Jumat, 25 Juli 2014

Ramadhan Bahagia



Suasana Buka Puasa Bersama di Musholla Al Hidayah
Malam Jumat (24/07), jam dinding musholla Al Hidayah menunjukkan pukul 20.20. SalatTarawih sekaligus salatWitir berjamaah selesai dilaksanakan. Hampir sama dengan salat jamaah pada malam-malam sebelumnya. Sesekali tiap kali habis salatWitir kemudian dilanjutkan dengan Kuliah Tujuh Menit (Kultum). Meski dalam kenyataan,kultumnyabiasa lebih dari tujuh menit. Bahasan yang dihadirkan beragam,yang jelas seputar keislaman. Pada malam Jumat kali ini bertepatan dengan tanggal 27 Ramadhan. Saya kebagian mengisi Kultum seputar Lailatul Qadar dan Hakikat Ibadah. Saya menyampaikan Kultum di depan jamaah di musholla dengan rata-rata jamaahnya perempuan, hampir sama dengan jamaah di mesjid Al Falah tempat yang beberapa kali saya diminta Kultum, juga lebih dari separuh jamaahnya dari kaum hawa.
Ada yang beda dengan suasana ketika saya membawakan Kultum pada malam ke 27 Ramadhantadi malam. Jika pada sebelum-sebelumnya saya mengisi dengan cukup serius. Kali ini saya membawakan dengan suasana santai bercampur canda. Sehingga malam itu mirip-mirip acara Stand Up Commedy di Metro TV. Jamaah tak jarangtiba-tiba tanpa diminta ketawa, mereka ketawa. Tentu saja saya tidak ikut ketawa, biarlah jamaah saja yang tertawa. Karena saya sendiri tidak menyuruh jamaah tertawa, hanya saja mungkin karena ada ungkapan yang lucu sehingga mereka tertawa. Sebenarnya saya pun bahagia karena bisa membuat jamaah bahagia. Seperti dalam ungkapan, tanda orang bahagia adalah karena dia tertawa. Kalau Anda tidak percaya ayo tertawalah maka Anda akan bahagia.Haha...
Saya menjalani hari-hari bulan puasa di tempat rantau dengan bahagia. Ada banyak hal baru yang bisa saya dapatkan. Saya bisa mengenal masyarakat yang beragam. Baik dari keragaman suku, keragaman bahasa, keragaman adat istiadat, bahkan sampai pada keragaman dalam pengemasan kegiatan-kegiatan keagamaan. Dari semua itu, menyadarkan saya bahwa semakin saya mengetahui betapa berwarnanya dan uniknya masyarakat di negeri ini, semakin saya bangga menjadi masyarakat Indonesia. Bahwa Indonesia benar-benar multikultur. Maka semoga pemimpin-pemimpin di negeri bisa menelorkan segala kebijakan berdasar pada kenyataan yang ada di akar rumput, mengakomodir masyarakat yang beragam.
Hallo pak Jokowi dan pak Kalla! Selamat sudah menang dalam pemilihan umum Presiden 2014. Semoga amanah dan bisa merangkul semua kalangan masyarakat Indonesia. Kebijakan yang dikeluarkan nantinya bisa benar-benar merakyat, tanpa membeda-bedakan suku, agama, keyakinan, dan banyak lagi yang berbeda. Terima kasih kepada pak Yudhoyono dan pak Boediono yang telah bersedia menjadi pemimpin negeri ini, semoga amal baik bapak diterima Tuhan yang Maha Kuasa. Pada kesempatan ini, saya juga ingin menyampaikan turut berduka cita, pak Utomo Dananjaya dan Ibu Mien yang baru-baru telah berpulang ke hadirat Tuhan yang Maha Kuasa, Tuhan yang maha menentukan kehidupan dan kematian. Semoga mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah SWT.
Kembali ke laptop. Empat tahun terakhir ini saya merasakan sepuluh hari bulan Ramadhan di tempat yang berbeda-beda. Ini menjadi sebuah kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri. Pertama di kampung kelahiran, Sumenep, berlanjut tahun berikutnya di Sleman, lingkungan Muhammadiyah, kemudian di Kabupaten Majene dan tahun ini di Kabupaten Tulang Bawang Barat (TBB). Kalau tahun lalu mengisi hutbah  "Menjadi Masyarakat yang Bersyukur" di mesjid dusun Awo’, Majene, sekarang harus menyiapkan bahan lagi untuk memenuhi permintaan pengurus mesjid mengisi hutbah Idul Fitri di mesjid Al Falah, dusun Terang Agung Kabupaten TBB, yang tinggal menghitung hari.
Sebenarnya saya kadang merasa malu harus menyampaikan Kultum atau hutbah di musholla dan masjid, karena ilmu keagamaan saya belum seberapa. Tapi demi menjalankan sunnah Nabi Muhammad, seperti dalam sabdanya, sampaikanlah walaupun satu ayat tentang kebaikan. Oleh karena itu, dengan senang hati di tempat tugas Pengajar Muda (PM) ini saya selalu mengabulkan permintaan masyarakat, hitung-hitung sebagai bahan belajar bagi diri saya pribadi. Maka, bergabung dengan Indonesia Mengajar telah membawa saya kepada hal-hal yang tidak terduga. Momen-momen yang luar biasa.
Biar tidak terlalu panjang cerita ini, saya hanya ingin menyampaikan kembali pesan terakhir Kultum saya tadi malam. Saya berpesan ke jamaah, agar berlomba-lomba menjadi orang yang bisa selamat di dunia dan akhirat. Hendaknya,sebagai umat yang patuh, umat Islam harus mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kegiatan yang sia-sia. Selain itu, saya sampaikan ke jamaah bahwa sebagai umat Nabi Muhammad, kita dituntut mengikuti sunnah-sunnahnya. Satu hal yang saya sendiri ingin segera ikuti dari sunnan Nabi adalah, menikah.Semoga cepat bertemu jodoh. Jamaah pun tertawa.
Terakhir, kepada semua penduduk Indonesia, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga bisa menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan bahagia. Bagi yang tidak menjalankan, semoga bisa menjalankan aktivitasyang bermanfaat dengan bahagia pula. Apabila saya ada salah mohon maaf lahir dan batin.

Rabu, 23 Juli 2014

Meningkatkan Minat Baca pada Siswa



Anak-anak Sedang Membaca Komik kiriman dari PGN
Pagi itu, saya senang sekali melihat anak-anak karena sangat antusias menyambut kedatangan buku-buku baru dari Jakarta. Buku tersebut adalah buku-buku dalam bentuk komik Persembahan PGN untuk Anak Bangsa yang datang secara bertahap antar seri. Ada 33 judul komik seri Legenda Nusantara, ada 20 judul komik seri Pahlawan Indonesia dan terakhir komik seri Biografi Orang Sukses. Kedatangan komik berseri ini selain menambah jumlah buku-buku yang sebelumnya datang dari FGIM (Festival Gerakan Indonesia Mengajar), juga semakin menambah ramainya anak-anak datang ke perpustakaan sekolah.
Anak-anak setiap pagi biasa sudah antri menunggu kedatangan saya agar membuka perpustakaan di sekolah. Sampai-sampai kadang anak-anak yang sudah antri di depan perpustakaan, merasa kecewa kalau saya lambat datang untuk membuka perpustakaan sekolah. Kebetulan saya memang sangat senang menemani anak-anak membaca buku. Kelebihannya adalah dengan menenami anak-anak membaca, saya pasti ikut membaca buku-buku di perpustakaan sekaligus mengajak diskusi bersama anak-anak. Sehingga saya berinisiatif menfasilitasi sekolah untuk memegang kunci perpustakaan agar setiap hari anak-anak terus berbondong membaca.
Perpustakaan tempat menyimpan buku-bukudi sekolah, SDS Terang Agung,bisa dibilang cukup sempit, apabila ada dua puluhan anak yang masuk, ruang perpustakaan sudah terasa sesak. Makanya anak-anak biasa juga membaca di teras perpustakaan. Keberadaan bangunan perpustakaan terpisah cukup jauh dengan ruang belajar sekolah yang berjumlah lima ruang. Lokasi perpustaakaan berdempet dengan bangunan Taman Kanak-Kanak. Sehingga para guru-guru jarang ke perpustakaan. Padahal ruang perpustakaan selain sebagai tempat penyimpanan buku bacaan, juga berfungsi sebagai kantor yang sekali-kali dijadikan tempat rapat.
Berhubung perpustakaan di sekolah berbatas waktu, hanya buka dari jam 07.30 sampai 12.00, sedangkan beberapa anak biasa masih ingin membaca, maka dari itu kemudian saya menginisiasi perpustakaan dusun yang letaknya berada tepat di keluarga angkat,tempat saya tinggal. Buku yang ada adalah bantuan dari berbagai pihak yang kemudian diestafetkan dari dua Pengajar Muda sebelum saya. Dari beberapa buku yang ada, sebagian sampulnya sudah copot. Hal ini disebabkan karena seringnya buku berganti tangan antara anak yang satu dengan anak yang lain, sesekali disebabkan karena satu buku jadi bahan rebutan beberapa anak.
Di perpustakaan dusun, anak-anak bisa secara leluasa membaca. Karena perpustakaan yang ada di dusun memang sengaja di buka seluas-luasnya untuk masyarakat. Yang penting pintu di rumah terbuka maka anak-anak bebas membaca. Sudah jadi kebiasaan, setelah selesai pembelajaran di sekolah, anak-anak sering datang ke perpustakaan dusun untuk membaca. Selain itu,dalam rangka memancing anak-anak selalu datang ke perpustakaan dusun, saya mengadakan les tambahan yang bertempat di situ. Biasanya sebelum pembelajaran dimulai, terlebih dahulu anak-anak membaca buku-buku yang berjejer di rak.
Selaku guru Bahasa Indonesia, saya terkadang membawa buku-buku bacaan ke kelas sesuai dengan jumlah murid yang ada. Saya memberikan waktu kira-kira sampai sepuluh sampai lima belas menit untuk membaca. Sehabis membaca, saya persilahkan para siswa menceritakan kembali di depan kelas. Saya membebaskan siapa saja yang ingin maju ke depan dengan memilih anak yang paling cepat mengacungkan tangan ke atas. Saya senang sekali melihat mereka rebutan ingin cepat-cepat bercerita ke depan kelas. Lebih dari itu, terkadang anak yang sudah maju ke depan kelas ingin maju lagi dengan alasan ingin melengkapi ulasan cerita yang telah disampaikan sebelumnya.
Khusus untuk siswa kelas enam, waktu pelajaran Bahasa Indonesia, saya membiasakan para siswa dalam satu kelas dikelompokkan menjadi beberapa kelompok. Di antar perkelompok, saya menyuguhkan bahan bacaan yang berbeda. Saya memberikan mereka durasi waktu untuk membaca, setelah membaca kemudian antar kelompok mempersentasikan ke depan kelas. Dalam persentasi ada yang bertugas menjadi moderator, presenter, notulen, dan satu orang selaku penyampai kesimpulan dari hasil diskusi. Sehabis persentasi saya memberikan waktu kepada kelompok lain untuk bertanya kepada kelompok yang bertugas persentasi. Pada awalnya, cara-cara seperti ini anak-anak merasa kesulitas, akan tetapi saya coba latih terus, dan bahasan yang diangkat adalah bahasan yang ringan sehingga anak-anak bisa dengan mudah mendiskusikannya. Dari situ, akhirnya siswa mulai bisa karena sudah terbiasa.
Akhirnya, saya ingin menyampaikan, bahwa lewat aktivitas pembiasaan membaca buku pada anak-anak, akan mengasah kemampuan anak dalam menangkap informasi sekaligus menambah wawasan lebih luas, serta bisa melatih kemandirian dalam belajar. Bahkan anak-anak dari kebiasaan membaca bisa ditingkatkan lagi kebiasaannya, dengan cara membiasakan berdiskusi bersama teman-temannya. Sehinnga selain menyerap informasi juga bisa menularkan informasi kepada orang lain.
Saya sendiri membayangkan, seandainya saya sejak dari mengenyam pendidikan Sekolah Dasar sudah terbiasa membaca dan berdiskusi maka tentu wawasan saya akan luas. Akan tetapi, dalam kenyataanya, dulu saya baru mendapatkan metode belajar berdiskusi ketika sudah menginjak Sekolah Menengah Atas. Padahal, sejak dari SD pun anak-anak sudah bisa melakukan itu.
Oleh karena itu, pada momen Hari Anak Nasional ini, saya ingin mengajak masyarakat agar semakin gencar ikut mencerdaskan anak-anak Indonesia dengan cara menfasilitasi peningkatan minat baca pada siswa sejak dini.

Cita-cita Anak HTI



Siswa SDS Terang Agung sedang bermain di depan sekolah
Setiap anak yang terlahir, kelak akan memiliki keinginan akan menjadi seperti siapa dia. Keinginan inilah yang kemudian disusun menjadi rangkaian kata “cita-cita”. Cita-cita adalah sebuah gambaran imajinasi yang diinginkan oleh seseorang di masa depan. Munculnya cita-cita dari seorang anak haruslah difasilitasi dengan baik oleh para orang tua dan para guru. Jangan sampai cita-cita dari seorang anak dimatikan. Dengan berbekal cita-citalah, anak-anak muncul semangat belajar agar mencapai cita-citanya tersebut. Selama cita-citanya positif kenapa harus dilarang, malah sebaliknya harus didukung.
Tak peduli apakah anak-anak itu lahir dalam keterbatasan sekalipun. Bahkan saya pun melihat cita-cita anak yang terlahir dalam keterbatasan fasilitas sekalipun mereka tetap memiliki cita-cita tinggi. Seperti halnya di mana tempat saya bertugas menjadi Pengajar Muda,di sinibelum ada listrik, jalanan rusak bahkan licin berlumpur di kala hujan karena belum diaspal sedikitpun. Sehingga bukan sesuatu yang aneh apabila kebanyakan anak-anak tidak masuk sekolah apabila hujan deras, karena memang jalannya sangat sulit ditempuh, lebih-lebih dikarenakan olehsering dilewati truk-truk pengangkut singkong yang manambah parahnya kondisi jalan.Tidak jarang juga seorang guru harus pulang kembali ke rumahnya karena di tengah jalan jatuh dan dipenuhi lumpur ketika hendak menuju ke sekolah. Tapi tetap saja, anak-anak di sinibercita-cita tinggi.
Sekolah tempat saya mengajar hampir seluruhnya di kelilingi oleh pohon karet dan singkong, hanya ada beberapa rumah-rumah kecil di sebelah kanan sekolah. Sampai saat ini pun sekolah yang terbuat dari kayu itu berdiri kokoh sejak berdiri tahun 2002. Meskipun kadang kala pihak sekolah harus siap sedia memperbaiki atap sekolah yang sesekali asbesnya terbang diporak-porakdakan angin kencang. Walaupun demikian, kesederhaan kelas SDS Terang Agung tetap tidak menyurutkan anak belajar untuk mengejar cita-cita mereka demi masa depan mereka yang lebih baik.
SDS Terang Agung sejak berdirinya sampai pertengahan tahun 2014 belum bisa menjadi negeri karena memang bangunan sekolah berdiri di atas lahan HTI (Hutan Tanaman Industri). Siswa di sekolah tersebut berjumlah seratus dua puluhan pada tahun ajaran 2013l2014. Sedangkan jumlah guru sebanyak enam orang, kesemuanya perempuan, saya adalah satu-satunya guru laki-laki disekolah itu dengan ditemani kepala sekolah.Jumlah kelas ada lima, sehingga antara kelas satu dan kelas dua seringkali dalam proses pembelajaran digabung menjadi satu dalam satu kelas, atau kadang kala bergantian, terlebih dahulu kelas satu yang masuk. Di kala kelas satu pulang, baru kemudian kelas dua menyusul masuk ke kelas untuk belajar.
Inilah sekolah tempat saya mengajar yang telah mengajarkan banyak hal pada saya. Pertama, saya belajar tentang sebuah ketangguhan. Betapapun sulitnya rintangan yang menghadang dan keterbatasan yang miliki, saya harus tetap tangguh berjuang keras bersama guru-guru untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anak tercinta di sekolah. Pelajaran ini juga saya dapatkan dari salah satu anak didik saya yang bernama Anita Sari, dimana setiap hari harus menempuh jarak berkilo-kilo pergi ke sekolah padahal anak itu dalam sehari hanya makan satu kali di kala siang hari. Pagi, sore dan malam tidak. Kedua, keikhlasan. Saya belajar tentang keikhlasan dari para guru-guru di sini betapapun mereka keseluruhannya belum PNS dan dengan pendapatan ekonomi sehari-hari tidak besar, mereka tetap semangat setiap hari pergi ke sekolah untuk mendidik anak-anak.
Ketiga, ketulusan. Saya juga belajar ketulusan dari guru-guru di sini. Betapa pun kadang kala ada orang yang kurang menghargai apa yang telah diusahakan guru-guru bertahun-tahun mendidik, guru tetap berdiri tegak di depan kelas setiap hari menemani anak-anak tanpa keluh kesah. Keempat, saya belajar tentang kesungguhan. Para guru di sini selain mengajar, kadang kala harus mencari tambahan penghasilan dengan cara sebelum berangkat ke sekolah terlebih dahulu menderes (mengambil getah karet)di kebun, kadang juga habis mengajar di sekolah harus meleles (mencari sisa-sisa singkong hasil panen di kebun orang). Waktu-waktu yang sibuk melinyelimuti para guru setiap hari tetap tidak menyurutkan semangat untuk mendidik di sekolah.
Betapa saya bersyukur sekali karena lewat menjadi Pengajar Muda pada Gerakan Indonesia Mengajar, saya banyak belajar tentang banyak hal. Baik dari anak-anak, guru-guru dan masyarakat yang tinggal di dusun tempat saya tinggal. Setidaknya satu hal lagi yang saya pelajari dari masyarakat di sini adalah tentang sebuah perjuangan tanpa henti. Mereka setiap hari ke kebun untuk mencari penghasilan agar bisa membiayai kehidupan keluarga di rumah.Jadi, sudah menjadi rutinitas yang membahagiankan bagi mereka para orang tua murid, di mana setiap pagi-pagi buta pergi ke ke kebun untuk menderes.
Kembali lagi ke bahasan awal. Di kala anak-anak hidup dalam kesederhanaan di banyak sisi, tapi mimpi-mimpi mereka harus tetap dirawat, bahkan harus didorong. Seperti juga sering diungkapkan oleh Anies Baswedan, “Rumah boleh di kampung, rumah boleh di kepulauan, tapi mimpi (cita-cita) taruh di langit”.Salah satu cita-cita murid sayayang berbeda dari anak-anak pada umumnya yang rata-rata ingin menjadi dokter, guru, polisi, dan TNI adalah cita-citanya untuk menjadi pemadam kebakaran. Sedangkan satu lagi cita-cita yang cukup unik adalah cita-cita seorang murid yangapabila sudah besar nantinya, ingin memerdekakan HTI, agar HTI bisa menjadi seperti dusun lain yang resmi menjadi tempat tinggal penduduk. Cita-cita anak yang terakhir inilah yang oleh Bachtiar Basri selaku Bupati Tulang Bawang Barat (sekarang Wakil Gubernur Provinsi Lampung) seperti yang dipesankan kepada saya, agar tidak dimunculkan. Karena cita-cita seperti itu tidak baik.
Saya pun tercengang setelah melihat, betapa cita-cita yang dimiliki anak HTI yang masih kecil sekalipun belum terbayangkan oleh saya sebelumnya.

Selasa, 22 Juli 2014

Pendidikan yang Membebaskan



Siswa kelas empat sedang berlatih menulis di luar sekolah
Pendidikan diharapkan bisa memanusiakan manusia dengan seutuhnya. Kegiatan pembelajaran di sekolah diharapkan mencerminkan realita yang terjadi di masyarakat. Bukan saatnya lagi apa yang dijelaskan seorang guru hanya berkutat berdasar buku bacaan yang tidak ada hubungannya secara langsung dengan yang siswa alami dalam kehidupan nyata. Sudah saatnya kegiatan di sekolah benar-benar membumi. Ini juga sebenarnya yang dicita-citakan dalam implementasi kurikulum 2013.
Sekolah butuh menjunjung tinggi daya nalar anak. Bukan zamannya lagi anak-anak hanya duduk tenang mendengarkan penjelasan dari seorang guru. Anak-anak butuh didengar apa-apa yang mereka ingin katakan. Proses pendidikan harus menyakini bahwa setiap anak adalah bintang. Setiap setiap anak juara. Setiap anak istimewa. Maka dari itu perlu wadah yang bisa menampung kreativitas yang dimiliki anak-anak di sekolah.
Salah satu langkah yang saya lakukan selaku guru Bahasa Indonesia di sekolah yaitu memberikan kelas tambahan menulis kepada siswa dengan memberikan ruang seluas-luas kepada siswa untuk mengekspresikan apa saja yang ada di kepala mereka. Saya mengajarkan catatan harian, puisi, cerpen dan lain-lain dengan cara yang membebaskan. Berhubung yang terjadi di sekolah sering kali adanya pertengkaran di antara siswa, kemudian saya mengajak anak-anak memikirkan seputar efek negatif dari pertengkaran, bagaimana menghindari perkelahian, menolong orang lain, menjadi anak yang baik, mengajak orang lain agar cinta damai.
Sungguh mengejutkan betapa siswa saya yang masih kelas empat, lima dan enam sudah bisa mengungkapkan itu semua dalam tulisan. Meski dengan kata-kata yang sederhana dan tulisannya belum panjang berlembar-lembar, tapi rasa kagum dan apresiasi yang besar kepada mereka tetap saya berikan. Mereka telah berani mengungkapkan segala imajinasi yang ada dipikiran menjadi sebuah tulisan yang baik. Meski anak-anak ini hidup dengan kesederhanaan fasilitas, tapi semangat mereka untuk terus maju sangat besar. Dalam tulisan tersebut, anak-anak membayangkan tentang Indonesia di masa depan menjadi negara yang lebih maju dan peduli akan terwujudnya perdamaian.
Tulisan mereka kemudian di satukan menjadi sebuah draf buku berujudul Sekolah Damai. Draf tersebut berasal darilima puluh satu tangan kreatif para siswa. Kira-kira hanya butuh tiga bulan agar tulisan mereka ini bisa terkumpul dengan menjadi draf buku.Memang masih banyak yang perlu ditingkat kemampuan siswa dalam merangkai kata-kata agar lebih beralur dan lebih panjang. Kekurangan tersebut menjadi bahan bakar agar kekurangan bisa terus perlahan ditutupi, lebih-lebih mereka masih duduk di bangku Sekolah Dasar yang ada di Dusun Terang Agung, Kecamatan Gunung Terang, Kabupaten Tulang Bawang Barat (TBB), Provinsi Lampung.
Mulanya tulisan dalam draf buku ini dituangkan dalam catatan harian siswa. Di mana siswa memiliki catatan harian yang bisa dibawa kemana saja dalam keseharianya. Di saatmata pelajaran Bahasa Indonesia, catatan para siswa dicek dan diberikan umpan balik. Para siswa juga dipandu mengasah skill bidang kepenulisan lewat praktik-praktik sederhana di dalam kelas mengenai bahasan di dalam tulisan, sesekali siswa diberikan tema bahasan yang sama, lainnya bebas dari mereka sendiri jika ingin menulis apa saja.
Saya sadar bahwa setiap anak adalah mutiara. Dari itulah, seorang guru tinggal mengarahkan dengan baik. Biarkan siswa tumbuh sendiri dengan luar biasa. Di Sekolah Dasar saja, betapa saya menemukan kemampuan menulis para siswa yang dahsyat.Sebenarnya, di sini saya fokus bukan hanya pada titik tekan di bidang kepenulisan, akan tetapisaya mengajak siswa memikirkan kehidupan yang senyatanya terjadi dalam keseharian.Dari situlah, para siswa dengan polos menceritakan dengan apa adanya sesuai yang mereka alami sehari-hari. Tidak ada rekayasa.
Semoga kebiasaan siswa menulis dan memikirkan tentang fenomena kehidupan sehari-hari akan membuat mereka menjadi anak yang tumbuh mandiri. Anak-anak yang bisa bertanggung jawab secara mandiri atas permasalahan yang mereka hadapi. Sudah saatnya anak-anak mencarikan solusi atas keluh kesah yang dirasakan sehari-hari. Anak-anak perlu dirangkasang agar berpikir out of the box. Sehingga mereka tumbuh menjadi kreatif dan tidak selalu membebek. Selain itu, semoga akan tumbuh rasa percaya diri yang semakin besar dalam diri mereka dan siap bersaing dimana pun kelak berada.
Terakhir, saya ingin mengajak para orang tua dan para pendidik di mana pun berada. Mari berikan kepercayaan kepada anak-anak kita agar mereka tumbuh secara mendiri sesuai imajinasi yang ada dalam diri mereka. Kita tinggal mengarahkan ke arah yang baik. Berikan anak-anak ruang seluas-luasnya berpikir bebas, jangan membelenggu kreativitas mereka dengan memaksakan kehendak dengan hanya menjejali pelajaran yang jauh dari realitas kehidupan keseharian. Lebih-lebih hanya lewat hafalan-hafalan yang bisa membuat stress. Mari sedini mungkin anak-anak kita diajak mengekspresikan gagasan-gagasan briliannya baik lewat ungkapan, tulisan, maupun perbuatan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...