Minggu, 05 Juni 2016

Keluargaku, Terimakasih. You Are Para Bintang!

Keluarga PB UIN Sunan Kalijaga Angkatan I, Awardee LPDP 
Keluargaku yang hebat, diiringi musik A Sky Full of Stars dari Coldplay, saya menuliskan catatan ini secara khusus kepada keluargaku di kelas Pembekalan Bahasa LPDP Afirmasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta angkatan pertama dengan satu keyakinan bahwa banyak sekali hal penting yang bisa saya ambil hikmahnya selama kita belajar bersama selama enam bulan yang lalu. Saya yakin bahwa kalian adalah pemuda-pemuda luar biasa, yang di masa depan diharapkan bisa bersama-sama bergandengan tangan untuk memajukan republik tercinta, Indonesia. Maka, dengan tanpa ragu, saya akan bilang bahwa belajar secara intensif selama setengah tahun bersama teman-teman semua menjadi begitu berharga bagi saya pribadi.

Saya bangga sekali bisa belajar bersama kalian bukan hanya karena kalian unik yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia, akan tetapi karena kalian istimewa, bukan hanya calon menantu idaman-bagi yang masih jomblo, menantu favorit-bagi yang sudah berkeluarga, akan tetapi calon pemimpin yang luar biasa di masa depan, bagi Indonesia, setidaknya 20 tahun ke depan. Saya membayangkan kalian nantinya ada yang menjadi pemegang kebijakan tingkat kabupaten, provinsi, nasional, bahkan internasional. Betapa bangganya masyarakat Indonesia dengan kebaradaan you, brothers and sisters.  

Rabu, 16 September 2015

Rencana Studi #LPDP Sharing

Gambar: http://www.lpdp.depkeu.go.id/
Menyandang gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan memiliki pengalaman sebagai Pengajar Muda pada Gerakan Indonesia Mengajar, saya merencanakan melanjutkan studi magister pada bidang keilmuan pendidikan di Queen’s University of Belfast yang ada di Inggris (Irlandia Utara) dengan program studi Educational Studies (MEd). Waktu pelaksanaan studi direncanakan selama 12 bulan (full time), dengan dipersyaratkan menempuh 180 kredit yang sudah termasuk tugas akhir (tesis) di dalamnya. Studi MEd menawarkan fleksibilitas melalui berbagai pilihan materi yang berkaitan dengan isu-isu pendidikan mutakhir, menyiapkan skill, teori, sampai pada evaluasi pendidikan. Kisaran topik yang ditawarkan pada program ini adalah penilaian, perilaku, kurikulum, pembelajaran, dan praktek. Mata kuliah yang disediakan dan akan dipelajari dalam dua semester meliputi Hak Pedagogi Anak, Mendidik Anak Laki-Laki dan Perempuan: Memahami Gender di Sekolah dan Ruang Kelas, Pendidikan: Hukum dan Hak Anak, Penelitian dalam Proses Belajar Mengajar di Kelas, Perubahan Perilaku dalam Pendidikan, Kurikulum: Teori, Praktek dan Evaluasi, Metode dan Analisis dalam Penelitian Pendidikan, Penelitian Tindakan Kelas, Refleksi Pendidikan dan Mengajar Keterampilan Berpikir dan Kemampuan Personal: Teori dan Praktek.  

Alasan saya memilih Queen’s University of Belfast, selain menawarkan mata kuliah yang sesuai dengan bidang yang saya tekuni selama ini dan relevan dengan rencana penelitian, kampus tersebut berada pada peringkat ke-8 di Inggris dalam kaitannya dengan intensitas penelitian. Jurusan pendidikan di kampus tersebut telah menduduki peringkat ke-4 di Inggris dalam kaitannya dengan intensitas penelitian yang berkisar 87 persen dari penelitian yang dilakukan dinilai sebagai internationally excellent or world leading (REF, 2014). Kampus tersebut masuk dalam rangking 200 universitas terbaik di dunia dengan fasilitas perpustakaan yang modern dan masuk terbesar di UK serta pengajar-pengajarnya dari kalangan profesor yang profesional. Alasan lainnya adalah setelah saya menelusuri program Magister Pendidikan di kampus yang ada di Indonesia, ternyata belum menawarkan mata kuliah yang sedikit banyak menyinggung seputar Hak Pedagogi Anak, Pendidikan Gender, dan Pendidikan Hukum dan Hak Anak.

Kontribusiku Bagi Indonesia #LPDP Sharing

Gambar: http://www.lpdp.depkeu.go.id/
Lahir di negara Indonesia, tepatnya di Desa Moncek Barat Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep pada tahun 1988 silam, saya sangat bersyukur bisa merasakan pendidikan formal yang cukup baik dibandingkan masyarakat di kampung saya pada tahun-tahun sebelumnya yang kebanyakan hanya merasakan sekolah diniyah atau sekolah keagamaan setingkat sekolah dasar, seperti halnya bapak dan ibu saya yang belum sampai lulus sekolah dasar. Bapak saya yang memiliki saudara delapan, memilih tidak mengenyam sekolah formal karena membantu ibunya bekerja untuk membiayai adiknya yang belajar di pesantren, sedangkan ibu saya yang tidak bisa berbahasa Indonesia, hanya sempat belajar ilmu agama di sekolah diniyah. Masyarakat di kampung saya memang banyak yang memilih belajar di lembaga pendidikan Islam seperti pesantren, sehingga kemudian banyak yang tidak melanjutkan ke jenjang SMP atau SMA. Sampai saat ini, tahun 2015, masyarakat di desa saya yang lulus kuliah masih bisa dihitung dengan jari. Sehingga saya beserta saudara, sangat berterima kasih kepada kedua orang tua yang sangat gigih menyemangati anak-anaknya agar semuanya mengenyam pendidikan formal setinggi-tingginya meski dengan keterbatasan biaya.

Waktu menempuh pendidikan di sekolah dasar, saya harus berjalan kaki untuk sampai di SDN Moncek Tengah II yang berada di desa sebelah dan berjarak kurang lebih dua kilometer. Hampir sama terjadi ketika saya melanjutkan sekolah di MTs II Annuqayah Guluk-Guluk yang berada dinaungan pesantren, saya harus berjalan menempuh jarak dua kilometer dari tempat saya mondok di Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan. Masih teringat betul bahwa kualitas mengajar guru masih sangat minim bahkan sarat dengan kekerasan. Sering sekali pembelajaran di kelas hanya berjalan satu arah dimana guru membacakan teks di buku dan saya bersama teman-teman sekelas mencatatnya, juga pernah kepala saya dipukul dengan penggaris kayu yang cukup besar oleh seorang guru karena tidak bisa menjawab soal Matematika dan tangan saya dipukul karena sempat berbuat kesalahan. Dari situlah saya sangat trauma dengan tindak kekerasan yang dilakukan di dunia persekolahan dan saya berjanji akan mengikuti saran bapak agar terus melanjutkan sekolah dengan harapan kelak saya bisa menjadi pendidik bagi masyarakat di kampung saya dengan tanpa kekerasan. Meski demikian, saya tetap berterima kasih kepada semua guru saya, karena berkat merekalah saya bisa mendapatkan pendidikan yang layak. 

Sukses Terbesar dalam Hidupku #LPDP Sharing

Gambar: http://www.lpdp.depkeu.go.id/
Kesuksesan terbesar dalam hidup saya adalah ketika pada bulan Januari 2015 saya berhasil menyelesaikan pengabdian kepada masyarakat di bidang pendidikan dengan bergabung bersama Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) sejak tahun 2012 silam, dimana saya bisa mengabdi, berbagi, menginspirasi sekaligus belajar dari anak-anak, masyarakat dan pemerintah di tempat tugas. Selama menjadi Pengajar Muda (PM) di Majene dan Tulang Bawang Barat, saya merasa sangat bersyukur karena ilmu yang telah saya dapat dari semenjak di bangku sekolah dasar sampai perguruan tinggi bisa bermanfaat bagi orang lain, meskipun sebenarnya selama menempuh studi saya juga banyak melakukan pengabdian kepada masyarakat, tapi bergabungnya saya menjadi PM di sekolah dasar terpencil menjadi pengabdian terpanjang bagi saya selama ini. Paling tidak, pengabdian tersebut sebagai perwujudan tanda terima kasih saya kepada keluarga, guru, dan teman-teman saya yang telah mengajarkan kepada saya tentang pentingnya menjadi manusia yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

Tentu saja, kesuksesan tersebut tidak luput dari pengaruh jerih payah saya dalam menyelesaikan pendidikan formal sampai perguruan tinggi dengan beberapa prestasi yang dicapai sebelumnya. Semenjak dari sekolah dasar, saya ingin sekali bisa mengenyam ilmu pengetahun sampai perguruan tinggi dan kemudian mengajarkan kepada orang-orang di kampung tempat saya tinggal. Begitu juga dengan bapak saya yang terkadang berkata, “Anakku, meskipun bapakmu ini belum lulus sekolah dasar sekalipun, tapi bapak menginginkan kamu bisa sekolah setinggi-tingginya biar bisa bermanfaat nantinya”, itulah ungkapan bapak yang diucapkan dalam bahasa Madura yang saya ingat sampai saat ini dan hal itu pula yang memotivasi saya untuk tetap melanjutkan kuliah meski sebenarnya bapak tidak memiliki biaya untuk membiayai saya kuliah di luar kota. Sehingga setelah lulus SMA Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep tahun 2006, saya meneguhkan tekad agar bisa kuliah di Yogyakarta dan baru bisa terwujud tahun 2008, dimana sebelum kuliah sempat harus bekerja sebagai loper koran di Malioboro, membantu Yusuf Agensi berjualan buku, sempat juga menjadi staf administasi lembaga kursus bahasa Inggris, sampai kemudian menekuni dunia kepenulisan.

Sebelum akhirnya memutuskan mendaftar pada perguruan tinggi di Yogyakarta, saya sempat menginginkan kuliah di Universitas Gajah Mada atau Universitas Negeri Yogyakarta, berhubung saya tidak memiliki biaya yang cukup untuk membiayai sendiri pada kampus tersebut, akhirnya saya mendaftar di UIN Sunan Kalijaga pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang pembiayaannya masih terjangkau. Saat diterima menjadi mahasiswa baru, saya memanfaatkan dengan baik kesempatan untuk menjadi mahasiswa berprestasi karena saya berharap bisa mendapatkan beasiswa sehingga tidak perlu lagi kuliah sambil bekerja. Alhamdulillah berkat pertolongan Allah, kerja keras dalam belajar sampai larut malam dan dorongan dari berbagai pihak serta selalu menyelesaikan target program harian, mingguan, bulanan yang saya tuliskan di papan kamar kos, akhirnya pada semester berikutnya saya mendapatkan Beasiswa Prestasi dari Pemerintah Daerah Sumenep, semester tahun berikutnya mendapatkan dari Kementerian Agama RI dan pada semester lima lolos seleksi Djarum Beasiswa Plus.

Senin, 29 Juni 2015

Biography of M Nurul Ikhsan Saleh

M Nurul Ikhsan Saleh
My name is M Nurul Ikhsan Saleh and my friends are often called me, Nurul. I was born in Sumenep, East Java, Indonesia, on July, 27, 1988, the third of four siblings. My father Moh Shaleh was a hard working merchant, while my mother Madun was a hard working farmer. Immediately after graduating from Primary School SDN Moncek Tengah II, Lenteng, Sumenep, I studied at Islamic Boarding School, PPA Annuqayah Lubang Selatan to complete my studies at Junior High School MTs II Annuqayah and Senior High School SMA I Annuqayah in Guluk-Guluk, Sumenep. In Yogyakarta, I completed my undergraduate degree in April 2012, majoring in Islamic Education at Islamic State University of Sunan Kalijaga Yogyakarta. 

I was an activist in some organizations such as Person in Charge (PIC) of Peace Generation Organization, Yogyakarta (2011-2012), Volunteer for Hoshizora Foundation, Yogyakarta, (February 2015), Participant at Leadership Development Program held by Mountain and Jungle Explorer Association (WANADRI), Indonesia (December 2013), Participant at Leadership Development Program held by The Special Forces Command (KOPASSUS), Indonesia (October 2012), Member of Indonesia Youth Forum (FIM), Jakarta (2012), Program Coordinator of Student Executive Board Association in Education (FBEMP), Yogyakarta (2011-2012) and editor of Paradigma Press, Islamic State University of Sunan Kalijaga Yogyakarta (2008-2010).

In addition, I has published more than twenty articles or book reviews  and some books; (2012). Peace Education: Historical Studies, Concepts, and Its Relevance To Islamic Education. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. (2012) “Improving A Higher Education Cooperation between Indonesia and Morocco” in Supardiyanto and Muhammad Subhan, (ed.), Indonesia-Maroko; More Than Just A Friendship. Jakarta: Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), p. 36-38. (2011). “Toward Best Quality of Education” in Kementerian Pendidikan BEM KM IBP, The Educational Reality in This Era.  Bogor: IPB Press, p. 71-77. (2010). “Islam and Ecological Crisis; The Effort To Develop Islamic Education Based on Environment” in Sabaruddin and Masroer, (ed.), Islam; National Character Building and Political Ethics. Yogyakarta: Islamic State University of Sunan Kalijaga Press, p. 103-120. (2010). “Indonesia As A Maritim Country; In The Threat of Ecological Crisis of Ocean” in Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika, The Hope Is Still Exist. Jakarta: ANBTI Press, p. 7-12.  (2007-2010). 22 publications of articles or book reviews at Indonesian newspapers: Media Indonesia, Seputar Indonesia, Koran Jakarta, Bernas Jogja, Surabaya Post, Bali Post, Lampung Post.

Selasa, 23 Juni 2015

Pendidikan Perdamaian tanpa Kekerasan

Opini M Nurul Ikhsan Saleh, Lampung Post, 12 Juni 2015
SEORANG siswi bernama Dinda Diana Nosi yang berasal dari Samarinda mengunggah video pada 9 April 2015 di media Facebook. Video tersebut memperlihatkan dua siswi yang sedang berkelahi dengan ditonton teman-temannya satu sekolah. Pada April ini juga seorang siswa bernama Vika, siswa pelajar SMP di Manado, mengalami penganiayaan yang dilakukan teman satu sekolahnya dengan cara rambutnya ditarik, ditampar, dan perutnya diinjak. 

Sedangkan di Februari, seorang siswi SMA di Yogyakarta dianiaya beberapa teman sekolahnya dengan cara disekap, ditelanjangi, dan mengalami kekerasan di bagian kemaluannya. Bahkan hal ini juga terjadi kepada empat siswa sekolah dasar yang kemudian mendatangi Unit Perlindungan Perempuan dan Anak di Manado.

Empat contoh kasus di atas yang terjadi pada beberapa bulan belakangan memperlihatkan kepada kita bahwa tindakan kekerasan masih saja menghantui para siswa di sekolah, bukan hanya di kalangan siswa sekolah menengah atas, melainkan juga terjadi pada siswa di sekolah dasar. Lebih mirisnya lagi adalah karena teman-teman kelasnya hanya menonton dan mereka tidak langsung berupaya menghentikan kejadian tersebut. Bahkan sering ditemui di media sosial, seperti Facebook dan Youtube, para teman-temannya yang melihat perkelahian, hanya bisa menyoraki dan sibuk merekam lewat ponsel perihal kasus tersebut.

Seharusnya siapa pun yang melihat terjadinya kekerasan, minimal ia akan berusaha menghentikan kekerasan tersebut. Jika hal itu terjadi di sekolah, minimal siswa yang lain membantu melaporkan kepada para guru agar kejadian tersebut dihentikan dan langsung ditangani oleh pihak sekolah. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...