak-anak.

Menurut Anda siapa yang telah memiliki peranan besar dalam memajukan pendidikan di sekolah tempat Anda bertugas?
Orang-orang yang telah memiliki peranan besar dalam memajukan pendidikan di sekolah adalah para guru-guru yang telah bertahun tahun mengabdi. Dari enam guru yang ada, semuanya belum ada yang PNS, mereka dengan suka rela mengabdi. Seperti halnya ada Ibu Eli yang sudah bertahun-tahun mengabdi dari sejak berdirinya sekolah ini tahun 2002, sampai sekarang pun tetap mengabdi meskipun tidak diangkat jadi PNS, kerena memang belum tamat S1. Maka dari itu, pengabdian saya sebenarnya belum seberapa dibandingkan para guru-guru yang sudah ada. Kehadiran saya di sana setidaknya untuk mengajak mereka semakin kreatif dalam mengajar meskipun latar belakang pendidikan mereka belum lulus S1. Bagi saya, meskipun mereka belum memiliki geral S1, tapi mereka adalah guru-guru yang luar biasa. Memiliki semangat yang besar untuk mengabdi.

Sudah hampir separuh penugasan Anda bersama dengan keluarga baru. Ceritakan kondisi keluarga dan kesan bersama keluarga baru!
Di tempat penugasan, saya tinggal bersama keluarga suku asli Lampung, selaku kepala keluarga yaitu pak Sahmin. Keluarga angkat saya atau yang sering kami sebut hostfam, sangat baik. Bahkan sejak pertama kali saya sampai di sana, saya sangat senang bersama dengan keluarga angkat. Bisa dibilang saya sekarang punya keluarga yang ketiga, pertama keluarga di Madura, kedua keluarga di Majene, dan ketiga keluarga di Lampung. Saya banyak belajar dari keluarga saya yang baru. Keluarga ini memiliki dua orang anak, pertama perempuan yang baru saja akan masuk SMP, sedang anak yang kedua laki-laki, baru akan masuk Taman Kanak-Kanak (TK).

Selama Anda bertugas tentu aktivitas Anda tidak bisa terlepas dari masyarakat. Ceritakan kondisi masyarakat tempat Anda tinggal!
Keberadaan masyarakat di sana sangat multikultur. Terdiri dari beberapa macam suku dan agama. Ada suku Lampung, Jawa, Sunda, Bali, dan lain-lain. Tidak jarang juga pendatang dari luar daerah seperti dari Jakarta,dan Sumatera Selatan, Bengkulu dan sebaginya. Dari situ, masyarakat di sana sebenarnya cukup toleran terhadap perbedaan. Hal ini sangat sesuai dengan konsep Bhinneka Tunggal Ika. Meskipun mereka berbeda-beda tapi tetap satu, saling menghargai. 
Sedangkan kegiatan perekonomian masyarakat di sana didapat dari bertani. Rata-rata masyarakatnya menjadi pentani karet dan singkong. Hampirsaja waktu dalam kesehariaanya dihabiskan di kebun untuk menyadap karet dan merawat tanaman singkong. Hal ini juga yang menjadi alasan masih kurangnya keterlibatan orang tua siswa untuk terlibat mengawasi anak-anaknya. Karena para orang tua sibuk dengan pekerjaan di kebun.

Apa tantangan utama pendidikan di dusun tempat Anda bertugas?
Tantangan terbesar adalah masih belum ada kerja sama yang baik antar stakeholder pendidikan. Jalinan kerja sama antara sekolah dan orang tua siswa masih belum baik. Sehingga perhatian orang tua siswa terhadap sekolah masih minim, sehingga belum ada kontrol yang baik terhadap sekolah, lebih-lebih kontrol orang tua terhadap anak-anaknya. Seandainya saja sekolah mau melibatkan orang tua siswa dengan baik, dan sebaliknya, orang tua mau ikut terlibat secara langsung dalam kemajuan sekolah, seperti halnya mendukung setiap program positif yang dicanangkan sekolah, maka dengan sendirinya sekolah akan semakin berkembang dan tentu para siswa mendapatkan manfaat yang besar. Di samping itu, masih minimnya inisiasi dari sekolah dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas dan prestasi sekolah. Maka dari itu, harapannya ke depan akan terus ada inisiatif-inisiatif secara mandiri dari pihak sekolah dan masyarakat dalam kegiatan memajukan pendidikan di daerahnya.

Pengalaman apa yang dapat dipetik dari penugasan Anda?
Di sana, saya ingin mengungkapkan bahwa dalam kesederhanaan dan keterbatasan seperti apa pun kita harus tetap semangat untuk bangkit. Seperti halnya di sekolah tempat saya bertugas, walaupun atap sekolah tempat saya bertugas ada yang bocor, dimana apabila ada hujanturun, air masuk ke dalam ruang kelas. Bahkan air biasa menggenang di dalam kelas. Tapi anak-anak dan para guru tetap semangat menjalani proses pembelajaran. Ternyata dalam kesederhaan apa pun apabila dibarengi dengan semangat yang tinggi, tantangan seperti apa pun bisa terlampaui. Anak-anak tetap memiliki prestasi yang tinggi. Bahkan suatu kesyukuran anak-anak didik saya pun bisa menulis dengan baik. Maka harapan saya, draf buku Sekolah Damai yang sudah kami susun nantinya bisa terbit, sehingga anak-anak semakin percaya diri untuk semakin giat dalam berkarya, terutama di bidang kepenulisan. Karena saya pun melihat, rasa percaya diri anak perlu dimunculkan, meskipun mereka hidup di tempat yang serba terbatas tapi dalam hal prestasi, mereka harus bisa bersaing dengan anak-anak yang ada di tempat manapun. Anak-anak seperti merekalah calon memimpin di masa depan. Saya yakin pemimpin yang bisa melewati rintangan dan hambatan yang berat, kelak akan jadi pemimpin yang luar biasa.

Adakah perubahan positif dengan kehadiran Anda?
Salah satu perubahan dengan kehadiran Pengajar Muda di sekolah tempat saya bertugas, yang tidak lepas dari peran Pengajar Muda sebelum saya adalah semakin tingginya minat baca anak-anak di masyarakat. Kebetulan kami menginisiasi perpustakaan dusun dan perpustakaan sekolah, dari situ anak-anak hampir setiap hari ada yang selalu nongkrong sambil baca buku di perpustakaan. Anak-anak mulai terbiasa belajar keagamaan ke musholla di saat sore hari dengan kegiatan TPA, belakangan kegiatan tersebut dibantu oleh pemuda dusun yang aktif dibidang keagamaan. Selain itu, kebetulan saya memiliki background bidang jurnalistik, maka saya tertantang agar anak didik saya bisa pintar menulis. Alhamdulillah setelah tiga bulan saya mengajarkan anak-anak menulis dan membiasakan anak-anak menulis catatan harian di rumah, belakangan tulisan mereka sudah terkumpul dalam draf buku Sekolah Damai. Tinggal kami akan mencarikan penerbit yang siap mencetak buku anak didik tempat saya bertugas.


Bagaimana harapan Anda ke depan terkait kemajuan pendidikan di sekolah/masyarakat tempat bertugas?
Harapan saya terhadap kemajuan pendidikan di daerah tempat saya bertugas yaitu adanya kemandirian masyarakat. Dimana masyarakat menginisiasi kegiatan berdasar kebutuhan mereka sediri. Tidak selalu menunggu inisiasi dari luar. Saya berharap, masyarakat bisa secara mandiri memetakan masalahnya sendiri serta bisa memecahkan masalahnya sendiri. Terlebih lagi, masyarakat diharapkan bisa mengetahui lebih mendalam apa-apa yang menjadi kebutuhan mendesak dalam proses mamajukan Sumber Daya Manusia. Seperti halnya pendidikan, apabila masyarakat memandang pendidikan sebagai kebutuhan, tentu masyarakat akan sangat peduli dengan pemajuan pendidikan dan masa depan anak-anaknya.

Apa harapan Anda terkait kemajuan pendidikan dalam skala lebih luas?
Agar pendidikan kita semakin maju, harapan saya adalah agar semua masyarakat semakin menyadari akan pentingnya pendidikan. Semua orang saling bahu-membahu terlibat secara langsung ikut memajukan pendidikan. Saya di disiniberbicara pendidikan dalam arti luas. Dimana pendidikan tidak hanya dimaknai secara sempit di sekolahan saja, akan tetapi pendidikan secara menyeluruh. Karena pendidikan itu tidak hanya di sekolahan, bisa lewat pendidikan dalam keluarga, kursusan, pelatihan, dan lain-lain. Apabila pendidikan menjadi sebuah kebutuhan semua masyarakat maka secara tidak langsung pendidikan Indonesia semakin maju.
Saya berharap, setiap orang di Indonesia tidak berpangku tangan, tapi ikut turun tangan terlibat menyelesaikan pendidikan yang menjadi tugas kita bersama. Dimana memajukan pendidikan menjadi tugas bersama, bukan hanya tugas dari pemerintah saja. Saya yakin Indonesia bisa maju kelak. Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan. Meskipun di sana sani masih banyak kekurangan, akan tetapi apabila semua masyarakat Indonesia sudah bisa berpendidikan dengan baik, pasti kekurangan itu akan tertutupi. Tidak ada lagi masyarakat yang termarjinalkan. Tidak ada lagi masyarakat yang selalu dibodohi oleh kelompok-kelompok tertentu. Tidak ada lagi kebergantungan berlebihan negara ini terhadap negara lain.

Apa rencana Anda setelah selesai penugasan menjadi Pengajar Muda?
Rencana sehabis penugasan menjadi Pengajar Muda di SDN Terang Agung, Kecamatan Gunung Terang, Kabupaten Tulang Bawang Barat, saya akan melanjutkan studi S2 di bidang kependidikan anak usia dini. Hal ini memang relevan dengan latar belakang pendidikan saya semasih S1, yaitu jurusan kependidikan. Di sela-sela kuliah, saya akan menulis dan aktif di bidang sosial pendidikan di masyarakat. Karena saya memiliki target akan menjadi dosen atau pemerhati pendidikan di masa depan.
Tentu, selama penugasan saya menjadi Pengajar Muda telah membantu saya memberikan banyak pengalaman, baik dari segi kepengajaran yang kreatif, advokasi birokrasi, dan pembelajaran bersama masyarakat. Pengalaman seperti ini tidak saya dapatkan di bangku kuliah. Lewat menjadi Pengajar Muda inilah saya bisa mendapatkan pelajaran berharga bagaimana melakukan advokasi bagi pengembangan komunitas-komunitas dalammasyarakat. Lebih-lebih lagi, lewat Gerakan Indonesia Mengajar, saya mendapatkan banyak networking dengan beberapa kalangan. Terutama yang bergerak di bidang pendidikan. Lewat networking ini, bisa menjadi modal saya untuk bergerak lebih leluasa menghadapi masa purna dari penugasan menjadi pengajar Muda.
Intinya, dari kesemua rencana saya di masa depan akantetap bermuara untuk ikut serta memajukan pendidikan di republik tercinta dengan cara saya sendiri. Tidak ada lain yang lebih berharga dari pada mengabdikan diri bagi Indonesia. Karena saya membayangkan Indonesia di masa depan akan lebih maju sehingga anak cucu kita kelak akan mendapatkan pendidikan yang berkualitas tinggi. Nah, saya bersyukur sekali sudah sedini mungkin bisa tersadarkan akan pentingnya melunasi janji kemerdekaan lewat tindakan turun secara langsung di tengah-tengah masyarakat.


Jumat, 25 Juli 2014

Ramadhan Bahagia



Suasana Buka Puasa Bersama di Musholla Al Hidayah
Malam Jumat (24/07), jam dinding musholla Al Hidayah menunjukkan pukul 20.20. SalatTarawih sekaligus salatWitir berjamaah selesai dilaksanakan. Hampir sama dengan salat jamaah pada malam-malam sebelumnya. Sesekali tiap kali habis salatWitir kemudian dilanjutkan dengan Kuliah Tujuh Menit (Kultum). Meski dalam kenyataan,kultumnyabiasa lebih dari tujuh menit. Bahasan yang dihadirkan beragam,yang jelas seputar keislaman. Pada malam Jumat kali ini bertepatan dengan tanggal 27 Ramadhan. Saya kebagian mengisi Kultum seputar Lailatul Qadar dan Hakikat Ibadah. Saya menyampaikan Kultum di depan jamaah di musholla dengan rata-rata jamaahnya perempuan, hampir sama dengan jamaah di mesjid Al Falah tempat yang beberapa kali saya diminta Kultum, juga lebih dari separuh jamaahnya dari kaum hawa.
Ada yang beda dengan suasana ketika saya membawakan Kultum pada malam ke 27 Ramadhantadi malam. Jika pada sebelum-sebelumnya saya mengisi dengan cukup serius. Kali ini saya membawakan dengan suasana santai bercampur canda. Sehingga malam itu mirip-mirip acara Stand Up Commedy di Metro TV. Jamaah tak jarangtiba-tiba tanpa diminta ketawa, mereka ketawa. Tentu saja saya tidak ikut ketawa, biarlah jamaah saja yang tertawa. Karena saya sendiri tidak menyuruh jamaah tertawa, hanya saja mungkin karena ada ungkapan yang lucu sehingga mereka tertawa. Sebenarnya saya pun bahagia karena bisa membuat jamaah bahagia. Seperti dalam ungkapan, tanda orang bahagia adalah karena dia tertawa. Kalau Anda tidak percaya ayo tertawalah maka Anda akan bahagia.Haha...
Saya menjalani hari-hari bulan puasa di tempat rantau dengan bahagia. Ada banyak hal baru yang bisa saya dapatkan. Saya bisa mengenal masyarakat yang beragam. Baik dari keragaman suku, keragaman bahasa, keragaman adat istiadat, bahkan sampai pada keragaman dalam pengemasan kegiatan-kegiatan keagamaan. Dari semua itu, menyadarkan saya bahwa semakin saya mengetahui betapa berwarnanya dan uniknya masyarakat di negeri ini, semakin saya bangga menjadi masyarakat Indonesia. Bahwa Indonesia benar-benar multikultur. Maka semoga pemimpin-pemimpin di negeri bisa menelorkan segala kebijakan berdasar pada kenyataan yang ada di akar rumput, mengakomodir masyarakat yang beragam.
Hallo pak Jokowi dan pak Kalla! Selamat sudah menang dalam pemilihan umum Presiden 2014. Semoga amanah dan bisa merangkul semua kalangan masyarakat Indonesia. Kebijakan yang dikeluarkan nantinya bisa benar-benar merakyat, tanpa membeda-bedakan suku, agama, keyakinan, dan banyak lagi yang berbeda. Terima kasih kepada pak Yudhoyono dan pak Boediono yang telah bersedia menjadi pemimpin negeri ini, semoga amal baik bapak diterima Tuhan yang Maha Kuasa. Pada kesempatan ini, saya juga ingin menyampaikan turut berduka cita, pak Utomo Dananjaya dan Ibu Mien yang baru-baru telah berpulang ke hadirat Tuhan yang Maha Kuasa, Tuhan yang maha menentukan kehidupan dan kematian. Semoga mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah SWT.
Kembali ke laptop. Empat tahun terakhir ini saya merasakan sepuluh hari bulan Ramadhan di tempat yang berbeda-beda. Ini menjadi sebuah kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri. Pertama di kampung kelahiran, Sumenep, berlanjut tahun berikutnya di Sleman, lingkungan Muhammadiyah, kemudian di Kabupaten Majene dan tahun ini di Kabupaten Tulang Bawang Barat (TBB). Kalau tahun lalu mengisi hutbah  "Menjadi Masyarakat yang Bersyukur" di mesjid dusun Awo’, Majene, sekarang harus menyiapkan bahan lagi untuk memenuhi permintaan pengurus mesjid mengisi hutbah Idul Fitri di mesjid Al Falah, dusun Terang Agung Kabupaten TBB, yang tinggal menghitung hari.
Sebenarnya saya kadang merasa malu harus menyampaikan Kultum atau hutbah di musholla dan masjid, karena ilmu keagamaan saya belum seberapa. Tapi demi menjalankan sunnah Nabi Muhammad, seperti dalam sabdanya, sampaikanlah walaupun satu ayat tentang kebaikan. Oleh karena itu, dengan senang hati di tempat tugas Pengajar Muda (PM) ini saya selalu mengabulkan permintaan masyarakat, hitung-hitung sebagai bahan belajar bagi diri saya pribadi. Maka, bergabung dengan Indonesia Mengajar telah membawa saya kepada hal-hal yang tidak terduga. Momen-momen yang luar biasa.
Biar tidak terlalu panjang cerita ini, saya hanya ingin menyampaikan kembali pesan terakhir Kultum saya tadi malam. Saya berpesan ke jamaah, agar berlomba-lomba menjadi orang yang bisa selamat di dunia dan akhirat. Hendaknya,sebagai umat yang patuh, umat Islam harus mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kegiatan yang sia-sia. Selain itu, saya sampaikan ke jamaah bahwa sebagai umat Nabi Muhammad, kita dituntut mengikuti sunnah-sunnahnya. Satu hal yang saya sendiri ingin segera ikuti dari sunnan Nabi adalah, menikah.Semoga cepat bertemu jodoh. Jamaah pun tertawa.
Terakhir, kepada semua penduduk Indonesia, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga bisa menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan bahagia. Bagi yang tidak menjalankan, semoga bisa menjalankan aktivitasyang bermanfaat dengan bahagia pula. Apabila saya ada salah mohon maaf lahir dan batin.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...